Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 119. Pernikahan Ken dan Selvi.


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Usia kandungan Evelyn kini telah melewati masa trimester pertama, dimana masa-masa tersebut merupakan masa sulit bagi ibu hamil termasuk Evelyn salah satu didalamnya.


Namun masa sulit tersebut akhirnya telah berganti, dan kini ia merasa senang karena bisa menghadiri pesta pernikahan Ken dan juga Selvi disebuah hotel mewah.


"Selamat untukmu Kak Ken dan Kak Selvi," seru Evelyn menyalami pengantin baru.


"Terima kasih bumil," balas Selvi turut senang.


Begitupula dengan Louise, ia menyalami Ken dan Selvi. "Selamat atas pernikahan kalian," ucapnya.


"Terima kasih tuan," balas Selvi.


"Terima kasih Louise," balas Ken.


Louise kemudian merogoh sesuatu benda dari dalam saku celananya dan memberikan dua buah kunci misterius kepada Ken.


"Apa ini Louise?" tanya Ken terheran-heran.


"Ini janjiku padamu tempo lalu, satu kunci mansion untuk kalian berdua dan satu kunci lagi adalah mobil mewah untukmu," balas Louise.


Ken berbinar-binar menatap kunci pemberian dari Louise. "Ku kira kau tidak serius dengan ucapanmu itu, tapi ini sungguh diluar ekspektasiku Louise!" serunya bahagia.


"Kalau aku sudah berjanji, pasti akan kutepati." Louise memeluk Ken dan terus mengucapkan terima kasih kepada orang kepercayaannya itu, karena berkat usaha dan kerja keras Ken dalam membantunya memecahkan kasus.


Mungkin Evelyn tidak akan pernah bisa ia dapatkan. "Terimalah, karena hadiah ini memang pantas untukmu."


"Terima kasih," balas Ken dan Selvi bersamaan.


Mereka mengambil foto bersamaan dan tertawa bersama diatas pelaminan. Namun hal berbeda justru dialami oleh Mika, dari raut wajahnya wanita itu merasa sedih.


Satu-satunya teman hidup sejak kecil, akan pergi dan menjalani hidupnya membina keluarga. Sedangkan dirinya masih belum mendapatkan pasangan. Tapi walau bagaimanapun juga dia harus turut bahagia atas pernikahan sahabatnya itu dan menyembunyikan kesedihannya.


"Percayalah Mika, kau pasti akan mendapatkan pendamping hidup kelak." kata-kata Selvi menyemangati.


"Terima kasih," balas Mika.


Acara pernikahan itu pun berakhir, Selvi telah resmi menikah, sekaligus berhenti dari pekerjaannya sebagai kepala pelayan di rumah Louise.


Sementara itu Mika langsung diangkat menjadi kepala pelayan baru dirumahnya oleh Louise sendiri menggantikan Selvi.


...***...


Sementara itu, berita kehamilan Evelyn terdengar juga ditelinga Gisella. Dengan segera wanita itu mengunjungi rumah Louise untuk bertanya dan memastikan sesuatu.


"Sungguh aneh, mereka menikah baru 2 bulan. Tapi Evelyn sudah hamil 3 bulan. Aku harus bertanya kepada mereka, siapa tahu aku bisa membuat jarak diantara keduanya." Gisella bersikukuh ingin merusak hubungan suami istri itu.


Namun sesampainya disana, ia malah mendapat tatapan tajam dari Louise.


"Mau apa lagi kau datang ke rumahku" sentak Louise mengusir.


"Louise, dengarkanlah perkataanku. Apa kau tidak curiga dengan usia kandungan istrimu itu? Apa kau tidak menyelidiki siapa pria yang telah menghamilinya hah?"


"Karena selama aku menikah denganmu, kau sama sekali tidak bisa membuahiku. Kau sampai mencurigaiku dan melakukan tes DNA karena yakin sekali jika anak yang sedang aku kandung ini bukanlah anakmu,"


"Tapi saat Evelyn mengandung, kenapa kau tidak melakukan hal yang sama sepertiku? Harusnya kau mengecek DNA anaknya juga seperti kau mengecekku dulu! Apalagi usia kandungannya melebihi usia pernikahan kalian, apa sedikitpun kau tidak curiga terhadap kehamilannya, Louise?" tukas Gisella.

__ADS_1


"Kenapa harus di cek, ini murni anak dari suamiku. Kenapa kau datang kemari malah bicara sembarangan dan seolah-olah ingin menjatuhkanku dan membuat jarak diantara hubungan kami berdua!" sahut Evelyn merasa tidak terima dengan tuduhan Gisella yang tidak tahu apa-apa.


"Kau wanita murahan, bisa saja kau berhubungan dengan pria lain sebelum kalian menikah agar bisa mendapatkan keturunan. Karena tahu suamimu itu seperti orang mandul yanh tidak bisa membuahi," balas Gisella ketus.


Evelyn meradang dibuatnya, dengan cepat ia menyingkirkan Louise dari hadapannya dan menampar pipi mulus Gisella karena gemas. Hingga membuat Louise terbengong-bengong saat menyaksikannya.


"Beraninya kau!" sentak Gisella sambil memegangi pipinya yang memerah.


Evelyn menatap tajam Gisella dan semakin mendekati wanita itu. "Berani sekali kau menuduh suamiku seperti itu, ingat ya ini nyonya Gisella. Sebelum menuduh orang lain, berkacalah pada dirimu sendiri terlebih dahulu. Setahuku kau lah yanh wanita rendahan, hamil dengan pria lain padahal statusmu masih wanita bersuami."


"Dan mengenai kehamilanku ini, kami membuatnya sebelum menikah. Dan kami melakukan itu dengan penuh rasa cinta," tutur Evelyn memanasi dengan senyuman smirknya.


Gisella terpaku. "J-jadi k-kau ..."


"Ya benar, aku dan Evelyn telah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah. Kami juga telah melakukan hubungan itu lebih banyak daripada aku denganmu dan kami melakukannya tanpa jebakan atau semacamnya," timpal Louise memanasi.


Gisella geram sekali mendengarnya, sekuat tenaga wanita itu berusaha mendorong Evelyn agar terjatuh dan berharap Evelyn keguguran.


Namun sayang, Gisella yang telah emosi nampaknya telah salah perhitungan, karena Louise dengan cepat menarik Evelyn terlebih dahulu agar masuk ke dalam dekapannya. Dan hal tersebut membuat Gisella jatuh tersungkur.


"Akh tolong perutku sakit!" pekik Gisella saat terjatuh dan ia mengalami pendarahan karena perutnya terbentur lantai.


Evelyn terkejut dan ia meminta Lpuise agar segera menolong Gisella. "Sayang, tolonglah dia. Kasihan bayinya," pinta Evelyn merasa iba.


Louise hanya bisa mendesaah kesal dan mau tidak mau ia pun menggotong Gisella agar masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Selama perjalanan ke rumah sakit, Gisella tidak henti-hentinya menangis karena merasakan perutnya sakit serta takut terjadi hal buruk terhadap bayinya.


"Tolong selamatkan bayiku, aku tidak ingin terjadi apapun padanya." Gisella merintih dan memohon.


...***...


Setibanya di rumah sakit, Gisella langsung mendapatkan perawatan. Ia harus segera dioperasi untuk mengeluarkan bayinya sebelum semuanya terlambat, walau harus melahirkan prematur.


"Operasi saja Dokter," titah Louise daripada kenapa-kenapa. Pria itu juga menghubungi Marco dan Evelyn segera menghubungi Steve mengenai operasi Gisella.


Tak butuh waktu lama kedua pria itu datang ke rumah sakit, Marco langsung mencengkram kerah Louise karena marah.


"Aku yakin kau yang telah menyebabkan istriku harus mengalami pendarahan seperti itu!" sergah Marco.


Steve pun tidak ambil diam, dia ingin memukul Louise namun Evelyn segera menahannya. "Tenanglah kalian berdua! Tenanglah Steve, kakakmu terjatuh saat ingin mendorongku," balasnya membela diri.


"Jangan bela dia Eve, aku tahu dia suamimu sekarang ini. Tapi aku tidak akan membiarkan orang yang kucintai disakiti olehnya," bantah Steve


"Steve!" Evelyn terpaksa harus menahan Steve yang kalap.


"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja langsung pada kakakmu! Dan sekarang lebih baik kita berdoa saja untuk kelancaran operasinya!" tegas Evelyn menyadarkan semua orang agar tidak berkelahi.


Marco mengendurkan cengkramannya dan melepaskan kerah baju Louise. "Baiklah, aku anggap kalian benar. Tapi aku tidak akan melepaskanmu kalau terjadi hal buruk pada istriku Louise!" gertaknya tidak main-main.


Louise mengibas kerahnya. "Aku bisa membuktikan, kebetulan rumahku terpasang CCTV dan aku bisa menunjukkannya kepada kalian agar tidak salah paham dan menuduhku yang bukan-bukan!" balasnya.


Dan tak butuh waktu lama, Louise menunjukkan rekaman CCTV rumahnya dan meminta Marco maupun Steve untuk melihatnya secara langsung.


Kedua pria itu segera tersadar, dan segera meminta maaf karena telah salah menunduh. Terutama Marco, dia merasa tidak enak hati kepada Louise.


"Maaf, aku terbawa emosi."

__ADS_1


"Tidak apa," balas Louise santai.


"Aku selalu berpikir kau menyakiti dirinya, tapi yang sebenarnya adalah Gisella yang selalu menyakiti dirinya sendiri. Aku cemburu padamu Louise, karena walau sudah menikah denganku hati dan pikiran Gisella masih saja memikirkanmu," balas Marco.


"Berusahalah terus, karena aku yakin kau memapu mengambil hatinya." ucap Louise dambil tersenyum dan memandangi Evelyn. "Sama seperti diriku, selalu berusaha untuk mendapatkan hatinya."


Marco tersadar, tidak ada usaha yang membuahkan hasil dengan cepat. Dan usaha keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.


Sedangkan Steve masih berusaha melupakan Evelyn, walau nyatanya itu sulit dilakukan. Terlebih saat ia tahu wanita yang dicintainya itu sedang mengandung anak dari pria lain, hancurlah hati Steve hari itu juga.


"Aku hanya berharap kau segera mendapatkan cinta sejatimu," ucap Evelyn mengingatkan sahabatnya.


"Terima kasih," balas Steve.


Beberapa saat kemudian Mika datang ke rumah sakit, untuk mengantarkan tas serta barang pribadi Gisella yang sempat terjatuh saat dirumah tadi.


"Ini milik nyonya Gisella yang terjatuh," ucap Mika menyerahkan kepada Evelyn, namun Evelyn menolaknya.


"Berikan saja kepada keluarganya langsung," balas Evelyn.


"Yang mana keluarganya?" tanya Mika tengok kanan dan kiri.


"Disebelahku," balas Evelyn.


Mika menunduk dan menatap Steve. "Oh jadi kau keluarga nyonya Gisella. Maaf, ini tasnya."


"Tidak apa, terima kasih."


"Oiya sepertinya aku pernah melihatmu," ucap Mika.


"Dimana?" tanya Steve.


"Di pernikahan Evelyn dan aku tidak sengaja menabrakmu saat berjalan," balas Mika.


Steve mengingat kejadian tersebut. "Oh iya, aku ingat sekarang."


Evelyn tersenyum melihat Mika dan Steve mengobrol, entah mengapa ia melihat ada khemistri diantara keduanya.


Perlahan wanita itu meninggalkan Steve dan Mika agar bisa berbincang berdua. Lalu menghampiri Louise. "Apa kau berpikir sama dengan apa yang ku pikirkan?"


"Apa?" tanya Louise.


Evelyn mendengus. "Lihatlah anak buahmu, sepertinya mereka cocok."


Louise menatap kearah Steve dan Mika. "Ya semoga saja cocok, agar dia tidak mengejarmu lagi."


Evelyn tersenyum. "Semoga saja," harapnya.


Beberapa saat kemudian Dokter spesialis kandungan telah keluar dari ruang operasi dan mengumumkan jika Gisella dan bayinya dalam keadaan selamat.


Mereka segera berseru dan bernafas lega, walau bayinya itu terlahir prematur. Tapi paling tidak Gisella maupun Marco tidak kehilangan sesuatu yang berharga baginya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2