
Sebelum berangkat ke tempat tujuan, dimana mereka akan mengunjungi pameran kebudayaan serta perhiasan koleksi PT Indo Berlian Perkasa di daerah Yogyakarta, opa Bernadi meminta Evelyn untuk menutupi identitasnya dengan cara menyamar.
Karena ia tidak mau cucunya itu sampai dikenali oleh paparazi atau sejenisnya, yang dapat menganggu kenyamanan sang cucu selama menikmati liburannya disana.
"Ingat, jangan lupa kalau sudah sampai disana, selalu pakai kaca mata hitammu, pakai masker dan pakai topi. Jangan memakai perhiasan atau barang-barang yang mencolok mata dan jangan jauh-jauh dari Maureen! Opa tidak ingin kau dikenali bahkan hilang disana," ceramah opa Bernadi panjang lebar.
Evelyn tersenyum. "Tenang Opa, cucumu ini akan menuruti semua perintahmu!" balasnya sambil memberi gerakan hormat kepada sultan keraton.
Opa Bernadi hanya mesem saja melihat tingkah tengil cucunya itu, tidak dapat dipungkiri dirinya merasa senang melakukan kunjungan kerja ditemani oleh sang cucu, walau ada sedikit rasa kekhawatiran juga saat berkunjung membawa Evelyn kesana.
Tidak apalah, itung-itung jalan-jalan bersama Eve. Begitulah kemakluman sang kakek tua, mengingat masa kecil Evelyn yang tidak pernah gadis itu rasakan, sewaktu menjadi anak pembantu di keluarga Horisson.
Serta kesempatan dalam hidup, untuk menghabiskan waktu kebersamaan dengan sang cucu yang terlewatkan cukup lama.
"Ayo cepat kita berangkat, jangan pecicilan saja. Nanti kita bisa ketinggalan naik pesawat!" tegas opa Bernadi.
"Iya opa," balas Evelyn dan berhenti meluapkan rasa kegembiraannya sejenak, lalu mengekor kepada yang lain.
...----------------...
Perusahaan Horisson Group.
Sementara itu, Louise bersama Ken serta beberapa karyawan kantor tengah bersiap untuk pergi mengunjungi kota Yoygakarta, dimana mereka akan berjumpa dengan sang klien, yang ingin membeli mesin buatan PT Horisson Group disana.
"Ken, apa semuanya sudah siap?" tanya Louise bersiap-siap untuk pergi.
"Sudah pak Louise, mesin-mesin dan beberapa karyawan kita juga sudah sampai disana," balas Ken.
Louise mengangguk. "Bagus, ya sudah kita jalan sekarang. Jangan lupa bawa proposal perusahaan serta dokumen penting lainnya."
"Iya pak," seru Ken sambil membawa tas berisi keperluan mereka selama bertransaksi disana.
...***...
Selama di pesawat, Louise menjelaskan kepada Ken tentang apa saja yang akan dilakukan selama mereka bertemu dengan klien nanti. Serta memesan beberapa kamar hotel untuk dirinya pribadi dan juga para staft kantor yang turut menemani.
Karena dalam melakukan transaksi tersebut, dibutuhkan proses pengerjaan yang membutuhkan waktu cukup lama, hingga menghabiskan beberapa hari.
Mulai dari perakitan bagian-bagian unit mesin agar menjadi satu mesin besar, serta ujicoba kelayakan mesin tersebut, hingga benar-benar sempurna sebelum digunakan oleh kliennya.
Selain itu, sekilas Louise berpikir. Selama kunjungan kerja kali ini, ada baiknya ia mengambil kesempatan untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak dari lelahnya rutinitas pekerjaan.
Louise menghembus nafas lega, setidaknya ia tidak akan berhadapan dengan sang istri yang menjengkelkan, setiap kali pulang ke rumah sehabis bekerja selama beberapa hari ke depan.
__ADS_1
...----------------...
Yogyakarta.
Setibanya Opa Bernadi beserta rombongannya dibandara, mereka segera pergi ke hotel tempat dimana mereka akan beristirahat selama beberapa hari.
Tidak ada bedanya dengan opa Bernadi, Louise dan juga rombongannya pun telah tiba di bandara.
Pria tampan itu sekilas melihat opa Bernadi dikejauhan dan kedua netra tajamnya itu menangkap seorang asing tak dikenal, sedang berjalan bersama di samping opa Bernadi.
"Siapa dia? Setahuku opa Bernadi tidak punya asisten seperti itu," batin Louise penasaran.
Ketika melihat seseorang nampak berbeda berada diantara rombongan opa Bernadi, entah itu pria atau wanita. Mengingat tidak terlihatnya sehelai rambut pun yang terurai karena tertutup topi.
Serta hodie yang dikenakan dan tentunya itu sangat berbeda dari semua karyawan opa Bernadi, yang memakai pakaian resmi kantoran.
Namun, apabila dilihat secara keseluruhan, Louise meyakini jika orang itu adalah seorang wanita.
"Pak Louise, anda sedang melihat apa?" tanya Ken.
Louise mengedarkan pandangannya. "Tidak ada Ken, ayo kita pergi!" ucapnya.
"Iya," balas Ken. Lalu pria itu menyempatkan diri menoleh ke arah dimana Louise memandang tadi dan lantas membulatkan bibirnya. "Oh ada tuan Bernadi juga disini, pasti Louise teringat dengan Evelyn," batinnya menduga seperti itu.
"Ya, Pak!" sahut Ken, kemudian berjalan setengah berlari menghampiri bosnya.
...***...
Hotel.
Setelah tiba di Yogyakarta Marriot Hotel, Evelyn dan bibi Maureen segera masuk ke dalam kamar hotel, yang telah dipesan oleh opa Bernadi sebelumnya.
Ia bergegas membuka hoodie dan topi, serta masker yang menutupi wajahnya. "Ah leganya," seru Evelyn merasakan sejuk setelah berada didalam kamar.
Selain memandangi kamar hotel, Evelyn juga menyempatkan diri mengambil beberapa foto selfi sebagai kenang-kenangan.
Gadis itu begitu senang, bahkan tidak sabar ingin pergi berjalan-jalan, seusai dengan daftar tujuan wisata yang sudah ia buatkan daftarnya pada memo kecil selama duduk didalam pesawat.
"Bibi, apa kita bisa jalan-jalan sekarang?" tanyanya antusias.
Bibi Maureen menghela nafas, sesekali memukul punggungnya yang pegal. "Kita baru saja sampai sayang, bisa tidak kalau beristirahat dulu didalam kamar ini. Bibi lelah sekali," balasnya menolak.
__ADS_1
"Lagipula, kau tidak ingat pesan opa mu hah? Ia meminta agar kau tidak pergi tanpa seijinnya, setidaknya tunggulah sampai Opa mu pulang. Jadi kalian bisa jalan-jalan bersama," sambung bibi Maureen.
Evelyn mengangguk patuh kali ini dan membenarkan juga perkataan bibi Maureen. "Baiklah Bi, kau benar," ucapnya patuh.
...***...
Disisi lain, didalam hotel yang sama. Louise sedang menerima panggilan dari Gisella, yang selalu saja menghubunginya tiada henti.
"Louise, kau pergi kemana?" tanya Gisella dari seberang ponselnya.
"Kerja, mau apa lagi kau pikir?" balas Louise.
"Kenapa kau pergi bekerja pagi-pagi sekali dan mengapa kau tidak tidur didalam kamarmu, lalu untuk apa kau membawa koper besar?" cecar Gisella.
Louise menghela nafasnya panjang sekali. "Bukan urusanmu, aku ingin pergi kemana itu adalah urusanku. Sudah jangan ganggu aku selama beberapa hari ini, karena aku ada urusan yang lebih penting daripada berdebat denganmu!" balasnya lalu mematikan panggilan pada ponselnya itu.
"Mengganggu sekali! Dia benar-benar tidak membiarkan aku bernafas lega!" umpat kesal Louise.
Sedangkan Gisella juga mengumpat kasar, saat panggilannya dimatikan begitu saja oleh Louise. Dirasa tidak mendapatkan jawaban, wanita itu akhirnya pergi ke dapur dan menemui Selvi, untuk menanyai keberadaan suaminya sekarang ini.
"Kau orang kepercayaan Louise, ku yakin kau pasti tahu sedang pergi kemana suamiku sekarang ini? Apa dia sedang mencoba mencari wanita lain diluaran sana," tanya Gisella to the point.
"Nyonya, percayalah. Tuan Louise memang sedang ada kunjungan pekerjaan selama beberapa hari di luar kota," balas Selvi apa adanya.
"Luar kota? Dimana itu?" tanya Gisella menekan.
"Yogyakarta," balas Selvi. Memang Louise tidak pernah melarangnya untuk berkata jujur, dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh istrinya yang posesif itu. Agar Selvi tidak terkena musibah.
Gisella mengepal erat kedua tangannya dan menatap tajam Selvi, hatinya memanas karena Louise lebih mempercayai seorang pembantu daripada istrinya sendiri.
Dengan segera Gisella mempersiapkan diri, untuk menyusul Louise ke tempat dimana suaminya itu berada. Dan Selvi segera memberitahu hal tersebut kepada Louise.
"Ck! Menyusahkan sekali!" umpat Louise. Setelah mendapat pesan dari Selvi, bahwa Gisella sedang dalam perjalanan menyusul dirinya.
.
.
Bersambung.
Oh Louise, istrimu datang!
__ADS_1