Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 69. Memijat.


__ADS_3

"Jika semua itu benar, memangnya kenapa? Itu tidak ada hubungannya denganmu," balas Louise dingin lalu beranjak pergi meninggalkan Gisella yang terduduk lemas.


"Sadarlah Louise aku ini istrimu, tidak akan ku biarkan kau sampai jatuh ketangan wanita lain!" tolak Gisella tidak rela, sambil terisak dan menahan sesak didalam dada-nya.


Sedangkan Louise tidak peduli dengan penolakan dari Gisella, karena tekadnya sudah bulat untuk menceraikan sang istri yang sama sekali tidak ia cintai.


"Louise, sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui perceraian ini!" ucapnya teguh. Lalu keluar dari perusahaan Horisson Group sambil menangis pilu.


Louise menghembus nafasnya lega, karena telah mengeluarkan semua uneg-unegnya selama ini terhadap Gisella, dan akan tetap melanjutkan gugatan perceraiannya itu walaupun mendapat penolakan dari berbagai pihak termasuk keluarganya sendiri.


...----------------...


Sebulan kemudian.


Apartemen.


Evelyn terdiam cukup lama, merasa bingung saat melihat Louise masih saja berada dan tinggal didalam apartemen, walaupun itu adalah haknya sendiri, mengingat apartemen tersebut memanglah miliknya pribadi.


Namun tetap saja mulutnya terasa gatal sekali ingin menanyakan, kenapa pria itu sampai tidak pulang-pulang ke rumahnya.


Seperti saat sekarang ini, dimana keduanya baru saja pulang dari kantor dan mereka berdua masuk ke dalam gedung apartemen, sambil berjalan bersamaan menuju kamar masing-masing dilantai yang sama.


"Tuan," panggil Evelyn.


Louise berhenti melangkah dan menoleh kebelakang, hingga Evelyn yang tidak sempat berhenti pun langsung menabrak tubuh kekar Louise yang berada dihadapannya.


"Aduh!" pekiknya terhuyung dan Louise segera menahan pinggang ramping Evelyn agar tidak terjatuh.


"Kalau jalan lihat-lihat," ucap Louise melepaskan rangkulannya itu.


"Dia sendiri yang berhenti mendadak, aku mana sempat berhenti," gerutu Evelyn sambil mengusap-usap hidung mancung kecilnya yang terantuk dada Louise tadi.


"Ya sudah, aku minta maaf. Ada apa memanggil?" tanya Louise.


"Tuan paman, kenapa kau tidak pulang ke rumahmu dan kenapa kau selalu pulang ke apartemen?" tanya Evelyn balik.


Louise menangapinya dengan malas. "Tidak apa-apa, karena jarak apartemen lebih dekat daripada rumahku," balasnya singkat dan tidak ingin menceritakan masalahnya dengan Gisella.


"Tapi, bagaimana dengan nyonya bibi? Apa dia tahu kalau tuan paman tinggal disini dan tidak keberatan kalau tuan tidak pulang-pulang ke rumah?" tanya Evelyn lagi.


"Jangan ingatkan aku tentangnya dan lebih baik tidak bertanya lagi mengenai hal ini," balas Louise dingin dan tidak suka.


"Tapi kenapa, apa kalian berdua sedang bertengkar. Bagaimana dengan anakmu tuan, apa kau sudah punya anak dari nyonya bibi?" tanya Evelyn.


Louise menatap tajam Evelyn, hingga gadis itu jadi serba salah. "Sudah ku bilang aku tidak ingin membahas mengenai keluargaku, karena aku tidak suka membicarakannya. Dan mengenai anak, aku masih belum menginginkannya."


"Kau bertanya seperti itu, apa kau ingin punya anak dariku!" sergah Louise membuat Evelyn segera menutup mulutnya dan menggeleng.


"T-tidak tuan maafkan aku," jawab Evelyn menyanggah.


Bersamaan dengan hal tersebut tiba-tiba ponsel Evelyn berdering dan Evelyn dengan cepat merogoh ponselnya yang berada didalam tas.

__ADS_1


"Siapa yang meneleponmu?" tanya Louise mengintip.


"Tidak tahu, tidak ada nama penggunanya," balas Evelyn.


"Kalau begitu tidak usah diangkat," ucap Louise.


"Tapi bagaimana kalau ini telepon penting?" balas Evelyn.


"Kalau begitu angkat," balas cepat Louise. Lalu berbalik melangkah pergi.


Evelyn mengangkat panggilan tersebut dan senyumannya langsung merekah, ketika mengetahui siapa orang yang telah menghubungi saat ini.


"Steve!" seru Evelyn merasa senang.


Louise menghentikan langkah kakinya dan segera berbalik untuk menguping pembicaraan tersebut. Ada raut tidak suka pada wajahnya itu, terlebih saat melihat Evelyn begitu dekat dengan pria lain.


"Kabarku baik Steve, bagaimana denganmu? Aku tidak menyangka kalau kau nekad juga menyusulku sampai kesini," ucap Evelyn tidak mengira.


"Iya Eve, aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku?" ucap Steve melalui ponselnya.


"Aku juga merindukanmu Steve," balas Evelyn mengungkapkan rasa rindu terhadap sahabat baiknya. Namun tidak bagi Louise, entah mengapa hatinya terasa panas saat mendengar kata rindu ditujukan untuk pria lain.


"Aku ingin mentraktirmu makan malam dari hasil gaji pertamaku, apa kau ada waktu senggang malam ini?" tanya Steve.


"Wah hebat sekali, kau sudah bekerja rupanya. Baiklah, tentu saja aku bisa, kebetulan malam ini aku tidak ada acara apapun. Katakan Steve, kau ingin kita makan malam dimana?" tanya Evelyn begitu antusias, apalagi jika itu berkaitan dengan traktiran makan gratis.


"Bagaimana dengan restoran masakan jepang, aku dengar kau menyukai sushi dan juga ramen," balas Steve.


"Baiklah Eve, aku akan menjemputmu. Katakan Eve, kau ingin aku menjemputmu dimana?" tanya Steve.


"Tidak perlu Steve, aku bisa jalan sendiri. Kita ketemuan disana saja ya," balas Evelyn menolak, karena ia tidak ingin sampai Louise curiga dan bertemu dengan Steve. Atau semuanya akan gagal total.


"Baiklah kalau begitu, jangan sampai tidak datang ya. Banyak hal yang ingin ku bicarakan denganmu," ucap Steve.


"Tentu saja Steve, aku juga ingin mengobrol denganmu. Bye," balas Evelyn tersenyum dan mematikan ponselnya. Lalu masuk kedalam kamar apartemennya itu untuk bersiap-siap.


Sedangkan Louise yang kebetulan mendengar pembicaraan tersebut pun, merasa kesal. Entah mengapa dirinya sangat tidak suka saat tahu Evelyn akan pergi dengan pria lain.


"Kenapa dia harus pergi dengan pria lain, kalau ada aku disisinya," ucapnya egois sekali. Lalu masuk ke dalam kamarnya dan memikirkan cara mencegah pertemuan itu agar tidak terjadi.


...***...


Malam harinya.


Evelyn telah bersiap pergi untuk makan malam dengan Steve di restoran yang telah dijanjikan sebelumnya. Gadis itu terlihat cantik sederhana, dengan memakai baju kemeja kotak-kotak merah dan rambut yang terurai.



Akan tetapi baru saja ia membuka pintu, pemandangan tidak sedap terpampang nyata dihadapannya.


"T-tuan, a-ada perlu apa datang kesini? tanya Evelyn tergagap.

__ADS_1


"Kau berpakaian rapi seperti ini ingin kemana?" tanya Louise menghadang didepan pintu masuk.


"Kebetulan aku ingin membeli sesuatu, jadi aku harus keluar dan membelinya," balas Evelyn beralasan.


"Ingin beli apa?" tanya Louise ingin tahu.


"Keperluan wanita, ku rasa tuan tidak perlu mengetahuinya," balas Evelyn berusaha menyingkirkan lengan Louise yang menghalangi palang pintu, namun tidak berhasil.


"Kalau begitu beli saja nanti, kebetulan aku ada urusan penting denganmu," balas Louise mendorong Evelyn agar tidak keluar.


"Tidak tuan, aku harus membelinya sekarang. Kalau tidak tokonya keburu tutup!" Evelyn menolak untuk masuk kembali.


"Hanya sebentar, paling tidak cuma 5 menit." Louise menarik tangan Evelyn ke dalam dan mendudukkannua diatas sofa.


"Baiklah, tapi cepat ya. Kau ingin apa tuan?" tanya Evelyn merasa gemas sekali.


Louise tersenyum kemudian berbaring dan menaruh kepalanya diatas pangkuan Evelyn.


"K-kau ingin apa?" tanya Evelyn bingung dan merasa risih sekali dengan posisi seperti ini.


"Pijat kepalaku, semalam aku tidak tidur jadi kepalaku ini terasa sakit sekali. Jadi aku minta tolong padamu untuk memijat kepalaku ini," balas Louise sambil mengurut-urut kedua pelipisnya.


Evelyn mendengus kesal, kenapa disaat waktu mepet seperti ini bos nya malah berbuat ulah.


"Baiklah, hanya lima menit ya," ucap Evelyn dan Louise mengangguk sambil memejamkan kedua mata dengan senyuman dibibirnya.


...***...


20 menit kemudian.


Evelyn mendesaah kesal dan semakin cemas, karena ini sudah lebih dari dua puluh menit memijat kepala Louise, namun pria itu masih saja enggan mengangkat kepalanya dari atas pangkuan.


Dan Louise malah tertidur pulas, sesekali mendengkur keras, hingga membuat Evelyn jadi serba salah dibuatnya.


Terlebih ponselnya itu telah berdering berkali-kali, dan sudah tentu panggilan tersebut dari Steve yang telah menunggunya di restoran.


"Tuan," ucap Evelyn mengoyang-goyangkan bahu Louise agar bangun. Namun tidak ada reaksi apapun.


Gadis itu pun berusaha mengangkat kepala Louise, yang ternyata begitu terasa berat sekali untuk dipindahkan. "Ini kepala atau batu?" gerutunya kesal.


Hingga pada akhirnya perjuangan Evelyn membuahkan hasil dan dengan cepat ia bangun, namun ada satu hal lagi yang membuatnya tidak bisa pergi dengan mudah.


Yaitu ada bagian bajunya yang tertindih oleh Louise.


"Oh shitt! Ujian macam apa lagi ini," gerutu Evelyn panik, apalagi bajunya itu begitu sulit untuk ditarik.


Sedangkan Louise hanya terkekeh dalam hati, karena dia sendiri sengaja menahan baju Evelyn dengan bahunya dan sedikit menariknya dengan tangan yang terkepal erat.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2