
Satu jam kemudian.
Louise berjalan kembali ke tempat dimana semua orang telah menunggu kedatangannya, untuk melanjutkan pemberkatan pernikahannya dengan Gisella yang sempat tertunda.
"Lihat itu Louise!" seru semua orang.
Gisella pun bangkit dari duduknya dan tersenyum lebar menatap Louise yang sedang berjalan menghampiri dirinya.
Wanita itu begitu bahagia sekali, karena Louise telah kembali padanya. Lalu tanpa malu, Gisella melabuhkan sebuah pelukan hangat untuk Louise.
"Louise, ku pikir kau akan pergi meninggalkanku dan tidak akan pernah kembali lagi."
Louise memutar bola matanya malas, lalu segera mengurai pelukan tersebut. "Bagaimana aku bisa melupakan tanggung jawabku," balasnya lalu menatap semua orang.
"Maaf, karena aku membuat kalian semua menunggu terlalu lama," ucap Louise kemudian menatap pak Pendeta. "Maaf Romo, ayo kita lanjutkan," sambungnya.
Semua orang tersenyum lega mendengar hal tersebut, kemudian acara suci itupun kembali digelar.
Dan tak lama setelah itu, pak pendeta mengumumkan secara resmi jika Louise dan Gisella telah menjadi pasangan suami istri yang sah secara agama.
Pernyataan tersebut lantas disambut oleh suara tepuk tangan suka cita, seluruh tamu yang hadir pun tidak luput memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.
Namun disepanjang jalannya pernikahan itu, Louise tidak banyak tersenyum. Hingga acara resepsi pernikahannya telah berakhir, dirinya hanya melamun dan memikirkan satu orang.
Yaitu, Evelyn.
Pergilah, kau hanya seorang anak pembantu dan bukan seorang putri kerajaan. Aku baik padamu bukan berarti kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu! Aku merawat serta menjagamu dan kau bebas berada dirumahku itu semua karena amanah dari mendiang ibu Angel, tidak lebih! Jadi tolong bersikaplah patuh selayaknya bawahanku seperti yang lain!
Louise menghembus nafasnya kasar, sesekali meraup wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya merasa tidak tenang, karena bagaimana tidak. Ini kali pertamanya ia mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan hati gadis itu.
Louise menyadari semua kelakukan kasarnya tadi, tapi itu semua terpaksa ia lakukan, karena ia ingin sekali Evelyn patuh padanya, agar suatu saat tidak ada lagi kepikiran untuk gadis itu melarikan diri atau jatuh ketangan pria yang tidak tepat.
Selain itu, Louise juga tidak ingin kebenaran mengenai Evelyn sampai terungkap oleh opa Bernadi. Karena jika itu sampai terjadi maka Evelyn akan pergi dari kehidupannya, namun bukan itu saja yang ia takutkan.
Ia begitu takut Evelyn akan membencinya seumur hidup, karena telah menyembunyikan kebenaran ini darinya.
"Maafkan tuan paman yang egois ini," racau Louise lalu menenggak minuman dalam botolnya hingga tandas.
Pria itu terkekeh tidak jelas, tapi bukan karena mabuk minuman, melainkan memikirkan nasibnya yang sudah bukan pria lajang lagi.
Selain itu malam ini juga adalah malam pertamanya dengan Gisella, ibarat kata orang-orang yang pernah menikah, momen malam pertama adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan pasangan pengantin baru didunia ini.
__ADS_1
Namun tidak bagi Louise, karena menurutnya bermain dengan wanita diatas ranjang itu adalah hal biasa dan sangat membosankan, apalagi hal tersebut dilakukan dengan wanita yang tidak ia inginkan.
Sudah pasti tidak akan ada rasa terkesan bagi dirinya sesaat atau setelah selesai main.
Alhasil sudah hampir jam 12 malam, Louise masih enggan masuk ke dalam kamar dan malah asyik tenggelam dalam lamunannya di taman sekitaran hotel.
Melupakan sang istri yang sudah setia menunggu kehadirannya diatas ranjang, berias begitu cantik dan membubuhkan mewangian menggoda disekujur tubuh, serta memakai pakaian dinas agar suaminya terpikat.
Louise hanya merenung dan terus merenung, sambil menikmati dinginnya hembusan angin malam dibawah lampu taman yang temaram.
Lalu terlintas dalam benaknya, untuk menghubungi Selvi dan menanyakan keadaan Evelyn.
...----------------...
Puncak.
Evelyn masih belum tertidur, kejadian tadi siang di hotel membuatnya sulit untuk memejamkan kedua mata. Lalu, terlintas kembali kata-kata Louise yang menyakitkan hati.
Ingatlah akan status dan juga kedudukanmu itu, kau hanya seorang anak pembantu dan seorang pembantu harus patuh pada perintah majikannya dan kau tidak boleh melewati batasanmu itu.
Aku baik padamu, merawat dan juga menjagamu selama ini hanya karena amanah dari mendiang ibu Angel. Tidak lebih! Ku harap kau bisa patuh Evelyn! Jangan bertindak yang dapat merepotkan semua orang seperti ini!
"Apa aku menyusahkanmu tuan paman? Apa aku merugikanmu hingga kau memarahiku seperti itu?" batin Evelyn merasa sedih.
...***...
Sementara itu, Selvi terbangun ketika mendengar suara ponsel yang tiba-tiba berdering memecah kesunyian malam.
Wanita itu segera meraba permukaan nakas untuk mencari ponselnya, dengan mata yang masih terasa berat sekali untuk dibuka.
"Hallo," sapa malas Selvi.
"Hallo Selvi," sahut Louise dari ujung panggilannya.
Selvi pun terkesiap. "T-tuan," balasnya terbata.
"Bagaimana keadaan Evelyn, apa dia sudah tidur?" tanya Louise to the point.
Selvi mengucek matanya sambil melihat jam. "Tadi saya cek, dia sudah tidur tuan."
"Syukurlah, apa dia sudah makan malam?" tanya Louise kembali.
__ADS_1
"Sudah tuan tapi hanya sedikit," balas Selvi apa adanya.
"Hem ... Apa dia masih bersedih?" tanya Louise lagi.
"Sepertinya masih tuan," balas Selvi.
"Ya sudah, kabari aku jika terjadi sesuatu padanya. Nanti aku akan menghubungimu lagi," ucap Louise.
"Baik tuan," patuh Selvi dan panggilan tersebut pun berakhir.
Louise menghela nafasnya panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi taman dan memutuskan akan menghabiskan malam pertamanya ditaman ini seorang diri.
...***...
Sementara itu Gisella masih setia menunggu kedatangan sang suami lengkap dengan memakai atribut dinasnya.
Wanita itu berdecak kesal, hampir 3 jam ia menunggu Louise setelah resepsi pernikahannya berakhir, namun pria yang telah berstatus suami itu masih belum menunjukkan batang hidungnya.
"Ada dimana sih kamu Louise!" decak Gisella, terlebih ponsel Louise malah tidak aktif sekarang ini.
Gisella kembali berpikir, apa yang menahan Louise hingga tega meninggalkannya sendirian seperti ini.
"Jangan bilang ini semua karena Evelyn Louise! Karena aku tidak rela jika kau sampai memikirkan wanita lain selain diriku!" geramnya.
Gisella membanting ponselnya, lalu mengacak apapun yang berada di dalam kamar pengantinnya itu. Sesekali mengumpat kasar karena malam pertamanya dengan Louise telah gagal dan tak berarti.
...----------------...
Tak ada bedanya dengan mereka, Opa Bernadi juga masih belum bisa tidur.
Ia masih memikirkan semua kejadian yang terjadi hari ini dan yang paling menganggu pikirannya adalah gadis remaja yang tersesat, serta hubungan Louise dengan gadis tersebut.
"Louise begitu panik saat aku bersama dengan gadis tadi dan kenapa ia seperti menjauhkanku dengan gadis itu, lalu kenapa Louise terlihat murung selama acara pernikahannya?"
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa ada hal yang Louise sembunyikan dari semua orang? Lalu kemana gadis itu, dia tidak terlihat dimana pun saat acara pernikahan Louise tengah berlangsung," batin Opa Bernadi diliputi beragam pertanyaan.
Pria tua itu lantas menghubungi seseorang. "Christ, mulai besok aku ingin kau memata-matai Louise untukku dan cari tahu informasi mengenai gadis tadi yang bersama denganku di lobby utama hotel!" titahnya memerintahkan.
.
.
__ADS_1
Bersambung.