
Sementara itu, Ken sedang dalam perjalanan menuju persidangan. Selain membawa bukti-bukti, Ken juga membawa perwakilan saksi, diantaranya pejabat tanah saat mengurus sertipikat tanah para korban, ibu notaris serta para warga dan juga tokoh-tokoh berpengaruh untuk bersaksi dipersidangan.
Mereka yakin akan memenangkan kasus tersebut dan pulang membawa hasil memuaskan, untuk didengar oleh para pejuang keadilan yang senasib.
"Semoga perjuangan kita berhasil kali ini," harap salah satu korban mafia tanah dan diiringi doa penuh harap dari korban yang lainnya.
"Amin," sahut Ken.
Akan tetapi, ditengah perjalanan menuju kesana. Mobil yang membawa para saksi pun dihadang oleh segerombol orang tidak dikenal dan berpakaian seragam polisi memaksa mobil tersebut untuk menepi.
"Ada apa ini? Kenapa banyak polisi disini?" tanya Ken tidak mengerti.
"Kita hadapi saja dulu," ucap salah satu saksi yang dibawa oleh Ken.
"Baiklah," sahut Ken tapi dia enggan turun dan mengawasi gerak gerik mencurigakan dari dalam mobil. "Mereka bilang sedang ada pemeriksaan, tapi kenapa mobil ini saja yang diperiksa. Sudah begitu, kenapa bertele-tele sekali," batinnya merasa curiga, saat mendengar kata-kata pemeriksaan tapi mobil lain tidak diberhentikan.
Pria berotak cerdas sedikit licik itu pun, mengirimkan kode berupa link rahasia kepada Louise dengan alat seperti GPS, yang hanya bisa dibaca oleh mereka berdua. Dan jika link rahasia itu di buka, maka sinyal GPS akan aktif walau ponselnya dimatikan.
Sedangkan Louise yang menerima pesan tersebut pun, segera pergi dan meminta Evelyn agar tetap tenang selama ia menjemput Ken.
"Ken sedang dalam kesulitan, aku akan pergi menjemputnya. Kau tunggulah disini, jika sidang telah dimulai jawablah sebisa mungkin," ucap Louise sebelum pergi.
Evelyn mengangguk, lalu menatap Nyonya Merry yang terlihat tenang. Seketika pikirannya langsung terhubung dengan kesulitan Ken saat ini. "Aku yakin, wanita itu ada kaitannya dengan semua ini," batinnya merasa yakin.
...***...
Beberapa saat kemudian.
Jam makan siang telah berakhir, namun Louise maupun Ken belum menampakkan batang hidung mereka dan hal tersebut membuat Evelyn semakin gelisah.
Lalu disaat yang bersamaan, Nyonya Merry menghampiri Evelyn dan mengatakan hal yang membuat hatinya menciut.
"Kau terlalu percaya diri, sampai tidak mengenali siapa lawanmu. Bagiku kau hanyalah anak kemarin sore dan aku yakin, kau tidak akan menang dalam persidangan ini!" bisik Nyonya Merry penuh penekanan.
Evelyn menelan ludahnya susah payah dan menatap Nyonya Merry yang menatap sinis dirinya.
__ADS_1
"Persidangan ini belum berakhir dan semua keputusan itu ada ditangan hakim Tante, kita tidak tahu siapa yang akan memenangkan kasus ini nantinya. Lagipula kau maupun diriku tidak berhak memutuskan siapa yang menang atau kalah," balas Evelyn tidak kalah tajam.
Nyonya Merry tersenyum kecut mendengarnya. "Baiklah, kalau begitu selamat berjuang. Kita akan lihat seberapa tangguh kau menghadapi semua saksi-saksiku," balasnya.
Evelyn menghembus nafasnya kasar, dan menatap punggung Nyonya Merry yang baru saja berlalu darinya. Lalu baru saja dirinya selesai berdebat dengan Nyonya Merry, putri dari wanita itu juga datang menghampirinya untuk membuat perhitungan.
"Dasar wanita merepotkan, kau selalu saja menyusahkan suamiku! Ingat ini ya Evelyn, kalau sampai terjadi hal buruk pada suamiku. Aku tidak akan segan-segan membuat hidupmu menderita!" ancamnya lalu pergi menyusul sang ibu.
Evelyn menghela nafasnya panjang dan hanya bisa terdiam untuk sindiran Gisella, karena walau bagaimanapun juga dirinya memang telah merepotkan suami orang lain.
"Maaf, tapi saat ini memang hanya tuan paman seoranglah yang dapat aku andalkan untuk membantuku meneruskan perjuangan Daddy," batin Evelyn.
Setelah Gisella pergi, Steve datang menghampiri Evelyn. "Eve, lihatlah kau sendirian sekarang ini, tuan paman yang kau banggakan selama ini pergi begitu saja. Masih ada waktu untukmu menyudahi semua ini Eve, menyerah saja dan minta maaf pada Mommy. Aku yakin dia akan memaafkanmu, kembalilah kepadaku lalu semuanya akan baik-baik saja," pinta Steve penuh harap.
Evelyn menepis tangan Steve dari bahunya. "Aku percaya kepada tuan pamanku, dia pasti akan kembali lagi kesini. Lagipula jika kau begitu peduli padaku, maka berdoalah agar aku bisa memenangkan kasus ini dan bukan memintaku mengalah begitu saja," balasnya lalu pergi menjauh dari Steve.
"Eve, kenapa kau begitu keras kepala sekali. Bukannya aku tidak peduli padamu, aku hanya tidak ingin kau menentang Mommy," balas Steve mengikuti.
"Kalau begitu duduk diamlah disini dan jangan mengikutiku, ini adalah pertarunganku dan juga perjuangan keluargaku. Aku tidak bisa diam atau mengalah kepada siapapun," balas Evelyn tidak main-main, lalu meninggalkan Steve yang terdiam menatapnya.
Sidang yang sempat tertunda pun kembali dimulai, semua orang juga telah kembali pada posisi mereka masing-masing.
"Nona Evelyn, ada dimana saksi-saksi anda?" tanya sang Hakim.
"Maaf Yang Mulia Hakim, para saksi dari pihak pelapor masih dalam perjalanan. Dan kabarnya mereka sedang menemui kendala," balas Evelyn sesuai apa yang terjadi.
"Kita tidak bisa menunda lagi, banyak kasus juga yang harus kami selesaikan. Jadi mintalah pada saksi anda agar cepat datang kemari," pinta sang Hakim.
"Mohon maaf Yang Mulia, saya minta waktu lagi." pinta Evelyn.
Jaksa dari pihak Nyonya Merry mulai menyatakan keberatannya. "Maaf jika saya menyela Yang Mulia Hakim, menurut saya wanita ini hanya sedang bermain-main saja. Buktinya sampai saat ini pihak pelapor belum juga menunjukkan keseriusannya, bukankah ini namanya mempermainkan hukum," tukas jaksa itu.
Evelyn meremass erat kemejanya, karena merasa kesal dengan tuduhan jaksa dari pihak Nyonya Merry, yang selalu saja memancing emosinya agar berlaku kasar didalam ruang persidangan.
Namun nasehat Louise selalu ia ingat, agar tidak terpancing emosi saat berhadapan dengan pihak lawan. "Tuan, cepatlah datang." batin Evelyn takut sekali.
__ADS_1
Lalu tak berapa lama setelah itu, Louise dan Ken datang sambil membawa beberapa saksi.
"Yang Mulia Hakim, maaf kalau kami datang terlambat!" seru para saksi yang baru memasuki ruangan.
Evelyn lantas menoleh kebelakang dan ia menangis haru, sesekali menghela nafas lega saat Louise berhasil membawa para saksi datang kepersidangan.
Namun, kedua matanya seketika membola. Dirinya begitu cemas saat melihat wajah Louise penuh dengan luka lebam. "T-tuan," ucapnya sontak berdiri.
Louise melambai dan memberi kode jika dirinya baik-baik saja dan memintanya agar duduk kembali.
Sedangkan Nyonya Merry langsung berdecak kesal, bagaimana bisa anak buahnya itu gagal dalam menjalankan tugas.
...***...
Persidangan kembali dengan sebagaimana mestinya, penuh perdebatan panas dan juga adu argumen dari dua belah pihak.
Para saksi sekaligus korban menangis pilu dihadapan hakim, karena hak mereka dirampas oleh Perusahaan.
"Kami telah menempati tanah itu berpuluh-puluh tahun lamanya dan kami tidak pernah sedikitpun menjual tanah kami kepada perusahaan atau menempati tanah yang mereka bilang milik perusahaan itu! Mereka lah yang merampas hak kami!" ucap para saksi.
Sedangkan dari pihak perusahaan juga tidak mau kalah, dan menganggap jika para saksi dari pihak korban hanya sedang melakukan drama dan berusaha menjatuhkan nama perusahaan.
"Mereka membangun rumah diatas tanah perusahaan selama bertahun-tahun dan telah menganggap tanah tersebut milik mereka dengan alasan sudah lama menempati rumah itu. Padahal mereka lah yang telah menyalahgunakan tanah perusahaan!" debat pihak Nyonya Merry.
Perdebatan panas tersebut membuat semua kalangan masyarakat merasa gemas, ada pro dan juga kontra dari berbagai lapisan masyarakat luas.
Namun siaran langsung itu membuat hati salah satu pria tua ini terenyuh, ia sampai meneteskan air mata saat mendengar perdebatan tersebut. Dengan cepat dia membalik kursi rodanya dan berkata kepada pelayan setia.
"Antar aku ke pengadilan!" ucapnya dengan susah payah.
.
.
Bersambung.
__ADS_1