
Mansion Louise.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Louise tengah menyiapkan diri untuk persentasi rapatnya dengan klien esok hari.
Aktifitasnya itu terhenti ketika ponsel miliknya berdering. "Hallo Bibi, ada apa meneleponku malam-malam begini?" tanya Louise.
Bibi Maureen pun menceritakan tentang kejadian sebelumnya, dimana nyonya Merry datang ke rumah Opa Bernadi dan memberitahu kebenaran pahit kepada Evelyn tentang kematian orang tuanya.
Sehingga gadis itu pergi entah kemana, sambil menangis tersedu-sedu.
"Tolong Tuan, bantu kami menemukan Evelyn. Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi selain pada anda Tuan," isak Bibi Maureen.
Dirinya begitu cemas akan kondisi malam yang sudah semakin gelap, terlebih saat ini para pelayan keluarga Bernadi telah berhenti bekerja, membuat Bibi Maureen tidak ada pilihan lain selain meminta pertolongan Louie.
Louise mendesaah. "Tenanglah Bibi, aku akan pergi mencarinya," balasnya membantu.
"Terima kasih Tuan," balas Bibi Maureen merasa lega mendengarnya.
Louise mematikan panggilan tersebut, lalu bergegas merapihkan pekerjaannya, untuk mencari keberadaan Evelyn.
Namun disaat dirinya ingin pergi, Gisella tiba-tiba mencegahnya. "Mau pergi kemana malam-malam begini?" tanyanya.
"Bukan urusanmu," jawab Louise ketus.
"Louise, jangan bilang kau ingin menemui Evelyn. Apa kau tidak lihat kalau hari sudah malam hah! Besok kau ada rapat kan?" cecar Gisella.
"Aku tidak ada waktu membalas pertanyaanmu Gisella," balas Louise, sambil merampas kunci mobil dan pergi keluar dari rumahnya.
Gisella mendengus kesal dan setengah berlari mengejar Louise. "Louise! Kenapa kau tergesa-gesa seperti itu dan kenapa kau selalu saja menemuinya?"
"Apa dia tidak bisa memanggil pria lain selain dirimu hah? Kau itu pria beristri, tidak pantas menemui seorang gadis malam-malam begini!" ceramahnya, sambil menahan pintu mobil agar Louise tidak bisa masuk ke dalam.
Louise menghembus nafasnya kasar dan menatap tajam Gisella. "Minggir! Tidak bisakah sekali saja kau tidak ikut campur masalah pribadiku!" sentaknya.
"Louise, berapa kali aku katakan agar kau mengerti, kalau aku ini adalah istrimu! Kenapa kau selalu saja mengurusi urusan orang lain? Dan aku tidak mengerti kenapa kau selalu saja menemui Evelyn! Ingatlah Louise, dia bukan siapa-siapamu. Dia itu hanya orang lain!" sarkas Gisella.
Louise mengertakkan giginya dan mencengkram kedua bahu Gisella. "Evelyn bukanlah orang lain, dia sudah menjadi setengah bagian dari hidupku! Apa kau ingin tahu alasannya kenapa aku sangat peduli dan mencemaskannya, hem? Itu karena dia sangat berarti bagiku!" balasnya tegas. Lalu menyingkirkan Gisella dari pandangannya dan membuka pintu mobil.
Gisella tercengang dibuatnya, perkataan Louise seolah-olah menyiratkan makna dalam akan ketakutannya selama ini. Apakah mungkin Louise memiliki rasa yang terpendam kepada Evelyn selama ini dan mungkinkah rasa pedulinya itu adalah rasa cinta.
Gisella menggeleng cepat. "Tidak, tidak boleh! Louise hanya milikku seorang," batinnya tidak terima. Lalu mengambil mobil dan membuntuti kemana Louise pergi.
__ADS_1
...----------------...
Disisi lain, Evelyn terduduk meringkuk disudut jalan, sambil termenung memikirkan kembali perkataan yang dilontarkan oleh nyonya Merry sebelumnya.
Ayah dan ibumu meninggal, itu semua karena ulah Opa kebanggaanmu itu! Dialah yang telah menyebabkan orang tuamu mengalami kecelakaan. Pria seperti itu tidak pantas dikasihani, karena dia sendiri adalah seorang penjahat yang tamak akan harta dan kekuasaan.
Opa-mu adalah seorang mafia, dia menyimpan kebenaran ini darimu karena dia takut miskin dan dipenjara, serta rahasia buruknya terbongkar luas.
Dan yang lebih menjijikkan lagi adalah kau satu-satunya keturunan darah kotor pria itu yang masih hidup!
Evelyn memejamkan kedua mata, sambil menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Sesekali menelan ludahnya susah payah dan menahan sesak didadanya yang teramat sangat.
Wanita itu juga menangis akibat sakit hati yang baru saja dia alami dan merutuki takdir, karena selalu saja dikhianati dan dibohongi oleh orang-orang terdekatnya.
"Kenapa kau tega membohongiku Opa, kau bilang ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Tapi aku baru tahu kalau kau itu penyebabnya," isak Evelyn dikegelapan malam.
...***...
Beberapa saat kemudian.
Setelah puas meratapi nasib dan juga kesedihannya, Evelyn bangkit dari tempat duduknya untuk pulang ke rumah. Karena walau sesakit apapun saat ini hatinya dan semarah apapun dirinya kepada sang opa.
Akan tetapi Evelyn juga bertekad setelah Opa-nya itu sembuh dari komanya, maka ia akan pergi menjauh dari opa Bernadi, daripada harus teringat terus akan kebohongan atas kematian sang ayah dan ibunya.
Sepanjang perjalanan kembali ke rumah, Evelyn mengawasi lingkungan sekitarnya. Karena ia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya saat ini dan itu terlihat dari bayangan serta sekelibat orang yang berlari untuk bersembunyi.
Entah itu apa, namun ia cukup takut ketika berjalan sendirian dijalan yang gelap.
"Siapa itu?" ucap Evelyn menoleh kebelakang dan menatap ke sekelilingnya.
"Sepertinya aku melihat ada orang tadi," gumamnya tengah waspada.
Dan benar saja, tak berapa lama setelah itu, tiga orang pria berandal tiba-tiba datang menghadang jalan, dan mencegah Evelyn agar tidak bisa lewat.
"Permisi, aku mau lewat!" ucap Evelyn, dia menyingkir ke kanan. Namun tiga pria itu selalu saja mengikuti kemana langkah kaki Evelyn menghindar.
"Mau kemana? Sepertinya habis nangis ya, bagaimana kalau kita temani dan senang-senang dulu. Biar tidak sedih lagi," goda salah satu pria yang menghadangnya. Bahkan ada yang berani mengulurkan tangan demi ingin menyentuh wajahnya.
"Jangan mendekat dan jangan menyentuhku!" tepis Evelyn berusaha menghindari.
Ketiga pria itu saling tertawa dan semakin merasa gemas saja terhadap penolakan Evelyn, bahkan ada salah satu dari mereka yang asyik mengusap-usap bagian alat vitallnya karena sudah tidak sabar ingin menyerang.
__ADS_1
"Sayang banget cewe cantik begini kalau disia-siakan," ucap kotor mereka.
Apalagi tatapan ketiga pria itu begitu mesum, membuat Evelyn merasa takut dan berdebar tidak karuan. Dengan cepat kedua netranya berusaha mencari-cari benda untuk digunakan sebagai senjata.
Namun apalah daya, tenaganya tidak cukup kuat untuk menghadapi tiga orang pria dewasa yang kini telah memeganginya dan menyeretnya hingga ke tempat sepi. Lalu memaksanya untuk berbaring.
"Tolong!" sekuat tenaga Evelyn memberontak dan berteriak, berharap ada seseorang yang datang untuk membantu dirinya mengusir orang-orang be-djat yang ingin menguasai dirinya.
Harapannya itu semakin lama semakin pupus, ketika tidak adanya balasan serta tidak adanya orang yang datang membantu. Dan ketiga pria itu malah menertawai, karena perbuatannya adalah sia-sia.
"Sudah diam, jangan bergerak terus. Percuma teriak-teriak, disini tidak ada orang yang mendengar," ucap pria bedjat itu terkekeh dan mulai menindihnya.
Evelyn menangis histeris, dengan dilanda perasaan takut yang teramat sangat, terlintas ia memikirkan nasibnya sendiri. Apakah jalan hidupnya akan menyedihkan seperti ini, kehormatannya akan direnggut paksa oleh orang-orang tidak bermoral.
"Siapapun tolonglah aku!" pekiknya berusaha sekali lagi.
Dan disaat Evelyn mulai putus asa, tiba-tiba secerca harapan muncul. Ia mendengar suara pukulan keras menghantam kepala pria yang sedang menindihnya itu hingga terjatuh dari atas tubuhnya.
Lalu perlahan wajah orang yang menolongnya mulai terlihat semakin jelas, membuat Evelyn mengucap syukur dalam suara tangis isaknya.
"Tuan paman!"
Louise segera menarik tangan Evelyn agar bangun dan membawanya masuk kedalam pelukannya, sementara itu satu tangannya lagi sedang sibuk menghajar ketiga pria yang telah berani menyentuh Evelyn dengan sepotong balok tebal.
Hingga para berandal itu pun lari lunggang langgang, karena kewalahan menghadapi aksi kesetanan Louise yang tengah diliputi amarahnya yang meledak-ledak.
Dan setelah mereka pergi, Louise membuang balok kayu ditangannya lalu berganti menatapi Evelyn yang masih menangis ketakutan.
"Evelyn apa kau baik-baik saja, kau tidak apa-apa. Apa mereka mengambil sesuatu yang berharga darimu?" cecar Louise bertubi-tubi dengan raut cemas mendominasi diwajahnya.
Evelyn menggeleng cepat. "Tidak ada Tuan," lirihnya.
Louise menghela nafas lega. "Syukurlah," lalu memeluk Evelyn dengan erat.
Ada rasa syukur terucap dalam hatinya, karena telah datang tepat waktu. Sebab jika dirinya datang terlambat sedikit saja, maka Evelyn akan kehilangan sesuatu yang berharga.
.
.
Bersambung
__ADS_1