Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 86. Kesulitan Ekonomi.


__ADS_3

Perusahaan Horisson Group.


Louise mendapat kabar dari dokter Gunawan, jika Evelyn memutuskan untuk membawa opa Bernadi dan melakukan perawatan di dalam mansionnya.


"Apa alasannya Dok? Kenapa tiba-tiba seperti itu, apa telah terjadi sesuatu?" tanya Louise.


"Entahlah, tidak tahu pasti Tuan. Sebenarnya kami telah melarangnya, karena dapat beresiko sekali. Namun Evelyn tetap bersikukuh untuk membawa tuan besar pulang dan melakukan perawatan di dalam rumah," balas Dokter Gunawan.


Louise terdiam sejenak dan lantas mengkait-kaitan segala sesuatu yang sedang terjadi saat ini.


Mungkinkah perkiraan dan dugaannya selama ini telah terjadi, dimana Evelyn akhirnya mengalami kesulitan ekonomi, mengingat perusahaan opa Bernadi telah diambil alih oleh keluarga Steve sebelumnya.


"Ya sudah Dokter, terima kasih informasinya. Tapi aku ingin kau tetap memantau keadaan tuan besar dan memberikan perawatan sebagaimana mestinya," ucap Louise.


"Sudah pasti Tuan Louise," patuh Dokter Gunawan.


"Satu lagi Dokter, jangan bebankan apapun padanya. Bebankan saja semua biayanya pada rekeningku," pinta Louise.


"Baiklah kalau begitu," balas Dokter Gunawan mengerti. Kemudian mematikan panggilan tersebut.


Louise menghela nafasnya panjang, sambil menatap jam dinding pada ruang kerjanya yang telah menunjukkan pukul 6 sore, dan akhirnya pria itu mendapat jawaban dari tidak bekerjanya Evelyn ke kantor hari ini.


Setelah sulitnya menghubungi Evelyn semenjak dari tadi pagi. "Tidak ku sangka hari ini terjadi juga, semoga saja dia mampu bertahan sampai aku berhasil mengumpulkan seluruh bukti dan saksi untuk menghancurkan Nyonya Merry," gumamnya dalam hati.


Karena didaerah pedalaman nan jauh disana, Ken bersama dengan anak buah Louise tengah berjuang mati-matian mencari para korban mafia tanah. Yang lahannya pernah diambil secara paksa untuk pembangunan lahan tambang emas berlian dan batu berharga lain.


Ini adalah tanah kami dan kami punya bukti sertipikat kepemilikannya!


Bukan! Ini adalah tanah milik PT Indo Berlian Perkasa dan kami juga punya sertipikat kepemilikannya!


Warga berbondong-bondong melaporkan kasus tersebut, namun kuatnya para mafia tanah dan dukungan dari pejabat-pejabat tanah yang haus akan uang, serta kurangnya pengetahuan hukum, membuat warga kalah telak didalam persidangan.


Dan mereka yang merasa dirugikan pun, meratap, menangis dan meluapkan seluruh amarah mereka serta memaki pemilik PT indo Berlian Perkasa. Bahkan ada dari mereka yang meninggal karena terkena tekanan batin.


Mungkin bisa dibilang sakitnya Opa Bernadi dan kehilangan hartanya saat ini, merupakan hukuman akibat rutukan dari orang-orang yang pernah terampas haknya.

__ADS_1


Akan tetapi menurut Louise, Evelyn tidaklah bersalah dalam kasus ini, melainkan ia juga merupakan korban dari ketamakan sang Opa. Hingga orang tua Evelyn harus meregang nyawa saat ingin melaporkan kasusnya terdahulu.


Dan untuk itulah Louise melalui Ken, mencoba mencari para korban itu, dan mereka nantinya akan dijadikan para saksi, untuk mengangkat kasus lama yang sempat tenggelam di dunia hukum.


Tapi itu semua bukanlah perkara mudah, karena Louise tahu banyaknya para mafia, serta pejabat korup yang sudah pasti menghalangi rencananya tersebut, agar nama mereka tidak tersandung kasus hukum.


Bahkan Louise juga harus berhadapan dengan ibu mertuanya sendiri, yang kabarnya wanita itu termasuk orang berotak cerdas dan ikut terlibat atas kasus kotor Opa Bernadi.


Louise menghela nafas panjang, walau ia sendiri tahu kasus itu begitu berat. Tapi ia akan tetap terus maju, demi keadilan semua orang, serta ketenangan arwah kedua orang tua Evelyn yang menjunjung tinggi kejujuran.


...----------------...


Kediaman Nyonya Merry.


Semenjak pertunangannya dengan Evelyn berakhir, Steve selalu saja merasa kesal. Terlebih saat mendapat pesan balasan dari Evelyn, yang mengatakan bahwa dirinya sudah tidak mau lagi berhubungan dengannya, walau itu hanya sebatas mengirim pesan atau berbicara melalui ponsel.


Hal tersebut membuat Steve frustasi, karena bagaimana tidak. Evelyn adalah cinta pertamanya, dan mendapatkan wanita itu adalah impian Steve sejak lama.


Tak khayal pria itu pun akhirnya mengadu kepada sang mommy, karena tidak tahu harus bagaimana lagi dan segera mengatakan segala keluh kesah serta memohon kepadanya untuk menjadikan Evelyn sebagai istrinya.


Nyonya Merry mendesah kesal mendengarnya. "Kalau wanita itu tidak ingin hidup bersama denganmu, ya sudah lupakan saja dia! Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan lebih patuh daripada Eve mu itu Steve!"


Nyonya Merry menghela nafas panjang dan menatap Steve yang terus saja memohon padanya. "Kapan anak ini bisa bersikap dewasa, dia selalu saja mengandalkan ibunya kalau meminta sesuatu," batinnya mengeluh.


"Ya sudah baiklah Steve, Mommy akan bantu kamu. Tapi berjanjilah ini bantuan Mommy yang terakhir!" tegas Nyonya Merry.


Steve menarik senyum. "Terima kasih Mom, aku mencintaimu."


Nyonya Merry menghembus nafasnya kasar dan mulai memikirkan cara agar Evelyn mau kembali kepada Steve. "Apa yang harus aku lakukan? Gadis itu sama keras kepalanya dengan tuan Anthoni, mana mungkin dia bisa dibujuk dengan mudah begitu saja."


Namun ada satu cara yang dapat membuat Evelyn bertekuk lutut, yaitu mencoba menjadikan wanita itu berada di titik terendah dari kesulitannya saat ini.


Dan dengan begitu, Evelyn tidak punya pilihan lain selain kembali kepada Steve. Agar kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi, mengingat Evelyn pasti sedang mengalami kesulitan uang.


Nyonya Merry segera menghubungi Gisella dan meminta bantuan, agar putrinya itu mau membujuk Louise untuk memecat Evelyn dari perusahaan Horisson.

__ADS_1


...----------------...


Mansion opa Bernadi.


Keesokan harinya.


Satu persatu para maid dengan berat hati mulai pergi dan meninggalkan Mansion opa Bernadi, walaupun sebenarnya mereka tidak ingin pergi dan tidak mempermasalahkan akan keterlambatan pembayaran upah, mengingat masa-masa bekerja mereka yang sudah cukup lama di dalam Mansion tersebut.


Namun, Evelyn tetap meminta mereka untuk berhenti bekerja dari rumah sang opa, mengingat kesulitan ekonomi yang sedang ia alami saat ini.


"Aku pernah menjadi pembantu dan aku tahu rasanya bekerja tanpa digaji, jadi ku mohon jangan bertahan disini. Kalian carilah pekerjaan lain, karena aku tidak ingin menyusahkan kalian semua." Itulah titah dari nona muda keluarga Bernadi dengan nada putus asanya.


Selain mengurangi pekerja rumah tangga, Evelyn juga memangkas biaya lain seperti menghemat pemakain listrik dan air. Serta menghemat kebutuhan pokok lain dan menyingkirkan kebutuhan pribadi yang tidak perlu.


Melihat hal tersebut, Bibi Maureen merasa iba. Walau dia tahu nona mudanya pernah mengalami masa susah sewaktu kecil dulu, tapi apakah Evelyn pantas melakukan itu semua, disaat wanita itu telah menemukan keluarganya yang berkecukupan.


"Eve, bagaimana kalau kau beritahu kondisimu sekarang ini kepada tuan Louise. Bibi yakin dia pasti akan membantumu," ucapnya memberi saran.


Evelyn menggeleng. "Tidak Bibi, aku tidak ingin meminta bantuan siapapun," balasnya menolak. Karena Evelyn tidak ingin sampai Louise meminta syarat yang aneh-aneh lagi kepadanya, seperti perjanjian sebelumnya.


"Tapi Eve, kau butuh seseorang untuk menolongmu. Kau tidak ingin mendapat bantuan dari siapapun, lalu bagaimana dengan biaya perawatan opamu Eve?" tanya Bibi Maureen.


Evelyn hanya terdiam memikirkan sesuatu, sambil membolak balik buku rekening Opa Bernadi yang saldonya sudah pasti semakin lama akan menipis.


Dan tidak lupa melihat saldo didalam rekening pada beberapa bank lain, serta tabungan pribadi dalam bentuk uang tunai, yang masih tersimpan rapi di dalam brankas besi.


"Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan, kita masih bisa membayar perawatan opa dengan mengandalkan uang simpanan ini. Lalu setelah itu, aku akan coba menjual beberapa perhiasan yang ku simpan selama ini."


"Dan mengenai kebutuhan pokok pribadi kita, aku akan memakai gaji pribadiku yang kudapatkan dari hasip bekerja di kantor tuan paman setiap bulannya," oceh Evelyn menghitung-hitung sendiri.


Bibi Maureen merasa terenyuh mendengarnya, sungguh tidak disangka keluarga Benardi yang mempunyai harta berlimpah, akan mengalami nasib kelangkaan ekonomi seperti ini.


"Mungkinkah ini karma dari perbuatanmu semasa lalu tuan besar? Kalau begitu cepatlah bangun dan sadarlah! Kau harus meminta maaf kepada semua orang dan memperbaiki kesalahanmu tuan!" batin Bibi Maureen, sambil menatap Opa Bernadi yang terlihat meneteskan air mata.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2