Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 80. Perdebatan Louise dengan Steve.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Louise mengijinkan Evelyn untuk tidak bekerja hari ini, agar bisa fokus beristirahat karena begadang semalaman di rumah sakit. Tidak lupa memesan satu kamar khusus pasien VVIP untuk Evelyn tidur, agar dapat berjaga bersama dengan bibi Maureen.


"Bibi, aku harus pergi ke kantor. Titip salamku untuk Evelyn dan jika butuh sesuatu, kabari aku," ucap Louise sambil menatapi Evelyn yang masih tidur pulas.


"Baik Tuan, akan saya sampaikan pesan anda kepada Eve," balas Bibi Maureen.


Louise mengangguk kecil, lalu pergi dari rumah sakit menuju tenpat kerjanya.


Sedangkan Bibi Maureen kembali ke ruangan dimana opa Bernadi dirawat, untuk mengecek kembali keadaan sang majikan.


...***...


Sementara itu, Steve mulai gelisah didalam kamar hotelnya. Karena Steve ingin sekali berjumpa dengan Evelyn, walau hanya sekedar melihat kondisi tunangannya itu, serta mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi ke kantor.


Namun lagi-lagi Steve tidak mendapatkan balasan, menelepon pun ponsel Evelyn tidak dapat dihubungi atau tidak aktif.


"Kemana Evelyn, kenapa jam segini dia belum keluar kamar. Apa dia tidak mau sarapan? Nomornya tidak aktif juga, apa sebenarnya yang terjadi?" batin Steve mulai kesal.


Hingga pada akhirnya Steve meminta pelayan hotel untuk membukakan pintu kamar Evelyn, agar bisa mengecek keadaannya didalam.


"Terima kasih," ucap Steve, kepada pelayan hotel yang mau membantunya.


"Sama-sama Tuan," balasnya lalu kembali bekerja.


Steve masuk ke dalam kamar hotel tersebut, namun dirinya dibuat bingung. Karena kamar tersebut telah kosong dan tanpa penghuni.


"Eve, kau dimana?" batin Steve mulai takut. Lalu pria itu kembali menelepon Evelyn dan mencoba mencari ke tempat lain.


"Setahuku Eve bekerja di perusahaan kakak ipar, apa Eve sudah pergi kesana," batin Steve. Lalu pergi ke perusahaan Louise.


...----------------...


Perusahaan Horisson Group.


Setibanya di perusahaan milik keluarga kakak iparnya, Steve segera mencari Evelyn dan bertanya kepada siapapun karyawan yang bekerja disana.


Hingga pada akhirnya kehadiran Steve ke perusahaan, membuat Louise segera memanggil Steve untuk datang ke ruang kerjanya.


"Kemana Eve ku?" tanya Steve to the point.


"Menurutmu apa dia ada disini?" balik tanya Louise.

__ADS_1


"Eve ku tidak ada disini kakak ipar, tapi aku yakin kau tahu mengenai keberadaannya sekarang ini," balas Steve yakin.


Louise menghela nafas dan memindai Steve dari atas kepala hingga ujung kaki, ia merasa jika Steve memiliki sifat mirip seperti dengan Gisella.


Lalu seketika terlintas dalam benaknya. Apakah Steve benar-benar tulus mencintai Evelyn? Ataukah pria itu hanya terobsesi pada wajah cantik dan tubuh sempurnanya Evelyn, sama seperti Gisella yang hanya memandang fisiknya saja selama ini.


"Dia ada di rumah sakit," balas Louise.


Steve membulatkan kedua matanya. "Rumah sakit! Apa maksudmu kakak ipar? Apa yang terjadi dengan Eve ku?" ucapnya panik sekali.


"Semalam Opa Bernadi tiba-tiba drop dan mengalami koma saat ini, akibat pendarahan pada otaknya. Tapi kau tenang saja, karena opa Bernadi telah mendapatkan perawatan terbaik sehabis operasi," balas Louise.


Steve nampak kesal, karena tahu ternyata Evelyn telah membohonginya kemarin malam. "Eve, ku pikir kau benar-benar tidur. Ternyata kau pergi bersama dengan pria ini." batinnya tidak terima.


"Aku tidak peduli dengan keadaan kakeknya Eve, yang ku pedulikan sekarang ialah Eve telah menjadi tunanganku, jadi ku mohon padamu kakak ipar, untuk selalu menjaga batasanmu dan jangan seenaknya membawa tunanganku pergi dariku!" geram Steve.


Louise menatap tajam Steve yang bicara begitu angkuhnya. "Kemana dirimu saat Evelyn sedang membutuhkan seseorang untuk menemaninya? Kau bahkan menolak mentah-mentah permintaannya saat ingin menjenguk kakeknya yang sedang sakit. Apa itu kah rasa kepedulian pada tunangan yang kau maksud?"


Steve seketika bungkam, dan hanya bisa menatap Louise dengan tatapan sinisnya. "Aku sudah memberikan alasan kenapa aku tidak bisa mengantarnya ke rumah kakeknya itu, tapi kelancanganmu telah membawanya pergi sangat tidak bisa aku maafkan."


"Dia adalah tunanganku dan tidak lama lagi kami akan menikah, jadi kakak ipar mulai sekarang aku melarangmu untuk berhubungan lagi dengan Eve!" tegas Steve.


Louise berdecih. "Tidak ada yang bisa memutuskan hubunganku dengannya. Lagipula kalian baru bertunangan, belum resmi menikah dan menjadi suaminya. Apalagi sebuah hubungan bisa saja berubah dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa depan?"


"Ada hubungan yang tidak bisa aku jelaskan padamu Steve, dimana ini bukan hanya sekedar hubungan keluarga. Kau mungkin dekat dengannya selama 5 tahun, tapi aku telah mengenal Evelyn sejak bayi dan akrab dengannya saat dia masih berusia 10 tahun."


"Saat berumur 16 tahun dia kehilangan ibu angkatnya dan mendiang ibunya itu menitipkan Evelyn kepadaku. Lalu diusia 17 tahun dia bertemu dengan kakek kandungnya dan pergi ke Rusia untuk belajar."


"Tadinya aku berpikir kami tidak akan bertemu lagi, tapi Tuhan sepertinya berkata lain. Kami ditakdirkan untuk bertemu dan menjalin hubungan kembali, sebagai salah satu contohnya kami tidak sengaja berpapasan saat berada di Yogyakarta. Mungkin bisa disebut juga kami telah memiliki ikatan yang tidak bisa diputuskan dengan mudah," tutur Louise menjelaskan.


Steve mengertakkan giginya karena sebal dengan pernyataan Louise. "Ikatan yang tidak bisa diputuskan ya, hem baiklah kakak ipar. Kalau begitu mulai sekarang aku tidak akan membiarkan kau bertemu dengan Eve ku lagi!"


"Kau mengancamku?" tanya Louise datar.


"Iya, kali ini aku mengancammu sebagai seorang pria. Aku tidak memandangmu sebagai kakak ipar, jadi aku tidak akan segan-segan lagi membuat perhitungan denganmu. Jika kau masih saja berani mendekati Eve ku lagi!" tegas Steve.


"Apa yang kau punya sampai berani mengancamku? Apa kau punya kekuatan atau kekuasaan, hem?" tantang Louise.


"Kau akan mendapat jawaban setelah aku berhasil mendapatkannya!" balas Steve memilih berhenti berdebat, Lalu berbalik badan dan pergi dengan perasan kesal.


"Huh! Lihat saja nanti, aku akan melawanmu setelah berhasil mendapatkan perusahaan si pria tua bangka itu!" gerutu Steve dalam hati.


Louise menghembus nafasnya kasar dan menatap Steve yang perlahan menjauh. "Kau ingin melawanku, lihat saja nanti. Ku pastikan kau akan mendapatkan kehancuran sebelum berhasil menikmati kekayaan opa Bernadi." tekadnya seperti itu.

__ADS_1


Lalu menghubungi Ken, untuk menanyakan sejauh mana pria itu berhasil menggumpulkan bukti serta para saksi dari korban mafia tanah.


...----------------...


Rumah sakit.


Evelyn bergiliran menjaga sang Opa, setelah sebelumnya bibi Maureen yang telah menjaga opanya itu.


"Bibi, tidurlah dulu. Biarkan aku yang menjaga Opa," ucap Evelyn setelah puas tertidur.


Bibi Maureen mengangguk patuh, kemudian pergi menuju kamar yang telah disediakan untuknya.


Evelyn kembali duduk ditepi ranjang, dimana sang Opa masih tidak sadarkan diri. Banyaknya alat bantu yang menempel, membuat Evelyn merasa ngilu sendiri.


"Opa cepatlah sadar, aku merindukanmu. Setelah kau sadar aku berjanji tidak akan membantahmu atau melakukan hal yang membuatmu marah lagi," ucap Evelyn sambil menggenggam tangan Opa Bernadi.


Tak berselang lama kemudian, Evelyn keluar dari ruang rawat intensif. Karena ingin menjawab panggilan dari Steve.


"Hallo," jawab Evelyn.


"Hallo Eve, kau dimana?" tanya Steve.


"Aku sedang bekerja, ada apa menghubungiku?" balas Evelyn.


"Eve, jangan membohongiku. Kau sebenarnya tidak bekerja bukan? Aku telah mendatangi tempat kerjamu dan aku tahu kalau kau sedang berada di rumah sakit sekarang ini," balas Steve.


"Kalau kau sudah tahu aku dimana, kenapa harus bertanya? Apa kau tahu kondisi Opa ku sekarang ini?" balas Evelyn bertanya.


"Aku tahu, dia sedang sakit dan masih tidak sadarkan diri. Tapi apa perlu kau membohongiku hanya untuk pergi kesini? Kau malah pergi bersama dengan kakak ipar, aku ini tunanganmu Eve!" balas Steve dengan nada tinggi.


Evelyn memijat pelipisnya yang berdenyut, sesekali mendengus kesal dengan perkataan Steve yang sama sekali tidak memperdulikan kesehatan Opa nya.


"Aku berbohong karena kau tidak mau mengantarku ke rumah Opa, beruntung aku datang disaat yang tepat, sehingga Opa ku mendapatkan perawatan yang tepat. Harusnya kau mencemaskan Opaku Steve, tapi apa ini? Kau sama sekali tidak mencemaskan atau menanyakan sedikit saja tentang kabarnya sekarang ini!"


"Opa sangat penting bagiku, saat kau tidak memperdulikannya. Bagaimana aku bisa menganggapmu pantas menjadi bagian dari keluarga Bernadi!" balas Evelyn kesal. Lalu memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.


Sedangkan Steve merasa geram, karena mau bagaimanapun ia tetap membenci opa Bernadi dan tidak mungkin bisa melupakan kebenciannya itu.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2