
Beberapa saat sebelum insiden itu terjadi.
Evelyn berhenti sejenak, hanya untuk sekedar mengambil beberapa foto keindahan candi dan juga pemandangan alam disekitarnya.
Hingga pada akhirnya ia tertabrak dari belakang oleh seorang tak dikenal, saat hendak menaiki anak tangga selanjutnya.
Akibat tabrakan tidak terduga itu, Evelyn menjadi hilang keseimbangan. Ditambah tidak adanya pegangan pada sisi kanan maupun sisi kiri, membuat Evelyn hanya bisa pasrah sambil berteriak minta tolong.
"Akh tolong!" pekiknya waktu terhempas.
Namun, sepertinya nasib baik masih berpihak pada gadis itu. Dikala ia berpikir akan jatuh terguling-guling ke bawah, sebuah lengan kekar tiba-tiba menggapainya dan melingkar cepat pada pinggang rampingnya itu.
Evelyn terpejam saat semua kejadian cepat itu tejadi, hempasan tak terduga serta angin yang kencang, membuat topi dan juga kacamatanya terlepas dari posisi. Hingga rambut indahnya yang semula tertutup topi, kini telah terurai bebas dan berayun mengikuti arah angin.
Louise terpana melihat kejadian penuh dramatis itu, dan segera mengeratkan pegangannya agar mereka berdua tidak terjatuh terguling, dengan menarik pinggang ramping wanita yang ia tabrak tadi agar lebih mendekat kearahnya.
"Maaf, apa kau tidak apa-apa?" tanya Louise memastikan si wanita dalam dekapannya itu baik-baik saja.
Evelyn pun perlahan membuka kedua matanya, hingga nampaklah sebuah tatapan dari kedua bola mata biru, yang sudah tidak asing lagi bagi Louise sendiri.
"E-evelyn ..." batin Louise mengenali tatapan itu.
Evelyn lantas membuka penuh kedua matanya, saat melihat jelas sesosok pria yang telah menyelamatkan dirinya itu. Dan dia adalah sang tuan paman, orang yang sangat ia kenali.
"T-tuan paman, tapi bagaimana dia bisa ada disini. Kepalaku pasti telah terbentur sesuatu dan aku sekarang ini sedang bermimpi," batinnya tak percaya.
Lalu dengan polosnya Evelyn memejamkan kedua matanya lagi, tapi disaat membuka kedua mata. Dia masih melihat sosok Louise yang sedang mendekap dirinya itu tak berubah sedikitpun.
"B-benarkah kau Evelyn?" ucap Louise dengan tatapan tidak kalah terkejutnya.
"Eh aku tidak sedang tidak bermimpi ternyata!" batinnya terkejut.
Evelyn segera mendorong Louise agar menjauh darinya, namun Louise nampaknya tidak membiarkan dirinya pergi begitu saja. Karena lengan pria itu nyatanya masih betah melingkar erat dipinggang Evelyn dan kembali menariknya agar terus berdekatan.
"Maaf tuan, sepertinya anda telah salah orang." Evelyn segera memalingkan wajahnya yang masih tertutup masker dan menahan dada Louise yang semakin menempel dengannya.
Louise mencoba membuka masker wajah pada Evelyn, namun sebuah tangan tiba-tiba menghentikan aksinya.
"Maaf tuan, sepertinya anda telah melewati batasan. Segera lepaskan rangkulan tidak sopan anda pada pinggang nona muda kami," tegas salah satu ajudan milik opa Bernadi yang bertugas menjaga Evelyn.
Louise perlahan melepas rangkulannya itu, dengan rasa tidak rela. "Sepertinya kau telah salah paham pak, aku hanya berusaha menolongnya saat ingin terjatuh tadi."
__ADS_1
"Saya tahu itu tuan dan saya juga telah melihat semuanya, namun sepertinya anda tidak berniat melepaskan nona ini dan untuk itulah saya segera datang kemari!" balas sang ajudan bernama pak Roy.
Bersamaan dengan hal tersebut, Ken menghampiri Louise yang sedang berbicara dengan orang asing.
Pandangannya lantas tertuju kepada sesosok gadis bermata biru dibelakang pria berkacamata hitam. "A-apa dia Evelyn?" batin Ken ragu-ragu.
"Pak Louise, apa ada masalah?" tanya Ken mencoba menegahi.
"Tidak ada," balas Louise. Tatapannya masih tertuju kepada wanita yang sedang berada dibelakang pria bertubuh tinggi tegap dihadapannya itu.
Sedangkan pak Roy segera membawa Evelyn agar menjauh dari orang asing. "Ayo Nona, kita pergi dari sini."
"Hem," balas Evelyn cukup singkat.
Ken mengamati Louise yang masih setia menatap punggung wanita yang sudah pergi menjauh itu.
"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku Ken?" tanya Louise lalu menoleh kearah Ken.
"Apa maksudmu Louise? Apa kau beranggapan wanita itu adalah Evelyn?" tanya Ken.
Louise mengangguk, lalu menepuk pundak orang kepercayaan sekaligus teman andalannya itu. "Ken, aku ada pekerjaan penting untukmu malam ini."
"Aku akan memberitahumu setelah kita tiba di hotel nanti," ucap Louise sambil menatap wanita yang dia yakini sebagai Evelyn dikejauhan.
...***...
Setibanya dibawah, Evelyn segera menarik tangan bibi Maureen agar pergi dari tempat itu secepatnya.
"Bibi, tiba-tiba kepalaku pusing. Bagaimana kalau kita pulang saja," ucap Evelyn sambil menatap kesekitarnya.
"Kenapa Eve? Kenapa kau terlihat cemas sekali, apa terjadi sesuatu padamu? Mana kacamata dan topimu sayang, kenapa kau tidak memakainya?" tanya bibi Maureen ingin tahu.
"Bibi, kita tidak punya banyak waktu. Sekarang lebih baik kita pulang dulu ya," balas Evelyn cemas. Karena tidak ingin sampai Louise mengetahui keberadaan dirinya.
"Ya sudah ayo kita pulang," balas bibi Maureen mengerti kecemasan nona mudanya itu.
...----------------...
Hotel.
Pada malam harinya.
__ADS_1
Di dalam kamar hotel, tepatnya di dalam kamar Ken. Louise berencana menginap disana malam ini, karena tidak ingin tidur seranjang bersama dengan Gisella.
Selain alasan tersebut diatas, pria tampan itu masih ada urusan penting yang sedang dikerjakan bersama dengan anak buah kepercayaannya itu.
Meretas daftar tamu hotel.
Ken pun menunjukkan kebolehannya kembali, sebagai seorang ahli IT. Masalah seperti ini, masih bisa dibilang mudah untuknya.
"Bagaimana Ken, apa sudah muncul?" tanya Louise tidak sabar.
"Sudah, ini daftar kamar yang disewa oleh tuan Bernadi. Ada 3 kamar deluxe biasa dan 2 kamar presidential suite," balas Ken. "Tiga kamar biasa, itu mungkin untuk karyawannya. Satu kamar mewah itu sudah pasti ditempati oleh tuan Bernadi, lalu untuk siapa satu kamar mewahnya lagi?" tanyanya menerka.
"Evelyn, aku yakin satu kamar mahal itu ditempati olehnya. Ken beri tahu aku nomor kamarnya," pinta Louise antusias.
"Untuk apa? Jangan bilang kau ingin kesana Louise," tebak Ken to the point.
"Aku hanya ingin memastikan saja," balas Louise merasa yakin jika wanita itu adalah Evelyn.
Ken hanya bisa menghela nafas. "Baiklah," balasnya lalu memberi tahu nomor kamar hotel tersebut kepada Louise.
...***...
Sementara itu, disisi lain. Evelyn masih teringat akan kejadian di Candi Borobudur sore tadi, entah mengapa tatapan sang tuan paman membuatnya jadi tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena selalu saja terbayang-bayang didalam pikirannya.
Gadis itu menghembus nafasnya perlahan, lalu bangkit dari tempat tidurnya. "Kenapa setiap kali mau tidur, aku selalu saja melihat wajah tuan paman?" batinnya berubah gelisah.
Evelyn menatap jam diatas nakas, lalu berganti menatap bibi Maureen yang sudah tertidur lelap disampingnya. Ada perasaan tidak tega membangunkan wanita paruh baya itu, hanya karena ingin ditemani sebab tidak bisa tidur.
"Lebih baik tidak usah mengganggu bibi, dia pasti lelah karena menemaniku jalan-jalan." Evelyn pun beranjak dari tempat tidurnya, kemudian keluar dari kamar hotel hanya untuk sekedar mencari angin.
Evelyn memakai maskernya, namun tidak memakai kacamata hitam. Karena kacamatanya itu telah rusak, akibat insiden di Candi sore tadi.
Dengan sabar ia berdiri di depan pintu lift dan menunggunya sampai pintu lift itu terbuka. Lalu Evelyn pun masuk dan menekan angka lantai dasar, karena memang tujuannya adalah pergi ke bawah sana.
Namun sebelum pintu lift tertutup rapat, sebuah tangan dari luar tiba-tiba menahan pintu tersebut, dan seorang pria memakai masker masuk ke dalam lift.
.
.
Bersambung.
__ADS_1