
Beberapa hari kemudian.
Mansion Louise.
Para maid di dalam rumah tengah sibuk menyiapkan satu kamar baru untuk Evelyn tempati, setelah sebelumnya gadis itu hanya tidur dikamar tamu. Tapi kini Louise memintanya untuk naik ke lantai atas, atau lebih tepatnya menempati kamar tidur disebelah kamarnya.
Hal tersebut membuat Evelyn merasa risih, karena malam ini ia akan tidur disebelah kamar calon suaminya.
"Ini kamar baru untukmu, bagaimana apa kau suka?" tanya Louise menunjukkan.
"Aku suka Tuan paman," balas Evelyn dengan kedua mata berbinar.
Louise mencebik. "Sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku Tuan paman. Aku merasa sudah tua sekali kalau dipanggil seperti itu."
Evelyn terkekeh. "Dia kan memang sudah tua," celetuknya. "Maaf Louise, ah aneh sekali." Evelyn menggeleng karena belum terbiasa.
Louise mendengus. "Kalau begitu biasakan, bagaimana kalau begini saja." Lalu mengikis jaraknya dengan Evelyn. "Sebut namaku beberapa kali dulu, setelah kau mulai terbiasa menyebut namaku. Maka aku akan melepaskanmu," ucapnya kemudian.
"Wah ini curang namanya," protes Evelyn.
"Masa bodo, aku tidak peduli. Ayo sekarang mulailah memanggil namaku," pinta Louise.
"Louise ... Louise ... Louise, sudah. Apa kau puas?Sekarang lepaskan aku," balas Evelyn dan berusaha menarik diri, namun Louise senantiasa memeganginya agar tidak lari.
"Tidak mau, kau belum memberikanku satu hal lagi." Louise menggeleng.
"Apa?" Evelyn tidak mengerti.
"Kau belum menciumku," balas Louise sambil memonyongkan bibirnya seperti bebek.
Evelyn menutup rapat bibirnya itu dengan kedua tangan, karena jika bibir Louise sampai menempel sedikit saja pada bibirnya. Maka sudah dapat dipastikan, pria itu tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Sudah begitu Louise akan membuatnya kewalahan dan kehabisan nafas seperti saat sebelum-sebelumnya.
"Tidak mau, gaya ciumanmu sangat aneh dan kasar. Aku tidak sanggup mengimbanginya," balas Evelyn menolak sambil memalingkan wajahnya.
Louise tidak patah semangat dengan terus menariknya demi mengincar apa yang dia mau, hingga pada akhirnya pria itu meringis kesakitan dan melepaskan pelukannya, karena merasakan sakit pada kaki kirinya itu.
"Aduh! Kenapa kau menginjak kakiku!" ringis Louise sembari memegangi kakinya dan berjinjit-jinjit.
"Rasakan, itulah akibatnya kalau berani macam-macam denganku!" balas Evelyn. sembari tertawa puas. Lalu kabur secepat mungkin agar tidak tertangkap lagi.
"Hei awas ya! Kemari kau jangan pergi!" Louise menunjuk ke arah Evelyn yang sedang berlari, sesekali meringis memegangi kakinya yang terinjak.
Louise pun mendesaah kesal, karena setelah perjanjian itu tidak berlaku. Evelyn jadi sulit sekali untuk dikendalikan, bahkan gadis itu sudah tidak menurut apalagi patuh kepadanya.
"Kalau tahu begini, biarkan saja dia hidup terikat dengan perjanjian itu!" cebik Louise menyesali.
...***...
Evelyn terengah-engah sehabis berlari, sesekali terkekeh karena puas sekali bisa menyakiti Louise. "Salah sendiri dia selalu saja menggodaku," celotehnya sambil mengambil beberapa cemilan dalam kulkas.
Lalu membawa cemilan tersebut untuk dinikmati, sambil menonton serial drakor kesayangannya di Netflix.
Dan sebelum menonton, Evelyn berpapasan dengan Selvi. "Evelyn kau darimana saja, tadi Tuan Louise mencarimu. Dia bilang kau melukai kakinya."
__ADS_1
"Biarin saja, jangan ditanggapi. Oiya Kak Selvi, bagaimana kalau kau temani aku nonton," balas Evelyn mengajak.
Selvi menghela nafas. "Boleh, kebetulan tugas kakak juga sudah selesai."
"Oiya Kak Selvi, bagaimana persiapan pernikahanmu dengan Kak Ken?" tanya Evelyn sambil mengunyah makanannya.
"Sebentar lagi akan selesai," balas Selvi sedih.
"Kau kan mau menikah, kenapa terlihat sedih seperti itu?" tanya Evelyn ingin tahu.
Selvi menghembus nafasnya panjang. "Iya, kalau kakak menikah itu berarti kakak tidak akan tinggal disini lagi."
"Itu berarti kau akan meninggalkan kak Mika," ucap Evelyn.
"Benar," balas Selvi mengangguk.
"Pantas saja kak Mika terlihat sedih, itu pasti karena kau akan pergi meninggalkan dia."
"Mau bagaimana lagi, walau aku dan dia tumbuh bersama, tapi kita punya tujuan dan masa depan yang berbeda. Aku hanya berharap Mika bisa bertemu dengan jodohnya segera, seorang pria baik dan juga bertanggung jawab," ucap Selvi.
"Semoga saja," balas Evelyn.
Mereka berdua kembali menonton film tersebut dengan serius, sesekali tertawa jika ada adegan yang lucu. Hingga tanpa sadar kalau ada sang tuan rumah sedang berdiri tegak dibelakang mereka.
Louise mencolek pundak Selvi dan memberi isyarat kepadanya untuk diam, lalu meminta wanita itu pergi agar ia bisa duduk disebelah Evelyn.
"Eve, kakak pergi dulu ya. Kakak lupa ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ucap Selvi lalu beranjak pergi.
"Ya Kak, pergi saja." Evelyn masih fokus menonton.
Louise membungkukkan badannya agar sejajar dengan tinggi kepala sofa, dimana Evelyn sedang duduk dihadapannya itu. Lalu mendekatkan wajahnya hingga mendekat pada ceruk leher Evelyn.
"Ah Tuan apa yang kau lakukan!" pekik Evelyn sesekali terkekeh geli. Terlebih kedua tangan Louise kini telah bersilang dan melingkar manja pada atas dadanya.
"Ini hukumanmu karena telah berani menginjak kakiku dan pergi dariku!" balas Louise sambil terus mengusak wajahnya.
"Jangan, geli sekali!" Evelyn refleks menjambak rambut Louise, hingga pria itu kembali mengaduh kesakitan.
"Ampun!" pekik Louise.
"Lepaskan aku dulu," titah Evelyn dengan satu tangan menahan wajah Louise yang selalu saja ingin menyosor.
"Baik, tapi jangan tarik rambutku sayang!" Louise melepaskan rangkulan itu dengan wajah tidak rela.
"Harusnya pikir-pikir dulu sebelum bertindak," ucap Evelyn ketus.
Louise berubah jinak. "Baiklah, maaf. Lain kalu harus minta ijin dulu ya, apa sekarang boleh? Kau masih hutang ciuman padaku," ucapnya genit.
"Cium, cium. Ingatlah kita belum resmi menikah. Pacaran juga belum," balas Evelyn mencebik.
"Kita kan sudah pasti menikah, jadi untuk apa pacaran. Itu buang-buang waktu," balas Louise.
"Enak sekali berkata seperti itu, emangnya kamu tidak pernah pacaran sewaktu muda hah?" cecar Evelyn.
Louise menggeleng. "Belum," jawabnya enteng. Karena seumur hidup Louise memang belum pernah berpacaran dengan wanita dan yang hanya dia tahu hanyalah melubangi wanita itu.
__ADS_1
"Pantas saja, kau sama sekali tidak mengerti bagaimana memperlakukan wanita dengan baik."
"Hem ... Baiklah kalau begitu coba ajari aku bagaimana pacaran seharusnya," ucap Louise.
"Pertama kita harus kencan, bisa itu nonton bareng dan makan malam bersama."
"Ya sudah ayo kita nonton, setelah itu makan malam bersama." Louise mendaratkan bokongnya dan memakan cemilan milik Evelyn. "Nah apa kita sudah pacaran sekarang?" tanyanya polos sekali.
Evelyn menepuk jidatnya. "Bukan seperti ini Tuan tampan, maksudku kita pergi keluar bersama berduaan saja. Lalu nonton bioskop dan makan malam di restoran dengan suasana romantis," balasnya.
Louise membulatkan bibirnya dan mengangguk-angguk. "Oh seperti itu, ya sudah ayo kita nonton. Kebetulan ini hari minggu dan masih siang," ajaknya.
Evelyn mengulas senyum. "Begitu dong," balasnya lalu bersiap-siap. Tidak lupa memberi kecupan pada pipi Louise, hingga wajah pria itu jadi berseri-seri.
...***...
Setibanya di dalam Mall, mereka berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum nonton film bioskop. Louise selalu setia mengikuti kemana langkah kaki gadis kecilnya itu berjalan.
"Dia semangat sekali," batinnya.
Lalu Louise berhenti di salah satu tempat yang menjual berbagai macam perhiasan berlian mewah, sementara menunggu Evelyn yang masih sibuk mencari baju baru didalam butik.
Pria itu melangkah masuk ke dalam dan segera membeli cincin couple untuk mereka berdua.
"Yang paling mahal dan paling bagus!" titahnya tidak main-main.
Pegawai itu pun mengeluarkan barang langka mereka, yang bernilai ratusan juta rupiah. Dan Louise segera membeli cincin tersebut tanpa tawar menawar.
Setelah membeli cincin untuk dihadiahkan saat makan malam tiba, agar lebih terkesan romantis dan kembali menunggu Evelyn yang ternyata masih belum selesai juga membeli baju. Lalu tersenyum lembut saat gadis kecilnya itu keluar dengan beberapa paperbag ditangan.
"Sudah selesai belanja?" tanya Louise.
"Sudah," balas Evelyn merasa senang sekali, karena kebutuhan sandang nya terpenuhi.
"Sini aku bawakan," balas Louise menawarkan diri.
"Ini terima kasih," balas Evelyn memberikan.
"Ayo kita jalan lagi, kali ini kau ingin kemana?" tanya Louise sambil merangkul pinggang ramping Evelyn.
"Aku ingin ke salon," ucap Evelyn kemudian berlari saat melihat salon diujung Mall.
Louise menghembus nafasnya panjang, mau tidak mau dia harus menuruti semua keinginan gadis kecilnya itu.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Next \=\=> Sebelum menikah Louise bermaksud pergi ke inggris untuk melakukan operasi terkait vasektominya itu dan meninggalkan Evelyn selama dua bulan lamanya, dengan alasan pekerjaan.
Steve melihat peluang, dimana Louise kini tidak berada disamping Evelyn dan ia pun mendekati Evelyn untuk menghasut.
__ADS_1
"Louise itu pria tidak baik, dia seorang casanova dan pemain wanita. Dia juga tidak serius dengan hubungannya,"
Apakah Evelyn akan termakan hasutan Steve? Nantikan di bab selanjutnya.