Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 31. Menemukan.


__ADS_3

Sementara itu, Selvi beserta Ken dan juga Mika masih terus mencari keberadaan Evelyn.


"Bagaimana ini, sebenarnya dia pergi kemana sih?" tanya Selvi, sesekali menarik nafasnya dalam-dalam.


"Tidak tahu kak Selvi, bagaimana ini. Bagaimana kalau Evelyn diculik om-om dan diajak masuk ke dalam hotel dan ___ "


"Hush! Mika kamu ngomong apa sih!" tegur Selvi memotong sebelum Mika sempat melanjutkan.


"Maaf, tapi tidak ada yang tahu bukan seperti apa tempat ini. Mana Evelyn sangat cantik, siapa sih om-om yang tidak suka dengannya," ucap Mika mengungkapkan isi kekhawatirannya.


Selvi hanya menghela nafas panjang, raut kekhawatirannya juga begitu terlihat sekali. Karena bagaimana tidak, Evelyn adalah tanggung jawab dirinya.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kita cari lagi! Coba kita cari di halaman belakang!" tegas Ken.


Mika dan Selvi mengangguk, kemudian mencari kembali keberadaan Evelyn.


...***...


Disisi lain di halaman belakang dimana tempat tersebut merupakan tempat dimana Louise dan Gisella sedang melangsungkan pemberkatan pernikahan mereka.


Keduanya tengah berdiri disatu altar yang sama, untuk saling mengucapkan janji dan sumpah setia mereka dihadapan semua orang.


"Saya Louise Alexander Horisson, menerima ..."


Namun disaat Louise menyatakan ikrarnya yang baru setengah itu, tiba-tiba ia melihat Selvi beserta yang lainnya tengah berlarian dikejauhan.


Louise pun menghentikan ucapannya, lalu mengedarkan pandangan.


"Bagaimana mereka bisa ada disini dan mengapa mereka terlihat panik sekali. Lalu ada dimana Evelyn ..." batin Louise ketika melihat tidak ada Evelyn disamping mereka itu.


"Tuan Louise silahkan melanjutkan ikrar anda," ucap pak pendeta melambaikan tangannya diwajah Louise.


"Evelyn ..." ucap Louise tanpa sadar, karena pikiran pria itu tengah diliputi banyak pertanyaan


"Apa!" sentak Gisella saat Louise menyebut nama calon pengantin wanita yang salah.


Louise menggeleng kepalanya cepat. "Maaf pak pendeta, aku harus pergi sebentar."


"Louise!" panggil Gisella sambil menatap Louise yang tengah berlari.


"Louise kau ingin kemana?" tanya tuan Horisson dan nyonya Grace menghalangi Louise.


"Daddy, ini darurat. Ijinkan aku pergi sebentar saja, nanti aku akan kembali kesini," balas Louise tidak punya banyak waktu. Lalu tanpa menunggu balasan dari semua orang, ia pun pergi meninggalkan acara pemberkatannya tersebut.


Louise bergegas pergi dari altar pernikahannya dan berlari menghampiri ketiga orang yang sudah tidak asing lagi baginya.


"Selvi!" panggilnya setengah berteriak.

__ADS_1


Selvi pun menoleh. "T-tuan Louise," sahutnya begitu takut saat tahu jika Louise sedang melihatnya berada disini.


"Bagaimana kalian bisa ada disini, lalu dimana Evelyn?" tanya Louise mencari-cari.


"D-dia hilang t-tuan," jawab Selvi takut sekali.


Louise membuka penuh matanya. "Apa! bagaimana bisa hilang?" tanyanya terkejut.


"I-iya tuan, ini kami sedang mencarinya," balas Selvi memberanikan diri menceritakan yang sebeenarnya terjadi.


Louise meraup wajahnya kasar, sambil berdecak kesal dan menatap tajam semua orang. Tapi mau marah kepada mereka pun, ini bukanlah waktu yang tepat.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, kalian harus cari Evelyn sampai ketemu!" titah Louise, lalu mulai melakukan pencariannya.


...***...


Sementara itu di lobby utama.


"C-cecilia ... Benarkah itu dirimu ..." lirih Opa Bernadi, tangannya perlahan ingin membuka masker wajah yang dikenakan oleh Evelyn.


Namun dengan segera Evelyn menghindar dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Kakek, namaku bukan Cecilia. Kakek pasti telah salah orang," balasnya dan seketika itu membuyarkan bayangan Opa Bernadi.


"Maaf, kakek pikir kamu orang lain. Bagaimana kalau kamu ikut kakek saja, kebetulan kakek tamu acara di hotel ini. Mungkin kalian bisa bertemu di dalam acara besar itu," ajak Opa Bernadi.


Evelyn menggeleng, ini sudah lebih dari sepuluh orang yang mengajaknya untuk ikut bersama. Pembahasan disekolah tentang kasus penculikan anak dibawah umur, membuat gadis itu jadi takut sendiri.


"Tidak kakek, aku akan tunggu mereka disini saja," tolak Evelyn enggan beranjak dari lobby utama, awal mereka tiba tadi.


Evelyn menolak, namun Opa Bernadi sudah terlanjur mendaratkan bokoongnya si tepi.


"Enak juga duduk disini, bisa lihat pemandangan luar dari balik dinding kaca itu," ucap Opa Bernadi sambil menunjuk-nunjuk dinding kaca dimana ada anak buahnya disana.


"Tidak apa, kalian menjauhlah. Tidak perlu mendekat," begitulah kode tangan yang diisyaratkan oleh kakek tua itu tanpa bicara.


"Nak, siapa namamu? Kalau sedang tersesat dan ingin mencari teman-temanmu yang hilang, kenapa tidak meminta bantuan petugas disana?" tanya Opa Bernadi menunjuk pusat bantuan dan informasi.


Evelyn meneguk ludahnya kasar, bukannya tidak ingin. Tapi dia takut, takut kalau keluarga Horisson tahu jika dirinya sedang berada disini.


Opa Bernadi menatapi Evelyn yang masih enggan membuka suara, dirinya begitu penasaran sekali dengan gadis remaja yang sedang duduk di sebelahnya itu.


Karena ia merasa ada keterikatan cukup tinggi saat berada dekat dengannya. "Mata itu, aku tidak mungkin salah. Tapi dia tidak mau bicara dan menunjukkan wajahnya," batin Opa Bernadi merasa penasaran.


"Nak, siapa namamu?" tanya Opa Bernadi sekali lagi.


"Namaku Ev---," ucap Evelyn terjeda, saat melihat sesosok yang sudah ia kenal sejak kecil. "T-tuan paman," lanjutnya terperangah.


"Tuan paman?" ucap opa Bernadi bingung. Lalu melihat kemana Evelyn sedang menatap. "Louise?" ucapnya lagi.

__ADS_1


Sementara itu Louise merasa lega karena telah menemukan Evelyn, dari sorot mata yang sudah ia kenal dengan baik selama ini. Namun seketika itupula ia membulatkan kedua matanya, ketika melihat sesosok pria tua yang sedang berdiri disebelah Evelyn.


Secepat kilat pria tampan itu menghampiri, lalu menarik Evelyn agar menjauh dan ikut dengannya.


Opa Bernadi menatap Louise. "Louise, kau ada disini? Bukankah kau seharusnya ada di---"


"Opa maaf, kebetulan dia adalah orangku dan saat ku tahu dia tersesat. Aku langsung mencarinya," ucap cepat Louise menjawab kebingungan Opa Bernadi.


"Dan kau, cepatlah ikut denganku!" ucap Louise dengan tatapan tajamnya pada Evelyn.


"B-baik tuan," patuh Evelyn.


Dia mengikuti langkah kaki Louise yang terus saja menariknya agar menjauh dari Opa Bernadi yang sedang terdiam dan menatap kebingungan dengan semua yang terjadi.


"Louise dan gadis itu, apa mereka ada hubungannya?" batin opa Bernadi bertanya-tanya.


...***...


"T-tuan paman, kita mau kemana?" tanya Evelyn menatap kesekeliling, sesekali mengimbangi langkah kaki cepat Louise.


Namun Louise hanya diam, hingga akhirnya dia membawa Evelyn hingga kesuatu tempat.


"T-tuan paman, ini tempat parkir basement. Kita ingin apa?" tanya Evelyn.


"Masuk ke dalam!" titah Louise membuka pintu mobilnya tanpa melepaskan tatapan tajamnya kepada Evelyn.


"T-tapi---"


"Masuk!" titah Louise. Kali ini dia sedikit membentak Evelyn hingga sukses membuat gadis itu terperanjat.


"B-baik tuan," patuh Evelyn. Lalu masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Louise yang duduk disebelah gadis itu.


Louise menutup pintu mobilnya rapat-rapat, lalu menatap Evelyn yang hanya menunduk takut tak mau menatap dirinya.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Wah kira-kira Evelyn mau diapain ya sama Louise di dalam mobil?


A. Di ceramahi.


B. Di marahi habis-habisan.

__ADS_1


C. Di ehem-ehem, atau


D. Mana saya tahu.


__ADS_2