
Sore harinya.
Gisella memberanikan diri pergi keluar rumah, untuk bertemu dengan Louise tanpa sepengetahuan sang ayah maupun orang-orang di rumahnya itu.
Ia keluar dengan cara mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh penjaga rumah, lalu bergegas menaiki sebuah taksi online yang telah dipesan sebelumnya.
"Ayo pak jalan cepat!" titah Gisella sambil menunduk agar tidak ada yang melihatnya.
"Iya Non," patuh si pak supir kemudian melajukan kendaraannya.
Dirasa sudah cukup jauh, Gisella membenarkan posisi duduknya. Lalu menghubungi nyonya Grace untuk mengabarkan jika dirinya sedang dalam perjalanan menuju rumah tuan Horisson.
...***...
Setibanya di tempat tujuan, Gisella disambut haru oleh nyonya Grace. Wanita paruh baya itu mengungkapkan rasa gembiranya, karena Gisella masih bersedia melanjutkan hubungannya dengan Louise, walau gadis itu tahu kebiasaan buruk putranya.
"Aku mencintai Louise tante, aku tidak peduli dengan ucapan semua orang dan larangan dari keluargaku. Jadi tante, aku tetap ingin melanjutkan hubungan ini," ucap Gisella yakin.
Nyonya Grace merasa terharu. "Tante senang mendengarnya sayang, tapi tante rasa Louise tidak pantas untuk wanita sebaik kamu. Lebih baik jangan dilanjutkan lagi ya, lagipula keluargamu sudah melarang hubungan ini. Tante tidak ingin menyusahkan keluargamu suatu saat nanti."
Gisella menggeleng. "Tidak tante, Gisell akan membujuk Daddy agar merestui kembali hubungan ini dan memintanya untuk melanjutkan pernikahan kami berdua," balasnya.
"Baiklah, coba kamu bujuk Daddy mu dulu. Kalau berhasil tante tidak akan melarangmu lagi melanjutkan hubungan ini," ucap nyonya Grace.
"Baiklah tante," balas Gisella.
Tak berselang lama kemudian, tuan Horisson bersama dengan Louise tiba di rumahnya sehabis pulang dari perusahaan.
Sepanjang perjalanan pulang, pria paruh baya itu selalu menceramahi Louise habis-habisan, karena telah berani melanggar perintah darinya.
"Sudah Daddy tegaskan padamu, kau tidak boleh berdekatan dengan wanita lagi. Kau harus fokus bekerja Louise, fokus!" tegasnya.
"Daddy, bukan Louise tidak fokus bekerja. Louise memang sedang berusaha saja," ucap pria tampan itu.
Tuan Horisson menghembus nafasnya kasar. "Kau kebanggaan keluarga Horisson, kau harapan untuk Daddy. Kau memang pintar dan cerdas, tapi jangan lupakan norma-norma etika yang ada. Percuma saja kau cerdas dan tampan kalau kau sendiri tidak memiliki norma baik," ceramahnya. Lalu masuk ke kamar untuk beristirahat.
Louise mendesahh panjang, rasa kesalnya bertambah saat melihat Gisella sedang ada di dalam rumah dan tengah menghampiri dirinya.
"Mau apa kau datang kesini?" tanya Louise acuh.
"Louise, aku datang karena ingin bertemu denganmu. Ada yang ingin kubicarakan denganmu, tapi hanya kita berdua saja," balas Gisella.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau bicarakan, bukankah pernikahan kita sudah dibatalkan? Jadi kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi," balas Louise.
"Louise, please. Sebentar saja," pinta Gisella.
Louise memijat pelipisnya yang tidak berdenyut. "Baiklah, hanya sebentar."
Gisell pun tersenyum, lalu mereka berbincang di taman belakang.
"Cepatlah bicara, aku tidak punya banyak waktu," ucap Louise tak sabar.
Gisella menarik udara disekitar dan memberanikan diri untuk bicara. "Louise, berita tidak baikmu telah tersebar luas. Banyak yang men-cap dirimu sebagai pria pemain wanita, bahkan ada yang bilang kau seorang pria kotor."
"Tapi Louise, aku tidak peduli dengan ucapan omong kosong semua orang diluaran sana, karena aku selalu percaya padamu. Kau tidak mungkin melakukan hal itu, jadi ku mohon jangan batalkan pernikahan kita," ucap Gisella meminta.
Louise berdecih. "Sebenarnya apa yang kau inginkan? Bukankah daddymu sendiri yang membatalkan pernikahan kita, daddymu juga yang telah menyebar berita itu kepada semua orang, hingga keluargaku harus menanggung malu. Lalu kau ingin kita meneruskan hubungan ini? Gisella, dimana akal sehatmu?"
Gisella terdiam. "A-aku tahu, tapi aku tidak peduli. Aku mencintaimu Louise dan aku akan menentang siapapun yang berani mengganggu hubungan kita, tidak peduli itu keluargamu atau keluargaku, bahkan dari kalangan masyarakat luas pun," balasnya teguh.
Louise memutar bola matanya malas, inilah yang ia tidak sukai dari Gisell. Yaitu sifat keras kepala dan selalu mau menang sendiri.
"Sadarlah Gisell, aku bukan pria baik-baik. Lebih baik segera tinggalkan aku sebelum kau menyesalinya," balas Louise.
Pria tampan itu pun melangkahkan kakinya kembali, akan tetapi Gisella dengan sigap menghadang langkahnya.
Louise membulatkan kedua matanya. "Jangan bodoh!" tegasnya sambil menghentak tangannya agar terlepas dari cekalan.
Namun Gisella segera menggenggam tangan Louise kembali. "Louise aku benar-benar mencintaimu, jangan pergi dariku. Ijinkanlah aku menjadi wanitamu satu-satunya, aku yakin kau bisa berubah setelah kita menikah dan berumah tangga nanti."
Louise menghembus nafasnya kasar, merasa sulit sekali menyingkirkan wanita satu ini dari hidupnya. "Aku tidak mencintaimu, jadi pergilah dan jangan ganggu aku lagi!" tegasnya.
Gisella menggeleng. "Tidak mungkin, aku yakin kau mencintaiku Louise. Karena selama 6 tahun ini kita selalu jalan bersama dan hanya akulah wanita yang selalu ada disampingmu. Aku tahu kau berkata seperti itu pasti karena kasusmu itu, tapi percayalah padaku. Kalau aku tidak akan mempermasalahkan kejadian masa lalumu itu," balasnya sambil berderai air mata.
Louise menatap Gisella yang mati-matian mempertahankan hubungan mereka, terlihat juga cincin pertunangan masih tersemat di jari manis wanita itu.
"Aku mencintaimu Louise, aku tidak bisa hidup tanpamu," lirih Gisella.
Louise menyugar rambutnya kebelakang, dia tahu betul resiko memiliki wajah tampan memanglah seperti ini. Akan ada banyak drama serta deraian air mata dari wanita yang dia tolak cintanya.
"Gisella, mengertilah. Aku bukan pria baik untukmu, sekarang pergilah dari sini. Aku ingin kau kembali kepada keluargamu," ucap Louise selembut mungkin agar Gisella menurut.
Namun wanita itu tetap teguh pada pendiriannya. "Tidak Louise, sebelum kau berkata ingin melanjutkan pernikahan kita, maka aku bertekad tidak akan pergi dari sini!" tegasnya menolak.
__ADS_1
"Gisella!" sentak tuan Anderson yang baru saja tiba lengkap dengan tatapan tajamnya.
Louise dan Gisella pun menoleh bersamaan, mereka sempat terkejut saat melihat kedatangan tuan Anderson tanpa aba-aba.
"D-daddy," ucap Gisella.
Tuan Anderson mendekat, kemudian melayangkan satu tamparan keras diwajah putrinya itu, hingga semua orang disana tercengang, termasuk Louise yang menyaksikan langsung adegan menyakitkan tersebut.
"Putri kurang ajar, pergi dari rumahku tanpa pamit dan beraninya kau datang seorang diri menemui si pria kotor ini!" bentaknya.
"Daddy dia bukan pria kotor, dia adalah calon suamiku!" tegas Gisella sambil memegangi wajahnya yang memerah.
"Diam! Lebih baik kita pulang ke rumah sekarang, karena Daddy tidak sudi kau menikah dengan pria bedjat seperti dia!" sentak tuan Anderson lalu menarik Gisella agar ikut pulang.
"Tapi Daddy, Gisell belum mendapat jawaban dari Louise!" ucap Gisella kemudian menatap Louise. "Louise ku mohon, jangan batalkan pernikahan kita. Aku berjanji akan menentang siapapun jika kau ingin kita tetap menikah," sambungnya.
"Gisell!" murka tuan Anderson, tangannya nyaris mendarat di wajah putrinya jika Louise telat sedikit saja menghadangnya.
"Louise ..." lirih Gisella.
"Pulanglah, Daddy mu memang benar mengenai diriku ini. Aku tidak pantas untukmu, karena aku ini hanya pria bedjat dan kotor," balas Louise mengakui.
"Benar, kau pria kotor. Jangankan putriku, kau bahkan tidak pantas untuk wanita manapun!" cibir tuan Anderson, kemudian meludah dan pergi sambil membawa paksa putrinya.
Tuan Horisson terdiam dengan tatapan kecewanya pada Louise, dia bahkan tidak bisa menentang orang lain yang telah berani menghina putranya di dalam rumahnya sendiri.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Hai maaf nih kalau telat atau sedikit update nya, dikarenakan penulis sedang tidak enak body.
Jangan lupa terus dukung karya receh ini dan jiga karya yang lainnya.
__ADS_1