
Gisella duduk dan menunggu didalam ruang kerja Louise, selama suaminya itu membersihkan diri di kamar mandi dengan memakai baju sekssi serba minim bahan. Dan berharap agar aksinya dapat menimbulkan efek kuat dari reaksi dupa pemikat yang ia pasang di kamar Louise sebelumnya.
Tak lupa wanita itu juga menyemprotkan wewangian pemikat lain pada sekujur tubuh, yang konon katanya dapat meningkatkan hasrat dan gairah bagi pria yang mencium aromanya.
"Ayo Louise cepatlah datang kesini," gumam Gisella sambil mengaduk-aduk kopi yang berada diatas meja kerja Louise, setelah meneteskan beberapa tetes obat penambah gairah di apotek terdekat tadi.
"Huh, mau bercintaa dengan suami sah saja harus repot dulu seperti ini! Entah ada dimana hati dan logika si penulis, tega membuatku jadi serba salah sama laki sendiri!" ucap Gisella ngedumel sendiri dan menyalahkan si penulis cerita karena tega membuatnya tersiksa.
Sedangkan disisi lain, Louise merasakan hal aneh pada tubuhnya. Yang tiba-tiba saja terasa panas, padahal ia sendiri baru saja mandi dengan air dingin.
"Kenapa gerah sekali," ucap Louise lalu menatap pendingin ruangan di dalam kamarnya yang masih berfungsi baik. "Apa AC-nya rusak?" ucapnya lagi.
Louise tidak jadi berpakaian, karena semakin lama rasa panas didalam tubuhnya itu semakin membuat ia kegerahan. Dan itu terlihat dari raut wajahnya yang mulai memerah.
"Siall!! Ada apa sebenarnya ini dan wangi apa ini, kenapa semakin menyengat saja," ucapnya bingung. Sesekali menghirup aroma aneh yang tersebar dimana-mana pada sudut kamar, hingga kepalanya mulai terasa pusing.
"Baunya seperti kayu manis," duganya menerka seperti itu.
Lalu, tanpa berpakaian lagi dan hanya memakai handuk kecil menutupi bagian kejantanannya saja, Louise pun mulai keluar kamar dan turun ke lantai bawah menuju ruang kerja.
...***...
Setibanya di ruang kerja, Louise mencium aroma yang sama dengan aroma yang berada didalam kamarnya. "Kenapa ada bau itu juga disini?" ucapnya tak mengerti.
Lalu, kedua netranya mengunci pergerakan dari seorang wanita, yang tengah asyik berbaring diatas sofa, sambil menunjukkan bagian tubuhnya yang sekssi.
"E-evelyn ... S-sedang apa dia disini?" gumam Louise mulai berhalusinasi. Dan menganggap Gisella yang sedang tersenyum padanya adalah Evelyn.
Lalu, tanpa banyak bertanya-tanya. Louise pun duduk disebelah Gisella dan mulai hanyut dengan lamunannya sendiri.
"Minumlah," Gisella menyodorkan secangkir kopi dengan tambahan dosis obat tetes sesuai anjuran.
Louise tersenyum dan menerima cangkir tersebut dengan senang hati, lalu menyesapnya perlahan tanpa mengalihkan perhatiannya pada Gisella.
"Akhirnya kau mengerti juga dan patuh terhadapku," ucap Louise ngelindur. Karena bayang-bayang Evelyn kini mulai mendominasi dalam pikirannya.
Gisella mengambil cangkir kopi yang telah diminum habis oleh Louise, lalu menaruhnya diatas meja. Wanita itu pun kembali menatap Louise yang telah terhipnotis penuh, dan mulai mengelus-elus dada berototnya.
"Louise ..." bisik Gisella dan itu membuat Louise meremang.
"Kau berani menyebut namaku," ucap Louise mendesis dan Gisella menarik senyum tertanda kemenangannya.
__ADS_1
"Louise, sayangku ..." ucap Gisella sekali lagi. Dan Louise mulai tidak tahan, karena pentungan rondanya telah mengeras sempurna.
"Kau cantik sekali dan terlihat berbeda," ucap Louise membelai rambut Gisella dan mengecupnya dalam-dalam. "Ah aku ingin sekali," batinnya tidak sanggup lagi menahan hasrat yang bergejolak didalam tubuhnya.
Louise mendekatkan wajahnya, lalu tanpa basa basi, ia merampas bibir ranum istrinya itu. Menyesap kuat dan melumaatt mesra tanpa jeda sedikitpun.
Sedangkan Gisella dengan senang hati membalas pagutan itu dan terbuai dengan ciuman membara yang disuguhkan oleh Louise.
"Kau membalasku," ucap Louise begitu senang. Lalu memagut bibir itu sekali lagi dan membopong Gisella ala bridal style untuk membawanya masuk ke dalam kamar tidur terdekat.
Louise menurunkan raga Gisella dengan perlahan, lalu merangkak naik keatas peraduan dan segera mengungkungnya.
Pria itu mulai mencumbui mesra apapun yang tersaji didepan matanya, dengan aksi liar dan tatapan laparnya. Hingga Gisella pun bergelinjang tak karuan, menghadapi permainan Louise yang teramat luar biasa.
Sesekali menjerit dan mendesaahh nikmat tidak terkendali, akibat senjata Louise yang melesak masuk kedalam intinya hingga penuh sesak dan menghujamnya berkali-kali tanpa ampun.
Sedangkan dari sudut pandang Louise, ia tengah mengagahi Evelyn dan berusaha memberikan servis terbaik untuk gadis itu.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak dapat Louise mengerti, yaitu mengapa ia merasa inti Evelyn begitu mudah untuk dimasuki.
Namun, Louise tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena ia sendiri sedang hanyut dalam aktifitas panasnya dan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Hingga pada akhirnya, malam itu terjadi juga. Dimana Gisella dapat merasakan keperkasaan Louise yang telah lama ia rindukan. Dan mereka langsung tertidur pulas, setelah melakukan pelepasan berkali-kali hingga pagi menjelang tiba.
...***...
Louise terbangun dengan memegangi kepalanya yang masih terasa berat dan sakit, lalu mengingat kejadian waktu kemarin malam saat menggauli Evelyn hingga pagi.
"Apa yang terjadi? Apa aku sedang bermimpi, tapi kenapa rasanya nyata sekali?" gumamnya masih linglung.
Louise menghembus nafasnya keudara, entah mengapa tubuhnya terasa lelah sekali dan ia terkejut saat mendapati dirinya tengah polos tanpa tertutup sehelai benang pun.
"Apa-apaan ini! Apa aku semalam tidak bermimpi!" batinnya merasa takut. Lalu menoleh kearah wanita tanpa busana, yang masih tertidur pulas disampingnya.
"G-gisella? B-bukankah aku semalam dengan Eve---?" Louise lantas membelalakkan kedua matanya dan baru menyadari jika ternyata dirinya telah ditipu oleh Gisella.
"Wewangian pemikat itu, kopi itu, dan aku yakin dia yang telah merencanakannya!" geramnya begitu murka.
Louise bergegas turun dari kasurnya dan melihat noda ceceran lahar putih kekuningan miliknya yang telah mengering cukup banyak diatas sprei. Serta jejak percintaan yang begitu banyak, baik ditubuh Gisella maupun diatas tubuhnya sendiri.
Hal tersebut membuat Louise begitu jijik dengan kelakuan Gisella. "Berapa kali, berapa kali dia memancingku? Siall!!" umpat Louise merasa kecolongan kali ini.
__ADS_1
Pria itu pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sesekali merutuki tingkah Gisella yang telah berani memasang perangkap hanya untuk melampiaskan hawa naf-sunya.
...----------------...
Apartemen.
Sementara itu Evelyn masih setia menunggu jemputan yang semakin lama semakin siang saja. "Kemana dia? Dasar pria tidak jelas. Aku pergi ke kantor sendirian tidak boleh, tapi sudah jam sembilan begini dia masih belum menjemputku juga!" gerutunya tiada henti.
Hingga akhirnya penantian gadis itu pun berakhir, setelah melihat mobil yang dikendarai oleh Ken masuk ke pekarangan apartemen dan menghampiri dirinya.
"Pagi Evelyn, ayo masuk!" Ken membukakan pintu untuk Evelyn.
"Kak Ken menjemputku? Lalu kemana si bos kita yang plin plan itu?" tanya Evelyn.
"Entahlah, dia meneleponku tadi dan memintaku untuk menjemputmu," balas Ken menggedikkan kedua bahunya.
"Ya sudah, ada baiknya juga dia tidak menjemputku!" celoteh Evelyn lalu merasa kesal karena mimpi aneh semalam. Dimana didalam mimpinya itu, Louise tengah beradu nikmat dengan seorang wanita diatas peraduan.
"Siall! Kenapa aku harus mengingatnya lagi, dia mau main dengan siapa, itu tidak ada hubungannya denganku!" umpat Evelyn hingga membuat Ken kebingungan.
"Kenapa marah-marah sendiri seperti itu?" tanya Ken.
"Tidak apa Kak," balas Evelyn segera.
Ken hanya menghela nafas dan menggeleng. "Ya sudah, kita berangkat sekarang. Jangan lupa pakai sabuk pengamanmu."
"Baiklah," patuh Evelyn.
...***...
Setibanya di kantor, Louise segera menjaga jarak dan tidak berani menatap Evelyn karena khayalan semalamnya itu.
Entah mengapa dirinya begitu gugup dan salaj tingkah, ketika menghadapi Evelyn. Wajahnya juga langsung saja memerah tak karuan seperti kepiting rebus.
Terlebih saat mencium aroma tubuh Evelyn, yang beraroma wangi manis seperti vanila. Louise seperti tidak bisa mengontrol hasratnya yang tiba-tiba muncul begitu saja.
"Sepertinya efek samping dari wewangian pemikat itu masih ada," gumam Louise menduga. Lalu menjauh dari Evelyn agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak.
"Kenapa dia? Aku kan cuma mau menyerahkan ini," ucap Evelyn menaruh beberapa dokumen diatas meja kerja Louise.
.
__ADS_1
.
Bersambung.