Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 35. Mengerjai Gisella


__ADS_3

Setelah selesai berpakaian, Louise bermaksud turun ke lantai bawah untuk menyantap sarapan pagi, tanpa mengajak Gisella yang masih berbaring diatas kasur. Namun niatnya terurung, saat Gisella tiba-tiba memanggil namanya.


"Louise, kau ingin kemana?" tanya wanita itu sambil merapihkan rambutnya.


"Sarapan," jawab singkat Louise.


"Kau ingin sarapan dibawah, kenapa tidak menunggu pelayan mengantarkannya saja untuk kita?" cegah Gisella sebelum Louise membuka handle pintu.


"Aku lebih suka suasana dilantai bawah daripada disini," jawab Louise dingin.


Gisella mencebik. "Aku istri sahmu, kenapa kau sama sekali tidak memperdulikanku! Kau bahkan tega membiarkanku tidur sendiri, apa kau tidak sadar kalau kau adalah milikku sekarang ini!"


Louise mendengus kesal, inilah yang tidak ia suka dari ikatan hubungan pernikahan, dirinya merasa tidak bebas. Bagai sedang memakai rantai kapal dileher dan dikakinya, terasa begitu berat dan sesak sekali.


Louise menoleh dan menatap tajam Gisella. "Aku sudah menuruti keinginan keluarga kita dan kita memang telah menikah. Akan tetapi, ku harap kau mengingat mengenai perjanjian kita sebelum menikah waktu lalu, bahwa kau tidak berhak mengatur hidupku atau meminta apapun dariku termasuk melakukan hubungan itu!" tegasnya mengingatkan.


Lalu tanpa menunggu reaksi apapun dari Gisella, Louise memantapkan kaki melangkah keluar dari kamar hotel.


Gisella berdecak sambil melempar bantal ke arah pintu kamar, karena kesal sekali dengan sikap Louise yang acuh kepadanya.


"Louise!" pekiknya memanggil.


Louise menghembus nafasnya kasar, sesekali mengumpat dan merutuki ikatan pernikahannya ini.


...***...


Lantai bawah.


Gisella menyusul kemana langkah kaki Louise pergi, ia sampai rela belum mandi dan masih menggenakan lingerie berwarna merah cabai, dibalik cardigan panjangnya itu.


"Kenapa kau selalu mengikuti!" decak Louise sebal sekali.


"Aku berubah pikiran sayang, aku ingin sarapan pagi denganmu." Gisella menunjukkan senyum terbaiknya.


Louise mendesaah kesal. "Jangan panggil aku sayang dan jangan berdiri denganku terlalu dekat," ucapnya merasa risih.


Namun Gisella membalasnya dengan senyuman dan terus memancing Louise agar gairah pria itu bangkit oleh kemolekan tubuhnya. Terlebih setelah melihat benda pusaka milik suaminya itu, Gisella seperti tidak mau hilang kesempatan untuk bisa mencicipinya.


...***...


Louise mengambil sarapan paginya dan duduk menjauhi Gisella, namun lagi-lagi wanita itu mendekati dan duduk dihadapan Louise dengan sengaja.


Ia juga tidak lupa menunjukkan sedikit belahan dada agar Louise bisa leluasa melihat pergunungan sintalnya.


Louise tertegun melihat keindahan itu dan bohong saja jika ia tidak menikmatinya, akan tetapi setelah melihat Gisella menggeliat tidak bisa diam seperti ulat keket, membuat pria itu menjadi geli sendiri.


"Bisakah kau diam, aku ingin makan dengan tenang!" ucap Louise penuh penekanan.


"Makan ya tinggal makan," balas santai Gisella.

__ADS_1


Louise menghela nafasnya pelan, sungguh tidak disangka setelah menikah, Gisella berani menggodanya didepan umum.


Padahal saat masih bertunangan dulu, wanita itu terlihat seperti wanita baik-baik. Bahkan menunjukkan sebelah bagian bahunya saja, wanita itu merasa seperti telah berdosa.


Tapi kali ini, hampir seluruh bagian atas dia pamerkan didepan mata kepala Louise sendiri.


"Menjijikkan! Dasar wanita tidak tahu malu!" umpat Louise ditujukan untuk Gisella.


"Kenapa? Apanya yang salah?" tanya Gisella tanpa dosa.


"Ku pikir kau wanita baik-baik, ternyata tidak lebih dari seorang wanita penggoda," sindir Louise.


"Ku pikir kau juga pria baik-baik, ternyata seorang pria pemain wanita," balas Gisella tidak mau kalah.


Louise membulatkan kedua matanya dan mendadak kehilangan selera makan, tak mau berdebat panjang, akhirnya ia pun mengalah dan pergi dari sana.


"Kau ingin kemana?" tanya Gisella saat Louise hendak pergi dari tempat makan.


"Bukan urusanmu!" balas Louise dengan tatapan tajamnya.


"Aku istrimu Louise, urusanmu adalah urusanku juga," ucap Gisella.


Louise mendesaah pasrah. "Baik kalau begitu ikutlah denganku," balasnya ingin mengerjai Gisella.


Gisella tersenyum lebar, lalu tanpa banyak berpikir ia pun pergi mengekor dibelakang Louise.


...***...


Setibanya di tempat tujuan, Louise menghampiri sekumpulan cewek-cewek cantik nan sekssii di dalam club tersebut. Ia tersenyum dan melirik Gisella yang terlihat memanas.


"Hai tuan tampan, apa kau sedang sendirian?" tanya salah satu wanita itu sambil mengelus rahang besarnya.


"Tentu saja aku datang bersama dengan seorang wanita cantik," balas Louise kemudian menarik Gisella agar masuk ke dalam kumpulan para wanita tersebut.


"Wanita cantik? Cih! Dia tidak lebih dari seorang wanita murahan," sindir pedas salah satu wanita pengunjung club, begitu pula dengan wanita yang lainnya.


Gisella merasa tersinggung akan penghinaan terhadap dirinya. "Kau sebut aku apa hah? Kalianlah yang wanita murahan, menjajakan diri didalam club ini dengan memakai pakaian sekssi dan menggoda para pria termasuk suamiku!" sentaknya tidak tinggal diam.


"Bercerminlah hei, kau sendiri memakai baju seksii dan masuk ke dalam club ini, lalu seenaknya mengaku-ngaku sebagai suami pria tampan ini!" sentak para wanita itu dan menunjuk-nunjuk dada Gisella.


Gisella pun naik pitam, merasa tidak senang dituduh wanita tidak baik-baik oleh semua wanita tidak baik-baik disana.


Sedangkan Louise hanya tersenyum melihat perdebatan panas tersebut, sambil melipat kedua tangannya didepan dada dan bersandar didinding batu.


"Louise kenapa kau tidak membelaku!" ucap Gisella meminta pertolongan.


"Bukankah kau suka berdebat, maka berdebatlah sepuasnya dengan mereka," balas Louise. Lalu pria itu meninggalkan Gisella yang sedang di gerumuti oleh semua wanita sekssi didalam club.


...***...

__ADS_1


Setelah berhasil terlepas dari gangguan Gisella, Louise pun kembali ke kamar hotel.


Selain menunggu jam check out yang masih panjang, yaitu jam 3 sore. Pria itu juga ingin beristirahat dan memejamkan kedua matanya barang sesaat, karena semalam ia tidak tidur dengan baik.


Louise membuka pakaian dan hanya menyisakan celana boxer pendek saja yang menutupi area sensitifnya, karena itu memang kebiasaannya sebelum tidur.


Ia merebahkan dirinya diatas kasur yang empuk dan nyaman, lalu tak lama setelah itu, Louise pun akhirnya tertidur.


...***...


2 jam kemudian.


Setelah berjuang sendiri berdebat dan bertengkar hebat selama hampir dua jam di dalam sebuah Club, Gisella akhirnya berhasil keluar dari club tersebut setelah mendapatkan bantuan dari anak buah keluarganya.


Wanita itu pulang ke kamar hotelnya dengan kondisi berantakan, rambutnya pun telah kusut tidak beraturan.


Dirinya begitu marah saat melihat Louise malah asyik tertidur begitu lelap. "Louise kau benar-benar membuatku marah sekarang!" umpat Gisella sambil terus menghampiri Louise yang masih tidak menyadari kedatangannya.


Dengan kasar Gisella menghentak selimut yang tengah menutupi tubuh Louise dan seketika itupula emosinya tiba-tiba mereda, saat melihat Louise hanya mengenakan celana boxer.


Gisella terpaku dan menelan ludahnya yang tercekat, alih-alih ingin menghajar orang yang telah berani meninggalkannya sendirian.


Kini ia malah asyik memandangi wajah tampan suaminya itu yang sedang tertidur lelap. Gisella menarik senyumnya penuh arti dan mulai merangkak naik keatas kasur.


Tangannya mulai nakal menyentuh tubuh suaminya sendiri, lalu memberanikan diri untuk mencium bibir tebal dan menantang suaminya itu.


Namun disaat ia ingin melumattnya, sebuah panggilan pada ponsel pintar Louise bergetar.


"Ck! Mengganggu saja," Gisella mencebik. Lalu menyambar ponsel tersebut dan lantas membulatkan kedua matanya.


"Evelyn ..." ucap Gisella dengan tatapan kesalnya kepada sebuah foto berukuran kecil yang telah disematkan oleh Louise pada nomor teleponnya.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next \=\=> Evelyn memutuskan untuk kabur dari rumah Louise, setelah mendapat telepon dari Gisella.


Dan saat Louise tahu tentang kepergian Evelyn dari rumahnya melalui Selvi, dia pun bergegas pergi ke puncak untuk mencari Evelyn yang hilang dan meninggalkan bulan madunya bersama dengan Gisella.


Dapatkah Louise menemukan Evelyn, disaat gadis itu tidak tahu harus pergi kemana terlebih daerah tersebut sangat asing untuknya.


Lalu, informasi apa yang didapat oleh anak buah Opa Bernadi saat melihat Louise dan mengikuti dirinya hingga ke suatu tempat.


Tunggu itu semua dibab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2