Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 111. Jangan pergi.


__ADS_3

Mansion Louise.


Evelyn membulatkan tekad untuk meninggalkan kediaman Louise, ia tengah memasukkan semua barang-barang pribadinya ke dalam tas besar.


"Aku harus pergi dari sini, aku tidak mau jadi bonekanya seperti wanita-wanita itu. Sekali pakai langsung dibuang," gerutu Evelyn.


Hatinya terasa sakit dan mulai gamang, kenyataan tentang Louise tidak dapat dipungkiri, walau ia sendiri begitu menyukai sosok tampan dan wibawa dari calon suaminya.


Namun, kelakuan pria itu membuat Evelyn seperti enggan dekat dengannya karena risih dan harus menjauh sejauh mungkin agar tidak menjadi korban selanjutnya.


Evelyn terus menarik kopernya dan turun melewati tangga yang berliku, hatinya telah mantap untuk melangkah pergi, walau semua orang dalam rumah itu sudah mati-matian melarangnya.


"Evelyn, pikirkan lagi keputusanmu itu. Kalian sebentar lagi akan menikah," ucap Selvi.


"Iya Evelyn, kalau ada masalah diantara kalian kan bisa dibicarakan baik-baik. Jangan pergi seperti ini," ucap Mika menimpali.


Evelyn menggeleng. "Tidak, aku tidak ingin tinggal disini lagi. Masalah pernikahanku dengannya, lebih baik kupikirkan ulang saja."


Mika dan Selvi bertatapan satu sama lain, dengan raut bingung tentunya. Apa yang sebenarnya terjadi, hingga Evelyn bersikukuh ingin pergi dari rumah calon suaminya sendiri.


"Jangan pergi Evelyn, setidaknya tunggulah sampai tuan Louise pulang." Selvi mencegah Evelyn keluar dari pintu utama.


Evelyn menghela nafasnya panjang. "Tidak Kak Selvi, aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Lagipula kalau menunggu sampai dia pulang kesini, sudah pasti dia akan melarangku untuk pergi."


Dan benar saja, belum sempat Evelyn berhasil masuk ke dalam mobil. Louise yang baru saja turun dari mobilnya, segera menarik tubuh Evelyn agar tidak masuk ke dalam.


"Kau mau pergi kemana? Aku heran sekali, kenapa kau punya hobi kabur dari rumah?" tanya Louise.


"Lepaskan aku dan jangan sentuh aku! Biarkan aku pergi darisini!" sergah Evelyn tanpa mau menatap Louise.

__ADS_1


"Tidak akan ku biarkan kau pergi begitu saja dari rumahku!" sahut Louise penuh penekanan. Lalu membopong Evelyn seperti karung beras, agar kembali masuk ke dalam rumah.


"Turunkan aku!" pekik Evelyn meminta diturunkan, sesekali memukul punggung Louise.


Sedangkan Louise hanya bisa menghembus nafas kasarnya berkali-kali dan terus melangkah masuk menaiki tangga, membawa Evelyn yang terus memberontak agar kembali ke dalam kamarnya.


...***...


Setibanya didalam kamar, Louise mengunci pintu kamarnya itu. Kemudian menurunkan Evelyn diatas kasur secara hati-hati, lalu berjongkok agar pandangan mereka sejajar.


"Please ... Jangan pergi," ucapnya memohon.


Evelyn masih membuang wajah kesalnya ke sembarang arah, setelah mengetahui jika Louise adalah pemain wanita, ia merasa kecewa sekali.


"Biarkan aku pergi, aku tidak ingin menjadi bonekamu. Yang bisa kau pakai semaumu dan kau buang setelah bosan," tolak Evelyn.


Louise menarik dagu Evelyn agar mau menatapnya. "Apa yang kau katakan? Kenapa berpikiran seperti itu tentang diriku? Sudah ku katakan padamu kalau aku serius menikah denganmu Evelyn," bujuknya.


"Aku tadinya berpikir kau adalah pria baik-baik, kau pintar, tampan gagah dan juga mapan. Kau begitu sempurna dan siapapun wanita yang kau pilih pasti akan menerima dirimu,"


"Tapi ketahuilah Tuan Louise, aku menerima dirimu bukan karena kesempurnaanmu itu, melainkan aku merasa kasihan kepadamu karena telah dikhianati oleh nyonya Bibi. Aku berharap bisa menggantikan sosok seorang istri yang tidak pernah kau dapatkan dari nyonya bibi untukmu, dan itu kulakukan sebagai balasan atas semua kebaikkanmu padaku,"


"Tapi setelah aku mengetahui keburukkanmu sewaktu lalu, aku merasa risih sekali. Aku bahkan ragu dan takut untuk menikahimu," tutur Evelyn menjelaskan.


Louise menghembus nafasnya panjang. "Apa yang kau takuti dariku?"


"Aku takut kau tidak serius dengan hubungan kita dan aku juga takut kau akan meninggalkanku seperti wanitamu yang sudah-sudah," balas Evelyn.


Louise berganti duduk disebelah Evelyn yang terus menggeser duduknya seperti memberi jarak. "Evelyn, sudah ku jelaskan padamu kalau aku serius dengan pernikahan ini. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu atau melakukan hal seperti yang sudah kau katakan sebelumnya."

__ADS_1


"Aku telah berubah setelah ada dirimu, aku selalu menunggumu hingga dewasa. Aku bahkan menahan nafsuku dari godaan Gisella hanya karena untukmu," balas Louise.


Evelyn menatap kedua manik pada mata Louise, seakan mencari kebenaran didalam sana. "Apa yang kau katakan barusan?"


"Kita bertemu saat kau masih berusia 10 tahun, sorot matamu membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan suara tawamu selalu saja berputar dan menganggu didalam kepalaku ini, hingga aku kehilangan nafsu untuk menambah koleksi perempuan tidurku, karena selalu saja teringat suara terkekehmu itu,"


"Aku tidak tahu setiap kali aku melihatmu aku merasa ada kedamaian, sampai suatu hari kau dibawa oleh opa Bernadi dan aku terus mencari keberadaanmu dengan bantuan Ken, karena hatiku sangat gelisah setiap hari. Dan dalam masa pencarian, aku selalu berharap kau belum dimiliki oleh pria lain."


"Evelyn, percayalah padaku. Aku telah berubah dan aku pastikan kau adalah wanita terakhir dan satu-satunya yang selalu aku inginkan untuk menemaniku disisa hidup hingga akhir usiaku, aku tidak menginginkan wanita lain disisiku selain dirimu," ucap Louise penuh kejujuran.


Evelyn menatap Louise dengan berlinang air mata. "Begitukah? Apa kau berkata seperti itu juga kepada korban-korbanmu sebelum kau mengambil apa yang kau mau dari mereka?" tanyanya masih tersisa rasa curiga.


Louise menangkup kedua sisi wajah Evelyn agar terus menatap wajahnya. "Menurutmu apa aku ini sedang berbohong? Apa kau tidak percaya dengan isi hatiku ini? Coba lihatlah aku lebih dalam Evelyn," desaknya.


Evelyn menarik kedua tangan Louise agar berhenti menangkup sisi wajahnya, lalu berpaling. "A-aku tidak tahu, bagaimana aku tahu kau berbohong atau tidak."


"Kalau begitu tataplah aku terus," Louise kembali menangkup kedua sisi wajah Evelyn dan memintanya agar tidak memejamkan kedua mata. "Bukalah matamu," pintanya.


"Tidak, aku tidak ingin melihatmu. Aku tidak ingin kau menghipnotisku seperti wanita lain," ucap Evelyn menggeleng.


Louise menghela nafas panjang, lalu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan sebuah ciuman diatas bibir Evelyn, hingga wanita itu seketika membuka matanya.


"Ah badjingan, apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" rontanya.


Namun Louise hanya tersenyum tipis. "Maki-lah aku sepuas hatimu, tapi aku mohon berjanjilah setelah ini kau akan menerima dan memaafkanku. Aku juga ingin kita baikan lagi seperti sebelumnya ya," ucapnya kemudian.


Lalu kembali melabuhkan kecupan hangat nan mesra untuk sang kekasih, tidak peduli walau Evelyn suka atau tidak atas aksinya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2