Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 91. Mengangkat kasus lama


__ADS_3

Apartemen.


Setelah berhasil menemukan Evelyn dan menyelamatkan dirinya dari segerombolan pria tidak bermoral.


Louise memutuskan untuk mengantar Evelyn ke dalam apartemennya kembali, setelah sebelumnya sempat mendapat penolakan Evelyn yang tidak ingin pulang ke rumah opa Bernadi selama beberapa waktu, agar bisa menenangkan diri.


Dan tak lupa Louise menghubungi Bibi Maureen, agar tidak cemas jikalau Evelyn telah ditemukan dan akan tinggal di dalam apartemen yang pernah Evelyn tempati sebelumnya selama beberapa hari.


"Syukurlah kalau Eve telah ditemukan, aku sangat berterima kasih padamu Tuan. Jika bukan karena pertolongan anda maka Eve, dia pasti ---" isak Bibi Maureen tidak sanggup lagi melanjutkannya,


"Sudahlah Bibi jangan menangis dan jangan cemaskan Evelyn, dia baik-baik saja. Untuk sekarang ini biarkanlah dia menyendiri terlebih dahulu," balas Louise.


Bibi Maureen menyetujui hal tersebut. "Baiklah Tuan Louise, tapi ada satu permintaan Bibi padamu Tuan. Tolong jaga Eve, dia benar-benar butuh seseorang disampingnya. Bibi hanya tidak ingin Eve sampai berlaku macam-macam," pintanya.


"Baiklah Bi, jangan risaukan masalah itu. Aku akan berusaha menjaga Evelyn," balas Louise, sambil menatap Evelyn yang melamun.


"Terima kasih Tuan," ucap Bibi Maureen.


"Sama-sama. Bibi, aku punya permintaan padamu. Tolong jaga dan rawat Opa Bernadi, jika terjadi sesuatu atau membutuhkan apapun. Jangan lupa beritahu aku," sambungnya.


"Itu sudah pasti Tuan," balas Bibi Maureen.


Setelah mengabari orang rumah, Louise kemudian duduk disamping Evelyn yang terdiam menatapi gelapnya suasana luar gedung pada jendela apartemen. Lalu mengangkat lengan Evelyn dan mengobati luka lecet yang disebabkan oleh berandalan tadi.


"Kenapa pergi dari rumah seperti itu? Apa kau tidak tahu kondisi di luar sangatlah berbahaya, apalagi dalam keadaan gelapnya malam. Untung saja aku datang tepat waktu, jika tidak. berandalan itu pasti melukaimu," ceramah Louise sambil membubuhkan salep luka, sesekali meniupinya agar tidak perih.


Namun Evelyn tidak bergeming sedikit pun, bahkan rasa sakit pada lukanya tidak lagi ia hiraukan. Itu mungkin karena rasa sakit didalam hatinya jauh lebih perih, dibandingkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh luka goresan pada bagian tangan dan kakinya itu.


Louise menghembus nafasnya panjang, lalu menjauh dari Evelyn dan membiarkannya agar bisa tenang selama beberapa saat.


Akan tetapi baru saja Louise hendak bangkit dari tempat duduknya, Evelyn tiba-tiba memeluknya dan kembali menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Louise pun terperanjat saat mendapat perlakuan tersebut, tindakan tiba-tiba Evelyn saat memeluknya, membuat ia terkesiap cukup lama.


Isakan tangis Evelyn membuat Lousie kembali mengeratkan pelukannya, seketika ia menjadi pendengar setia dari setiap keluh kesah yang sedang diutarakan oleh gadis cantik dalam dekapannya itu.


Sesekali tangannya mengusap puncak kepala Evelyn dan membelainya lembut mengikuti panjangnya helaian rambut hingga mengarah ke punggung, berharap agar aksinya itu dapat meredakan kesedihan Evelyn.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Ada tuan pamanmu disini," bisik Louise lembut.


"Aku tidak mengerti Tuan, kenapa orang terdekat yang sangat ku percaya dan sangat kusayangi begitu tega sekali membohongiku dan menyimpan rahasia pahit dariku selama ini. Bahkan aku baru tahu jika dialah penyebab ayah dan ibuku celaka," lirih Evelyn.


Louise menghela nafasnya panjang dan sudah menduga akan terjadi hal seperti ini jika rahasia opa Bernadi terbongkar dan Louise merasa tidak tahan dengan kesedihan itu.


"Opa-mu pasti memiliki alasan kenapa dia menyimpan rahasia pahit ini darimu dan dia pasti tidak ingin sampai kau membencinya," balas Louise.


"Tapi kenapa harus Opa yang melakukan itu dan bukan orang lain? Aku masih bisa bertahan jika orang lain yang melakukan hal jahat itu padaku, jadi aku bisa mengutuknya, membenci dan juga memarahi orang itu."


"Tapi aku tidak bisa menahan rasa sakit ini saat mengetahui orang terdekatkulah yang ternyata telah berbuat jahat padaku, karena aku tidak bisa membencinya, tapi aku juga tidak bisa memaafkannya begitu saja," lirih Evelyn.


"Dia baru tahu rahasia kelam tentang Opa-nya setelah cukup lama bersama dan itu pun belum semuanya. Dia pasti semakin sedih saat mengetahui semua kebenarannya," batin Louise menduga seperti itu.


...***...


Tak berapa lama kemudian, isakan tangis Evelyn mulai mereda dan wanita itu pun terlihat lebih tenang daripada sebelumnya.


Louise pun mengurai pelukannya dan menatap Evelyn sambil mengusap air mata di kedua mata sembab wanita itu karena kelamaan menangis. "Apa kau sudah merasa baikkan?" tanyanya.


Evelyn mengangguk. "Sudah, maaf aku merepotkanmu lagi Tuan. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana jadinya aku tanpa dirimu," balasnya.


Louise menarik senyum. "Tidak apa, jangan merasa tidak enak seperti itu. Aku pernah bilang padamu bukan, kalau aku adalah salah satu keluarga yang paling peduli padamu."


Evelyn tersenyum tipis, lalu meraih kedua tangan Louise dan bersimpuh dilantai.

__ADS_1


"Evelyn apa yang kau lakukan? Bangunlah," ucap Louise mengangkat Evelyn agar berdiri.


Namun Evelyn enggan menurut dan menggeleng cepat, sambil menengadah keatas agar bisa menatap Louise. "Tuan, apa kau mau mengabulkan permintaan ku ini?" tanyanya serius dengan terus memegangi tangan Louise.


"Apa itu? Katakanlah," balas Louise mendengarkan.


"Tuan, aku ditinggalkan oleh kedua orang tuaku sejak aku masih bayi. Walau mereka tidak mengurusku karena telah lama tiada, tapi aku menyadari kalau selama ini aku belum pernah berbakti padanya. Selama ini aku hanya bisa berdoa saja di samping makamnya, tanpa tahu ternyata mereka menyimpan keinginan besar sebelum mereka berdua pergi dari dunia ini."


"Jadi Tuan, mungkin inilah saat yang tepat bagiku untuk membalas kebaikkan mereka karena telah melahirkanku," tutur Evelyn menarik sejenak nafasnya dalam-dalam.


Kemudian melanjutkan perkataannya itu dengan tekad yang bulat. "Tuan, aku ingin meminta bantuanmu. Aku ingin mengangkat kasus lama opa dan meneruskan perjuangan kedua orang tuaku," lanjutnya.


Louise terpaku mendengar permintaan tersebut, sambil terus menatapi wajah Evelyn yang terlihat serius. "Apa kau yakin ingin melaporkan semua kejahatan opa-mu? Apa kau tidak akan menyesal nantinya?"


Evelyn mengangguk pasti, walau hatinya sedih tapi inilah satu-satunya cara agar dapat membalas semua kejahatan Opa Bernadi, sekaligus membersihkan nama baiknya.


"Aku yakin Tuan dan aku telah siap menerima resiko yang akan terjadi nantinya," jawab Evelyn.


Louise menangkup kedua sisi wajah Evelyn dan memastikannya lagi. "Benarkah, apa kau tahu apa akibatnya jika kasus lama ini di angkat kembali hem? Kau akan kehilangan segalanya Evelyn. Kau akan kehilangan semua hartamu, bahkan kau akan kehilangan Opa-mu itu."


Evelyn terpejam, terlihat kedua matanya masih sempat meneteskan air mata. Secepat mungkin ia memberikan jawaban. "Tidak masalah Tuan, sejak awal aku memang sudah kehilangan segalanya."


Louise menghembus nafasnya keudara dan terpejam memikirkan semua itu. Apakah Evelyn akan benar-benar sanggup kehilangan semua yang sudah dia dapatkan selama ini.


"Baiklah, aku akan menyetujui keinginanmu itu. Tapi berjanjilah satu hal padaku, apapun keputusan akhir nanti. Aku ingin kau tetap kuat dan menerima semua kenyataan yang terjadi padamu, baik itu hal baik maupun hal terburuknya," ucap Louise.


Evelyn mengangguk pasti dan siap menerima, serta menanggung semua konsekuensi yang akan timbul nantinya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2