
Sebulan lebih yang lalu.
Setelah berhasil masuk dan bekerja kembali di perusahaan Opa Bernadi dengan berbagai macam ancaman akan membocorkan rahasianya kepada Evelyn, Nyonya Merry melancarkan aksinya dengan memberikan teh herbal pelemah otot maupun saraf disetiap jam makan siang Opa Bernadi.
Efek yang ditimbulkan dari teh herbal beracun tersebut, yaitu melemahkan saraf mata. Sehingga pandangan pria itu pun menjadi kabur, serta merasakan lelah pada kedua matanya.
Selain otot mata yang melemah, Opa Bernadi juga mengalami kebas dan kesemutan di bagian kaki yang mengakibatkan dirinya tidak sanggup berjalan lama, walaupun itu hanya sekedar berdiri saja.
Opa Bernadi memutuskan untuk memanggil dokter pribadi agar memeriksakan kondisi kesehatannya, namun dokter itu hanya mengatakan jika gangguan kesehatan opa Bernadi adalah murni karena faktor usia.
Mengingat gejala yang muncul memang seperti penyakit manusia jika sudah berusia lanjut.
Hal tersebut membuat Opa Bernadi tidak menaruh curiga dan menyadari jika dirinya memang sudah terlalu tua untuk bekerja.
Sementara itu, setelah mengetahui efek teh herbal beracunnya telah berhasil dan tidak menimbulkan kecurigaan, Nyonya Merry memanfaatkan kondisi Opa Bernadi yang tengah melemah tersebut, dengan menyodorkan beberapa berkas.
"Apa ini? Kenapa aku harus tanda tangan?" tanya Opa Bernadi kala itu.
"Ini perjanjian kontrak besar dengan klien kita, aku membutuhkan tanda tanganmu disini tuan besar," ucap Nyonya Merry.
"Baiklah, aku butuh kacamataku. Dimana kacamataku," balas Opa Bernadi, karena semakin lama pandangannya semakin kabur saja.
"Tidak perlu tuan besar, biar aku yang menunjukkan dimana kau harus tanda tangan." Nyonya Merry menyerahkan pena, serta mengarahkan tangan Opa Bernadi agar menandatangi berkas kontrak tipuannya itu.
Namun Opa Bernadi menolak. "Mana Christ? Aku ingin dia membacakannya terlebih dahulu!" titah Opa Bernadi.
Tak lama setelah itu Pak Christ datang dan membacakan berkas kontrak palsu yang telah dibuat oleh Nyonya Merry untuk mengelabui Opa Bernadi.
"Begitulah isi kontraknya Tuan besar," ucap Pak Christ setelah membacakan isi kontrak palsu tersebut.
"Syukurlah, disaat sulit seperti ini masih ada klien yang mau bekerja sama dengan kita." Opa Bernadi mengangguk kemudian meminta Pak Christ menyerahkan dokumennya.
Namun Nyonya Merry segera menyingkirkan Pak Christ agar keluar dari ruangan. "Oiya Christ, aku lupa sesuatu. Apa kau bisa memfoto copy file ini dan setelah di fotocopy aku minta tolong bawakan kesini lagi ya," ucapnya meminta tolong.
"Baik Nyonya." Pak Christ mengangguk patuh.
Kemudian menyerahkan berkas-berkas kontrak palsu tersebut kepada Nyonya Merry. Dan dengan segera Nyonya Merry menyingkirkan kontrak palsu tersebut dan menggantinya dengan surat kuasa serta surat pemindahan saham milik Evelyn ke atas nama pribadinya.
"Tanda tangan disini Tuan," ucap Nyonya Merry menggantikan tugas Pak Christ.
Opa Bernadi mendesis, memakai kacamata pun dirasa percuma. Karena pandangannya tetap saja buram.
Dengan segera ia menandatangi berkas tersebut dan meminta Nyonya Merry agar keluar dari ruangannya, karena ia sendiri ingin beristirahat.
"Mungkin tidur sejenak bisa membuat mataku membaik," ucapnya berpikir demikian.
Nyonya Merry tersenyum puas, karena telah berhasil mengambil tanda-tangan Opa Bernadi untuk kepentingan pribadinya tanpa ketahuan. Ia memandang berkas-berkas tersebut dengan kedua mata berbinar.
__ADS_1
Diantaranya surat kuasa untuk memimpin perusahaan, serta pemindahan saham perusahaan milik Evelyn sebesar 30 persen, agar berpindah menjadi atas nama milik pribadinya.
Perlahan tapi pasti, Nyonya Merry akan terus memanfaatkan keadaan opa Bernadi yang semakin melemah, dengan mengerogoti kekuasaan serta kekayaan pria tua itu. Agar suatu hari nanti, dia akan benar-benar dapat mengambil alih secara penuh.
Hingga tanpa ada seorang pun yang dapat membantah kenyataan yang terjadi, termasuk opa Bernadi sendiri.
...----------------...
Rumah sakit.
Berhati-hatilah kepada keluarga Steve, karena mereka punya maksud tersembunyi.
Evelyn sedang termenung setelah mendengarkan perkataan Louise, tentang perusahaan sang kakek yang telah diubah susunannya. Serta kursi kepemimpinan yang direbut oleh nyonya Merry.
"Kenyataan apalagi ini, apa yang tidak ku ketahui selama ini. Kenapa Mommy Steve bisa mengambil alih perusahaan Opa? Tapi bagaimana bisa itu terjadi?" batin Evelyn tidak mengerti.
"Semoga yang dikatakan oleh tuan paman mengenai keluarga Steve tidaklah benar, tapi bagaimana kalau semua itu benar? Aku juga tidak boleh percaya penuh pada Steve," harap Evelyn. Sesekali menghela nafas dan menatap sang opa yang masih belum sadarkan diri dari komanya.
"Opa bangunlah, jangan tidur saja. Kau harus cepat sadar dan mengurus perusahaanmu kembali," ucap Evelyn penuh harap.
...***...
Beberapa saat kemudian.
Evelyn begitu terkejut saat melihat Steve tiba-tiba datang ke rumah sakit untuk menjenguk sang kakek. Lalu pria itu tersenyum dan tidak lupa memeluk Evelyn dengan erat.
Evelyn mendorong Steve agar menjauh. "Jaga sikapmu Steve, ini rumah sakit."
Steve mengusap tengkuknya. "Maaf Eve, aku lupa," balasnya sambil menyengir.
"Mau apa kau kesini?" tanya Evelyn dingin.
"Sudah pasti menjenguk Opa Bernadi dan juga melihatmu disini," balas Steve.
"Terima kasih karena kau telah datang menjenguk opaku Steve," balas Evelyn.
"Sama-sama. Bagaimana dengan kondisi Opa mu, apa dia sudah sadar?" tanya Steve.
"Masih sama, opa ku masih belum sadar dari komanya," balas Evelyn sedih.
"Jangan bersedih Eve, ku doakan Semoga Opamu cepat sembuh," ucap Steve. "Sembuh dengan meninggalkan dunia ini," lanjutnya dalam hati.
"Terima kasih Steve, ya semoga dia cepat sembuh."
"Sama-sama. Oiya Eve, apa kau sudah makan? Bagaimana kalau kita jajan sesuatu didepan rumah sakit," ajak Steve.
Evelyn menggeleng. "Tidak Steve, terima kasih. Aku sudah makan tadi sebelum kau datang," balasnya.
__ADS_1
Steve menghela nafasnya. "Ah sayang sekali, padahal hatiku sedang senang hari ini dan aku ingin sekali mentraktirmu makan malam," balas Steve.
"Kau senang kenapa?" tanya Evelyn.
"Tidak ada yang penting, hanya saja aku telah naik jabatan tinggi hari ini. Dan aku senang sekali," ucap Steve.
Evelyn tersenyum getir. "Hebat sekali kau bisa naik jabatan, padahal setahuku kau baru bekerja sebulan lebih di perusahaan Opa," balasnya.
"Ini berkat kerja kerasku Eve, tidak ada yang mustahil bukan. Lagipula kau tidak akan mengerti bagaimana perjuanganku," Steve tersenyum bangga dan menatap Evelyn.
"Apa yang tidak aku mengerti Steve, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tuntut Evelyn penuh curiga.
"Eve sayang, kenapa nada berbicaramu seperti itu. Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu darimu." Steve meraih kedua tangan Evelyn dan menggenggamnya. Lalu mengecup punggung tangannya itu.
Evelyn tersenyum tipis. "Baguslah kalau begitu, tapi aku masih belum mengerti. Bagaimana caramu mendapatkan jabatan tinggi itu dalam waktu sekejap?" cecarnya.
"Sudah ku katakan, jabatan itu ku dapatkan dengan kerja keras. Atasanku melihat kinerja kerjaku yang meningkat drastis, maka dari itu dia tanpa ragu menunjukku untuk mengisi jabatan itu," balas Steve mengarang.
Padahal yang terjadi adalah, dia sendiri yang meminta kepada sang ibu agar ditempatkan di kursi jabatan tinggi dalam perusahaan.
"Baiklah, anggap aku percaya padamu," ucap Evelyn walau tidak sepenuhnya percaya.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Eve, aku punya permintaan padamu." Steve menatap serius Evelyn.
"Permintaan apa?" tanya Evelyn.
"Berhentilah bekerja di perusahaan kakak ipar, karena aku tidak suka melihat kau terlalu dekat dengannya," balas Steve.
"Maaf Steve, aku tidak bisa. Aku sudah katakan padamu sebelumnya, kalau aku telah terikat kontrak kerja dengannya," tolak Evelyn.
"Jangan risaukan kontrak kerja itu Eve, dengan jabatan baru ku ini. Aku sanggup membayar semua ganti rugi yang akan timbul jika kau membatalkan perjanjian itu," ucap Steve.
Evelyn menggeleng. "Tidak Steve, aku tidak ingin merepotkan dirimu ataupun orang lain."
"Aku bukan orang lain, aku tunanganmu. Apapun akan ku lakukan untukmu Eve," bujuk Steve.
"Terima kasih Steve, mungkin aku akan memikirkannya lagi. Tapi sekarang bisakah kau membiarkan aku sendiri? Aku harus tidur lebih awal, karena aku akan bergantian dengan Bibi Maureen menjaga Opa nanti malam," balas Evelyn.
"Baiklah kalau begitu, ku harap kau mempertimbangkan lagi perkataan ku tadi." ucap Steve.
Evelyn tersenyum. "Itu sudah pasti," balasnya dan mengantar Steve keluar dari rumah sakit.
.
.
Bersambung.
__ADS_1