Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 47. Telah sampai.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Evelyn telah sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta, setelah menempuh perjalanan belasan jam lamanya.


Ia datang bersama dengan bibi Maureen beserta para ajudan yang telah ditugaskan oleh opa Bernadi untuk menjaga Evelyn, selama cucunya itu menikmati liburan ke Indonesia.


Dan setelah mereka keluar dari bandara, Evelyn menginap di hotel dekat kawasan itu untuk berehat sejenak, sebelum akhirnya pergi ke mansion opa Bernadi pada siang esok hari.


...***...


Setibanya di dalam kamar hotel, Evelyn tidak ada henti-hentinya tersenyum dan menatapi luar kamarnya yang sedang turun hujan itu.


Pengalaman pertama di negeri kelahirannya itu, setelah dibawa oleh opa Bernadi ke Rusia sebagai seorang cucu orang kaya.


Setelah sebelumnya pernah menjadi seorang anak pembantu selama 16 tahun lamanya, yang tidak pernah menatap dunia luar, menjadikan Evelyn begitu senang sekali saat berhasil keluar dari lingkaran kesulitan hidup.


Seketika terlintas didalam benaknya akan keluarga Horisson, terutama Louise sang tuan paman.


"Apa tuan paman masih hidup bersama dengan nyonya Bibi? Kalau masih bersama, mungkin mereka sudah punya anak sekarang ini," batinnya menduga seperti itu.


Evelyn menghela nafas panjang dan menikmati suasana serta fasilitas mewah di hotel berbintang lima itu, bersama dengan bibi Maureen.


...----------------...


Mansion Louise.


Gisella pulang dari acara reuni teman kuliahnya dengan raut wajah kesal, karena selama acara sosialitanya itu, ia selalu ditanyai oleh teman-teman sekampus, dengan sebuah pertanyaan yang membuat ia tidak bisa tidur nyenyak hampir setiap hari.


Kapan punya anak!


Kau telah berhasil menikah dengan pria tampan dan berhubungan intim dengannya, lalu Gisella kapan kalian punya anak? Begitulah celetukan dari teman-teman se kampus yang membuat Gisella langsung hilang muka saat itu juga.


"Bagaimana bisa punya anak, dia saja tidak pernah menyentuhku!" batin Gisella kesal sekali.


Tapi seketika ia berpikir, walau hanya dua kali pernah berhubungan dalam waktu 5 tahun terakhir ini, seharusnya ada kemungkinan dirinya bisa hamil. Namun hingga detik ini, Gisella tidak pernah merasakan ada tanda-tanda benih buah hatinya tumbuh didalam perutnya itu.


Wanita itu mendengus kesal, saat melihat Louise sedang asyik duduk bersandar di depan balkon kamar, sambil membaca buku kesukaannya.


"Dia pria menyebalkan, apa tidak terlintas sedikitpun dipikirannya itu untuk punya anak hah!" geramnya. Lalu menghampiri Louise dan membanting tasnya didepan suaminya itu.


"Louise! Aku tidak mau tahu, pokoknya kita harus berhubungan malam ini. Kau tahu kan, kalau aku ini sangat menginginkan anak darimu. Tapi kenapa kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku!" titahnya tanpa malu.


Louise berdecih dan menyesap kopi hangatnya dengan perlahan. "Harusnya kau bersyukur aku sudah mau melayanimu sampai dua kali, ya walau itu bukan keinginanku karena kau melakukannya dengan cara licik."


Gisella menelan ludahnya susah payah, memang selama ini dia selalu saja menjebak Louise agar kebutuhan hasratnya itu terpenuhi. Namun, dari sekian banyaknya menjebak dengan berbagai macam cara, namun hanya dua kali saja jebakannya yang berhasil selama ini.

__ADS_1


Lalu wanita itu hampir gila karena selalu terbayang-bayang akan permainan luar biasa Louise saat diatas ranjang, yang mampu membuatnya terbang melayang.


"Louise, tidak bisakah kau memberikanku hak sebagai seorang istri. Aku hanya ingin punya anak darimu, kau tahu keinginan ini juga adalah keinginan keluarga kita. Coba bayangkan ekspresi bahagia mereka jika kita berhasil memiliki anak?" bujuk rayu Gisella.


Namun Louise tidak peduli, karena dia melakukan itu dengan sengaja dan berharap agar Gisella secara sendirinya mengajukan perpisahan dan meninggalkan dirinya sejauh mungkin.


"Sudah ku bilang, aku tidak ingin punya anak karena aku tidak ingin terikat hubungan yang lebih jauh lagi denganmu. Dan jika kau keberatan dengan keputusanku ini, maka kau bisa putuskan hubungan kita dan hiduplah bersama dengan pria lain, yang mau mempunyai anak darimu," ucap Louise kesal, lalu membanting bukunya diatas meja.


"Louise!" pekik Gisella kesal sekali, menghadapi sikap cuek Louise setiap hari. "Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu!" tegasnya.


Louise menghela nafasnya panjang dan memilih pergi dari kamarnya itu, daripada harus berdebat dengan Gisella sepanjang malam.


Karena ia ingat besok pagi-pagi sekali harus pergi keluar kota bersama dengan Ken, untuk melakukan kunjungan kerja bertemu dengan kliennya di Yogyakarta.


...----------------...


Keesokan harinya.


Mansion opa Bernadi.


Pagi-pagi sekali Evelyn bersama dengan bibi Maureen telah tiba dikediaman opa Bernadi, dimana sang pemilik rumah ternyata masih tergulung selimut hangat diatas kasurnya.


Gadis cantik nan jelita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion mewah seharga dua triliun rupiah itu dengan perasaan riang gembira.


Bibi Maureen membiarkan hal tersebut dan melarang kepada siapapun pelayan yang ada di dalam rumah itu untuk membantu nona mudanya, karena ia merasa yakin sekali, jika Evelyn sangat ingin menyenangkan hati sang kakek dengan cara membuatkan sarapan pagi.


"Mau masak apa Eve?" tanya bibi Maureen.


"Aku ingin masak bubur ayam dan sup kaldu jamur, karena kau tahu kan bibi, kalau opa ku harus sarapan bergizi dan selain itu ia juga harus makan makanan yang cepat tercerna," balas Evelyn.


"Benar, opa mu memang butuh semua makanan bergizi seperti itu. Tapi sepertinya dia juga menginginkan hal lain darimu," ucap bibi Maureen.


"Apa itu Bibi?" tanya Evelyn.


"Cepatlah cari pasangan, sebelum opamu mencarikannya untukmu," balas bibi Maureen.


Evelyn menggeleng. "Tidak mau, aku masih belum ingin berpacaran ataupun menikah. Karena aku baru saja menemukan keluargaku, jadi aku tidak ingin terlalu cepat meninggalkannya."


Bibi Maureen tersenyum. "Jadi seperti itu ya."


Evelyn mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.


"Bagaimana kalau ada pria tiba-tiba datang ke dalam kehidupanmu, lalu kau mencintainya?" tanya bibi Maureen menggoda Evelyn.


"Bibi kau ini bicara apa, selama ini sudah banyak pria yang ku tolak. Karena selain mereka hanya menyukaiku dari segi fisik saja, salah satu dari mereka juga tidak ada yang berhasil membuatku jatuh cinta," balas Evelyn.

__ADS_1


"Jika ada pria yang membuatmu jatuh cinta dalam waktu dekat ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya bibi Maureen.


"Ah bibi, kenapa kau bertanya seperti itu. Apa tidak ada topik pembicaraan yang lain? Daripada menggodaku terus lebih baik bibi panggilan Opa saja untuk sarapan," cebik Evelyn.


Bibi Maureen terkekeh, senang sekali bisa menggoda nona mudanya. "Baiklah, jangan cemberut seperti itu."


"Siapa yang cemberut?" tanya opa Bernadi tiba-tiba datang.


"Tuan besar," sapa bibi Maureen.


"Opa!" seru Evelyn lalu memeluk kakeknya itu.


"Hem kalian sudah datang ternyata, ada apa ini pagi-pagi sudah bikin ribut didapur orang?" tanyanya lalu duduk di meja makan.


"Tidak ada yang penting opa, sekarang tenanglah disini. Aku akan menyiapkanmu sarapan pagi," balas Evelyn.


"Buat apa repot-repot mengurus dapur, jangan ulangi kebiasaan mu yang pernah jadi pembantu. Opa tidak suka!" tegas opa Bernadi.


"Apa salahnya aku memasak untukmu opa, apa harus pelayan saja yang memasak untuk orang tua? Kalau begitu, bagaimana cucumu ini bisa berbakti padamu," cerocos Evelyn.


Opa Bernadi hanya bisa mangap saja, tanpa bisa mengatakan sesuatu, karena telah kalah berdebat dengan Evelyn. Tapi apapun itu, opa Bernadi tetap menyukainya. "Ya sudah terserah kau saja," balasnya mengalah.


"Opa kau mau pergi kemana sudah rapih jam segini?" tanya Evelyn.


"Opa ingin mengunjungi pameran berlian kita di luar kota," balas opa Bernadi.


"Ke luar kota? Kemana itu?" tanya Evelyn.


"Ke Yogyakarta, disana juga banyak pameran mesin dan lain-lain," balas Opa Bernadi.


Evelyn lantas sumringah mendengar hal tersebut. "Opa, aku mau ikut ke sana!" serunya antusias.


Opa Bernadi menepuk jidatnya, karena telah salah bicara kepada seseorang. "Harusnya aku diam saja, benar juga kan dia mau ikut!" batinnya tertekan.


"Ayolah Opa, aku belum pernah kesana. Aku ingin lihat candi, aku ingin jalan-jalan di Malioboro, aku ingin naik delman," rengek Evelyn.


Opa Bernadi menghela nafas pasrah. "Ya sudah, cepatlah berkemas!" balasnya menggeleng.


"Yes, thank's Opa!" seru Evelyn mencium pipi opa Bernadi, lalu berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2