
Puncak.
Evelyn masih mengurung dirinya didalam kamar dan menolak untuk makan sesuatu atau minum apapun, sebab kesedihan yang masih melanda hati gadis itu.
Hal tersebut membuat Selvi menjadi cemas, pasalnya Evelyn tidak terlihat menyentuh makanannya sama sekali. Dan itu terlihat dari masih tersusun rapi semua makanan Evelyn, yang berada diatas troli didepan pintu kamarnya.
"Evelyn, makanlah sedikit saja. Jika begini terus kau bisa sakit," ucap Selvi di depan pintu. Namun Evelyn masih enggan menjawab dan hanya suara tangisannya sajalah yang terdengar dari balik pintu itu.
Selvi merasa sedih, saat mengetahui jika Evelyn masih saja menangis terisak didalam kamarnya, karena walau bagaimanapun juga, Evelyn sudah ia anggap sebagai adik dan Selvi tidak ingin Evelyn sampai menyiksa dirinya sendiri.
"Evelyn," panggil Selvi sekali lagi.
Bersamaan dengan hal itu, Louise datang untuk melihat keadaan Evelyn. "Apa yang kau lakukan disini? Apa dia sudah makan?" tanyanya pada Selvi.
"Belum tuan, Evelyn belum makan apapun dari tadi siang," balas Selvi apa adanya.
Louise mendesaah panjang, tak disangka jika gadis itu begitu sulit untuk dibujuk agar patuh kepadanya.
"Ambilkan kunci cadangan," titah Louise tidak ada pilihan lain.
"Baik tuan," patuh Selvi dan menuruti.
...***...
Tak berselang lama kemudian, Selvi datang dengan membawakan kunci cadangan yang diminta oleh Louise sebelumnya.
Lalu menyerahkannya kepada Louise. "Ini tuan, kuncinya."
"Terima kasih," balas Louise, lalu membuka pintu kamar Evelyn.
Louise menghela nafasnya panjang, setelah melihat kondisi Evelyn yang sedang duduk menangis diatas kasur sambil memegangi kedua lututnya.
Kedua mata gadis itu terlihat bengkak dan memerah, karena terlalu lama mengeluarkan air mata.
Louise mendekat dan duduk ditepi ranjang, sambil membawa piring berisi makanan. "Evelyn, berhentilah menangis dan makanlah," pintanya menyuapi.
__ADS_1
Namun Evelyn masih enggan menoleh dan selalu menutup rapat mulutnya, dia menolak perhatian dari sang majikan dan memintanya agar keluar dari kamarnya segera.
"Pergilah tuan paman, aku sedang tidak ingin makan," ucap Evelyn tanpa memandang Louise yang setia menunggunya membuka mulut.
"Maaf jika tuan paman berkata kasar yang menyakiti hatimu hingga membuatmu sedih, tapi tuan paman mohon janganlah kau menyakiti dirimu seperti ini Evelyn," ucap Louise sambil menarik dagu Evelyn agar mau menatapnya.
"Tuan, apakah benar yang kau katakan tadi, kalau aku ini memang tidak diinginkan? Apakah aku ini anak hasil hubungan gelap, sampai-sampai mereka tega membuangku di tepi jalan? Dan apakah aku ini benar-benar tidak punya keluarga kandung yang menyayangiku?" ucap Evelyn menangis sesunggukkan.
Louise menaruh piring makanannya diatas nakas, kemudian memeluk Evelyn yang masih tidak bisa mengendalikan dirinya untuk menangis.
"Memangnya kenapa kalau kau tidak punya keluarga kandung? Kau kan masih punya tuan paman yang selalu berada disisimu," balas Louise sambil mengusap rambut dan juga punggung Evelyn agar berhenti menangis.
"Tapi tuan, kau sudah menikah. Kau pasti akan punya anak dari nyonya bibi dan menjadi keluarga juga suatu hari nanti. Apa kau masih menganggapku sebagai keluargamu? Atau kau akan lupa dan pergi meninggalkanku seperti keluarga kandungku terdahulu?" ucap Evelyn terisak kembali.
Louise mengerjapkan kedua kelopak matanya berkali-kali dan berdecih. "Keluarga dan anak dari wanita itu? Heh! Tidak akan pernah!" batin Louise menolak itu semua.
Louise menarik diri dan menangkup kedua sisi wajah Evelyn. "Tidak Evelyn, tuan paman tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun. Maka dari itu, mulai sekarang berjanjilah kepada tuan paman, kalau kau tidak akan pernah pergi lagi dari rumah ini," ucapnya sambil mengusap air mata Evelyn dengan kedua ibu jarinya.
"Tapi, bagaimana jika nyonya bibi tidak menyukaiku tinggal bersama dirimu atau dengannya? Seperti kemarin dia memarahiku di telepon dan memintaku untuk pergi dan menjauh darimu?" tanya Evelyn lalu membuang mukanya kembali.
Evelyn mengangguk pelan. "Benar, bahkan nyonya bibi menyebutku wanita penggoda," ucapnya sedih sekali.
Louise membuka penuh kedua matanya dan mengeraskan rahang hingga berbentuk tegas, ternyata dugaannya benar, jika Gisella yang menyebabkan Evelyn kabur dari rumahnya ini.
"Jangan dengarkan kata-kata nyonya bibimu itu, mungkin dia salah bicara," balas Louise tersenyum dan membelai pipi mulus Evelyn. "Sekarang berhentilah menangis dan makanlah makan malammu ini selagi masih hangat," sambungnya.
"Tidak, aku sedang tidak berselera tuan," balas Evelyn masih menolak.
"Tidak bisa, tuan paman tidak mau mendengar kau menolak ini. Cepatlah makan, biar tuan paman yang menyuapimu makan," bujuk Louise menyodorkan sendok berisi makanan.
Evelyn akhirnya menuruti, lalu membuka mulutnya dan menerima suapan nasi dari sang majikan.
Sungguh perasaan yang aneh bagi gadis itu, saat Louise menyuapinya makan. "Apakah pantas," batinnya canggung.
Louise tersenyum lembut dan menatap Evelyn yang sedang mengunyah makanan dari suapan tangannya. "Bagaimana, apa perasaanmu sudah agak baikkan?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
Evelyn mengangguk kecil. "Lumayan," balasnya.
"Kalau begitu makanlah lagi," ucap Louise menyuapi kembali, lalu mengutip sebutir nasi yang menempel di bibir bawah Evelyn dengan ibu jarinya.
Louise menatapi bibir ranum merah muda milik anak pembantunya itu, dan entah mengapa hasratnya tiba-tiba muncul begitu saja saat ibu jarinya menyentuh benda kenyal tersebut.
Jantungnya pun berdebar tidak karuan, tidak pernah ia merasakan debaran menggila seperti ini sebelumnya, walau ia sedang kencan bersama dengan teman wanita seranjangnya atau dengan wanita manapun juga.
Louise mendesis sambil menatap penuh damba Evelyn yang sedang meneguk segelas air minum sehabis makan dan tanpa terasa dia turut menelan salivanya kasar, saat melihat ada banyak tetesan air minum yang jatuh bergulir hingga ke leher jenjang Evelyn.
Ditambah suara merdu yang dikeluarkan Evelyn sehabis melepas dahaga, membuat Louise jadi ikut terbawa suasana.
"Ahh segarnya," ucap Evelyn sehabis menengak air minumnya.
Dengan sigap Louise menghapus sisa air yang masih menempel dibibir Evelyn, sebelum gadis itu sempat mengeringkannya dengan selembar tisue.
"T-tidak perlu, biar aku saja tuan. Aku bisa sendiri," ucap Evelyn menjadi gugup.
Namun Louise malah mendekat dan semakin mengikis jaraknya. "Tidak apa, sini biar tuan paman bantu lap air dibibir dan juga dilehermu itu."
"J-jangan tuan, biar aku saja." Evelyn menolak saat Louise ingin menyentuh lehernya. Akan tetapi tangan Louise nyatanya lebih cepat dari pada perkiraan.
Dengan telaten pria itu mengusap leher jenjang Evelyn yang basah mengunakan tisue, hingga gadis itu terkekeh sendiri karena merasa geli pada lehernya.
"Tuan, jangan. Geli sekali," kekeh Evelyn tak tahan dan Louise pun ikut terkekeh, ketika mendengar suara menggemaskan Evelyn yang sudah lama hilang lalu keluar lagi dari dalam mulutnya.
Mereka berdua pun larut dalam suasana, becanda dan saling tertawa bersama, hingga kejadian menyedihkan yang baru saja terjadi tadi siang sesaat terlupakan.
Namun aksi mereka tersebut, nyatanya tidaklah disukai oleh sepasang mata yang baru saja datang menghampiri mereka berdua.
"Louise!" pekik Gisella, dengan amarah yang membara dikedua bola matanya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.