Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 118. Kedatangan Tuan dan Nyonya besar


__ADS_3

Mansion Louise.


Setelah kembali dari rumah sakit, Louise segera membopong istrinya agar berbaring diatas pembaringan dan memintanya untuk beristirahat.


Lalu Louise mengambil piring berisi makanan yang baru saja dibawakan oleh Selvi dan segera menyuapi Evelyn dengan penuh kasih sayang.


"Makanlah dulu, setelah itu baru minum vitaminnya," ucap Louise begitu peduli sekali dan siapapun wanita yang melihat pasti akan merasa iri dibuatnya.


"Sudahlah sayang, tidak perlu bersikap seperti itu padaku. Aku tidak apa-apa dan aku juga bisa makan sendiri," ucap Evelyn ingin meraih piring dari tangan Louise.


Namun Louise menarik piring tersebut agar menjauh. "Tidak boleh, aku ingin mengurus ibu dari anakku. Dan kau tidak boleh menolak ataupun melarangku," balasnya tidak mengijinkan.


Evelyn merasa tersentuh dengan perhatian Louise kepada dirinya, terlebih saat suaminya itu berkata ingin mengurus ibu dari anaknya. Membuat Evelyn hanya bisa tersenyum bahagia dan pada akhirnya menerima perlakuan manis tersebut dengan senang hati.


"Baiklah, terserah kau saja."


Louise tersenyum, sambil mengusap wajah Evelyn. "Bagus istri kecilku yang patuh," ucapnya lalu kembali menyuapi.


Dan setelah Evelyn selesai menyantap sarapan pagi yang hanya beberapa suap itu, Louise segera memberikannya air minum beserta vitamin dari dokter. Lalu menaruh gelas diatas nakas kembali setelah Evelyn meminumnya.


"Katakan padaku honey, kau ingin makan apa lagi. Atau kau ingin melakukan apa?" tanya Louise sambil mencondongkan dirinya.


"Tidak sayang aku sudah kenyang, memangnya kenapa?" balas Evelyn.


"Setahuku, wanita yang sedang hamil muda pasti mengalami masa ngidam. Sekarang katakan padaku honey, apa kau juga sedang mengalami masa itu?" tanya Louise antusias sekali.


Evelyn tersenyum dan menggeleng pelan. "Entahlah aku belum tahu ngidam apa dan mau apa," balasnya.


"Ya sudah tidak apa-apa, tapi jika kau menginginkan sesuatu, jangan sungkan meminta langsung padaku ya. Aku tidak ingin anak kita sampai kekurangan apapun yang dia mau," balas Louise berusaha memahami dan memanjakan istrinya.


Evelyn mengangguk dan tersenyum. "Baiklah sayang," balasnya patuh.


...***...


Sementara itu, berita kehamilan Evelyn telah tersebar hingga ke telinga nyonya Grace dan juga tuan Horisson. Kedua orang tua itu begitu senang mendapat kabar tersebut, mereka pun bergegas mengunjungi Evelyn untuk melihat keadaan menantunya.

__ADS_1


"Sayang," sapa Tuan Horisson yang baru saja tiba di rumah sang anak.


Evelyn melebarkan kelopak matanya dan tersenyum senang. "Tuan besar!" serunya keceplosan.


Tuan Horisson mencebik. "Kebiasaan! Sudah berapa kali Daddy katakan, jangan panggil Daddy tuan besar lagi. Marena kau telah menjadi menantu Daddy, maka panggillah Daddy," ucapnya mengingatkan.


Evelyn mengangguk cepat. "Iya Daddy, maaf."


Tak ada bedanya dengan Tuan Horisson, Nyonya Grace juga turut menghampiri dan menyapa menantunya. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya. Lalu duduk di tepi ranjang.


"Aku baik hanya mual saja," balas Evelyn.


Nyonya Grace tersenyum. "Baguslah, masa seperti itu normal." Lalu menatapi Evelyn dan membelainya. "Mommy tidak menyangka kalau takdir begitu sulit untuk ditebak dan Mommy juga selalu menyangkal kalau Louise hanya mencintaimu seorang."


"Tapi apa yang Mommy perbuat padamu sayang, Mommy malah jahat dan menjauhkanmu darinya. Maafkan Mommy karena pernah berbuat jahat padamu," ucapnya menyesali.


Evelyn tersenyum dan mengelus punggung tangan Nyonya Grace. "Tidak masalah Mom, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Tidak ada yang tahu masa depan seperti apa bukan, kau juga tidak bersalah. Karena aku yakin semua itu kau lakukan demi kebahagiaan putramu," balasnya.


Nyonya Grace tersenyum lega, sambil mengusap buliran bening pada ujung ekor matanya. "Terima kasih, karena kau mau mengerti diriku ini," ucapnya.


Evelyn menelan ludahnya yang tercekat, lalu menatap Louse yang sama menatapnya juga. "I-itu," ucaonya terbata. Karena Evelyn sendiri bingung, harus jujur atau tidak tentang ulah suaminya sebulan lebih yang lalu.


"Ya, Daddy juga sempat bingung. Kalian baru saja menikah dan melakukan itu paling kemarin malam, tapi kenapa bisa langsung hamil?" tanya Tuan Horisson dan itu menambah kegugupan Evelyn.


"Kau tidak melakukan hal yang sama seperti yang Gisella lakukan kan?" tanya Nyonya Grace, dirinya begitu takut kasus Gisella terulang kembali pada istri barunya Louise.


"Tidak Mom, Daddy. Anak ini murni anakku, karena aku membuatnya dengan penuh cinta. Maaf aku belum memberitahu ini kepada kalian, sebenarnya aku pernah merenggut paksa kesucian Evelyn sebulan lebih yang lalu. Dan untuk itulah aku memajukan tanggal pernikahan kami," balas Louise apa adanya.


Dan sudah tentu hal tersebut membuat Nyonya Grace dan Tuan Horisson sama-sama terkejut saat mendengarnya, mereka menatap tajam Louise dan langsung memarahinya.


"Kurang ajar! Beraninya kau memperkosa Evelyn! Apa hak mu melakukan itu terhadapnya? Walau kau sudah tahu akan menikahinya, tapi itu bukan berarti kau bisa semena-mena kepadanya Louise!" sentak Tuan Horisson geram.


Ia memarahi putranya dan mewakili Evelyn sebagai orang tua. Karena walau bagaimana pun Evelyn pernah tinggal bersamanya saat masih bayi dan sudah dianggap sebagai anak sendiri.


Tidak ada bedanya, Nyonya Grace juga menceramahi Louise habis-habisan dan tidak habis pikir dengan tingkah putranya yang tega mengambil kehormatan seorang wanita secara paksa.

__ADS_1


"Kau pasti sangat sedih dan terpuruk saat itu bukan? Evelyn, atas nama Louise tolong maafkanlah dia," ucap Nyonya Grace merangkapkan kedua tangannya dan meminta maaf kepada Evelyn.


"Tidak Mommy, jangan meminta maaf kepadaku. Itu sudah berlalu dan aku telah memaafkannya," balas Evelyn sambil menatap Louise yang tersenyum lembut padanya.


Nyonya Grace dan Tuan Horisson sontak terenyuh, mendengar kebesara hati Evelyn. "Terima kasih sayang," ucapnya lalu memeluk Evelyn dan kembali menatap tajam Louise.


"Tapi Mommy tetap tidak bisa memaafkanmu dengan mudah Louise! Beruntung kau mau bertanggung jawab dan berita memalukan ini tidak sampai ke telinga masyarakat. Kau bisa menghancurkan nama baik keluarga kita!" ocehnya panjang lebar.


"Ya Mommy, maafkan aku. Maafkan aku juga sayang," ucap Louise kemudian menyapu bibir Evelyn didepan kedua orang tuanya.


Evelyn terbelalak dan segera mendorong Louise agar berhenti menciumnya. "Sudah sayang aku malu," ucapnya tertunduk.


"Kenapa harus malu? Aku mencintaimu," balas Louise.


Tuan Horisson dan Nyonya Grace terkekeh, ini kali pertamanya ia melihat Louise begitu bahagia. Mereka saling merangkul dan menatap satu sama lain dengan hati senang.


"Ya sudah, kalau begitu Mommy dan Daddy pamit pulang. Agar kalian bisa berduaan," ucap Nyonya Grace menggoda.


"Benar, walau bagaimana pun juga kalian masih pengantin baru dan Daddy mengerti bagaimana rasanya jadi kalian. Daddy hanya berdoa agar kalian selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan seperti ini selamanya," ucap Tuan Horisson menimpali.


"Terima kasih Mom, Dad!" balas Louise dan Evelyn bersamaan.


Lalu, Louise mengantar kedua orang tuanya pulang dan ia kembali masuk ke dalam kamar untuk menemani sang istri.


Segera pria itu melingkarkan kedua tangannya dan mengelayut manja pada tubuh Evelyn, lalu menciumi bibir istrinya hingga puas.


Walau Louise menunda bulan madu mereka, karena kondisi Evelyn yang masih lemah. Namun pria itu akan terus menjalani hari-harinya di rumah bagai sepasang suami istri yang sedang berbulan madu.


Dan bisa ditebak mereka sedang melakukan apa kalau bukan memadu kasih.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2