Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 51. Tidak menyangka.


__ADS_3

Gisella berubah menjadi salah tingkah, saat melihat Louise mengarahkan kamera tepat kearahnya. Wanita itu buru-buru merapihkan rambut serta penampilannya, agar terlihat senpurna saat difoto oleh Louise nanti.


Namun kenyataannya tidaklah seperti itu, karena Louise tengah membidik dan bersiap untuk menangkap gambar sang wanita misterius yang berhasil menarik perhatiannya.


"Semisterius apa dirimu, hingga kau selalu saja menutupi wajahmu?" gumam Louise saat melihat wanita itu ingin membuka maskernya.


Namun, disaat ingin memfoto. Gisella malah menghalangi pandangannya. "Louise apa aku sudah cantik berpose seperti ini?" tanya wanita itu menunjukkan senyum terbaiknya.


Louise menghembus nafasnya kasar dan kesal sekali, karena disaat waktu sempit seperti ini Gisella malah menunda kesempatannya. Akan tetapi, demi tidak membuat pelanggan yang lain curiga. Louise pun berpura-pura mengambil foto istri ganjen nya itu.


"Ya geser ke kiri sedikit," ucap Louise.


"Kirimu atau kiriku?" tanya Gisella.


"Kirimu," balas Louise.


"Oke," Gisella menggeser sedikit duduknya dan Louise tersenyum, saat tepat sekali posisi yang ingin ia dapatkan gambarnya.


"Ya tahan seperti itu," ucapnya kepada wajah Gisella yang hanya terlihat separuh bagian.


Sementara itu Evelyn telah siap membuka maskernya dan disaat ingin membuka masker, bibi Maureen mencegah.


"Eve, apa kau yakin ingin membuka masker dan kacamatamu disini?" tanya Bibi Maureen ragu.


"Memangnya kenapa? Bagaimana aku bisa makan kalau masih memakai masker bibi?" balas Evelyn dengan bertanya.


"Tapi bagaimana jika ada yang mengenalimu disini?" tanya bibi Maureen melihat ke sekeliling.


"Tidak akan," balas Evelyn yakin. Dan gadis itu pun membuka masker dan kacamatanya tanpa ragu.


Disisi lain, Louise berubah gemetar saat melihat wajah wanita yang ingin ia ambil fotonya. Sampai kamera yang berada pada genggaman tangannya itu pun jatuh begitu saja.


Pria itu lantas menelan ludahnya susah payah dan berubah menjadi salah tingkah, saat melihat wajah wanita yang begitu buruk rupa dan tidak sesuai dengan harapannya.


Louise refleks menutupi kedua mata, dan merasa indera penglihatannya telah ternoda oleh pemandangan tidak indah dihadapannya itu.


"Siall! Ku pikir wanita cantik, ternyata angsa buruk rupa!" umpatnya kesal dan seketika ia menjadi kehilangan selera makan.


Sementara itu Bibi Maureen terperangah, sambil menganga lebar. Saat melihat wajah Evelyn dan langsung terkekeh, mendapati tahii lalat segede gaban (besar sekali) menempel di pipi gadis itu.


"Bagaimana bibi, apa aku masih bisa dikenali?" tanya Evelyn menaikan kedua alisnya berkali-kali.

__ADS_1


Bibi Maureen tidak bisa menghentikan suara tawanya dan terus menepuk tepi meja, karena merasa lucu saat melihat wajah majikan mudanya yang telah diubah jelek seperti itu .


"Eve ini beneran dirimu sayang?" tanya bibi Maureen tidak menyangka dan Evelyn mengangguk cepat.


"Tapi, bagaimana kau bisa merubah wajahmu menjadi jelek seperti ini? Lihat tahii lalat buatanmu ini, seperti asli saja! Wah bahkan kau melukis bulunya juga!" kekeh bibi Maureen, sesekali menyeka air mata yang keluar dari ekor matanya.


Evelyn membusungkan dadanya. "Aku melukisnya saat ditoilet tadi dan aku membuat bulatan besar ini menyerupai tahii lalat menggunakan eyelinerku. Aku juga memakai softlen warna hitam untuk menutupi bola mata biruku ini dan aku juga membuat flek coklat di sekitar wajahku bibi," ucapnya bangga sekali.


Bibi Maureen mengangguk-angguk, pantas saja majikannya itu begitu lama saat berada ditoilet tadi. "Ternyata dia sedang berusaha keras menyamarkan diri," batinnya terjawab sudah.


"Ayo bibi kita makan dan bibi jangan tertawa saja, nanti perut bibi sakit," ucap Evelyn mulai menyantap makanannya.


"Baik, baiklah!" balas bibi Maureen mengusap perutnya yang sakit, karena tidak bisa berhenti tertawa.


...***...


Louise beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari kedai itu dengan perasaan kecewa, ia terus meraup wajahnya kasar. Sesekali berdecih kesal, karena telah menyia-nyiakan waktu berharganya dengan menaruh rasa penasaran kepada seorang wanita buruk rupa.


"Dadar bodoh! Pantas saja dia selalu memakai masker. Ternyata wajahnya memang tidak enak dipandang seperti itu."


Louise menghela nafas panjang dan menggeleng kepala, serta merutuki kebodohannya sendiri. Karena telah berangkapan jika wanita tadi adalah wanita yang istimewa.


Louise menoleh dan ia mengumpat kesal lagi, seakan kesialan tidak pernah lepas dari dirinya. "Bisakah kau tidak mengikutiku lagi?"


"Louise, kau ini bicara apa sih? Tadi kau begitu ramah padaku, tapi sekarang kenapa kau mulai mengacuhkanku lagi?" tanya Gisella tak habis pikir.


Louise mendesaah kesal dan memilih kembali ke hotel, daripada harus pergi berjalan-jalan bersama dengan Gisella.


...----------------...


Malam harinya.


Selepas pulang dari menikmati keindahan Malioboro dan mencicipi berbagai kuliner serta membeli beberapa souvenir untuk dibawa pulang.


Evelyn dan bibi Maureen kembali ke dalam hotel dan segera menghampiri opa Bernadi yang sedang menunggu kedatangan mereka berdua.


Pria tua itu dibuat terpingkal-pingkal, saat mendengar lelucon dari bibi Maureen, tentang wajah buruk Evelyn di Malioboro tadi. Bahkan opa Bernadi masih saja tertawa, saat melihat wajah Evelyn yang masih terlihat jelek.


"Ah bibi, harusnya aku tidak memakai riasan berjenis waterproof ini. Kan jadi sulit dihapus!" gemas Evelyn, sambil mencoba menghapus tahii lalat jadi-jadiannya menggunakan micellar water.


Namun, bukannya terhapus. Noda hitam itu malah menyebar kemana-mana bagian wajahnya, sehingga Opa Bernadi dan bibi Maureen kembali tertawa.

__ADS_1


"Dasar cucu kurang kerjaan, kau bilang itu tahii lalat. Itu lebih mirip seperti tompel!" gelak opa Bernadi dan Evelyn langsung mencebik.


"Opa, setidaknya hargailah usahaku ini. Aku membuat riasan ini agar tidak ada orang yang mengenaliku," balas Evelyn tidak terima.


"Ya, maaf. Opa hargai usahamu sayang. Sekarang lebih baik kau mandi saja dan cuci mukamu itu sampai bersih," ucap opa Bernadi.


"Ini juga mau mandi," balas Evelyn. "Ayo bibi, kita kembali ke kamar," ucapnya pada bibi Maureen yang masih saja menertawai dirinya.


"Ya sayang, sebaiknya cepatlah kau mandi. Karena bibi tidak bisa berhenti tertawa jika melihat wajahmu," gelak bibi Maureen.


Evelyn mendengus kesal. "Ah bibi, ternyata kau juga samanya dengan opa!"


...***...


Sementara itu, dikamar yang berbeda. Louise memandangi beberapa hasil tangkapan gambarnya pada kamera digital saat di Malioboro.


Dan entah mengapa pikirannya kembali mengingat kejadian, saat berada dikedai gudeg tadi. Rasa penasarannya kembali terusik, dengan sesosok wanita yang sebenarnya sudah ia lihat ditempat itu.


"Wajahnya begitu jelek sekali, tapi apa hubungannya dengan opa Bernadi. Karena yang ku lihat, dia sepertinya sangat akrab dengan opa dan aku belum pernah melihat wanita itu sebelumnya," batin Louise kembali dilanda rasa ingin tahu.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next, bocoran untuk bab selanjutnya.


Louise dan Evelyn tidak sengaja berpapasan di salah satu tempat wisata terkenal, dikala kaki Evelyn tidak sengaja tergelincir saat menaiki anak tangga pada Candi Borobudur.


Bagaimanakah reaksi Louise, disaat ia sendiri yang menangkap raga Evelyn karena wanita itu hampir saja jatuh terjungkal kebelakang?


Tunggu dibab selanjutnya..


Mohon maaf dan bersabar ya, hanya bisa setor satu bab sehari. Karena harus adil membagi waktu dengan anak dan juga keluarga.


Terima kasih..


__ADS_1


__ADS_2