
Tiga bulan kemudian.
Sehari sebelum pernikahan Louise dengan Gisella digelar pada esok hari, Evelyn tengah merengek kepada Selvi agar mengabulkan permintaannya yang ingin sekali hadir untuk melihat acara resepsi pernikahan tuan pamannya itu.
Karena sebelum rengekkan itu terjadi, Louise beserta tuan Horisson telah memberi ultimatum kepada Selvi dan juga Mika agar tidak perlu datang ke acara pernikahan tersebut, termasuk Evelyn sekalian.
Hal itu pun membuat Evelyn kecewa, karena sebelumnya ia pernah meminta kepada tuan pamannya itu untuk ikut dan menjadi pengiring pengantin.
Namun keinginannya tersebut malah di tolak mentah-mentah oleh Louise, dengan alasan jarak hotel yang jauh serta jadwal sekolahnya yang padat.
Jangan macam-macam, tidak perlu datang ke acara pernikahan tuan paman hari minggu besok. Kau senin pagi harus sekolah, sore harus ikut les ekstra!
Begitulah kira-kira ceramah Louise kepada Evelyn sebelum rengekkan itu terjadi.
...***...
"Ayolah kak Selvi, kita datang ya besok pagi ke acaranya tuan paman. Aku ingin sekali melihat mereka mengenakan baju pengantin," rengek Evelyn dan begitulah seterusnya hingga Selvi merasa pusing sekali.
"Evelyn, mengertilah. Kita hanya seorang pembantu disini, apa pantas mengikuti acara mewah majikan kita? Sudah begitu, kau kan dengar sendiri kalau kemarin tuan Louise tidak mengijinkan kita untuk datang ke acaranya besok," balas Selvi menjelaskan.
Evelyn mencebik. "Kak Selvi tolong mengertilah keinginanku ini kak, pernikahan tuan paman termasuk salah satu momen berharga sekali dalam hidupku ini. Aku ingin sekali menyoraki mereka dari balik kerumunan," bujuk Evelyn.
"Tapi, bagaimana kalau keluarga tuan besar sampai tahu kita pergi kesana hah? Kamu mau tanggung jawab, kalau kita sampai dipecat beramai-ramai?" ucap Mika menyela.
"Kita menyamar saja dan sebisa mungkin jangan sampai ketahuan sama mereka," balas Evelyn memberi ide.
"Eh boleh juga tuh idenya," ucap Mika bimbang.
"Tapi Evelyn, walau kita bisa pergi besok. Mau naik apa kesananya?" ucap Selvi akhirnya menyerah juga.
Mereka bertiga seketika terdiam dan berpikir.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan pak Santos?" tanya Evelyn.
Selvi menggeleng. "Jangan, pak Santos pasti sangat sibuk."
"Bagaimana kalau kita naik angkot saja," ucap Mika memberi saran.
"Jangan, mahal biayanya." Selvi menolak.
"Minta bantuan kak Ken saja, dia punya mobil dan bisa menyetir." Evelyn menyumbangkan isi pikirannya.
Selvi segera menggeleng. "Tidak tidak! Lebih baik jangan libatkan orang lain dalam masalah ini," tolaknya tegas.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Ken tiba-tiba. Entah darimana pria itu bisa muncul begitu saja, namun itu cukup mengejutkan mereka bertiga.
"Kak Ken!" seru mereka bertiga.
"Iya ini aku Ken, kenapa kalian bertiga terkejut seperti itu? Evelyn cepat ambil bukumu dan kita mulai lesnya," ucap Ken.
Evelyn tersenyum lebar. "Kak Ken, boleh aku meminta sesuatu padamu," ucap gadis itu lengkap dengan tatapan memelasnya.
"Apa, apa!" tegas Ken bertanya. Tidak suka sekali ditatap seperti itu oleh Evelyn.
Gadis remaja itupun memberitahukan keinginannya kepada Ken dan meminta tolong padanya untuk mengantar mereka hingga ke tempat pesta pernikahannya Louise.
"Dasar gila, kalian pikir tempat itu dekat. Belum lagi besok adalah hari minggu dan sudah pasti jalanan sangat macet disana. Apa kalian tidak berpikir kedepannya, bagaimana jika aksi kalian ini ketahuan oleh tuan Horisson. Apa yang akan terjadi pada kalian hah?" ceramah Ken panjang lebar.
Evelyn seketika murung, sedih sekali rasanya saat suatu keinginan tidak dapat terwujud. Tanpa banyak kata gadis itu bergegas pergi, lalu mengurung dirinya di kamar, meninggalkan tiga orang dewasa yang masih berdebat membahas masalah tersebut.
"Loh mana Evelyn?" ucap Mika celingukkan.
__ADS_1
Selvi dan Ken lantas berhenti berdebat, kemudian sama-sama mengedarkan pandangannya kesegala arah.
"Kemana dia pergi?" tanya Selvi panik. Lalu menatap Ken. "Ini semua gara-gara kamu, kalau tidak mau mengantar bilang saja tidak mau. Tidak usah pakai menceramahi kami bertiga segala!" dengusnya kesal.
"Awas saja kalau gadis itu sampai nekad pergi sendiri. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Selvi melanjutkan lalu pergi mencari Evelyn.
Ken meninggikan lehernya. "Kenapa jadi aku yang disalahkan?" tanyanya heran.
...----------------...
Keesokan harinya.
Hari bahagia yang ditunggu-tunggu oleh Gisella akhirnya telah tiba, dimana itu adalah hari pernikahannya dengan Louise, pria yang sangat ia cintai.
Gisella tampil mempesona dan begitu sempurna, dengan balutan gaun pengantin putih berkelas nan mewah dari tangan perancang terkenal, membuat wanita itu terlihat lebih anggun daripada biasanya.
Ditambah riasan dari make up artis profesional, menjadikan dirinya begitu cantik dan juga memukau bagi siapapun mata yang memandang.
Tak khayal penampilan Gisella hari ini, berhasil menuai banyak pujian dari para tamu yang datang ke acara pernikahannya.
"Wah kamu cantik sekali, tante yakin Louise akan tergila-gila saat melihat penampilanmu ini sayang," puji nyonya Grace begitupun dengan kawan-kawannya.
"Terima kasih tante," balas Gisella tersenyum.
"Heh, jangan memanggil tante. Mulai sekarang panggil saja Mommy sama seperti Louise," ucap nyonya Grace membenarkan.
Gisella menunduk malu. "Iya maaf Mom," ralatnya cepat.
Nyonya Grace tersenyum. "Ya sudah ayo kita jalan sekarang," ajaknya dan Gisella mengangguk, terlihat juga senyum diwajahnya itu selalu terukir tanpa henti.
...***...
"Kemana mereka, kenapa teleponku tidak diangkat-angkat?" gumam Louise gemas sekali.
"Apa Evelyn masih marah padaku," gumam pria tampan itu menduga-duga.
Karena terakhir kali ia bertemu dengan Evelyn, dirinya menolak mentah-mentah permintaan gadis itu saat ingin datang keacara pernikahannya.
Dan penolakan tersebut bukanlah tanpa alasan, sebab Louise telah mengundang opa Bernadi dalam pesta pernikahannya dan ia tidak ingin mereka berdua sampai bertemu.
"Maafkan tuan paman Evelyn," gumam Louise merasa tidak enak sendiri dan gelisah tidak menentu karena yang ada didalam pikirannya itu adalah Evelyn pasti sedang sedih sekarang ini.
Namun kenyataannya tidaklah seperti itu, karena Evelyn beserta Selvi dan juga Mika sedang dalam perjalanan menuju tempat dimana acara pernikahaan tersebut akan dilangsungkan.
Masa bodo dengan larangan atau apalah itu namanya, karena yang terpenting sekarang adalah mereka akan tiba di tempat tersebut, demi satu keinginan sang putri berlogo pembantu milik tuan muda Louise.
Yaitu melihat tuan mudanya menikah dan melihat Gisella yang sedang memakai baju pengantin.
Sungguh aneh bin ajaib, tapi bagaimana itu bisa terjadi? Ya tentu saja dengan deraian air mata dan juga bujukkan maut tentunya.
Ken memutar bola matanya malas, menghadapi ketawa ketiwi ketiga wanita beda usia dibelakang kursi mobilnya itu. Kondisi yang begitu berbanding terbalik saat hari kemarin, dimana pria itu mengingat isakan tangis disekeliling telinganya.
"Bisakah kalian bertiga yang duduk dibelakang itu berhenti tertawa, apa kalian tidak tahu kalau mengemudi itu butuh konsentrasi tinggi dan juga ketenangan yang ekstra!" ucap Ken penuh penekanan.
"Berisik sekali, mengemudi saja. Tidak perlu mengurusi urusan kita yang duduk dibelakang ini," balas cepat Selvi, lalu dibalas anggukan kepala Evelyn dan juga Mika.
Ken mendengus kesal. "Tidak tahu diuntung, sudah menumpang gratis dan mengantar kalian secara sukarela masih saja tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih," ucap pria berpendidikan itu tidak suka jika dirinya dibantah.
"Maafkan kami kalau mengganggumu kak Ken, jujur ku ucapkan terima kasih banyak, karena sudah mau direpotkan mengantar kami seperti ini," ucap Evelyn lemah lembut.
Seketika Ken menurunkan tensi darahnya, apa boleh buat, anggap saja dia juga sedang ikut berjalan-jalan. "Tidak apa, tidak perlu merasa sungkan seperti itu. Asal kau harus ingat janjimu itu ya, kau harus mendapatkan nilai bagus saat ujian nanti."
__ADS_1
Evelyn tersenyum dan mengangguk. "Baik kak Ken, aku berjanji."
...***...
Setelah menempuh jarak puluhan kilometer ke tempat tujuan, akhirnya rombongan tidak diundang itu berhasil masuk ke halaman parkir salah satu hotel megah berbintang lima, dimana Louise akan mengadakan pemberkatan serta resepsi pernikahannya didalam hotel tersebut.
Keempat mahkluk hidup itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tak sedikit dari mereka menunjukkan sikap noraknya.
"Cepat pakai masker kalian," ucap Ken segera. Karena dia tidak ingin ada orang yang mengenali mereka dan terkena masalah nantinya.
"Terus bagaimana kita bisa masuk ke dalam? Semua tamu yang diundang pasti punya kartu privat," tanya Selvi mulai kepikiran saat telah sampai disini.
"Kita masuk saja dulu, urusan itu pikirkan saja di dalam." ucap Ken tidak tahu juga harus bagaimana.
"Ya sudah," seru mereka kompak, kemudian masuk ke dalam hotel itu bersama-sama layaknya tamu hotel kebanyakan.
Dan setibanya mereka di dalam hotel tersebut, Evelyn mendadak ingin buang air kecil. Rasa kebeletnya akibat perjalanan jauh, membuat gadis itu tergesa-gesa mencari toilet tanpa ijin terlebih dahulu, hingga akhirnya ia terpisah dari gerombolannya.
Hal tersebut membuat Ken, Mika dan Selvi langsung panik bukan kepalang. Mereka bertiga jadi sibuk mencari gadis remaja itu di dalam hotel yang super luas dan besar, hingga lupa dengan tujuan mereka datang kesana.
"Matilah kita!"
...***...
Sementara itu, di toilet wanita.
"Fiuhh lega," ucap Evelyn merasa lega sehabis buang air kecil.
Gadis lugu itu segera mencuci tangan dan bergegas mencari Selvi dan Mika yang dia pikir ikut juga ke toliet. "Ayo Kak Selvi, aku sudah selesai," ucapnya benar-benar tidak tahu.
Evelyn celingukan sendiri, mencari keberadaan orang-orang yang sebenarnya sedang kelabakan mencari keberadaannya.
"Mereka hilang kemana?" tanyanya mulai panik.
Gadis itu terus berjalan seperti anak ayam yang sedang terpisah dari induknya, hingga akhirnya ia menyadari jika dirinya telah tersesat.
"Oh No!" pekiknya benar-benar takut sekarang. Mengingat tak ada ponsel ditangan.
...***...
Evelyn menangis tersedu-sedu, karena sudah 10 menit dia berkeliling hotel, tapi tak kunjung jua menemukan orang yang ia cari.
Rasanya ingin sekali meminta pertolongan pada pusat informasi yang sedang memperhatikannya itu, namun dia takut ketahuan oleh keluarga Horisson jika dirinya sedang berada disini.
"Kalau aku ke bagian pusat informasi dan meminta halo-halo aku ini sedang hilang, kan gak lucu juga," batin gadis itu nyeleneh sendiri.
Hingga akhirnya seorang pria tua yang kebetulan melihat hal tersebut segera datang dan menghampirinya.
"Nak, kenapa duduk dipinggiran sini?" tanya Opa Bernadi.
Evelyn buru-buru memakai maskernya, lalu menoleh dan sedikit mendongakkan wajahnya keatas. "Kakek, aku sedang tersesat dan tidak tahu teman-temanku ada dimana."
Opa Bernadi memandangi kedua bola mata kebiruan Evelyn, lalu seketika ingatannya kembali dimana wajah almarhumah sang menantu terbayang nampak dihadapannya.
"Cecilia," ucap Opa Bernadi begitu saja.
.
.
Bersambung.
__ADS_1