Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 89. Kenyataan pahit.


__ADS_3

Mansion Opa Bernadi.


Disuasana yang sunyi dan tentram, dimana Evelyn sedang merawat sang Opa dengan hati-hati. Tiba-tiba saja suasana tenang berubah gaduh seketika.


Hal tersebut disebabkan oleh kedatangan seorang wanita paruh baya, yang masuk begitu saja ke dalam mansion dengan nada tingginya yang memekakkan telinga.


"Evelyn!" sergah Nyonya Merry memanggil.


"Evelyn!!" panggilnya kembali.


Sontak saja Evelyn keluar dari kamar sang Opa, untuk menemui orang yang telah berani memasuki mansion opa-nya tersebut dan mengabaikan para penjaga keamanan rumahnya.


"Siapa itu? Kenapa teriak-teriak didalam rumah orang?" tukasnya tidak terima ada yang membuat gaduh di kediaman sang kakek.


Dan setibanya di ruang tengah, kedua mata Evelyn terbuka lebar. Saat mengetahui siapa yang datang ke rumah opa-nya itu.


"Ada keperluan apa Tante sampai datang ke rumah Opa ku?" tanyanya.


Nyonya Merry berdecih. "Evelyn, beraninya kamu memutuskan hubungan pertunangan dengan Steve dan membuatnya berantakan sekarang ini. Apa kau tidak berpikir selain bisa mengambil perusahaan opa-mu aku juga bisa mengambil yang lain, heh!" geramnya.


"Tante, aku sudah katakan pada Steve kalau aku tidak sudi menjalin hubungan dengan keluarga pencuri seperti kalian. Dan sekarang kupinta dengan hormat, Tante keluarlah dari rumah Opa-ku ini, karena dia sedang sakit dan butuh ketenangan untuk kesembuhannya," usir Evelyn menunjuk pintu keluar.


Nyonya Merry semakin gemas dibuatnya. "Dasar keluarga tidak tahu diri, sekali lagi aku tegaskan. Kembalilah pada Steve atau rumah ini akan ku ambil sekalian!" ancamnya tidak main-main.


Evelyn menautkan kedua alisnya dan merasa kesal dengan ancaman Nyonya Merry pada keluarganya itu.


"Tante, apa salah keluargaku padamu dan apa salah Opa sampai kau tega sekali ingin menghancurkan keluarga kami? Apa kau sadar atas apa yang kau lakukan hah, kau lah yang tidak tahu diri. Sudah mencuri perusahaan orang lain, kau juga ingin merampas rumah Opa-ku ini!" sergah Evelyn. Nafasnya menggebu-gebu karena amarah yang meluap-luap.


"Dasar gadis kurang ajar, beraninya kau menyebutku tidak tahu diri! Jika bukan karena keinginan Steve menikahi dirimu, maka sumpah demi apapun aku tidak akan sudi berbicara denganmu lagi dan memintamu kembali padanya."


"Tapi sepertinya kesabaranku sudah habis, kau begitu membela Opa-mu bukan. Bagaimana jika aku memberikanmu kenyataan pahit tentang Opa-mu yang selama ini dia sembunyikan darimu hem?" balas Nyonya Merry dengan senyum sangarnya.


"Apa yang Opa-ku sembunyikan dariku? Paling kau hanya membual," sindir Evelyn.

__ADS_1


Bibi Maureen segera menenangkan Nyonya Merry dan Evelyn, dengan menyela perdebatan mereka, dirinya begitu takut jika rahasia kelam tuan besarnya sampai terkuak didepan Evelyn sendiri.


"Nyonya Merry ku mohon jangan bicara yang tidak-tidak, ingatlah kau sedang berada di rumah orang lain!" serobot Bibi Maureen.


Lalu mengusap-usap lengan Evelyn. "Dan Evelyn lebih baik kau kembali ke kamar dan menjaga Opamu lagi. Biar Nyonya Merry, bibi yang tangani ya," ucap dan pinta Bibi Maureen lemah lembut.


"Tidak Bibi, aku tidak ingin pergi darisini sebelum wanita itu mengatakan padaku apa yang ingin dia sampaikan sebenarnya!" balas Evelyn menolak.


Lalu menatap tajam Nyonya Merry. "Sekarang apa yang ingin kau katakan, katakanlah Tante. Dan setelah kau puas mengatakannya, kau boleh pergi dari rumah opa-ku!" usirnya ketus.


Nyonya Merry lantas berdecih dan ingin sekali meremas mulut gadis yang berani mengusirnya itu. Lalu menatap Bibi Maureen yang memberi tanda agar tidak mengatakannya.


"Kau terlalu sombong Evelyn, tapi bagiku kau hanya anak kemarin sore yang tidak tahu apapun. Kau terlalu naif dan selalu saja membanggakan opa-mu yang sudah tua itu dengan segala pujian. Padahal yang sebenarnya bagiku dia tidak lebih daripada seorang penjahat!" sarkas Nyonya Merry.


"Tutup mulutmu Tante, jika bukan karena kau orang tua. Mungkin aku sudah menghajarmu karena telah berani menuduh opa-ku seperti itu!" serobot Evelyn tidak terima.


Nyonya Merry terkekeh dan berdecak kesal. "Ck! Kau pikir aku ini sedang menuduhnya? Haha ... Evelyn, apa kau pikir Opa-mu itu suci bersih? Cih! Dia tidak lebih dari penjahat kotor!" ucapnya berdecih.


Evelyn mengepal erat kedua tangannya dan menatap nanar Nyonya Merry yang tengah tertawa sambil memegangi perutnya.


"Menjijikkan katamu, kalianlah yang menjijikkan!" pekik Nyonya Merry dan melototi Evelyn. "Kau harus tahu ini Evelyn, orang yang kau banggakan itu adalah orang yang telah melenyapkan kedua orang tuamu!" sentaknya tegas.


Kedua mata Evelyn membola sempurna saat mendengarnya. "Tante! Apa kau sudah gila, kau berani mengatakan hal yang tidak-tidak mengenai Opa-ku! Apa buktinya kau mengatakan hal itu dan untuk apa dia melenyapkan putra kandung dan juga menantunya!"


"Kau tidak percaya? Baiklah, kalau begitu tanyakan saja pada Bibi Maureen mu itu! Dia adalah salah satu saksi hidup yang pernah menyaksikan betapa tamak dan kejamnya opa-mu semasa hidupnya sewaktu lalu."


"Tanyakan padanya dan dengan begitu kau bisa tahu aku ini sedang berbohong atau tidak!" tegas Nyonya Merry. Kemudian mendesak Bibi Maureen agar mau menjawab. "Ayo jawablah Maureen, anak ini butuh sebuah kebenaran!" desaknya.


Bibi Maureen menggeleng dan menatap Evelyn dengan linangan air mata. "Jangan dengarkan dia sayang, dia hanya sedang menghasutmu agar membencinya."


Evelyn menatap Bibi Maureen dan menatap Nyonya Merry secara bergantian, sesekali menelan ludahnya yang tercekat.


"Kebenaran apa lagi yang belum aku ketahui Bibi?" tanya Evelyn mulai gelisah. "Jawablah!" tuntutnya pada Bibi Maureen.

__ADS_1


"Eve, ada hal yang sebaiknya memang tidak usah diungkapkan. Percayalah saja pada keluargamu yang masih hidup dan jangan membuatnya sedih," balas Bibi Maureen.


"Bibi aku butuh jawaban, bukannya ceramahmu. Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa kalian malah bermain teka teki seperti ini!" tukas Evelyn.


Dia begitu takut akan mendengar berita yang menyakitkan hati, namun rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya itu.


"Sepertinya pengasuhmu itu sangat menyayangi dirimu Evelyn, sampai tidak tega melihatmu mendengar berita menyedihkan. Baiklah Evelyn, kalau dia tidak mau memberitahu maka akulah yang akan memberitahumu," serobot Nyonya Merry sudah tidak sabar lagi.


Bibi Maureen merangkapkan kedua tangannya dihadapan Nyonya Merry dan memintanya untuk tidak menceritakan kejahatan Opa Bernadi sewaktu hidupnya dulu. Apalagi memberitahu kepada Evelyn tentang bagaimana kepergian orang tuanya kala itu.


Akan tapi usaha Bibi Maureen sia-sia, karena dengan lancarnya Nyonya Merry mengatakan semua itu kepada Evelyn, mengenai sifat buruk yang pernah dilakukan Opa Bernadi semasa lalu.


"Opa kesayanganmu adalah orang tamak, bahkan semua kekayaannya ini adalah hasil tipu dayanya. Kau begitu percaya padanya Evelyn, tapi kau sendiri tidak bertanya kepadanya, kenapa kedua orang tuamu itu bisa mengalami kecelakaan. Kau tidak tahu bukan, baiklah aku akan memberitahumu lagi," ucap Nyonya Merry.


"Cukup Nyonya Merry jangan dilanjutkan lagi!" cegah Bibi Maureen tidak sanggup mendengarnya dan segera menahan tubuh Evelyn yang mulai terguncang.


Namun Nyonya Merry tidak peduli dan kembali melanjutkan perkataannya, karena dia berharap agar Evelyn membenci opa-nya itu.


"Ketahuilah ini Evelyn, dia sendirilah yang telah membuat kedua orang tuamu pergi dari dunia ini. Sekarang kau ingin berkata apa hah? Orang terdekatmu saja tega membohongi dan juga mengkhinatimu, apa kau yakin masih ingin terus membelanya!" tegas Nyonya Merry dan merasa puas sekali setelah mengatakannya.


Sedangkan Evelyn hanya bisa terduduk lemas, dia menangis setelah mendengar kenyataan pahit tersebut. Karena bagaimana tidak, orang yang selama ini dia anggap keluarga baik, nyatanya menyimpan rahasia menyakitkan.


...***...


Sementara itu, suara gaduh akibat perdebatan Evelyn dengan Nyonya Merry terdengar hingga ke kamar opa Bernadi.


Kesalahan masa lalu Opa Bernadi, yang sedang diungkit oleh Nyonya Merry, nyatanya dapat menembus hingga ke alam bawah sadarnya. Terlebih saat mendengar isakan tangisan dari orang yang sudah tidak asing lagi ditelinganya.


Hingga tanpa disadari, sebuah gerakan mulai terlihat pada ujung jari dari tangan renta yang sudah lama tertidur.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2