
"C-cucu?" ucap Gisella terbata.
"Iya dia cucuku, cucu kandungku yang telah lama hilang!" jawab tegas opa Bernadi.
"T-tidak mungkin," ucap Gisella kemudian mundur daripada terkena masalah. Tapi hatinya mendadak senang dan lega, karena ia yakin sekali opa Bernadi akan membawa Evelyn pergi jauh setelah ini. Dan itu berarti, Evelyn tidak akan tinggal bersama dengan Louise lagi.
Opa Bernadi berdecih, melihat tingkah Gisella yang arogan. Kemudian menatap Evelyn yang masih belum sepenuhnya percaya. Lalu opa Bernadi mengeluarkan sebuah dompet dan menunjukkan foto keluarganya yang masih lengkap.
"Ini foto ayah dan ibumu, lihatlah ibumu sangat mirip denganmu," ucapnya menunjukkan.
Evelyn senantiasa memandangi dan menggeleng, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. "T-tidak mungkin," ucapnya menatap opa Bernadi.
"Kau masih belum percaya hah? Baiklah, apa kau masih menyimpan kalung pemberianku? Sebuah kalung emas yang berukir namamu dan dibelakangnya terdapat ukiran kepala naga sedang mengigit sebuah batu berlian, senilai 5 carat?" tanya opa Bernadi.
Evelyn membuka penuh kedua matanya dan mengangguk. "I-iya," ucapnya lalu pergi sebentar untuk menunjukkan kalungnya itu.
Opa Bernadi menangis dan memeluk Evelyn sambil menggenggam kalung tersebut. "Cucuku, kau benar cucuku. Semua orang berpikir kalau kau telah tiada saat kecelakaan itu, namun opa selalu yakin kalau kau masihlah hidup. Karena jasadmu dan juga kalung yang pernah opa berikan ini untukmu saat lahir, tidak ada dimanapun juga."
"Opa selalu berdoa setiap hari dan berharap jika kau masih hidup dan selalu baik-baik saja didalam perlindungannya," isak opa Bernadi.
Evelyn membalas pelukan kakek tua renta itu. "Benarkah itu," ucapnya masih berat menerima kenyataan yang ada, jika dirinya ternyata telah ditipu oleh Louise.
"Ayo kita pulang Evelyn," ajak opa Bernadi setelah menceritakan semuanya kepada Evelyn.
Namun gadis itu hanya diam membisu, kedua netranya hanya bisa menatap kecewa kepada sang tuan paman dan juga semua orang yang telah tega membohonginya.
"Opa, sebelum kita pergi. Bolehkan aku berbicara sebentar dengan mereka semua?" tanya Evelyn.
Opa Bernadi mengangguk. "Tentu saja, katakan saja apa yang ingin kau sampaikan kepada mereka."
Evelyn lantas menatap tuan Horisson dan menghampirinya. "Jadi kau sudah tahu tentang diriku selama ini, tuan besar?"
__ADS_1
Tuan Horisson mengangguk pasrah dan mengakui kesalahannya itu. "Iya, maafkan tuan besarmu ini Evelyn."
Evelyn menggeleng dan menatap tak percaya. "Tidak kusangka kau juga tega membohongiku selama ini tuan besar," ucapnya kecewa sekali.
"Maaf Evelyn, tuan besarmu ini telah membohongimu. Karena aku tidak ada pilihan lain sayang, aku sudah terlanjur menyayangimu dan menganggap kau sebagai putriku sendiri. Saat rasa sayang itu semakin besar, bagaimana aku bisa rela melihatmu pergi meninggalkan diriku ini," ucap tuan Horisson mengungkapkan kesedihannya.
"Aku berterima kasih karena tuan besar telah merawat dan juga menjagaku. Terima kasih juga karena tuan telah menganggapku sebagai putri sendiri. Tapi tuan, hari ini aku kecewa sekali padamu, karena kau telah menyimpan kebenaran ini dariku begitu lama. Dan yang membuatku sedih adalah kau tidak bisa mengatakannya padaku secara langsung tuan," ucap Evelyn menangis.
"Sudah tuan katakan padamu Evelyn, kalau tuan tidak ingin kau pergi makanya tuan tidak sanggup mengatakannya padamu. Tapi mau bagaimana lagi, cepat atau lambat kebenaran ini pasti akan terungkap dan disaat itu tiba, tuan sudah tidak berhak menahanmu lagi," balas Tuan Horisson.
Pria paruh baya itu memeluk Evelyn. "Sekarang pergilah, kau berhak tinggal bersama dengan keluargamu. Jadilah anak yang baik dan bisa membanggakan opamu nanti," ucapnya haru, kemudian melepaskan pelukannya itu.
"Terima kasih, selamanya aku akan mengingatmu tuan besar," balas Evelyn. Kemudian gadis itu menghampiri Selvi dan Mika serta Ken.
"Jadi kalian juga sama telah menyembunyikan ini semua dariku?" tanya Evelyn dan mereka bertiga mengangguk lesu.
"Kak Selvi, aku mempercayaimu dan kau juga sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri. Tapi hari ini aku kecewa padamu, karena disaat kau tahu kebenaran ini, kau tidak sekalipun berkata hal ini padaku," ucap Evelyn.
"Evelyn, mengertilah. Kami semua menyayangimu, tidak ada dari kami semua yang ingin kau bersedih," balas Selvi.
Namun rasa kekecewaannya terhadap keluarga Horisson, tidak bisa ditolerir lagi. Terutama kepada Louise, sang tuan paman yang begitu ia percayai.
Evelyn menatap kesal Louise yang sedang menatapnya juga. "Tuan paman, kau pernah bilang padaku, kalau aku adalah anak yang tidak diinginkan. Kau juga bilang tidak ada satupun keluarga kandungku yang peduli padaku."
"Aku sangat percaya kepadamu, tapi setelah kejadiannya ini aku benar-benar kecewa padamu, tuan. Kau bukan hanya tega membohongi identitasku selama ini, tapi kau juga telah tega mempermainkan perasaanku."
"Aku masih punya keluarga kandung yang sedang mencari keberadaanku hingga saat ini, akan tetapi nyatanya kau selalu saja menahanku agar tidak pergi dan menemui mereka. Aku tidak tahu apa alasanmu melakukan itu semua tuan, namun aku benar-benar kecewa padamu," isak Evelyn.
Louise mengepal erat kedua tangannya, hari yang tidak ia sukai akhirnya terjadi juga. Dimana ia akan kehilangan Evelyn dan gadis itu akan menjadi bagian dari keluarga lain walau itu keluarganya sendiri.
"Maaf," ucapnya tak tahan lagi. Lalu menarik gadis itu untuk masuk ke dalam dekapannya dab memeluknya erat-erat.
__ADS_1
"Maafkan tuan paman Evelyn, tapi percayalah kalau tuan paman benar-benar menyayangimu dan tidak ingin kau pergi secepat ini. Ku mohon maafkan tuan pamanmu ini," ucap Louise tidak tahu harus berkata apa lagi.
Evelyn mendorong Louise. "Kesalahan tuan besar mungkin masih bisa aku maklumi tuan, tapi kesalahan yang telah tuan paman lakukan terhadapku. Itu bisa sangat sulit sekali, aku bahkan tidak tahu bisa memaafkan kebohongan yang pernah tuan paman lakukan itu dengan mudah atau tidak. Karena aku telah kecewa sekali padamu," ucapnya menangis.
Gadis itu pun segera berbalik dan menghampiri opa Bernadi. "Ayo opa kita pergi sekarang juga," pintanya sebelum hatinya semakin sedih.
Opa Bernadi mengangguk, kemudian meminta sang supir untuk membawa mereka pulang.
Evelyn menyempatkan diri menoleh kepada semua orang yang mengantar kepergiannya. "Selamat tinggal semuanya," ucapnya pamit untuk yang terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, semoga kau bahagia selalu. Jangan lupakan kami semua," balas Selvi seraya melambaikan tangannya kepada Evelyn yang telah masuk ke dalam mobil.
Evelyn mengangguk dan mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari sang tuan paman, namun hingga kaca jendela mobilnya telah tertutup rapat, ia tidak kunjung menemukannya.
Evelyn terisak-isak. "Harusnya aku bahagia karena telah menemukan keluargaku, tapi kenapa rasanya berat sekali meninggalkan mereka semua."
"Tuan paman, seandainya kau tidak menipuku. Mungkin hatiku tidak akan merasa sesakit ini," gumam Evelyn mengingat semua perkataan Louise kepadanya.
...***...
Sementara itu Louise terduduk lemas didalam kamar Evelyn, ia sama sekali tidak ingin melihat kejadian haru yang sedang terjadi di luar rumahnya itu.
Pria itu menyugar rambutnya kebelakang dan menengadahkan wajahnya keatas, sambil terpejam dan menghela nafasnya berkali-kali.
Tidak dapat dipungkiri, hatinya merasa tidak rela jika Evelyn pergi dari begitu saja kehidupannya. Terlebih gadis itu pergi dengan menyisakan luka dihatinya.
Louise menggeleng dan tidak tahu harus apa sekarang, karena baginya, menembus pertahanan Opa Bernadi sungguhlah sangat sulit dilakukan.
Ia hanya bisa berharap agar Evelyn mau memaafkannya dan berharap suatu hari nanti, mereka bisa berjumpa lagi.
.
__ADS_1
.
Bersambung.