Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 49. Siapa dia?


__ADS_3

Louise mendesahh kesal dan membanting ponselnya itu, baru saja dia bernafas lega bisa menjauh dari istrinya yang super agresif, protektif, posesif, dan semua kata yang berakhiran if if itu.


"Ukh! Gisella, kalau saja negara ini bukan negara hukum. Kau pasti sudah ku buang ke dalam hutan sejak lama!" geram Louise, sambil menjambak rambutnya karena frustasi.


Louise meninju udara disekitar, lalu melonggarkan dasi yang seakan mencekik lehernya itu dan berusaha tetap tenang, walau hatinya merasa jengkel sekali.


Dengan langkah pasti, Louise keluar dari kamar hotelnya. Lalu menghampiri kearah dimana Ken dan para staft teknisinya telah berkumpul menikmati makan siang disatu ruangan.


"Selamat siang pak Louise!" sapa semangat semua karyawannya.


"Siang!" sahut Louise harus semangat didepan semua orang. Lalu mendaratkan bokongnya disamping Ken dan mulai menyantap makan siangnya dengan cepat, walau sedikit kehilangan selera.


...***...


Sementara itu, Evelyn sudah gatal kaki ingin pergi berjalan-jalan. Walau hanya sekedar melihat pemandangan disekitar hotel yang sedang ia tempati itu.


"Bibi, tolong temani aku jalan-jalan sekitaran sini ya," pinta Evelyn.


"Boleh, tapi ingatlah selalu pakai topi dan juga maskermu. Oiya, jangan lupa pakai kacamatanya juga," balas bibi Maureen.


Evelyn mengulas senyum. "Tenang saja, aku akan selalu ingat pesan opa yang satu itu." Lalu tanpa banyak disuruh, gadis itu menutupi kembali penampilannya dan mengenakan hoodie layaknya orang biasa.


"Bagus, ya sudah yuk kita berangkat!" ajak Bibi Maureen, menuruti keinginan sang nona muda.


"Ayo Bibi!" seru Evelyn semangat dan tidak lupa menggandeng tangan bibi serasa ibu kandung.


Lalu kedua wanita beda usia itu pun keluar dari kamar hotel, hanya sekedar untuk mencari udara segar, serta mencuci mata dengan melihat pemandangan yang disuguhkan didalam kawasan sekitar hotel.


Dan setibanya mereka di lantai dasar, tiba-tiba Evelyn merubah haluan dan menarik tangan bibi Maureen agar ikut dengannya.


"Eh mau kemana?" tanya bibi Maureen terheran-heran.


"Bibi, bagaimana kalau kita makan siang dulu? Kebetulan aku lapar sekali," ucap Evelyn menunjuk sebuah restoran yang kebetulan dikelola oleh hotel tersebut.


Bibi Maureen hanya bisa menghela nafasnya panjang. "Ya sudah, bibi temani ya."


Evelyn mengulum senyum kembali dan menatapi pelayan serba maunya itu. "Terima kasih ya bibi, melihatmu aku jadi teringat ibu Angel. Dia sama sepertimu, kalian sama-sama mempunyai hati yang baik. Setidaknya, ada dirimu disampingku, aku jadi merasa punya seorang ibu. Ah, Aku jadi rindu ibuku," ucapnya lalu memeluk bibi Maureen.


Hingga wanita paruh baya itu pun tersentuh dengan perlakuan Evelyn, lalu tanpa ragu membalas pelukan tersebut dan tak terasa air matanya ikut meleleh begitu saja.


Kejadian tersebut mengundang reaksi beberapa pasang mata, termasuk Louise yang kala itu baru saja keluar dari restoran setelah makan siang.


"Siapa dia? Bukankah orang itu datang bersama dengan rombongan opa Bernadi? Kenapa dia ada disini, apa rombongan opa menginap dihotel ini juga?" batin Louise mengenalinya dari topi dan hoodie yang dikenakan.


Lalu, pikirannya pun diliputi dengan beragam macam pertanyaan dan rasa penasaran menelisik hati pria tampan itu. Ia merasa seperti ada daya tarik magnet yang cukup kuat, yang menarik dirinya agar terus mendekat.


Namun, sebelum kakinya itu melangkah lebih jauh, tiba-tiba Ken menepuk pundak Louise dan membuat pria itu pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh.


"Pak Louise, anda mau kemana? Kita harus segera pergi dan bertemu dengan pak Wondo," ucap Ken.


Louise memijat batang pangkal hidungnya, hampir saja ia melupakan janji temu dengan kliennya itu. "Oh iya Ken, maaf. Ayo kita jalan sekarang," balasnya. Lalu menoleh sejenak ke arah wanita bertopi, yang sudah menghilang dari pandangannya.


...***...

__ADS_1


Disisi lain, ditempat yang berbeda. Gisella akhirnya menapakan kedua kakinya di bandara. Wanita itu tampak kesal sekali, karena tidak ada satu pun orang yang terlihat hadir menjemput kedatangannya.


"Kurang ajar! Mereka benar-benar tidak bisa diharapkan!" umpat Gisella kesal.


Tapi beruntung wanita itu tidak membawa koper dan hanya membawa diri sendiri saja, jadi tidak memerlukan tenaga ekstra dalam berjalan kaki dan mencari taksi untuk menuju ke hotel.


"Hotel Marriott!" titah Gisella setelah berhasil mendaratkan bokongg seksiinya di dalam taksi.


"Baik bu," balas sang supir taksi ramah.


Namun Gisella malah membentaknya. "Ibu ibu! Jangan panggil saya ibu, saya belum tua!" gemasnya.


"Maaf Nyonya muda," ralat cepat sang supir sambil menggedikan kedua bahunya.


Dan tak butuh waktu lama, Gisella pun telah sampai di hotel tempat Louise bermalam selama beberapa hari disana.


"Ini untukmu, kembaliannya ambil saja!" ucap Gisella memberikan dua lembar uang merahan kepada sang supir taksi.


"Terima kasih nyonya muda," balas sang supir menerima dan tersenyum ramah.


Gisella lantas menatap gedung hotel berbintang 5 dihadapannya itu, seketika dia tersenyum dan terlintas didalam pikirannya untuk memberikan kejutan kepada Louise nanti malam.


...----------------...


Pada sore harinya.


Evelyn menyambut kedatangan opa Bernadi dengan sebuah pelukan hangat dan juga kecupan dipipi.


"Opa, ceritakan padaku bagaimana dengan pameran tadi. Apa berjalan lancar?" tanya Evelyn.


"Lancar, banyak perhiasan kita yang terjual. Terutama cincin pernikahan dan juga perhiasan untuk mahar," balas opa Bernadi, sambil memijat kakinya yang lelah karena terus berdiri disepanjang acara tersebut.


Evelyn dengan sigap turun dari tempat duduknya lalu memijat kedua kaki kakeknya itu. "Kau pasti lelah Opa, kalau begitu kita tidak usah pergi jalan-jalan."


Opa Bernadi menatap cucunya yang terlihat lesu. "Opa memang lelah dan tidak sanggup untuk berjalan jauh, tapi melihatmu tidak jadi keliling kota ini, Opa juga merasa tidak enak padamu sayang."


"Begini saja, kamu pergilah bersama Maureen. nanti opa akan tunjuk beberapa orang untuk ikut dan menjagamu selama jalan-jalan berkeliling disana ya," ucapnya menyenangkan.


Evelyn menarik senyumnya. "Benarkah, Opa tidak keberatan aku tinggal sendiri?"


"Untuk apa keberatan, Opa bisa jaga diri sendiri. Orang-orang yang menjaga disekitar kita cukup banyak. Jadi kamu tidak perlu khawatir," balas Opa tersenyum.


Evelyn nampak senang. "Terima kasih Opa, aku berjanji tidak akan lama," ucapnya lalu menatap bibi Maureen. "Ya kan bi," lanjutnya.


Bibi Maureen hanya mengangguk. "Tenang saja tuan besar, aku akan menjaga Evelyn dengan segenap jiwa dan ragaku."


Opa Bernadi merasa senang mendengar hal itu. "Terima kasih Maureen, aku percayakan Evelyn padamu."


Bibi Maureen tersenyum. "Sama-sama Tuan besar, anda bisa mengandalkan saya.


"Evelyn, katakan pada bibi, kau ingin jalan-jalan kemana?" tanyanya.


"Bibi, aku mau ke Malioboro!" seru Evelyn.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita pergi!" seru bibi Maureen tidak kalah semangatnya.


...***...


Sementara itu, Louise baru saja tiba dihotel bersama dengan rombongannya. Pria itu dibuat malas, saat melihat sang istri telah berdiri didepan pintu kamarnya.


"Minggir," ucap Louise menyingkirkan Gisella.


Namun Gisella enggan menyingkir. "Louise, aku ingin masuk ke dalam kamar ini bersamamu."


Louise menghembus nafasnya kasar, kemudian membiarkan wanita itu masuk ke dalam kamar daripada berdebat tanpa henti.


Gisella menyunggingkan senyuman, saat Louise memperbolehkan dirinya masuk ke dalam kamar yang sama. Ada perasaan senang menerpa wanita itu, disaat melihat Louise membuka pakaiannya.


"Louise, apa kau ingin?" tanya Gisella kepedean.


Louise berdecih. "Ya aku ingin, tapi ingin mandi dan pergi darisini!" balasnya tegas.


"Louise kau ingin kemana? Kenapa tidak mengajakku!" ucap Gisella memaksa.


"Bukan urusanmu!" jawab Louise acuh.


Pria itu segera menutup pintu kamar mandi tepat didepan muka Gisella, hingga wanita itu pun terperanjat kaget.


"Louise, baiklah. Kalau begitu aku akan ikut kemana pun kamu pergi," ucap Gisella setengah berteriak.


Louise menyalahkan keran air dan membasahi kepalanya yang nampak panas itu. "Dia benar-benar menjengkelkan!" umpatnya.


...***...


Tak berapa lama kemudian, Louise keluar dari kamar mandi dengan telah berpakaian rapih. Lalu tanpa banyak bicara, ia meraih kamera dan menggantungkan tali kamera pada leher kekarnya.


"Louise aku ikut ya," rengek Gisella.


"Terserah kau saja," balas Louise sambil memutar bola matanya malas.


"Kau ingin kemana membawa kamera itu?" tanya Gisella.


"Kau tahu bukan fungsi kamera untuk apa, dan kau juga tahu kan hobiku melakukan apa?" balas Louise ketus.


Gisella mengangguk. "Ya aku tahu, hobimu mengambil foto bagus."


"Jika sudah tahu, bisakah kau diam dan hanya ikut saja," ketus Louise.


"Oke, aku akan diam!" ucap Gisella mengalah, lalu mengekor dibelakang Louise.


Louise mengambil mobil dan memacu kendaraannya menuju Malioboro, dimana tempat tersebut sangat cocok untuk dirinya mengambil gambar-gambar bagus.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2