Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 27. Kembali pulang.


__ADS_3

"Hai, butuh tumpangan," ucap Louise menawarkan bantuan.


Evelyn mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, karena tidak yakin dengan apa yang dia lihat di depan mata kepalanya sendiri.


"T-tuan paman, bagaimana kau bisa ada disini?" tanya gadis itu sedikit bingung.


Louise terkekeh. "Sudahlah masuk dulu ke dalam mobil, nanti tuan paman ceritakan."


"Tidak tuan paman, aku naik kendaraan umum saja. Sebentar lagi juga datang mobilnya," balas Evelyn menolak.


Gadis itu merasa sungkan naik ke dalam mobil mewah milik tuan pamannya, karena takut akan mengotori mobil tersebut mengingat alas sepatunya sedikit kotor akibat terkena tanah basah dijalanan yang becek.


"T-tapi, sepatuku kotor." Evelyn menunjukkan sepatunya.


"Tidak apa, naiklah!" balas Louise mengerti.


"Baiklah," balas Evelyn tidak ada pilihan lain. Lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Louise dibangku depan.


Sementara itu Louise mengambil selembar tisue, lalu memberikannya kepada Evelyn.


"Untuk apa tisue ini?" tanya Evelyn tidak mengerti.


"Ada sisa susu menempel dibibirmu," balas Louise tersenyum.


"Ah masa sih," balas Evelyn kemudian segera menghapusnya dan Louise senantiasa memperhatikan hal tersebut.


"Apa sudah bersih?" tanya Evelyn menyodorkan wajahnya pada Louise, terutama bibir ranumnya itu.


Membuat Louise meneguk ludahnya kasar. "S-sudah," jawabnya, lalu segera mengalihkan pandangannya dari Evelyn.


Dan tak lama setelah itu, Louise pun segera memacu si kijang besi demi mengantar Evelyn menuju sekolahnya, yang berada di pusat kota.


...***...


Disepanjang perjalanan, Louise melirik ke arah Evelyn yang sering kali menguap. "Apa kau pergi ke sekolah sepagi ini?" tanyanya sambil melihat jam yang berada di dalam mobilnya.


Evelyn mengangguk kecil. "Iya, sekolahku jauh tuan. Jika tidak pergi pagi, maka aku akan terlambat sampai ke sekolah."


Louise membulatkan bibirnya. "Oh, baiklah kalau begitu. Mulai besok tuan paman akan mempekerjakan supir pribadi untukmu," ucapnya.


Evelyn mengeleng cepat. "Tidak tuan paman, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu tuan, aku sudah di sekolahkan oleh keluargamu saja, aku merasa bersyukur dan berterima kasih sekali. Lagipula aku hanyalah seorang anak pembantu, jadi tidak pantas juga memakai supir pribadi hanya untuk ke sekolah. Iya kan," balasnya menolak.


"Anak pembantu? Kau adalah cucu orang kaya, bahkan kekayaan kakekmu itu tidak akan pernah habis hingga lebih dari tujuh turunan," batin Louise merasa geli dan ingin sekali bibir seksiinya bicara seperti itu.

__ADS_1


Namun apalah daya, sang ayah masih belum siap melepas kepergian Evelyn dan kalau dipikir-pikir juga, ia seperti merasa tak rela jika gadis yang sering dia pangku sejak kecil itu meninggalkan dirinya.


"Jangan menolak, tuan paman hanya tidak ingin kau sampai terlambat pergi ke sekolah. Selain itu tuan paman juga tidak ingin kau selalu digoda oleh pria tidak jelas dijalanan," balas Louise.


"Begitu, ya sudah terserah tuan paman saja," balas Evelyn patuh.


Mereka berdua kembali larut dalam diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dimana Evelyn ragu ingin bertanya kepada tuan pamannya itu, mengenai pernikahannya dengan Gisella.


Sedangkan Louise ingin sekali bertanya, kenapa Evelyn meneleponnya kemarin.


"Evelyn, maafkan tuan paman. Karena telah salah memarahimu kemarin di telepon," ucap Louise.


"Tidak apa tuan," balas Evelyn.


"Hmm, oiya kemarin kau ingin bicara apa pada tuan paman?" tanya Louise.


Evelyn menggeleng. "Tidak ada tuan, tidak ada hal yang penting."


"Benarkah tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan?" tanya Louise dan Evelyn mengangguk mantap.


"Lalu kenapa kau berubah sedih?" tanya Louise kembali.


"Aku hanya sedih karena pernikahan tuan paman dan nona Gisella dibatalkan," balas Evelyn.


"Jadi kau hanya sedih karena alasan itu, bukan karena tuan paman salah memarahimu hem?" tanya Louise lagi.


Sedikit emosi juga gadis itu saat melihat tuan pamannya seakan tidak peduli dengan hubungan pernikahannya yang batal.


Louise menghela nafasnya. "Kau masih belum cukup umur untuk mengerti masalah orang-orang dewasa," balasnya.


Evelyn mencebik. "Aku sudah cukup besar dan aku tahu mengenai masalah orang-orang dewasa, kalian pasti bertengkar karena sesuatu kan? Dan sebab itulah kau datang kesini untuk menjauhi nona Gisella. Tapi asal kau tahu saja tuan paman, sikapmu ini tidaklah benar. Kau harus segera pulang ke rumah dan bertemu dengan nona Gisella," cerocos gadis itu menurut sudut pandangnya.


Louise hanya mendengarkan penuturan tersebut, sambil mengemudi tanpa ingin berkomentar banyak tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Evelyn.


Karena menurutnya, Evelyn sama sekali tidak mengerti apapun mengenai dirinya yang tidak baik dimata umum.


"Tuan paman, pulanglah ke rumah dan kejarlah nona Gisella. Aku ingin sekali melihat kalian berdua menikah," mohon Evelyn.


"Sudah selesai bicaranya? Sekarang turunlah dari mobilku," ucap Louise tak mengubris permintaan Evelyn.


"Apa!" ucap Evelyn kesal.


"Turunlah Evelyn, karena kau telah sampai di sekolah," ucap Louise.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan ucapanku tadi. Apa kau bersedia pulang hari ini dan menemui nona Gisella lagi?" tanya Evelyn.


"Sudah tuan paman katakan kalau kau masih belum cukup umur untuk memahami semua masalah orang dewasa dan berhentilah ikut campur tentang masalah orang lain," balas Louise serius.


"Baiklah, aku tidak akan bicara lagi. Terima kasih tumpangannya!" jawab Evelyn ketus. Merasa kesal karena tuan pamannya itu ternyata tidak mendengarkan ucapannya sama sekali.


Bahkan gadis manis itu berani menutup pintu mobil Louise dengan sangat kasar, hingga mengagetkan si empunya.


"Dasar gadis itu, masih belum dewasa saja sudah berani menunjukkan arogansinya. Bagaimana kalau sudah dewasa nanti, pasangannya pasti akan kewalahan menghadapinya," gumam Louise sambil menggelengkan kepala.


...***...


Setibanya Louise di rumah setelah mengantarkan Evelyn pergi ke sekolah, Selvi datang menghampiri dengan langkah terburu-buru.


"Tuan, tuan Louise!" ucap Selvi panik.


"Ada apa Selvi?" tanya Louise.


"Ada kabar dari rumah tuan," balas Selvi menarik nafasnya teelebih dahulu.


"Kabar apa? Cepat katakan!" titah Louise.


"Tuan besar masuk rumah sakit, lalu saya juga mendapat kabar kalau nona Gisella mencoba untuk bunuh diri," balas Selvi mengabari.


"Apa!" terkejut pria itu saat mendengarnya.


"Ya tuan, saya dapat kabar ini dari pak Santos. Tadi pak Santos mengabari saja, tuan besar sedang bersedih sebab tuan Louise tidak kunjung ditemukan. Karena kasihan, jadi saya terpaksa jujur saja kalau tuan memang sedang ada disini," balas Selvi mengaku.


Louise menghembus nafasnya kasar sambil menatap Selvi yang tertunduk takut. Mau bagaimana lagi, sepertinya dia harus mengubur keinginannya untuk menghabiskan waktu berlibur selama beberapa hari di rumah pribadinya.


Tanpa banyak bicara, pria tampan nan menawan itupun kembali menaiki mobilnya dan menitipkan pesan kepada Selvi sebelum ia pergi. "Besok akan ada supir pribadi untuk antar jemput sekolahnya Evelyn, namanya pak Rahmat."


"Baik tuan," jawab Selvi.


"Satu lagi, tolong jaga Evelyn dengan baik. Jangan biarkan gadis itu berkeliaran sendirian di luar rumah ini dan bilang padanya kalau tuan paman sudah kembali pulang ke rumah," ucap Louise mengingat kejadian tadi.


Dimana Evelyn sempat digoda oleh beberapa pria di sekitar rumahnya saat menunggu kendaraan umum di depan rumahnya.


Selvi mengangguk. "Baik tuan, akan saya ingat dan sampaikan."


Louise mengangguk, kemudian memacu kendaraannya untuk kembali pulang ke rumah.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2