
Perusahaan Horisson Group.
Louise menunjukkan ruangan kerja untuk Evelyn dan memulai memerintah layaknya seorang bos sekaligus majikan.
"Buatkan aku kopi susu, karena terlalu lama menunggumu beberes di apartemen tadi. Aku jadi tidak sempat minum kopi dan sarapan pagi!" titah Louise memberi perintah.
Evelyn berdecih. "Itu salahmu sendiri, kenapa jadi menyalahkan aku."
"Mana sopan santunmu sebagai karyawan baru disini? Mulai sekarang panggil aku Pak Louise, sama seperti karyawan lainnya memanggilku. Dan seorang karyawan harus mematuhi perintah atasannya," tegas Louise memperingati status Evelyn disana.
Evelyn hanya menatap gusar Louise yang bersikap angkuh terhadapnya. "Kalau bukan dirimu yang memaksaku bekerja disini, aku juga tidak akan sudi. Lalu apa maksud dari sikap sok dinginnya itu padaku. Huh! Dasar lelaki menyebalkan!" gerutunya.
"Berhenti menggerutu, sekarang jalankan perintahku dan pastikan kau sendiri yang membuatnya," ucap Louise tidak mau tahu.
Evelyn mencebik dan menatap tajam Louise yang tersenyum dingin kearahnya. "Baik, Pak!" sahutnya malas, lalu melangkah pergi menuju bagian pantry kantor.
...***...
Tak berselang lama kemudian, Evelyn datang sambil membawakan secangkir kopi susu panas untuk Louise dan meletakkannya dengan hati-hati diatas meja.
"Ini Pak Louise kopi susu buatanku sesuai dengan pesanan, apa kau butuh sesuatu yang lainnya. Seperti sandwich daging beku yang sama dengan sifat sok dinginmu ini?" sindir Evelyn berlagak seperti pelayan kafe.
Louise menatap datar Evelyn yang membuang pandangannya kesembarang arah. "Tidak, kopi ini saja sudah cukup. Sekarang duduklah!" ucapnya tegas.
"Baik," patuh Evelyn lalu duduk disofa dalam ruangan itu.
"Jangan duduk disitu, tapi duduk disini. Didepanku!" perintah Louise menunjuk bangku yang berada didepan meja kerjanya.
Evelyn memutar bola matanya malas, lalu dengan berat hati mendaratkan bo-kongnya dibangku tersebut.
"Bagus! Aku ingin kau patuh kepadaku selama bekerja denganku disini," ucap Louise sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam kabinetnya, lalu memberikan kepada Evelyn, yang masih saja enggan melihat wajahnya.
"Ini tugas-tugasmu, selain membantuku dalam membuat laporan keuangan. Kau juga harus melayaniku dalam beberapa pekerjaan penting, salah satunya menemaniku saat bertemu dengan klien baik di dalam maupun di luar kota. Atau bisa di bilang kau bekerja sebagai sekretaris pribadiku," tutur Louise menjelaskan.
Evelyn terbelalak mendengarnya. "Sekretaris pribadi? Lalu aku harus ikut denganmu bepergian kemana-mana seperti kak Ken begitu?" tanyanya keberatan.
Louise mengangguk pasti. "Benar, Ken begitu sibuk dan aku harus menambah satu orang lagi sebagai penggantinya jika ada urusan mendadak."
"Tapi tuan ---"
"Panggil aku Pak!" tegas Louise.
"Maaf Pak Louise, tapi apa bisa masalah pergi ke luar kota dengan bapak dipikirkan lagi. Aku tidak mungkin pergi ke berbagai tempat dengan seorang pria apalagi ke tempat jauh, walau itu masalah pekerjaan," ucap Evelyn menolak.
Karena bukan tanpa sebab, ia begitu takut jika Louise akan berlaku macam-macam terhadap dirinya sama seperti waktu di hotel Yogya kala itu.
"Kau tidak boleh menolaknya Evelyn, bagaimana bisa kau mengabaikan perjanjian kita. Karena selain menjadi karyawanku, kau itu anak pembantuku juga. Kau harus selalu melayaniku dan menuruti semua keinginan yang aku ajukan padamu. Jadi, mulai sekarang biasakanlah dirimu menjalani pekerjaan barumu ini," balas Louise tersenyum.
Evelyn menggebrak meja Louise lalu berdiri dari tempat duduknya. "Kalau begitu aku tidak ingin melanjutkan perjanjian ini lagi!"
__ADS_1
"Kau tahu resiko pembatalan perjanjian ini?" tanya Louise menekankan.
"Aku tahu, aku akan terkena denda. Baiklah, berikan aku waktu sebulan untuk melunasi dendanya," balas Evelyn.
"Lalu, apa kau lupa yang satunya lagi?" tanya Louise mengingatkan.
Evelyn terdiam. "Aku ingat, tapi aku tidak akan membiarkan kau menyentuhku. Walau itu satu helai rambutpun!" tegasnya tak gentar.
Louise terdiam lama menatap Evelyn yang menatap gusar dirinya. "Kau begitu sulit diajak bekerja sama, apa kau memang sengaja memancing emosiku agar bertindak berani padamu?"
"Kau yang mulai duluan, jika kau memanglah seorang pria sejati yang pemberani. Maka berhentilah bertindak seenaknya apalagi terhadap seorang perempuan!" bentak Evelyn.
"Ini kantorku dan kau berani membentak seorang pemimpin perusahaan didalam ruangannya sendiri. Maka bersiaplah terima akibatnya, kalau begitu aku akan menambah point perjanjian kita. Dimana kau tidak berhak membentakku lagi, karena jika kau berani membentakku lagi. Maka waktu bekerjamu denganku akan ku tambah satu tahun!" ucap Louise memberi hukuman.
"Tidak mau! Kau memang pria pecundang dan aku tidak ingin menurutimu lagi, jadi selamat tinggal Pak Louise!" bantah Evelyn.
Louise berdiri dari tempat duduknya, lalu menghadang Evelyn yang ingin membuka pintu ruangan. "Kau ingin kemana? Apa kau pikir bisa pergi dari ruanganku dengan mudah?"
"Kenapa? Apa yang harus ku takutkan darimu? Aku adalah nona muda dan cucu dari keluarga Bernadi, aku bisa saja menghancurkan perusahaanmu ini dengan sekali acungan jari!" ucap Evelyn mulai unjuk diri.
Louise terkekeh mendengar hal tersebut, padahal jika dia bergerak sedikit saja. Maka perusahaan Opa Bernadi yang Evelyn banggakan selama ini akan hancur lebur ditelan bumi.
Karena kasus kotor pria tua itu, yang telah Louise ketahui setelah menemukan titik terang, berkat usahanya menjadi detektif dadakan bersama dengan Ken selama ini.
Dan jika itu terjadi, maka sudah dapat dipastikan Evelyn akan kehilangan segalanya, termasuk harta berharganya, yaitu keluarga.
"Disaat itu terjadi, aku tidak ingin melihat kau sendirian," batin Louise tak sanggup.
"Evelyn, aku tegaskan sekali lagi. Berhentilah memberontak padaku, atau mengancamku dengan berbagai tindakan tidak berartimu seperti ini lagi. Bekerjalah sesuai dengan apa yang aku perintahkan, maka dengan begitu kau tidak akan terkena masalah," tutur Louise memberi pengertian agar patuh.
"Kenapa aku harus patuh padamu?" tanya Evelyn tidak mengerti.
"Banyak hal yang tidak kau ketahui didunia ini, bahkan orang terdekatmu bisa saja mengkhianatimu!" jawab Louise. Sambil membelai surai kecoklatan Evelyn dan mengecup ujungnya.
"Apa maksudmu? Selama ini yang tega mengkhianatiku adalah dirimu sendiri dan juga orang-orangmu itu, menyembunyikan sebuah kebenaran dariku hingga belasan tahun lamanya. Bahkan kalian sengaja menjauhkan diriku dengan keluargaku," jawab Evelyn masih tidak bisa melupakannya dan mulai berlinang air mata.
"Dan sekarang ini juga, aku merasa kau sengaja menjauhkan aku dari Opaku sendiri," sambungnya.
"Suatu hari nanti, kau akan mengerti kenapa aku melakukan semua ini padamu," balas Louise sambil mengusap air mata Evelyn yang runtuh juga.
Evelyn menepis tangan Louise dari wajahnya. "Jangan sentuh aku! Untuk saat ini aku tidak ingin mengerti apapun! Apa kau tahu, kalau aku sedang menikmati kehidupanku yang baru dan berusaha melupakan semua rasa sakit hati akibat dikhinati oleh kalian."
"Tapi aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba muncul lagi dalam kehidupanku, membuat ulah seperti ini dan mengikatku dengan perjanjian yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya!" ucap Evelyn terisak.
Louise menghembus nafasnya lembut, tidak disangka membujuk seorang gadis begitu rumit daripada memecahkan rumus fisika.
"Baik, aku tidak akan menekan ataupun memaksa dirimu untuk menuruti semua keinginanku lagi. Tapi untuk sekarang ini patuhi saja perjanjian yang pernah kita buat sebelumnya, bekerja denganku selama lima tahun. Dan setelah itu aku akan membebaskanmu," ucap Louise menyerah juga.
"Tanpa berbuat macam-macam?" tanya Evelyn memastikan.
__ADS_1
Louise mengangguk. "Benar, jadi bekerjalah dengan baik. Hasilkan uang dari hasil jerih payahmu sendiri," ucapnya. Karena Louise ingin Evelyn hidup mandiri dan tidak ketergantungan oleh harta kekayaan sang opa yang tidak tahu kapan akan hilang.
Evelyn menghela nafasnya lega. "Baiklah, aku akan bekerja dengan baik selama kau tidak mengusik hidupku. Kalau begitu menjauhlah dariku Pak Louise, karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan."
Louise menarik diri dan tersenyum. "Bagus, sekarang pergilah bekerja dan tolong panggilkan Ken ke ruanganku."
"Baik," balas Evelyn lalu keliar dari ruangan Louise.
...***...
Tak butuh waktu lama Ken telah hadir dan siap sedia untuk sang bos.
"Apa yang ingin anda bicarakan padaku Pak Louise?" tanya Ken.
"Apa kau sudah berhasil memulihkan beberapa rekaman kecelakaan yang aku minta sebelumnya?" jawab Louise dan bertanya.
"Sudah, kecurigaanmu ternyata benar. Rekaman itu memang sengaja dihapus oleh seseorang untuk menghilangkan jejak," balas Ken.
"Bagaimana dengan CCTV yang berada di sudut toko, apa kau sudah tahu siapa yang menaruh bayi Evelyn disana?" tanya Louise kembali.
"Seorang pria, tapi aku tidak tahu siapa pria itu. Apa kau ingin melihat rekamannya?" tanya Ken.
"Perlihatkan padaku," pinta Louise.
Ken menunjukkan rekaman tersebut dan Louise memperhatikannya.
"Menurutmu siapa pak Louise?" tanya Ken.
"Dari ekspresi dan juga keadaan disekitarnya, aku yakin ini adalah orang tua Evelyn," duga Louise.
"Menurutmu begitu?" tanya Ken.
"Hmm, bisa saja bukan. Simpan rekaman ini Ken dan beberapa bukti lainnya," pinta Louise.
"Baik, tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu pak Louise. Untuk apa anda melakukan semua ini dan sebenarnya apa gunanya?" tanya Ken.
"Untuk pegangan saja, agar Opa Bernadi tidak berani macam-macam denganku. Aku tidak ingin dia menuntutku atas perjanjian terhadap cucunya," balas Louise seperti memegang kartu AS.
"Begitu, lalu bagaimana dengan wanita yang pernah kita selidiki juga? Aku yakin wanita itu ada sangkut pautnya dengan opa Bernadi," tanya Ken.
"Benar, dia memang terlibat. Tapi aku tidak menyangka saat mengetahui identitasnya," balas Louise.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Ken.
"Nyonya Merry yang pergi menghilang entah kemana setelah kecelakaan itu dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata dia adalah ibunya Gisella sekaligus simpanan Opa Bernadi," jawab Louise.
.
.
__ADS_1
Bersambung.