Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 105. Pergi dua bulan.


__ADS_3

Kencan pertama Louise dan Evelyn untuk hari ini berakhir di sebuah restoran mewah dengan suasana romantis dan indah disetiap sudutnya.


"Apa kau sudah puas untuk hari ini pacarku yang mungil?" goda Louise.


"Hm, aku cukup puas hari ini." Evelyn mengangguk kecil.


Louise menarik senyum. "Baguslah kalau begitu," ucapnya kemudian merogoh saku untuk mengeluarkan sesuatu.


Lalu mengambil tangan kiri Evelyn dan menyematkan cincin berlian itu di jari manisnya. "Mulai sekarang kau milikku," lanjutnya dan tidak lupa memberi kecupan lembut di punggung tangan mungil Evelyn


Evelyn terpaku sambil menatapi cincin berkilau yang diberikan oleh Louise. "Indah sekali, terima kasih!" serunya terharu.


"Sama-sama," balas Louise kemudian menunjukkan satu cincin lagi.


Evelyn mengerti, kemudian mengambil cincin tersebut dan menyematkannya di jari manis Louise. "Cocok sekali, kapan belinya?"


"Saat kau beli baju," jawab Louise.


"Oh begitu," balas Evelyn tersenyum, karena senang sekali mendapat barang bagus. Setelah sempat punya koleksi perhiasan berlian sebelumnya, saat menjadi nona muda kaya raya, namun semua itu telah raib di sita oleh negara.


"Bagaimana apa kita sudah sah pacaran?" tanya Louise memastikan.


Evelyn terkekeh. "Sudah tentu sah sayang," balasnya sambil mengelus lembut rahang Louise, hingga membuat pria itu meremang tidak karuan.


...----------------...


Keesokan harinya.


Perusahaan Horisson.


Ken menatap Louise yang selalu senyam-senyum sendiri sejak dari tadi pagi, sambil memandangi cincin pada jari manisnya itu.


"Pak," tegur Ken.


"Ken, masuklah!" sahut Louise mempersilahkan anak buahnya masuk.


Ken menghela nafas panjang, semenjak hubungan pacarannya resmi dengan Evelyn. Ia melihat atasannya tengah mengalami fase bucin akut.


"Ken, bagaimana dengan cincinku ini? Aku bukannya bermaksud mau pamer padamu, tapi ini dipasangkan langsung oleh Evelyn loh. Berikan aku komentar Ken, cincin ini cocok tidak di tanganku," unjuknya bangga pada Ken.


"Bagus Pak Louise dan cincin itu cocok sekali untukmu," balas Ken menatap sekilas benda berkilauan itu.

__ADS_1


"Itu sudah pasti cocok, kenapa juga aku harus bertanya padamu. Dan kenapa juga kau menjawabnya, usil sekali. Lagian kau kan tidak ada hubungannya dengan semua ini," balas Louise sengar sengir.


Ken memutar bola matanya malas, sesekali mendengus. "Tadi minta komentar tapi aku jawab malah dibilang usil," gerutunya kesal.


Tapi demi mendapatkan bonus sebuah Mansion mewah yang dijanjikan oleh Louise untuk pernikahannya dengan Selvi nanti, Ken pun mengalah.


"Ken, coba katakan padaku. Menurutmu apa ukuran baju yang pas untuk Evelyn? Kemarin dia bilang kekurangan baju tidur," tanya Louise.


Ken sejenak berpikir untuk memikirkan ukuran baju yang pas untuk Evelyn, dan entah mengapa dia menurut saja melakukan hal itu. Padahal itu bukanlah urusan dia, tapi kalau tidak dijawab akan lebih rumit lagi, karena Louise akan terus menganggunya.


"Evelyn punya tubuh sedikit mungil, mungkin ukuran M cocok untuknya." balas Ken seperti membandingkan antara tubuh Selvi dan Evelyn.


Tapi tiba-tiba saja Louise mendengus kesal dan melempar Ken dengan pena nya. "Berani sekali kau memikirkan tubuh calon istriku! Katakan padaku, sudah sampai sejauh mana kau memikirkannya? Apa sampai ke dalam-dalamnya juga!" sentaknya tidak terima.


Ken tersedak nafasnya sendiri, sesekali mengelus dadanya karena kesal dan bingung harus menjawab apa pada bosnya yang mendadak salah paham. "T-tidak, a-anda salah paham Pak."


"Sudah salah tidak mau mengaku, sudah sana dasar mesum! Kenapa juga aku harus bertanya padamu, dia kan calon istriku. Lebih baik aku bertanya saja pada orangnya langsung," cerocos Louise lalu melengos pergi.


Ken membenturkan kepalanya di dinding, karena sebal sekali menghadapi sikap tidak jelas atasannya yang sedang dimabuk cinta. "Sabar Ken! Demi Mansion dan juga bonus tinggi!" ucapnya menguatkan hati.


...***...


"Kalau sudah menikah nanti, apa dia juga akan meminta anak dariku?" batinnya begitu cemas.


Lalu kembali ke dalam ruangannya dimana Ken masih membenturkan kepalanya di dinding.


"Ken, panjang umur!" seru Louise. "Sedang apa disana, duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan empat mata denganmu," ucapnya kemudian dan terlihat serius.


Ken seperti mencium bau-bau pekerjaan tambahan. "Ya Pak, katakan saja."


"Ken, kau tahu kan aku pernah menjalani operasi vasektomi selama kuliah di Inggris dulu, agar tidak ada wanita yang hamil oleh kelakuan bedjatku?" ucap Louise berbisik, padahal mereka hanya berdua dan didalam ruangan kedap suara.


Ken mengangguk. "Baru sadar dia bedjat," batinnya berkata seperti itu.


"Jadi Ken, aku bermaksud untuk pergi ke Inggris dan menemui dokterku disana. Aku ingin memulihkan ini-ku," balas Louise sambil menunjuk ular anaconda-nya yang sedang bobo manis.


"Oh baguslah kalau begitu, jadi saat menikah dengan Evelyn kalian bisa punya anak." Ken setuju dengan usul tersebut.


Namun Louise kembali murung. "Tapi aku harus meninggalkan Evelyn selama dua bulan, dan aku takut dia akan pergi meninggalkanku saat pergi nanti."


"Tinggal lancarkan komunikasi dengannya saja beres!" tegas Ken.

__ADS_1


"Iya kau benar, tapi aku tidak sanggup berjauhan terlalu lama dengannya dan menutupi kepergianku kali ini." Louise malah curhat.


Ken memutar bola matanya malas. "Ya sudah kalau begitu jujur saja padanya kalau bapak ingin operasi kela-min."


Louise mengangga, lalu menggeleng. "Gila kau Ken, mana mungkin aku berkata seperti itu padanya. Apa reaksinya nanti," tolaknya tidak setuju.


Ken mendesahh kesal, sambil memijat pelipisnya yang mulai berdenyut, entah mengapa bos nya itu mendadak bo-doh. "Kalau begitu cari saja alasan lain, misalnya mengurusi pekerjaan ke sana."


Louise merasa tercerahkan dan merasa beruntung sekali punya asisten berotak cerdas seperti Ken. "Terima kasih Ken, kalau begitu siapkan keberangkatanku. Dan selama kepergianku nanti, tolong jaga dan awasi terus Evelyn. Jangan biarkan ada pria lain yang mendekatinya."


Ken mengangguk paham, lalu menyiapkan segala keperluan untuk bosnya itu pergi.


...----------------...


Mansion Louise.


"Pekerjaan apa? Kenapa mendadak seperti itu? Tadi di kantor tidak ada bilang apa-apa dan kenapa lama sekali sampai dua bulan kesana," selidik Evelyn.


"Sayang, mengertilah. Ini urusan penting demi masa depan kita dan aku harus kesana jika tidak ingin menyesal," balas Louise.


Evelyn mengernyitkan dahinya. "Masa depan kita? Menyesal? Apa maksudnya?"


Louise menghembus nafas panjang dan menatap Evelyn. "Percaya saja padaku, aku tidak akan main serong dengan wanita lain. Aku kesana memang ingin melakukan pekerjaan penting," balas Louise ngalor ngidul.


Membuat Evelyn semakin pusing. "Ya sudah aku percaya padamu, tapi berjanjilah untuk tetap memberikan kabar."


"Aku janji honey," Louise mengecup bibir Evelyn dan segera pergi dari rumah untuk terbang ke London. Karena dia ingin sebelum menikah nanti, ular anacondanya sudah siap untuk membuahi.


Sementara itu kepergian Louise secara tiba-tiba, sampai juga ke telinga Steve. Sehingga pria itu leluasa mendekati Evelyn saat berada di luar rumah.


Namun menyadari banyak orang disekeliling wanita itu pun, Steve mengurungkan niat untuk mendekatinya sementara waktu.


"Bagaimana pun juga aku harus menyampaikan kebenaran ini kepada Evelyn," gumam Steve.


Sambil membawa bukti aksi tidak terpuji Louise dengan beberapa wanita kampus, saat kuliah di Inggris dahulu, yang ia dapatkan dari tangan sang ayah, saat menyelidiki kelakuan kotor menantunya itu.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2