
"Steve," panggil halus Nyonya Merry.
"Mom, apa kau percaya dengan apa yang diucapkan oleh kak Gisella mengenai Eve ku?" tuntut Steve sambil menangis. "Jika perkataannya benar tentang pernikahannya yang hancur karena seseorang, kenapa tidak menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga suaminya. Dan bukanlah menyalahkan Eve ku," ucapnya lagi.
Nyonya Merry menghela nafas panjang dan terus mengusap punggung Steve agar tenang. "Tenangkan dirimu Steve, Mommy percaya padamu. Mungkin ada kesalahpahaman diantara semua kejadian ini yang belum kita ketahui. Begini saja sayang, ajaklah Evelyn ke rumah kita dan undang ia untuk makan malam bersama."
Steve mengusap air matanya dan mengangguk. "Baiklah, aku akan mengundang Eve makan malam. Mom, aku sangat mencintainya. Bisakah kau berjuang mendapatkan dirinya untukku?" tuntut Steve sembari memohon.
Nyonya Merry tersenyum. "Tentu sayang, Mommy akan berusaha sebaik mungkin. Tapi sayang, ada baiknya jika kita tidak menaruh harapan lebih, karena itu akan membuat kita semakin sakit hati jika gagal mendapatkannya."
"Aku sudah terlalu lama memendam rasa cintaku ini padanya Mom, dan kurasa hatiku ini sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ingin segera memilikinya. Aku begitu menginginkan Eve dan aku ingin mendapatkan dia bagaimanapun caranya," lirih Steve.
"Mommy mengerti, tapi dia adalah cucu pria tua yang kau benci selama ini Steve. Apa kau yakin akan tetap mempertahankan cintamu ini?" ucap Nyonya Merry mengingatkan lagi.
"Tadinya aku berpikir untuk melupakannya Mom dan membalaskan semua kesakitan yang kau alami selama ini kepadanya. Tapi jujur aku tidak bisa dan tidak bisa. Aku tidak tahu Mom, semakin aku melupakan dia, bayang-bayang Eve selalu saja muncul di depanku. Dan kenangan yang pernah kami lakukan saat kuliah bersama dulu tak bisa hilang begitu saja," keluh Steve.
Nyonya Merry mendesis, tidak tega sekali melihat putranya mengalami patah hati seperti itu. "Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku harus mendesak tuan besar lagi," gumamnya berpikir.
"Jangan sedih Steve, Mommy akan berusaha membuat Eve menjadi milikmu. Mommy berjanji," ucap Nyonya Merry.
Steve menatap sendu sang ibu. "Terima kasih Mom, aku berjanji juga padamu. Aku akan menjatuhkan pria tua itu dan mengambil alih perusahaannya, setelah aku berhasil mendapatkan cucunya."
Nyonya Merry mengusap puncak kepala Steve dan memeluk Steve dengan penuh kasih sayang. "Kau putraku, maaf karena kesalahan masa lalu Mommy. Kau jadi terpisah dari ayah kandungmu dan menaruh kebencian kepada kita."
"Tidak Mom, aku juga akan membuat Daddy kembali kepadamu dan menjelaskan kepadanya. Kalau kau hanya terpaksa menjadi simpanan opa Eve," ucap Steve.
...----------------...
Keesokan malamnya.
Apartemen.
Louise mendapat telepon dari keluarganya, yang meminta agar ia segera pulang ke rumah, untuk membahas masalah gugatan perceraian dirinya dengan Gisella.
Dan sebelum pergi, Louise menemui Evelyn. Memberi pesan agar gadis itu tidak pergi kemana pun.
"Aku ingin kau tetap disini dan jangan pergi kemana-mana, aku tidak ingin kau pergi dengan pria itu lagi apapun alasannya," titah Louise.
"Dia teman baik ku tuan, bagaimana aku bisa mengabaikan ajakan dan niat baiknya." Evelyn menolak.
Louise menghembus nafasnya kasar. "Patuhi aku Evelyn, kau tahu kan aku paling tidak suka dibantah."
Evelyn menatap kesal Louise dan mengiyakan saja perintahnya itu. "Baiklah, apa kau puas? Sekarang pergilah dari sini!" ketusnya sambil menutup pintu.
"Pria itu, selalu saja memerintah dan melarangku seenaknya. Memangnya dia siapa, huh!" gerutunya kesal.
Tak berapa lama kemudian Steve menelepon dan mengundangnya untuk makan malam bersama dengan sang ibu.
__ADS_1
Hal tersebut membuat Evelyn merasa dilema, antara ingin ikut pergi, namun takut juga akan ancaman Louise.
"Eve, ikuti saja kata hatimu. Kenapa kau harus patuh pada perintahnya, kau bebas melakukan apapun. Begini saja, aku yang akan berhadapan dengan pria itu jika ia marah kepadamu," ucap Steve.
"Kau benar, kenapa aku harus patuh kepadanya. Dia bukanlah siapa-siapaku, lagi pula aku kan pergi tidak lama dan dia juga belum tentu pulang cepat," batin Evelyn menimbang-nimbang.
"Baiklah Steve, aku akan ikut denganmu!" seru Evelyn.
Steve merasa senang mendengar hal tersebut. "Baiklah Eve, aku akan menjemputmu dan meminta Mommy ku memasak makanan enak untukmu kali ini."
"Iya Steve, jemput aku di pertigaan jalan saja ya," pinta Evelyn karena tidak ingin Steve tahu tempat tinggalnya sekarang ini.
"Baik Eve, aku akan segera menjemputmu," balas Steve, kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
...----------------...
Rumah Steve.
Masakan lezat telah tersaji dan tersusun rapi diatas meja makan keluarga Nyonya Merry. Wanita itu membuka celemeknya dan membuka pintu setelah mendengar putranya memanggil dari luar.
Nyonya Merry tersenyum dan menyapa hangat putranya. "Steve, kau sudah datang. Mana Eve?" tanyanya.
Steve tersenyum dan mengenalkan Evelyn kepada ibunya. "Ini Mom dia Eve, Eve ini Mommy ku."
Evelyn tersenyum dan memberi salam kepada Nyonya Merry. "Malam tante, aku Evelyn. Temannya Steve."
"Koleksi foto?" tanya Evelyn.
Wajah Steve bersemu merah mendengar hal tersebut dan menatap tajam ibunya. "Mom, jangan bicara aneh-aneh pada Eve."
Nyonya Merry terkekeh. "Baiklah, tidak disangka kau merasa malu seperti itu. Sudahlah tidak usah dibahas, ayo Eve duduklah dulu."
"Baik tante," sahut Evelyn dan duduk bersama dengan Steve.
Nyonya Merry kembali ke dapur dan membiarkan Steve mengobrol bersama dengan Evelyn, agar hubungan mereka semakin dekat lagi.
Hingga pada akhirnya mereka bertiga tiba di jam makan malam bersama.
"Ayo Steve ajak Eve makan bersama dengan kita," ajak Nyonya Merry.
"Ya Mom," sahut Steve lalu menggandeng tangan Evelyn. "Ayo Eve, kita makan malam bersama. Masakan mommy ku sangat enak. Kau pasti menyukainya," lanjutnya.
"Benarkah, ayo kalau begitu." Evelyn tersenyum dan mengikuti Steve menuju ruang makan.
...***...
Steve memandangi Evelyn yang sedang makan di hadapannya, hatinya merasa senang. Hingga hanyut dalam lamunan sendiri dan membayangkan bagaimana jika Evelyn menjadi istrinya.
__ADS_1
Sedangkan Nyonya Merry menangkap kejadian tersebut, walau sebenarnya dia tidak menyukai keluarga Benardi dan ingin membalas perlakuan buruk Opanya sewaktu lalu hingga kini.
Akan tetapi melihat kebahagaian Steve ada pada Evelyn, membuat Nyonya Merry harus mengurungkan niat untuk menyakitinya.
"Tante, apa tante tinggal berdua saja. Aku dengar dari Steve kalau tante memiliki anak perempuan, apa dia ada disini juga?" tanya Evelyn.
Steve dan Nyonya Merry saling bertatapan dan mereka mengangguk kecil.
"Eve, kakak perempuan Steve tidak tinggal disini. Dia tinggal di rumah suaminya," balas Nyonya Merry.
"Oh, jadi kakaknya Steve sudah menikah," ucap Evelyn.
"Ya, tapi sayang sekali suaminya itu tidak pernah menganggapnya ada. Bahkan dia tega mengguggat cerai kakakku," ucap Steve menyela.
"Cerai? Tapi kenapa suaminya bisa tega seperti itu?" cecar Evelyn ingin tahu.
"Iya, karena adanya orang ketiga diantara hubungan mereka." Steve melirik Nyonya Merry yang menyetujuinya untuk mengatakan sesuatu.
"Orang ketiga, kenapa ada orang yang tega sekali merusak hubungan pernikahan kakakmu itu Steve. Apa dia tidak tahu jika itu adalah perbuatan dosa," tukas Evelyn tidak habis pikir.
"Ya begitulah, mau bagaimana lagi. Padahal kak Gisella sudah berusaha menjadi istri yang terbaik, tapi suaminya tetap saja melirik wanita lain, " ucap Steve.
"Tunggu Steve, kak Gisella? Itu nama kakakmu?" tanya Evelyn mulai takut.
Steve mengangguk. "Iya," balasnya lalu menatap Evelyn yang berubah gelisah. "Bahkan info yang ku dengar wanita itu terpaut usia yang cukup jauh, dan lebih parahnya lagi dia pernah menjadi seorang pembantu dan suka menggoda suaminya. Katakan Evelyn bukankah wanita itu sama saja perusak rumah tangga orang lain."
Evelyn menelan ludahnya susah payah dan merasa jika wanita yang dimaksud oleh Steve adalah dirinya sendiri. "Kau benar Steve, kalau boleh tahu siapa nama suami kakakmu itu?" tanyanya sedikit berdebar.
"Louise ..." balas Steve tanpa ragu dan menunggu reaksi apa yang akan di keluarkan oleh Evelyn.
"L-louise ..." Evelyn melebarkan kelopak matanya dan tidak menyangka jika perceraian Gisella dengan Louise ternyata adalah karena dirinya.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Next \=\=> Evelyn memarahi Louise karena telah tega menceraikan Gisella. Dan yang lebih membuatnya sedih adalah alasan perceraiannya itu adalah karena dirinya.
Lalu Steve yang mengetahui jika Evelyn sedang bersedih, mencoba mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam kehidupannya. Dan memintanya agar menjauh sejauh mungkin dari Louise, dengan mengajukan lamaran pernikahan kembali kepada Evelyn.
Akankah Evelyn menerima lamaran tersebut, disaat hatinya tidak mencintai Steve?
Nantikan di bab selanjutnya.
__ADS_1