Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 88. Sisi gelap Steve.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Setelah mengungkapkan kesedihannya dengan menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupannya sekarang ini, Evelyn nampak terlihat lebih tenang. Karena Louise telah berjanji, akan membantu finansial wanita itu, hingga benar-benar pulih.


Evelyn bahkan melupakan perjanjian menyebalkan sebelumnya, dan malah sekarang ini ia merasa bersyukur sekali dengan adanya perjanjian itu. Yang ternyata dapat membantu krisis keuangannya saat ini.


Hal tersebut pun membuat Evelyn lebih semangat bekerja dan mengabdi kepada Louise, demi mendapat penghasilan dan bonus lebih. Tanpa ada lagi kata-kata keluhan atau gerutuan yang keluar dari mulutnya itu.


Seperti saat sekarang ini, dimana Evelyn sedang bekerja lembur dan sukarela membantu Louise menyiapkan berkas untuk rapat dengan kliennya besok pagi, sampai lupa waktu jika hari sudah semakin gelap saja.


"Evelyn, ini sudah malam. Tinggalkan saja sisanya dan lanjutkan esok pagi," ucap Louise.


"Tanggung Pak, tinggal sedikit lagi. Kalau Bapak mau pulang, tidak apa pulang saja duluan. Sisanya biar aku yang kerjakan," balas Evelyn tidak masalah.


"Sudahlah, jangan memaksakan diri. Tidak baik untuk kesehatanmu, kau terlihat lelah," ucap Louise mengambill semua pekerjaan yang ada di tangan Evelyn dan menaruh serta menutup laptopnya.


"Sudah, sekarang ayo kita pulang. Biar aku antar kau sampai rumah," ajak Louise tidak mau tahu.


"T-tapi," balas Evelyn menolak dan menahan tangannya yang ditarik oleh Louise.


Namun Louise tidak peduli, dia semakin mengeratkan cengkraman tangannya dan menarik agar Evelyn menurut.


"Baiklah Pak, tapi tolong jangan pegang terlalu kiat seperti ini. Nanti tanganku putus," ucap Evelyn sembari meringis.


"Oh maaf," Louise segera melepaskan cekalan tangannya itu dan berganti menggenggam dan membawa tangan Evelyn agar sejajar dengan wajahnya. "Sakit ya," ucapnya memberi perhatian dengan mengusap lembut.


Evelyn tiba-tiba menjadi salah tingkah, terlebih saat Louise mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah. Lalu secepat mungkin menarik tangannya itu, agar Louise tidak berlama-lama menyentuhnya.


"Tanganku tidak apa-apa Pak, tidak perlu di gosok seperti itu. Nanti bisa keluar asap dan jin," gurau Evelyn.


Louise terkekeh kecil dan merasa senang sekali mendengar gurauan Evelyn. "Tidak kusangka, kau yang jutek itu ternyata bisa bergurau juga."


"Apa!" Evelyn mencebik, tidak suka kalau dibilang sikapnya jutek. Tapi melihat sang tuan paman terkekeh, membuat hatinya luluh. "Sudahlah Pak, jangan tertawa lagi. Kalau begini terus kapan kita bisa pulang."


Louise menghentikan tawa kecilnya. "Maaf, aku sampai lupa." lalu membuka kunci mobil agar mereka bisa masuk ke dalam.


...***...


Sepanjang perjalanan mengantar Evelyn pulang ke rumah, Louise tidak henti-hentinya tersenyum. Sesekali melirik ke arah Evelyn yang sedang asyik memandangi ruas jalan.


"Tuan, kapan kak Ken akan kembali?" tanya Evelyn.


"Entahlah, jika pekerjaannya telah selesai. Dia akan pulang," balas Louise.

__ADS_1


"Sebenarnya kak Ken sedang kemana? Kenapa urusan pekerjaan bisa sampai segitu lamanya?" tanya Evelyn lagi.


"Ken sedang ku kirim ke luar pulau dan sudah pasti akan membutuhkan waktu lama agar pekerjaannya itu cepat selesai," balas Louise.


"Apa yang sebenarnya dia kerjakan sampai dikirim keluar pulau?" tanya Evelyn penasaran.


Louise menghela nafasnya panjang, sebelum Ken berhasil mengumpulkan seluruh bukti dan juga para saksi. Dirinya telah bersumpah untuk tidak memberitahu Evelyn atas apa yang sedang mereka lakukan saat ini.


"Sudah pasti pekerjaan penting, karena sebelumnya Ken pernah berkata padaku ingin mendapatkan penghasilan lebih untuk menikahi seseorang. Makanya aku berpikir memperkerjakan saja dirinya ke luar pulau agar bisa mendapat bonus besar," balas Louise.


Evelyn mendekatkan dirinya pada Louise, karena tertarik mendengar cerita kelanjutannya. "Benarlah kak Ken ingin menikah? Dengan siapa dia akan menikah Tuan?" tanyanya penasaran.


Louise tersenyum melihat Evelyn dengan wajah penasarannya itu dan ia juga sengaja merapatkan dirinya agar bisa berdekatan.


"Kau yakin ingin tahu Ken ingin menikah dengan siapa?" tanyanya.


Lalu dibalas anggukan cepat oleh Evelyn. "Iya Tuan aku ingin tahu," jawabnya antusias.


"Ken ingin menikahi Selvi," jawab Louise setengah berbisik.


Evelyn melebarkan kelopak matanya, lalu menarik diri dengan mulut yang terus mengangga lebar. Ia menatap Louise dan perlahan tersenyum gembira.


"Kak Selvi dan kak Ken? Benarkah? Ah aku setuju sekali mereka bersama, sudah ku duga mereka punya hubungan spesial dan aku tidak sabar menunggu kabar bahagia itu," celoteh Evelyn begitu riang dan melonjak kesenangan.


"Kenapa senang sekali sampai seperti itu?" tanya Louise.


Evelyn segera membenarkan tingkah dan posisi duduknya. "Ya aku senang saja, memangnya tidak boleh."


"Tentu saja boleh, dan sekarang kau tidak perlu mencemaskan dia lagi. Lebih baik kau doakan saja agar pekerjaannya itu cepat selesai dan berhasil dengan baik agar bisa dapat bonus yang berlimpah," balas Louise.


Evelyn mengangguk kecil. "Kau benar Tuan paman, aku berharap kak Ken pulang kembali dengan selamat dan membawakan hasil yang baik agar bisa menikahi kak Selvi," harapnya sambil tersenyum.


Louise menggeleng samar dan merasa senang sekali, akhirnya ia bisa kembali berbincang dengan Evelyn dan kembali dekat dengannya tanpa adanya rasa permusuhan.


Hal-hal inilah yang selalu Louise rindukan selama ini, dimana kehangatan serta kenyamanan. Dan itu selalu saja muncul dan bisa dia dapatkan jika bersama dengan Evelyn.


...----------------...


Sebuah Bar.


Sementara itu Steve menghabiskan malamnya di sebuah bar, yang menjajakan berbagai minuman berkelas atas dengan harga yang lumayan.


Pria itu begitu sedih, karena maksud hati ingin bertemu dan mengantar Evelyn pulang sehabis bekerja hari ini agar bisa berbincang dengannya.

__ADS_1


Namun sayang, keinginannya tersebut harus terkubur. Akibat aksinya yang sudah keduluan oleh Louise, saat melihatnya sedang mengantar Evelyn pulang.


Hal tersebut membuat Steve sakit hati dan sakit hati yang dirasakan olehnya itu, kali ini perlahan mulai memunculkan sisi gelapnya.


"Louise breng-sek! Sudah punya istri tapi masih saja menggoda wanitaku!" racau Steve hilang akal sehat, akibat efek minuman keras yang ditenggaknya.


Pria itu terkadang marah dan terkadang sedih, sebab wanita yang dicintai kini telah mengabaikan keberadaan dirinya.


"Eve, kenapa kau tega memutuskan pertunangan kita. Apa kau tahu aku selalu menunggu hal bahagia bersamamu," racau Steve semakin menjadi. Hingga pria itu pun terhuyung-huyung dan akhirnya terkapar lemas karena mabuk.


Mengetahui hal tersebut, Nyonya Merry nampak terkejut bukan main. Karena bagaimana tidak, ini kali pertamanya dia mendengar bahwa putranya itu berani menenggak minuman keras hingga mabuk dan tidak sadarkan diri di tempat umum.


"Steve, kau benar-benar memalukan sekali! Tingkahmu membuatku malu dihadapan umum," geramnya kepada Steve yang terbaring di kamarnya.


Namun amarahnya seketika mereda saat melihat wajah Steve yang nampak sedih dan putus asa, sifat lemahnya Steve juga mengingatkan Nyonya Merry akan sang suami yang sama sifatnya dengan Steve.


"Kau sama seperti daddymu, kalian berdua sama-sama pria lemah. Tapi tidak akan ku biarkan kau sama seperti daddy mu itu, karena tersakiti olehku, hatinya malah berubah menjadi batu," isak Nyonya Merry merasa sedih.


Terlebih hingga saat ini, tuan Anderson masih tidak sudi memaafkannya. Karena pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh Nyonya Merry sebelumnya.


Nyonya Merry menghapus air matanya, kemudian teringat kembali akan bujuk raju opa Bernadi kala itu, hingga ia tergoda dan termakan rayuan akan iming-iming harta jika mau menjadi wanita simpanannya.


Selain itu, opa Bernadi juga meminta bantuan Nyonya Merry untuk melancarkan aksinya dalam kasus pembelian tanah ilegal dan berjanji akan memberikan keuntungan dari sebagian kekayaan yang dia dapatkan nantinya.


Namun, setelah berhasil mendapatkan apa yang dia mau, opa Bernadi malah mengingkari janjinya. Dia tidak memberikan saham atau kekayaan apapun sebagaimana dengan perjanjian, saat berhasil membantunya kala itu.


"Dulu kau membuatku terpisah dari suami dan anakku, lalu sekarang cucumu telah membuat putraku menjadi berantakan seperti ini. Oh tuan besar aku tidak akan bisa memaafkan kalian berdua!" rutuk Nyonya Merry dengan tekad bulatnya.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next\=\=>> Nyonya Merry datang ke mansion opa Bernadi dan mengancam akan mengambil rumah besarnya itu, jika Evelyn tidak mau kembali kepada Steve. Sebagai bentuk kekesalannya terhadap keluarga Bernadi.


Serta rahasia kelam opa Bernadi selama ini yang disembunyikan rapat-rapat olehnya, akan terbongkar saat itu juga.


Bagaimanakah reaksi Evelyn saat mengetahui sifat asli opanya dimasa lalu?


Tunggu dibab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2