
Setahun kemudian.
Tempat pemakaman keluarga.
Evelyn berjongkok menatapi gundukan tanah basah yang berada dihadapannya itu, sesekali terisak dan menyebut nama orang yang ia sayangi.
Sungguh tidak disangka takdir memanggil yang terkasih untuk bertemu dengan sang pencipta lebih cepat, karena sakit yang dideritanya selama berada di dalam penjara.
Bibi Maureen menceritakan semua kejadian, sebelum wanita paruh baya itu kembali ke kampung halamannya.
Dimana efek teh herbal beracun yang pernah diberikan oleh nyonya Merry sebelumnya kepada Opa Bernadi, nyatanya begitu sulit untuk diobati, karena telah mengendap lama didalam tubuh sang opa, serta telah melampaui batas dosis yang dianjurkan.
Dan hal tersebut membuat kakek tua itu tidak dapat hidup bertahan lama, karena senyawa berbahaya telah menyerang fungsi saraf utamanya.
"Opa ..." lirih Evelyn terisak.
"Ayo kita pulang," ajak Louise yang sedari tadi setia menemani, sambil terus mengusap-usap bahu Evelyn.
Evelyn mengangguk pelan, sambil terus mengutarakan perasaannya kepada Louise tentang sang Opa.
__ADS_1
"Keluarga kandungku satu-satunya telah meninggalkan dunia ini dan betapa jahatnya aku karena telah memasukkan opa ke dalam penjara disisa masa hidupnya. Harusnya dia masih berada disini bersama dengan kita dan bahagia menimang cicitnya, tapi ini tidak dan semua itu gara-gara aku."
"Aku malah membuatnya pergi dalam keadaan menyedihkan seperti ini," isak Evelyn tidak tahan lagi meluapkan kesedihannya.
Terlebih saat melihat jenazah sang kakek yang kurus kering, seperti tinggal tulang berbungkus kulit saja.
"Itu sudah garis hidupnya, tidak perlu disesali atau menyalahkan dirimu sendiri. Sekarang ini Opa mu hanya butuh doa darimu Evelyn dan kau harus memberikan doa sebanyak mungkin yang kau mampu," ucap Louise menenangkan.
Pria itu terus berusaha menyadarkan istrinya agar tidak terus menyalahkan dirinya sendiri dan segera membawanya pulang agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
...***...
Mansion Louise.
"Baik tuan," patuh Mika.
Tak lama kemudian Mika membawakan segelas air dan memberikannya kepada Louise.
"Minumlah dan kau tidak boleh stres, karena itu bisa mempengaruhi program asi esklusifmu sayang. Apa kau lupa akan hal itu?" ucap Louise mengingatkan. Lalu mengambil bayi Erland-putranya dari gendongan baby sitter, kemudian menaruhnya diatas pangkuan Evelyn.
__ADS_1
Evelyn tersadar saat mendengar suara tangis bayinya dan segera memberikan asinya agar putranya itu tenang. "Maaf sayang, karena sedih Mommy sampai mengabaikan dirimu," lirihnya sambil menciumi sang bayi.
Lalu Evelyn menatap Louise dan membelai wajahnya. "Kau suamiku yang terbaik, terima kasih karena selalu mengingatkanku. Kau juga selalu ada untukku, terima kasih atas segalanya sayang. Entah apa jadinya aku tanpa dirimu," ucapnya seketika teringat masa lalu hingga detik ini.
Louise tersenyum dan duduk disamping Evelyn yang sedang menyusui putranya. "Itu karena aku mencintaimu," balasnya lalu menyapu lembut bibir istrinya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...~ TAMAT ~...
Hai para pembaca setia, terima kasih karena telah membaca karya remahan rengginang ku ini.
Terima kasih juga kepada para pembaca setia yang telah memberi dukungan, bahkan setia mengikuti dari awal hingga akhir cerita.
Dan selama penulisan, mohon maaf jika ada alir yang kurang menarik, kata-kata yang tidak berkenan atau kata yang salah serta typo dan lain sebagainya.
__ADS_1
Penulis juga meminta kepada para pembaca agar bersedia mampir dan memberi dukungan dikarya remahan rengginang penulis lainnya.
See you 👋👋