Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 46. Lima tahun kemudian


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


PT. Horisson Group.


Tahun demi tahun silih berganti dan tak terasa ini sudah lebih dari lima tahun, Louise tidak pernah lagi berhubungan dengan Evelyn, baik itu bertemu maupun hanya sekedar mengirim pesan untuk bertegur sapa.


Entah bagaimana kabarnya gadis itu sekarang ini, namun satu hal yang pasti. Louise begitu merindukan gadis kecilnya itu.


Tak ada bedanya dengan Louise, semua orang pun mengalami hal yang sama. Dimana mereka merindukan Evelyn dan selalu menantikannya kembali ke negeri ini dan bertemu dengannya suatu hari nanti.


Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, Louise memutuskan untuk menjual rumahnya yang berada di kawasan puncak. Karena entah mengapa, jika ia sedang berada di dalam rumah tersebut, ia selalu saja terbayang-bayang kenangan bersama dengan Evelyn.


Lalu setelah menjualnya, Louise memutuskan untuk membeli sebuah mansion mewah dan tinggal bersama dengan sang istri, yaitu Gisella.


Hubungan pernikahan mereka berjalan seperti biasa saja, tidak baik tapi tidak buruk juga. Mereka saling sibuk dengan urusan masing-masing, yang satu sibuk bekerja menghasilkan uang dan yang satu lagi sibuk berbelanja menghabiskan uang.


Tapi Louise tidak ingin ambil pusing dengan tingkah Gisella yang hidup glamor, karena yang terpenting bagi dirinya sekarang adalah ketenangan dirinya sendiri. Agar ia tidak selalu diganggu oleh istrinya itu, yang selalu meminta hubungan diatas ranjang.


Louise kini telah menginjak usia 37 tahun-an, setidaknya pemikiran pria itu telah dewasa mengikuti perkembangan usianya. Terlebih bagian postur tubuh serta otot-ototnya yang semakin sempurna saja.



Louise juga telah merubah dirinya menjadi lebih baik, setelah diangkat sebagai CEO menggantikan posisi sang ayah, tuan Horisson di perusahaannya itu.


Ia juga tidak terdengar lagi bermain dengan wanita manapun, karena hasratnya yang selalu saja hilang ditelan bumi jika sedang bersama dengan wanita lain ataupun istrinya sendiri.


Entah sebab apa, namun Louise tak berkeinginan untuk seperti itu lagi. Bahkan selama lima tahun belakangan ini, pria itu hanya bermain dengan Gisella tidak lebih dari dua kali.


Dan hal tersebut membuat Gisella menjadi sangat frustasi, karena kebutuhan batinnya yang tidak terpenuhi oleh suaminya sendiri.


Karena begitu sulitnya Louise saat diajak berhubungan, dan hubungan intim yang hanya dua kali dalam lima tahun itu juga adalah hasil kerja kerasnya, yang terpaksa harus menjebak Louise dengan minuman perang-sang.


Hal tersebut membuat Louise selalu waspada terhadap Gisella, karena kalau lalai sedikit saja, maka wanita itu akan menggaulinya sepanjang hari tiada henti.


Louise memperkerjakan Selvi di mansionnya, lalu mengangkatnya sebagai kepala pelayan di mansion tersebut dan Mika sebagai asisten keduanya membantu pekerjaan Selvi.


Sedangkan Ken, setelah berhenti sebagai guru les pribadi Evelyn, pria itu ditarik oleh Louise untuk bekerja menjadi asisten pribadi di perusahaan, karena otaknya yang cerdas.

__ADS_1


Sementara itu, Opa Bernadi selalu membentengi Evelyn dan melindungi cucu kandung semata wayangnya itu dari para orang-orang jahat seperti para mafia dari berbagai jenis golongan, serta para penguntit yang tidak jelas juntrungannya.


Hal tersebut ia lakukan agar tidak terjadi hal buruk menimpah Evelyn, yang identitasnya kini telah diketahui oleh semua orang, jika gadis itu merupakan penerus dari kekayaan opa Bernadi suatu hari nanti.


Selain perlindungan di dunia nyata, opa Bernadi juga melindunginya di dunia maya, dengan menaruh ahli teknologi agar tidak ada yang berani mencuri data maupun foto-foto cucu kesayangannya itu dari para hacker handal.


"Ken, apa sudah berhasil?" tanya Louise.


Ken tersenyum. "Sudah, lihatlah ini!" serunya menunjukkan foto seseorang.


"Mana tunjukkan padaku!" titah Louise.


"Baik! Tapi hanya sedikit data yang bisa kita peroleh dan itu juga tidak akan bertahan lama," ucap Ken menjelaskan kesulitannya.


"Tidak apa," balas Louise tersenyum senang dan begitu antusias sekali, kedua netranya tidak berhenti berkedip menatapi seorang gadis cantik yang baru saja berhasil di bobol datanya oleh Ken.


Dan gadis cantik itu tidak lain dan tidak bukan adalah Evelyn.


Pria itu pun tidak henti-hentinya tersenyum dan meluapkan rasa gembiranya pada Ken, karena bagaimana tidak, sudah beberapa tahun lamanya ia dan Ken berusaha mencari keberadaan Evelyn dan akhirnya pencarian mereka itu pun baru membuahkan hasil berkat kegigihan mereka berdua.


Louise menatapi foto-foto terbaru dari bekas anak pembantunya itu dan jantungnya tak henti-hentinya berdebar kencang.



...----------------...


Saint Petersburg, Rusia.


Malam hari.


Sementara itu ditanah kelahiran sang ibu, Evelyn menuntut ilmunya disana. Gadis itu telah menginjak usia 22 tahun, dan tumbuh menjadi gadis cantik tanpa cacat cela sedikitpun.


Selain menjadi seorang mahasiswi di Saint Petersburg University, Evelyn juga menyempatkan diri menyalurkan hobinya sebagai penulis Novel jika ada waktu luang.


"Evelyn, kenapa melamun saja?" tanya bibi Maureen sang pelayan pribadi Evelyn.


"Bibi, tiba-tiba saja aku rindu Opa. Aku juga rindu dengan suasana dan juga makanan di Indonesia," balas Evelyn mengutarakan isi hatinya.

__ADS_1


"Bibi bisa membuatkanmu makanan Indonesia, sebutkan saja kau ingin makan apa?" tanya bibi Maureen.


"Tidak perlu, sebenarnya aku hanya sedang ingin makan indo-mi rebus pakai telur, ditambah sawi hijau dan juga saus ABC," celetuk Evelyn, lantas teringat makanan kesukaannya.


Bibi Maureen menghela nafasnya dan menatap Evelyn sambil tersenyum. "Kenapa tidak bilang dari tadi, kita kan punya stok banyak disini."


"Bibi, tapi opa melarangku makan makanan itu setiap hari. Karena kau tahu bukan, disini ada mata-mata opa yang galak dan dia akan mengadukanku apa saja kepada opa," bisik Evelyn sambil menatap kesekeliling rumahnya.


Bibi Maureen terkekeh. "Opamu benar, karena makanan itu bisa membuatmu terkena tifus."


Evelyn memberengutkan bibirnya dan menopang dagunya kembali, sambil menatap ke arah luar rumahnya yang sedang turun salju itu.


"Bibi, aku bosan sekali. Liburan kuliah musim dingin hanya di rumah saja, sekali-kali aku ingin berlibur ke tempat yang jauh," ucap Evelyn.


"Kenapa tidak telepon opamu saja dan minta berlibur selama beberapa hari disana," saran bibi Maureen.


Evelyn mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. "Benar juga, tapi apa alasanku datang kesana bibi?" tanyanya seperti orang bodoh.


Bibi Maureen menghembus nafasnya lagi. "Apa ada larangan untuk menjenguk orang tua," balasnya sambil menarik dagu Evelyn.


"Kau benar, kalau opa melarang. Kita bisa pakai alasan itu, aku bisa bilang padanya kalau aku ini merindukannya."


Evelyn tersenyum, kemudian meraih gagang telepon di dalam kamarnya itu dan menelepon sang kakek.


"Tidak perlu kesini, opa baik-baik saja!" tegas opa Bernadi tidak ingin cucunya sampai ke Indonesia.


"Opa, kenapa kau pelit sekali. Aku hanya ingin menghabiskan waktu libur kuliahku disana, aku juga merindukanmu Opa," balas Evelyn bersikeras.


Opa Bernadi menghembus nafasnya kasar, dan itu terdengar dari ujung seberang telepon rumahnya. "Dasar cucu keras kepala, sifatmu itu mengingatkan opa pada sifat ayahmu Anthoni si kepala batu. Ya sudah, kalau begitu Opa akan siapkan semuanya untukmu."


Evelyn melonjak kegirangan dan memeluk bibi Maureen. "Terima kasih Opa, Aku mencintaimu, aku menyayangimu!" serunya lalu menutup panggilan tersebut.


"Ayo bibi, kita berangkat malam ini juga!" serunya tidak sabar.


Bibi Maureen hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat melihat majikan mudanya itu begitu energik dan tidak bisa diam.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2