
Malam harinya.
Mansion Louise.
Kejadian di lobi perusahaan tadi siang cukup membuat Evelyn syok dan itu terbawa hingga saat ini. Ia terus saja melamun, memikirkan ciuman dadakan serta kata-kata Louise yang ingin menikahinya.
Aku serius ingin menikahimu.
Evelyn menggeleng. "Tidak mungkin, Tuan paman mengatakan itu pasti karena ingin menyelamatkan diriku dari beragam tanggapan negatif semua orang saja. Dan aku yakin, ucapannya tadi tidak-lah serius," gumamnya.
"Tapi bagaimana kalau semua perkataannya benar?" gumamnya lagi, sambil memotong sayuran segar untuk dijadikan menu makan malam.
Hingga tanpa terasa jari tangannya hampir saja teriris pisau, jika Selvi tidak segera membuyarkan lamunannya.
"Awas Evelyn!" tepis Selvi menjauhkan pisau dari tangan Evelyn.
"Ah kenapa!" ucap Evelyn terkejut.
"Kemana fokusmu saat mengiris sayuran tadi Evelyn? Apa kau tidak tahu jarimu hampir saja teriris pisau," balas Selvi menegur Evelyn yang melamun.
"Oh untung saja, terima kasih sudah menyelamatkan jariku Kak Selvi," balas Evelyn sambil menggenggam jari telunjuknya.
Selvi menghela nafas panjang dan merasa heran dengan tingkah aneh Evelyn semenjak pulang dari kantor. Gadis itu terlihat lebih banyak melamun dan selalu saja menjauh jika melihat kedatangan Louise.
Seperti saat sekarang ini, Evelyn seketika berubah kikuk saat Louise tiba-tiba masuk ke dalam dapur.
"K-kak Selvi, a-aku tinggal dulu ya. Aku mau ke WC sebentar," ucap Evelyn dan buru-buru pergi sebelum Louise mendekat kearahnya.
Karena takut dimintai jawaban atas tawaran pernikahaannya tadi, dan semenjak pernyataan pria itu dikumandangkan dihadapan banyak orang, entah mengapa Evelyn selalu saja grogi jika didekati oleh Louise.
"Tuan, apa perlu sesuatu?" tanya Selvi mencoba bertanya kepada majikannya yang diam saja.
"Tidak ada," balas Louise pasti. Lalu pergi dari dapur untuk menyusul kemana Evelyn pergi.
...***...
Evelyn menghembus nafasnya lega, sambil memegangi jantungnya yang terus saja berdebar cepat, ketika berhasil pergi dan menjauh dari keberadaan Louise saat ini.
Ia memutuskan untuk bersembunyi saja malam ini di taman, dan akan kembali masuk ke dalam setelah semuanya selesai makan malam.
__ADS_1
Beberapa jam telah berlalu, Evelyn berhasil menghindari Louise yang kedapatan sedang mencari dirinya disekitaran taman. Namun ternyata sang perut mengkhianati pemiliknya, karena dalam misi persembunyian. Ia malah berbunyi cukup kencang.
Krucuk ... Krucuk!
"Aduh lapar sekali."
Evelyn menelan ludahnya susah payah, mau tidak mau dia harus keluar dari tempat persembunyian yang berbentuk semak-semak itu. Dan berjalan secara sembunyi-sembunyi layaknya seorang maling menuju ruang dapur belakang.
Setibanya di meja dapur, Eveyn segera menyendok nasi dan juga beberapa lauk. Ia bergerak dengan cepat agar tidak sampai kepergok Louise.
Lalu makan seperti orang yang belum pernah ketemu makanan selama beberapa hari, begitu cepat dan terburu-buru.
Akan tetapi karena terlalu fokus mengejar waktu, Evelyn sampai tidak menyadari kehadiran seorang pria tampan dan telah berdiri dibelakangnya, sambil menunggu dirinya selesai makan malam dengan setia.
Tak butuh waktu lama, Evelyn telah menghabiskan makan malam yang terlewat beberapa jam. Sesekali mengusap perutnya karena kekenyangan dan itu terlihat dari perut kecilnya yang sedikit membuncit.
"Sudah kenyang?" tanya Louise hingga mengagetkan Evelyn yang sedang baru saja bersandar malas pada kursi makan.
"T-tuan," ucapnya terbata. Lalu berdiri dan menunduk seperti para maid lainnya.
Louise menghela nafas panjang dan perlahan berjalan mendekat, kali ini pria itu tidak akan membiarkan Evelyn pergi lagi darinya. Lalu secepat mungkin Louise menarik pinggang Evelyn dan mengikis jarak dengannya agar tidak lari.
"T-tuan, a-ku mau taruh piring kotor dan cuci tangan." Eveyn beralibi.
Louise mengambil salah satu tangan Evelyn dan memandanginya. "Kau makan dengan sendok, tanganmu juga terlihat bersih. Jadi, jangan membuat alasan untuk menghindar lagi dariku Evelyn. Sekarang berikan aku jawabanmu," ucapnya menunggu.
Evelyn kembali gugup saat ditatap oleh Louise dari jarak dekat seperti itu. "T-tuan, bisakah kau memberikan aku waktu beberapa hari lagi?" pintanya.
"Besok adalah sidang perceraianku dengan Gisella dan itu berarti aku sebentar lagi akan resmi berpisah darinya. Jadi Evelyn, aku menginginkan jawabanmu itu segera mungkin dan ku beri waktu untukmu paling lambat sampai besok malam."
"Dan jangan sampai lupakan ini Evelyn, kalau kau tidak memberikanku jawaban lebih dari waktu yang ku berikan padamu sampai besok malam, maka itu ku anggap kau telah menerima lamaran pernikahanku," balas Louise sedikit memberi penekanan.
Evelyn menelan ludahnya yang tercekat. "B-baiklah Tuan," ucapnya pasrah sekali.
Louise menarik senyumnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi Evelyn. "Ku harap jawabanmu iya," bisiknya pada daun telinga Evelyn dan tidak lupa memberi gigitan kecil disana.
Hingga membuat bulu kuduk gadis itu langsung berdiri, karena merasa geli.
...---------------...
__ADS_1
Mansion Anderson.
Sementara itu dilain tempat, Gisella tengah frustasi karena harus menerima kenyataan pahit mengenai perceraiannya dengan Louise, yang sudah pasti akan terjadi dan tidak mungkin bisa dibatalkan lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Tapi kenyataan tersebut bukanlah satu-satunya kenyataan pahit yang sedang ia alami saat ini, melainkan aksi mengejutkan Louise sewaktu di perusahaan.
Dimana pernyataan serius pria itu yang ingin menikahi Evelyn setelah mereka resmi bercerai.
"Dasar pelakor! Ingin sekali rasanya membuatmu cacat seumur hidup!" pekiknya kesal sekali.
Gisella melempar apapun benda disekitarnya karena marah dan terus mengutuki Evelyn, hingga Steve yang kala itu baru saja tiba di rumah, bergegas menghampiri Gisella yang tengah mengamuk seperti hilang kendali.
"Kakak apa yang terjadi? Kenapa kau marah-marah dan melempari semua barang-barangmu ini! Dan kenapa kau mengutuk Eve-ku!" ucap Steve tidak suka, sambil menepis lemparan barang yang hampir saja mengenai wajahnya.
Gisella menatap Steve dan menghampirinya. "Eve-mu? Bagiku dia tidak lebih dari seorang wanita rendahan suka menggoda pria dan juga perebut suami orang!" ucapnya penuh dengan penekanan.
"Jaga bicaramu kak Gisella, Eve-ku bukan wanita seperti itu. Aku mengenalnya dengan baik saat kuliah di Rusia dulu, dia begitu baik dan tidak pernah sekalipun aku melihatnya menggoda pria. Justru yang disalahkan adalah suamimu itu, dia yang merebut Eve dari tanganku!" debat Steve tidak terima dan membela cintanya.
Gisella berdecih. "Tapi faktanya memanglah seperti itu, dia telah berhasil merebut suami orang!"
"Terserah kau mau bilang apa, tapi aku percaya dengan Eve-ku. Aku sedang berusaha mengumpulkan uang yang banyak untuk meminangnya kembali dan menikahinya sesegera mungkin. Agar tidak ada pria lain merebutnya dariku seperti kakak ipar," balas Steve menggebu dan yakin berhasil dengan usahanya kali ini.
Gisella terkekeh mendengar hal tersebut. "Dasar adikku yang bodoh, kau pikir sanggup melawan Louise dan membawa keluar wanita ja-lang itu dari rumahnya hah? Apalagi sekarang Daddy tidak mau lagi ikut campur dan membantu masalah kita berdua."
"Aku tidak takut menghadapi Louise dan aku yakin akan berhasil membawa Eve keluar dari rumahnya itu. Aku telah mendapat posisi bagus di perusahaan Daddy dan telah berhasil mengumpulkan uang yang banyak. Aku juga telah membeli rumah mewah untuk kami berdua dan aku yakin dia akan tertarik dengan pria mapan seperti aku," ucap Steve percaya diri.
Gisella memutar bola matanya malas. "Kau memang hebat Steve, tapi sayangnya kau terlambat. Karena Louise telah melamar Evelyn sevara langsung didepan umum dan berniat akan menikahinya setelah kami bercerai."
Bagai terkena petir dimalam hari, Steve langsung terguncang mendengar hal tersebut. Ia terduduk lemas, sesekali menggeleng karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Tidak mungkin, kau pasti berbohong!" sergah Steve. Kedua manik matanya bergetar hebat, diiringi dengan rasa sakit pada bagian dadanya.
"Aku serius, kau pikir kemarahan dan kesedihanku ini cuma pura-pura!" sentak Gisella meyakinkan Steve.
"Tidak! Eve hanya boleh menjadi milikku!" sergah Steve menolak menerima kenyataan itu.
.
.
__ADS_1
Bersambung.