
Beberapa saat kemudian akhirnya Selvi melihat Louise keluar juga dari kamar Evelyn dan turun ke lantai dasar seorang diri. Hal tersebut membuat Selvi menerka-nerka dan mengaitkannya dengan sesuatu.
Apa benar yang dikatakan oleh sahabatnya itu, jika sang majikan telah menodai Evelyn.
"Selamat pagi Tuan Louise," sapa Selvi.
"Pagi," sahut Louise dan duduk dimeja makan untuk menyantap sarapan pagi.
Sebagai kepala pelayan rumah sekaligus orang kepercayaannya, Louise tidak boleh menyembunyikan sesuatu darinya. Hal itu dikarenakan Louise mencemaskan keadaan Evelyn saat ini, karena wanita itu menolak untuk keluar dari kamar.
Selain itu, Louise juga khawatir sekali Evelyn akan berbuat nekad selama ia tidak berada di rumah.
"Selvi, apa kau telah mengetahui sesuatu tentang kemarin malam?" tanya Louise memastikan wanita itu mengetahui kejadian semalam atau tidak.
"Tidak Tuan walaupun saya tahu, saya akan tetap memilih diam dan menjaga batasan saya." balas Selvi lebih menjaga privasi keluarga majikannya.
"Bagus, kalau begitu bawakan sarapan pagi ke kamar Evelyn dan pastikan dia memakan sarapannya. Lalu bersihkan kamarnya segera dan jangan banyak bertanya padanya tentang apa pun yang terjadi semalam," ucap Louise memerintah.
Selvi mengangguk patuh. "Baik Tuan," balasnya.
"Satu hal lagi, tolong jaga dia selama aku pergi keluar. Kau harus mengawasinya dan jangan sampai ia melakukan hal bodoh," titah Louise.
"Baik," patuh Selvi.
Tak lama setelah itu, Louise menyelesaikan sarapan paginya. Lalu berangkat pergi ke kantor untuk bekerja.
...***...
Sementara itu, Evelyn masih termenung seorang diri disudut kamar. Kamarnya pun masih berserakan dengan barang-barang serta pakaiannya yang sobek.
Namun ada satu benda yang sedang ia peluk, seakan tidak ada orang lain yang boleh melihatnya, yaitu sprei bernoda merah darah perawannya.
Evelyn masih diliputi trauma mendalam, terlebih sekarang ini ia tidak memiliki satu orang keluarga-pun didekatnya. Jadi harus kepada siapa ia mengadu, akan keganasan Louise padanya kemarin malam.
Andaikan saja ada opa Bernadi dan juga bibi Maureen, mungkin merekalah satu-satunya orang yang berani menghukum Louise dan membelanya mati-matian dari pria yang telah tega merenggut kehormatan keluarganya.
"Aku ingin ada mereka disini," lirih Evelyn menangis kembali. Karena dalam keadaan seperti ini dia sangat membutuhkan dukungan keluarga.
Hal tersebut terdengar ke telinga Selvi saat ingin mengantar makanan, ada perasaan sesak saat melihat kondisi kamar Evelyn yang begitu berantakan. Terlebih saat melihat kondisi gadis itu yang nampak menyedihkan.
Namun ia tetap harus diam dan berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi kepada Evelyn.
"Evelyn," panggil Selvi.
Evelyn segera menghapus air matanya dan menoleh ke arah muka pintu. "Masuk saja," sahutnya lemah kemudian membuang muka lagi.
Selvi berjalan masuk dan menaruh nampan diatas nakas. "Ini sarapanmu," ucapnya lalu duduk di tepi ranjang bersama Evelyn.
"Terima kasih, Kakak bisa keluar sekarang."
"Kamarmu berantakan, Kakak harus membersihkannya." balas Selvi.
"Tidak perlu dibereskan, biarkan saja seperti ini."
Selvi memegangi dadanya karena sakit, benar-benar keadaan yang menyedihkan untuk dilihat oleh mata. Sebagai seorang wanita yang lebih tua, dia juga harus berusaha menenangkan kesedihan Evelyn, walau itu harus melanggar perintah dari sang atasan.
__ADS_1
Ia terus melihat Evelyn yang memegangi sprei ditangannya, lalu beranjak untuk membereskan kamar Evelyn yang berantakan. Sesekali berpikir keras bagaimana cara mengurangi kesedihan gadis itu.
"Sini spreinya biar Kakak cuci," ucap Selvi mengulurkan lengannya untuk meraih sprei dari tangan Evelyn.
Namun Evelyn menolak sambil menggeleng. "Tidak! Jangan!" jeritnya menangis histeris.
Selvi sontak menarik lengannya kembali, kemudian duduk disamping Evelyn dan segera memeluknya. Entah apa yang sedang ada dipikirannya sekarang ini, namun satu hal yang pasti, raut ketakutan terukir jelas diwajah Evelyn.
"Sudah, sudah ..." ucap Selvi menenangkan, sambil mengusap-usap punggung Evelyn dan seketika kedua matanya membola, saat menangkap sebercak noda darah diatas sprei yang tengah dicengkram oleh Evelyn.
"Tuan kenapa kau tega sekali," batin Selvi dan terjawablah sudah kecurigaannya tentang kejadian semalam. Dimana Evelyn ternyata telah dinodai oleh Louise.
...***...
Setelah keadaan Evelyn tenang dan gadis itu tertidur, Selvi keluar dari kamarnya. Sesekali menghela nafas panjang karena tidak menyangka jika Evelyn akan terguncang separah itu.
"Kak, Evelyn kenapa? Tadi aku mendengar dia berteriak-teriak," tanya Mika penasaran.
"Tidak ada apa-apa, tidak usah kepo. Lebih baik bekerja saja," balas Selvi.
"Pelit sekali, pasti dugaanku benar kan kalau Evelyn telah disakiti oleh tuan," ucap Mika.
Selvi mendesaah panjang dan menatap Mika. "Tidak perlu ikut campur, itu diluar kekuasaan kita."
Mika mencebik, tidak disangka Selvi begitu menjaga rapat-rapat tentang apa yang terjadi diantara Louise dengan Evelyn. "Ya sudahlah kalau begitu," ucapnya lesu.
Selvi menghela nafas panjang, iya bukannya tidak ingin memberitahu Mika. Namun Selvi kenal betul dengan sosok sahabatnya itu, karena ia tidak ingin kecerewetan Mika dapat menyebarkan gosip tidak baik hingga keluar rumah.
...----------------...
Apalagi saat Evelyn mengatai dirinya seorang badjingan. "Seburuk itukah aku dimata dia?" batinnya.
Louise meraup wajahnya kasar dan mendesaah panjang, hingga akhirnya ia memilih pulang cepat dan memanggil Ken untuk mengurus pernikahannya yang dimajukan.
"Hubungi WO ku, aku ingin pernikahanku dengan Evelyn dipercepat."
"Baiklah, ingin tanggal berapa?" balas Ken sepertinya dia mencium bau-bau kerja lembur setelah ini.
"Pertengahan bulan depan," balas Louise pasti.
"Pertengahan bulan?" sahut Ken.
"Ya dan kerjakan semua tugas ini, sisanya kirim ke rumahku," balas Louise. Lalu bergegas pulang ke rumah.
Ken mengangguk paham, lalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Louise.
...***...
"Tuan, anda sudah pulang?" ucap Selvi menatap jam yang ternyata masih siang.
"Ya, bagaimana dengan Evelyn? Apa dia sudah makan?" tanya Louise.
Selvi menggeleng. "Belum, dia menolak makan dan sekarang sedang tertidur."
Louise berdecak kesal mendengarnya, entah mengapa ia merasa Evelyn seperti sedang melakukan penyiksaan diri sebagai bentuk rasa kekecewaan kepadanya.
__ADS_1
Secepat kilat pria itu menaiki tangga, lalu masuk ke dalam kamar Evelyn dan mendapati gadis itu tengah berbaring diatas kasur.
"Evelyn," panggil lembut Louise dan duduk disisi ranjang. Namun Evelyn enggan membuka kedua matanya, walau dia tahu ada Louise didekatnya.
"Bangunlah jangan pura-pura tidur, kau harus bangun dan makan beberapa suap nasi. Sini biar aku suapi," ucap Louise kemudian. Namun lagi-lagi Evelyn enggan menanggapi keinginannya.
Louise mendesaah panjang dan menaruh piring diatas nakas kembali.
"Evelyn, jangan seperti ini, nanti kau bisa sakit. Aku mengakui salah dan aku minta maaf padamu. Kau ingin aku melakukan apa agar kau baikkan, kau ingin memukulku? Silahkan pukullah aku, tapi makanlah terlebih dahulu biar kau punya tenaga."
Evelyn perlahan membuka kedua matanya dan melirik kearah Louise yang sedang duduk disisinya, terlihat masih ada sisa buliran bening pada ujung ekor matanya yang bengkak.
Lalu perlahan duduk bersandar dikepala ranjang, namun masih enggan menatap Louise.
"Aku tahu kau kesal padaku, tapi aku tidak akan membiarkan kau mati kelaparan."
"Tamparlah aku sesuka hatimu Evelyn, tamparlah aku. Atau pukullah aku seperti ini," Louise menarik tangan Evelyn yang terkepal dan memintanya untuk meninju perut atau wajahnya dengan keras.
Evelyn terisak kembali, lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi kepada Louise untuk meluapkan semua kekesalannya. "Kau jahat sekali, kenapa kau melakukan itu padaku. Kenapa kau perkosa aku!" ucapnya terasa sesak.
Sedangkan Louise menerima semua pukulan itu dengan sukarela. "Terus pukullah aku dan jangan berhenti sampai kau puas," ucapnya mendekatkan diri. Lalu menunggu dengan sabar hingga amarah gadis itu mereda.
Tak berselang lama kemudian Evelyn berhenti memukul Louise karena merasa lelah dan kesempatan itu digunakan Louise untuk mendekap Evelyn.
"Kau pria breng-sek! Menyebalkan! Kau menyakitiku, aku membencimu!" sarkas Evelyn dengan nafas memburu.
"Ya terserah kau mau bilang apa, yang jelas aku akan tetap mencintaimu."
Evelyn terpejam dan masih terisak, dia memang marah sekali kepada Louise. Namun pelukan hangat pria itu mampu membuatnya merasa tenang dan nyaman.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku," lirih Evelyn sebelum akhirnya tidur dipelukan Louise.
"Sudah tentu aku berjanji tidak akan meninggalkanmu honey," ucap Louise merasa lega. Ia membelai rambut Evelyn dan merasakan panas pada kening wanita itu.
"Badanmu panas," lalu membaringkan Evelyn dan segera menghubungi dokter.
Dan sepanjang sore hingga malam Louise menjaga Evelyn didalam kamarnya, sambil mengerjakan oekerjaan kantornya yang tertinggal, sesekali mengucapkan maaf dan menyesali perbuatan nekadnya itu.
Ia sungguh tidak menyangka jika guncangan hebat dapat membuat seseorang syok dan berujung mengalami sakit akibat tekanan batin.
.
.
Bersambung.
Louise : Ngeronda dulu kita.
Othor : rasain lu emangnya enak, makanya kalau punya ty-tyd dijaga dulu. Itu pan baru selesai dioperasi. Apa gk ngilu?
Louise : ya ngilu dikit, tapi dapetlah enaknya.
Othor : owalah.
__ADS_1