
Sementara itu, disebuah kawasan perumahan elit. Seorang wanita paruh baya bersama dengan sang putranya, baru saja menapaki kaki mereka dikawasan tersebut dan tengah menatapi rumah baru pemberian dari opa Bernadi.
"Jadi ini rumah yang pria tua si-alan itu berikan untuk kita?" tanya Steve.
"Iya," balas nyonya Merry mengangguk.
"Lumayan besar," ucap Steve cukup puas.
"Ayo kita masuk sayang," ajak nyonya Merry tidak ingin lama-lama berada diluar.
Dan Steve mengikuti masuk hingga ke dalam rumah. Lalu mereka mulai merapihkan beberapa barang pribadi, serta memilih kamar yang cocok sesuai dengan keinginan.
Steve tersenyum menatapi foto wisuda Evelyn saat bersama dengannya di kampus. "Aku datang Eve, aku harap aku bisa bertemu denganmu secepatnya," ucap Steve lalu mengecup dalam-dalam foto tersebut dan menaruhnya di atas nakas.
"Foto siapa itu Steve?" tanya nyonya Merry saat kebetulan melewati kamar Steve.
"Oh Mom, ini dia Eve ku. Wanita yang sedang aku kejar saat ini, dialah cintaku. Kebetulan aku baru saja selesai mencetak fotonya," balas Steve.
Nyonya Merry begitu senang, lalu duduk disamping Steve. "Oh benarkah, boleh mommy lihat seperti apa wanita yang beruntung mendapatkan cintamu ini."
"Tentu saja," balas Steve dan menunjukkan foto tersebut dengan perasaan malu-malu kepada sang ibu.
Namun ekspresi senang nyonya Merry langsung berubah drastis saat melihat foto tersebut. "Cecilia," ucapnya begitu saja.
"No Mommy, namanya Evelyn. Evelyn Maryana Bernadi," ucap Steve dengan lantang dan tersenyum menatapi foto itu kembali.
Nyonya Merry memegang jantungnya yang berdegub kencang, ada rasa keterkejutan saat mengetahui jika putranya mencintai cucu perempuan dari sang tuan besar.
"B-bernadi," batinnya kikuk.
"Steve, dia begitu cantik. Apa kau mengenal keluarganya?" tanya Nyonya Merry memastikan.
Steve menggeleng. "Tidak, selama berada di Rusia aku hanya tahu dia tinggal bersama dengan bibi Maureen. Tapi Eve pernah cerita, dia memiliki kakek yang baik hati dan ku rasa sekarang ini dia sedang tinggal bersama di rumah kakeknya itu."
Nyonya Merry berdecih dalam diam. "Baik hati? Dia hanya pria tamak yang haus kekuasaan," batinnya memanas.
"Steve, sepertinya wanita ini berasal dari keluarga atas. Apa kau yakin bisa berhasil mendapatkan cintanya?" tanya Nyonya Merry.
"Iya, orang-orang setempat bilang kalau Eve cucu orang kalangan atas. Tapi tidak ada yang tidak mungkin, aku akan selalu berusaha mendapatkan cintaku!" jawab Steve teguh dan yakin dengan apa yang dia ucapkan.
"Begitu ... Lalu Steve, apa dia belum punya kekasih?" tanya Nyonya Merry.
"Sepertinya belum," jawab Steve ragu-ragu. Tapi kedua netranya pernah menangkap tanda kemerahan pada bahu serta leher jenjeng Evelyn. "Entahlah," batinnya lesu jika mengingat tanda cinta itu.
__ADS_1
"Baguslah, Mommy doakan kau berhasil mendapatkannya." Doa nyonya Merry untuk Steve dan sudah tentu memiliki tujuan lain jika Steve berhasil mendapatkan Evelyn.
Yaitu kekayaan dari sang pewaris.
"Steve, Mommy ada urusan. Kau beristirahatlah disini dulu," ucap Nyonya Merry.
"Baik Mom," sahut Steve tanpa melepaskan pandangannya dari foto Evelyn.
...***...
Nyonya Merry mengunci pintu kamar dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo ada perlu apa lagi kau menghubungiku," sahut Opa Bernadi dari ujung ponselnya.
"Hallo tuan besar, ada yang ingin ku sampaikan padamu. Apa kita bisa bertemu?" ucap Nyonya Merry.
"Aku tidak punya waktu!" jawab Opa Bernadi menolak.
"Tuan, tidak kusangka cucumu begitu cantik. Dia mirip sekali dengan menantumu dan memiliki bola mata kebiruan. Entah mengapa, aku jadi ingin berjumpa dengannya untuk mengobrol beberapa topik pembicaraan," ucap Nyonya Merry memberi kode ancaman.
"Apa yang kau inginkan? Jangan mengganggu cucuku! Dia tidak ada hubungannya dengan masa lalu kita," ucap Opa Bernadi tidak main-main.
"Tuan besar, aku punya permintaan kecil dan aku ingin kau mengabulkannya," balas nyonya Merry meminta.
Nyonya Merry berdecak kesal, kemudian memikirkan bagaimana cara agar mempersatukan Steve dengan Evelyn.
Lalu wanita paruh baya itu kembali ke dalam kamar Steve, untuk berbincang sejenak dengan putranya.
"Sayang, kau sudah tiba di negara ini. Kenapa tidak langsung menghubungi Evelyn dan mengajaknya ketemuan?" tuntut Nyonya Merry.
Steve menggeleng. "Tidak Mom, aku masih belum bisa menemuinya saat ini. Aku berpikir untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu dan mengumpulkan uang yang banyak, agar tidak malu saat menemuinya nanti."
Dan Steve membayangkan bagaimana wajah Evelyn saat bertemu dengannya nanti. "Dia pasti terkejut saat melihat aku tinggal di negara ini juga," kekehnya.
Nyonya Merry tersenyum melihat putranya yang sedang mabuk kepayang, lalu terlintas didalam benaknya untuk meminta sesuatu kepada Opa Bernadi. Yaitu membuat Steve bekerja di perusahaannya.
"Baiklah, Mommy akan bantu mencarikan pekerjaan untukmu, agar kau punya cukup uang untuk melamarnya," ucap Nyonya Merry.
Steve menarik senyum. "Thank's Mom, kau benar-benar yang terbaik."
"Sama-sama," balas Nyonya Merry tidak masalah. Karena selama ini Steve memang belum mengetahui rupa maupun nama dari si pria breng-sek yang selalu saja disebut oleh putranya itu.
...----------------...
__ADS_1
Mansion Louise.
Selepas pulang bekerja, Louise menyempatkan diri untuk mengantar Evelyn pulang ke apartemen, sebelum ia sendiri pulang ke rumahnya.
"Sayang, kamu sudah pulang. Mari sini aku bantu membawa semua barang-barangmu," sapa hangat Gisella menyambut sang suami pulang.
"Selvi!" panggil Louise dan tak butuh waktu lama Selvi pun datang.
"Ia Tuan," sahut Selvi.
Louise menyerahkan tas beserta barang penting lainnya kepada Selvi. "Taruh semua ini didalam ruang kerjaku, setelah itu buatkan aku kopi dan taruh juga disana," ucapnya tidak mengindahkan Gisella yang menantinya seharian di rumah.
"Baik Tuan," patuh Selvi dan melaksanakan perintah.
Sedangkan Gisella hanya cemberut, menghadapi sikap cuek Louise terhadapnya setiap hari.
"Louise, kenapa sikapmu masih saja tidak berubah?" cegah Gisella menahan Louise yang ingin masuk ke dalam kamar.
"Singkirkan tanganmu dari dada ku Gisella," sergah Louise menepis tangan Gisella.
"Louise, aku ini istrimu. Paling tidak ijinkanlah aku untuk mengurusmu, bukan pembantu rendahan seperti mereka!" ucap Gisella menunjukkan keberatannya.
"Apa kau tidak ingat terakhir kali kau memaksa untuk mengurusku sendiri?" ucap Louise mengingatkan sikap Gisella yang menyebalkan.
Dimana wanita itu malah memanfaatkan kesempatan, dengan menyentuh berkali-kali bagian tubuh serta barang pribadinya tanpa ijin, selama membantu membuka pakaian.
"I-itu tidak disengaja, lagipula apa salahnya. Aku ini kan istri sahmu Louise," balas Gisella mesem.
Louise memutar bola matanya malas, menghadapi tingkah menyebalkan Gisella yang selalu saja mencari cara untuk mengincar bagian tubuhnya.
"Untung saja aku tidak tidur satu kamar dengannya. Karena kalau tidak, dia pasti mengerayangiku tiada henti," batin Louise seperti bersyukur. Lalu pria itu pun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.
"Hem, kenapa kamarku wanginya aneh?" gumam Louise aneh sambil mengendus-endus kamarnya.
Tidak mau ambil pusing, Louise menghiraukan wewangian tersebut, lalu menanggalkan pakaian dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebelum akhirnya turun kebawah untuk bekerja lagi.
Sedangkan Gisella langsung tersenyum dan memikirkan malamnya nanti. "Aku yakin Louise tidak akan sanggup menahan godaan wewangian yang aku pasang di dalam kamarnya," ucap Gisella dengan pikiran nakal.
Karena sebelum Louise pulang, wanita itu menyempatkan diri memasang wewangian perang-sang mirip dupa, yang dapat membangkitkan gairah bagi siapapun yang mencium aromanya.
.
.
__ADS_1
Bersambung.