Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 97. Cerai.


__ADS_3

"Evelyn, naiklah ke mobil bersama dengan Ken. Aku akan menyusulmu setelah selesai dengannya," pinta Louise dengan tatapan tajam masih tertuju kepada Gisella.


Evelyn mengangguk patuh. "Baiklah Tuan," balasnya. Lalu berjalan menuju mobil Louise, dengan hati yang dilanda penasaran. "Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka bertengkar dan kenapa tuan paman sepertinya marah sekali pada nyonya bibi?" batinnya bertanya-tanya.


Setelah Evelyn masuk ke dalam mobil, Louise kembali menunjukkan surat hasil pemeriksaan itu kepada Gisella. Dan kali ini ia buka selebar-lebarnya kertas tersebut, dihadapan Gisella yang nampak mengeluarkan keringat dingin.


"Surat apa itu Louise?" tanya Gisella berusaha tenang.


"Bacalah sendiri," balas Louise.


Gisella segera merampas surat dari tangan Louise dan membaca hasil pemeriksaan DNA itu dengan seksama. "Hasil identifikasi DNA ..." gumamnya terkejut.


Gisella menelan ludahnya susah payah saat membaca keseluruhan surat tersebut, yang isinya menjelaskan bahwa Louise bukanlah ayah biologis dari anak yang sedang ia kandung saat ini.


"I-ini ..." ucap Gisella terbata, dengan kedua tangan bergetar ketakutan. Sesekali pikirannya bekerja keras, bagaimana dan kapan pemeriksaan itu dilakukan.


Lalu melihat tanggal pemeriksaan yang tertera pada surat itu dan Gisella lantas teringat. "Pantas saja pemeriksaan waktu itu cukup berbeda, kenapa aku begitu ceroboh," batinnya merutuk.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau sedang berpikir bagaimana caraku melakukan tes ini atau kapan aku melakukannya?" ucap Louise menduga.


Gisella menatap Louise dengan tatapan kecewa. "Apa maksudmu Louise? Kenapa kau meragukan anakmu ini? Jelas-jelas kita telah melakukan hal itu beberapa bulan yang lalu, harusnya akulah yang bertanya padamu. Kenapa kau meragukan diriku? Ini adalah anakmu Louise!" balasnya lalu merobek kertas tersebut karena kesal.


Louise berdecih. "Sudah jelas anak itu bukanlah anakku, kau masih saja tidak mau mengakuinya! Apa perlu aku menyeret pria yang telah menghamilimu itu juga agar kau mau mengaku hem?" ucapnya serius.


Gisella seketika bungkam dan itu menambah keyakinan akan dugaan Louise selama ini tentang anak yang sedang dikandung oleh istrinya.


"Louise, jangan percaya dengan selembar kertas bertinta ini sayang. Hasil DNA itu bisa salah bukan, bagaimana kalau kita tes sekali lagi. Aku yakin kali ini hasilnya akan cocok," ucap Gisella meminta.


"Wanita menjijikkan, sudah tahu salah kau masih saja mengelak dan meragukan hasil tes itu, bahkan tanpa malu kau masih saja memanggilku dengan kata sayang. Begini saja Gisella, aku akan segera memproses perceraian kita. Jadi mulai sekarang jangan injakkan kakimu lagi dirumahku dan segera pulanglah ke rumah orang tuamu!" sergah Louise.


Lalu pria tampan itu pun pergi meninggalkan Gisella, untuk menyusul Evelyn yang telah menunggunya didalam mobil.


Namun Gisella segera menahan Louise agar tidak pergi. "Louise ku mohon jangan ceraikan aku, aku bisa jelaskan semuanya padamu tentang anak ini!" cegahnya.


Louise menepis tangan Gisella. "Pergilah! Kita sudah tidak punya hubungan lagi!" sentaknya lalu masuk ke dalam mobil. "Ken ayo jalan!" titahnya.


"Oke Louise," balas Ken.


Gisella memukul-mukul kaca mobil dan memohon agar Louise tidak meninggalkan dirinya. "Louise jangan tinggalkan aku! Aku tidak ingin bercerai denganmu!" pekiknya berkali-kali.


Namun Louise tidak menggubris teriakan maupun tangisan menyayat hati tersebut, membuat Evelyn segera memohon kepada Louise yang duduk disebelahnya.


"Tuan, ku mohon hentikan mobilnya. Kenapa kau tega sekali membuat nyonya bibi sedih dan meninggalkannya sampai berlarian seperti itu. Dia sedang hamil Tuan," tegur Evelyn.

__ADS_1


Louise tidak menanggapi teguran Evelyn dan hanya sibuk menghubungi seseorang. "Urus perceraianku dengan Gisella segera!" titahnya.


"Apa! Cerai?" ucap Evelyn terkejut dan menatap Louise yang terlihat serius dan diam saja.


"Tuan, apa yang kau lakukan? Kenapa kau ingin menceraikan nyonya bibi? Apa salah nyonya bibi sampai kau tega ingin menceraikannya?" cecar Evelyn sambil mengguncang-guncangkan lengan Louise agar mau menatap Gisella yang tengah mengiba dari luar mobil.


"Biarkan saja!" tegas Louise tidak peduli.


Evelyn mendengus kesal. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Tuan, nyonya bibi sedang mengandung anakmu tapi kau malah ingin menceraikannya. Dimana hati nuranimu? Sekarang berhentikan mobilnya, aku mau turun!" tukasnya.


Louise menghembus nafasnya kasar dan menatap Evelyn yang berpaling darinya. "Evelyn, hubunganku dengan Gisella tidak pernah membaik. Selama ini aku mempertahankan hubungan ini karena kasihan padanya, tapi setelah tahu dia berbuat kesalahan fatal, maka aku sudah tidak bisa lagi memaafkan kesalahannya itu."


Evelyn menautkan kedua alisnya karena tidak mengerti. "Apa kesalahannya sampai kau tega menggugat cerai istrimu itu Tuan?"


"Anak yang ada didalam kandungannya itu bukanlah anakku," balas Louise memberi tahu.


Evelyn melebarkan kelopak matanya dan terdiam sambil menutup mulutnya yang menganga. "B-benarkah? T-tapi bagaimana bi--- " ucapnya terbata.


Louise segera menutup bibir Evelyn, sebelum ia sempat menyelesaikan perkataannya itu dengan ujung jari. "Kuharap kau mengerti alasanku menceraikannya dan kuharap kau juga tidak membahas masalah ini lagi."


Evelyn mengangguk pelan dan terdiam, sesekali melihat kearah belakang dimana Gisella sudah tidak terlihat lagi mengejar mobil. Lalu kembali menatap Louise yang nampak tenang namun tetap kesepian. "Kasian sekali ... Tuan paman pasti sedih karena telah dikhianati," batinnya bergumam.


...***...


Mansion Louise.


Keduanya setia menanti, hingga pada akhirnya sebuah mobil mewah meluncur dan berhenti tepat didepan lobi utama mansion tersebut.


Dan tak butuh waktu lama Evelyn turun dari mobil dan Selvi beserta Mika segera menyambutnya.


"Evelyn," sambut Selvi.


Evelyn tersenyum lebar. "Kak Selvi, kak Mika!" serunya senang. Karena tidak menyangka mereka akan tinggal dibawah atap yang sama.


Sementara ketiga wanita itu kembali reunian, Louise segera masuk ke dalam rumahnya tanpa bicara sepatah katapun dan hal itu membuat semua orang maid terheran-heran.


"Tuan Louise kenapa?" tanya Selvi pada Ken.


"Lebih baik jangan bertanya," balas Ken dengan kata-kata yang membingungkan. Lalu membawa tas Louise ke dalam ruangan kerjanya.


Selvi dan Mika terdiam, kemudian menatap Evelyn yang termenung. "Evelyn, kami turut prihatin dengan kondisimu sekarang ini. Tapi jangan bersedih, karena tindakanmu itu sudah benar. Sekarang lebih baik kita masuk ke dalam, kau pasti lelah karena seharian berada di pengadilan," ajak Selvi.


"Benar Evelyn, jangan bersedih. Kau tidak sendiri, masih ada kami yang menemanimu," sambung Mika.

__ADS_1


Evelyn menarik senyum. "Terima kasih atas perhatiannya." Lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.


Tak berapa lama setelah itu, Louise kembali turun. Lalu menitahkan kepada para maid untuk mengosongkan kamar Gisella dan mengirim semua barang-barang pribadinya ke rumah tuan Anderson.


Evelyn menatapi tingkah Louise yang sedikit temperamen kali ini, dan tidak banyak yang bisa ia katakan selain duduk terdiam melihat semua itu terjadi.


...***...


Malam harinya.


Kejadian tidak terduga hari ini membuat Evelyn tidak bisa tidur, ia kerap memikirkan kesehatan dan kondisi opa Bernadi di dalam penjara. Hatinya masih saja gelisah, takut terjadi hal buruk menimpah sang Opa tiba-tiba.


"Ada bibi Maureen disamping opa, aku yakin bibi akan menjaga dan merawat opa dengan baik," ucapnya menenangkan hati.


Selain itu, pertengkaran Gisella dengan Louise tadi pun cukup membuat Evelyn selalu menghela nafas panjang.


Sadar akan statusnya sekarang ini yang sudah tidak memiliki apa-apa, serta gelar nona muda sudah tidak lagi melekat padanya. Evelyn pun turun dari ranjang, lalu menjalankan tugas seperti para maid lainnya.


Gadis itu mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan hanya memakai piyama tidur rumahan sederhana, namun tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Lalu pergi ke dapur atau tempat lain dalam mansion tersebut, mencari sesuatu yang menurutnya bisa dikerjakan.


Sesekali menatapi tiap sudut rumah megah sang tuan paman dan mengagumi keindahannya.


...***...


Disisi lain, diruang kerja Louise yang letaknya berada dilantai pertama. Pria itu masih serius mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda, akibat beberapa hari kemarin sibuk mengurus sidang kasus lama opa Bernadi.


Hingga pada akhirnya dia harus keluar dari ruang kerjanya dan meminta siapapun maid yang ada di dapur untuk dibuatkan kopi.


Dan setibanya di dapur, Louise bertemu dengan Maid yang sedang menyusun beberapa alat masak dengan penampilan berbeda dari biasanya.


"Tolong buatkan aku kopi susu!" panggilnya tanpa nama.


Evelyn mengenal betul suara tersebut dan dengan segera mematuhi perintah itu. "Baik Tuan," sahutnya.


Louise berhenti melangkah dan menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya, lalu menatapi penampilan sederhana Evelyn dari bawah hingga atas kepala dan begitu terus berulang kali.


"Evelyn," sapa Louise.


"Ya Tuan, ada apa. Butuh sesuatu yang lain?" sahut Evelyn dan bertanya.


"T-tidak ada, antar saja kopi itu ke ruang kerjaku!" balas Louise berlalu pergi begitu saja. Karena entah mengapa ia berubah grogi, saat melihat Evelyn memakai baju tidur tipis menerawang, setipis imannya saat ini.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2