
Mansion Horisson.
Kedatangan opa Bernadi ke kediamannya, membuat tuan Horisson dan sang istri saling memandang satu sama lain, dengan beraneka ragam pertanyaan yang muncul di dalam kepala mereka tentunya.
Lalu nyonya Grace yang melihat opa Bernadi mulai menapakkan kakinya masuk ke dalam rumahnya pun, langsung menyambut kedatangan sang juragan tambang batu berharga itu dengan senyuman hangat.
"Selamat sore tuan Bernadi, apa yang membuat anda datang jauh-jauh kesini?" Bagaimana kalau anda masuk terlebih dahulu dan duduklah di dalam," sapa hangat nyonya Grace di muka pintu.
Namun opa Bernadi segera menyingkirkan nyonya Grace dari pandangannya. "Menyingkirlah Grace, karena aku hanya ingin bertemu dengan Horisson dan tidak butuh basa basi dari wanita sepertimu!" tegasnya dan itu membuat nyonya Grace seakan terkena pukulan telak dirumahnya sendiri.
Kakek tua itu berdecih, lalu melewati nyonya pemilik rumah yang masih tergugu begitu saja dan melenggang masuk ke dalam rumah Horisson, bak seorang jawara kolot yang ingin mencari perhitungan dengan sang penjahat.
...***...
Setibanya di dalam sebuah ruangan, opa Bernadi segera bertanya kepada tuan Horisson tepat pada intinya dan tidak ingin mendapat jawaban yang bertele-tele tentang pertanyaannya yang sedang dia ajukan sekarang ini.
"Katakan Horisson, apa kau mengenal gadis yang bernama Evelyn dan apa hubungannya dengan keluargamu? Kenapa aku merasa dia mirip sekali dengan menantuku, ataukah firasatku benar jika dia ada kaitannya dengan keluargaku?" tanya opa Bernadi.
Tuan Horisson merasa bimbang, apa yang harus ia katakan kepada opa Bernadi, jika ia sangat mengenal Evelyn dan Evelyn adalah cucu kandung dari opa Bernadi sendiri.
Sedangkan nyonya Grace sudah bergetar ketakutan, apalagi jika mengingat ia pernah berlaku kasar kepada Evelyn, bahkan tega mengusirnya dari rumah.
"Jawablah!" tegas opa Bernadi.
"Grace, masuklah ke kamarmu dulu." Tuan Horisson meminta istrinya untuk masuk ke dalam kamar sebelum menjawab pertanyaan dari opa Bernadi.
"Baiklah sayang," patuh nyonya Grace.
Tuan Horisson kembali menatap opa Bernadi, kali ini dia tidak ragu lagi mengungkapkan siapa sebenarnya Evelyn itu.
"Tuan Bernadi, aku memang mengenal Evelyn dengan baik dan aku juga harus jujur dan mengakui sesuatu kepadamu," balas tuan Horisson.
__ADS_1
"Lalu apa itu Horisson?" tanya opa Bernadi penasaran.
"Sesuai dengan dugaanmu tuan Bernadi, kalau gadis itu memanglah benar cucu kandungmu yang telah hilang selama ini. Putri Anthoni dan juga Cecilia," balas tuan Horisson mengakui.
Opa Bernadi merasa terguncang saat mendengar hal tersebut, karena bagaimana tidak, cucunya yang telah lama hilang itu nyatanya masihlah hidup. Ia sampai menangis dan menyebut anak serta menantunya yang telah lama tiada.
Namun rasa syukur dan haru itu dia kubur terlebih dahulu, sebelum mendapat jawaban lengkap dari tuan Horisson.
"Apa yang membuatmu mengatakan semua itu Horisson, aku memang senang mendengar jika cucuku masih hidup. Tapi aku juga harus tahu lebih detailnya tentang Evelyn, maksudku bagaimana semua itu bisa terjadi. Tentang Evelyn yang tiba-tiba ada dirumahmu dan mengapa kau menyembunyikan semua itu dariku," balas Opa Bernadi bertubi-tubi.
Ingin sekali rasanya meluapkan semua rasa keingintahuannya itu, karena banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul didalam benaknya.
"Tuan Bernadi, aku minta maaf sebelumnya padamu jika aku telah merahasiakan hal besar ini darimu. Tapi, sebelum ku ceritakan padamu semua hal yang ku ketahui tentang Evelyn, ku mohon kau harus percaya kepadaku terlebih dahulu. Dan ku harap kau tidak menyalahkan keluargaku atas keputusan yang telah ku buat, terlebih kepada putraku Louise," ucap tuan Horisson.
"Aku ingin jawaban Horisson, mengenai salah atau tidak, itu tergantung bagaimana kau memperlakukan cucuku selama ini di dalam keluargamu," balas opa Bernadi.
Hal tersebut membuat nyonya Grace yang sedang menguping mendadak lemas dan gemetaran.
Tuan Horisson menarik udara sebanyak mungkin didalam paru-parunya itu, lalu menceritakan kisah awal ditemukannya bayi Evelyn oleh Angel kepala pelayan rumahnya dan menceritakan bagaimana Angel mengadopsi Evelyn sebagai putrinya.
"Jadi maksudmu, Evelynku menjadi anak pembantu dirumah kalian ini, hah!" tanya opa Bernadi mulai tak senang dan itu terlihat dari gelagat gemasnya.
"Tenanglah tuan Bernadi, aku mengerti kau tidak menyukai keputusanku. Tapi percayalah ini semua demi kebaikan Evelyn sendiri," balas tuan Horisson.
"Kebaikan apa yang kau maksud? Dengan menjadikan cucuku sebagai pembantumu dan membuatnya bekerja keras disini. Sementara kau tahu jika dia sebenarnya masih memiliki keluarga kandung berkecukupan yang masih mencari keberadaannya selama ini?"
"Lalu, mengapa kau tidak berkata apapun kepadaku tentang semuanya dan mengapa kau menyembunyikan kebenaran ini dariku begitu lama sekali?" ucap Bernadi begitu marah dan kecewa sekali mendengarnya.
"Maafkan aku tuan Bernadi, aku tidak ada pilihan lain saat itu. Aku menyembunyikannya selama ini karena takut Evelyn akan terancam keselamatannya, sebab aku merasa kecelakaan Anthoni tidaklah wajar dan aku menyelidiki kasus tersebut selama ini."
"Selain itu, Evelyn sudah ku anggap sebagai bagian dari keluargaku. Aku sangat menyayangi ia seperti putriku sendiri dan aku juga tidak ingin kehilangan dia secepat ini, oleh sebab itu maafkan aku karena telah menyembunyikannya darimu tuan Bernadi," balas tuan Horisson menyesali.
__ADS_1
Lalu tuan Horisson melanjutkan kembali perkataannya, tentang amanah dari ibu Angel sebelum ia wafat, yaitu meminta agar Louise menjaga Evelyn setelah ia tiada.
Tuan Bernadi menghela nafasnya kasar dan menatap kecewa tuan Horisson. Tapi apa boleh buat, pria itu juga seakan menyadari sesuatu dan ia tidak bisa menyangkalnya.
Dimana jika bukan karena perlindungan dari tuan Horisson beserta keluarganya, mungkin Evelyn benar-benar tidak pernah bisa menghirup nafas segar hingga saat ini. Dan seumur hidup, ia tidak akan pernah bisa berjumpa dengan Evelyn, cucu kandungnya.
"Baiklah, aku memaklumi semua kesalahanmu Horisson dan aku berterima kasih karena kau telah menjaga Evelynku hingga ia tumbuh besar seperti ini. Tapi, aku tetap tidak bisa memaafkan kasus hilangnya cucuku saat ini dan sikap Louise yang bertingkah seperti menjauhkan diriku dengannya!" ucap opa Bernadi.
"Apa maksudmu tuan Bernadi? Louise sedang menikmati bulan madunya, bagaimana bisa dia terlibat dalam kasus hilangnya Evelyn saat ini?" tanya tuan Horisson.
"Louise sudah kembali dari bulan madunya dan aku tahu itu semua dari anak buahku, aku juga sangat yakin sekali jika hilangnya Evelyn ada sangkut pautnya dengan putramu itu!" tegas opa Bernadi.
"T-tidak mungkin, Louise begitu menyayangi Evelyn dan ia selalu menjaganya dengan baik. Jika Evelyn pergi kali ini, kurasa bukanlah Louise pemicunya. Tuan Bernadi, aku percaya pada Louise dan ku yakin semua ini hanyalah kesalahpahaman semata," balas tuan Horisson meragukan perkataan opa Bernadi.
"Bagaimana kalau begini saja Horisson, kau antarkan aku pada Louise sekarang juga dan kita lihat, seberapa banyak putramu itu menyimpan kebohongan," balas opa Bernadi.
Tuan Horisson menyetujui perkataan opa Bernadi dan mereka pergi bersama ke kawasan puncak, agar bisa bertemu dengan Louise untuk menjernihkan semua kekeruhan yang ada.
...----------------...
Sementara itu disisi lain, Gisella pergi menyusul Louise ke rumahnya yang berada di kawasan puncak. Wanita itu begitu marah sekali karena bulan madunya gagal total hanya karena mengejar anak pembantunya yang sedang hilang.
"Anak pembantu itu benar-benar menyebalkan! Tidak kusangka daya tariknya sangat kuat, sampai Louise rela mencarinya. Jika begini terus, anak pembantu itu bisa saja merebut Louise dariku!" umpat Gisella.
Wanita itu menggerutu disepanjang perjalanannya menuju rumah pribadi Louise dan bersumpah akan membuat perhitungan dengan Evelyn, jika gadis itu kedapatan masih tinggal bersama dengan suaminya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1