Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 98. Karyawan sekaligus pembantu.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangan dan Louise segera mengijinkannya untuk masuk.


"Masuk!" ucap Louise setengah berteriak.


Evelyn membuka pintu sambil membawa secangkir kopi susu sesuai pesanan Louise dan juga beberapa cemilan ringan lainnya diatas nampan.


"Tuan, ingin ditaruh dimana kopinya?" tanya Evelyn tidak tahu karena semua meja telah penuh oleh kerjaan Louise.


"Oh taruh disini saja," balas Louise. Lalu segera menyingkirkan beberapa dokumen pada atas mejanya, agar Evelyn dapat menaruh cangkir kopi di dekatnya.


"Baiklah," patuh Evelyn dan menaruh cangkir berisi kopi susu itu di dekat Louise.


Selama Evelyn menaruh kopi, Louise berusaha untuk tidak menengok kearah wanita itu yang kini sedang berada didekatnya. Namun aroma wangi lembut yang menguar dari dalam tubuh Evelyn, membuat Louise tidak sanggup untuk tidak menghirup aromanya.


"Evelyn, ini sudah malam. Kenapa belum tidur?" tanya Louise.


"Aku belum mengantuk Tuan," balas Evelyn sambil memeluk nampan yang ia bawa tadi.


"Kenapa belum mengantuk? Apa kau masih memikirkan kejadian hari ini?" duga Louise.


Evelyn mengangguk kecil. "Benar, banyak hal terjadi hari ini. Sampai kepalaku ini rasanya penuh sekali," balasnya sembari bergurau.


Louise menarik senyum tipis. "Kalau belum bisa tidur, kenapa tidak menemaniku bekerja dan membantuku disini?"


Evelyn mengedarkan pandangannya kesekeiling ruangan Louise, yang penuh sesak akan kertas dan juga barang-barang tidak beraturan. "Baiklah, aku akan membantumu membereskan ruangan ini saja," serunya bersemangat.


Louise kembali mengurusi pekerjaannya, namun keberadaan Evelyn justru membuatnya tidak fokus bekerja. Ia selalu saja mengikuti kemana arah langkah kaki Evelyn berjalan dan juga gerakan yang memikat lainnya.


Seakan pemandangan itu tidak boleh terlewatkan barang sesaat.


"Kenapa kau suka sekali bekerja? Apa kau tidak lelah?" tanya Louise sambil menyesap kopinya perlahan dan menatap Evelyn yang sedang berjongkok mengutip sampah kertas.


"Bukannya suka, tapi lebih ke menjalankan kewajiban saja," balas Evelyn apa adanya.


"Kenapa kau berkata seperti itu Evelyn?" tanya Louise kembali.


"Aku menumpang tinggal di rumahmu Tuan, dan aku tidak ingin tinggal secara gratis di dalam rumahmu ini. Sudah begitu, kau juga telah banyak membantuku, jadi aku hanya bisa membayarmu dengan tenagaku saja. Ya walau aku tahu tenagaku ini tidak akan cukup untuk membalas semua bantuanmu padaku, tapi setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu," balas Evelyn mengulas senyumnya dan berdiri.


"Jangan berpikiran seperti itu, kau tidak perlu membalas apapun padaku. Karena aku ikhlas membantumu," balas Louise.


Evelyn membuang sampah kertas pada tangannya pada tong sampah. "Tidak Tuan, aku tetap harus membalas kebaikanmu. Begini saja, pagi sampai sore aku akan bekerja di perusahaanmu. Lalu sore sampai malam, aku akan bekerja menjadi pelayanmu disini. Menjadi karyawan sekaligus pembantu boleh juga," celotehnya.


Louise menghembus nafasnya panjang dan menggeleng samar. "Terserah kau saja," balasnya menyerah juga.


Evelyn menarik senyum. "Terima kasih," lalu merapihkan buku-buku dan menyusunnya didalam rak.


...----------------...


Mansion Anderson.

__ADS_1


Sementara itu, seorang pria paruh baya tengah menatap keluar jendela, sambil merenungi semua kejadian yang terjadi hari ini, sesekali menghembus nafas kasarnya ke udara.


Sebuah kebenaran pahit terungkap dihari yang sama, dimana Tuan Anderson baru mengetahui jika mantan istrinya itu ternyata simpanan opa Bernadi.


"Ku pikir dia berselingkuh dengan Anthoni," batin Tuan Anderson menyesal karena telah merutuk sahabatnya sendiri.


Lalu ia juga baru mengetahui jika Steve adalah benar putra kandungnya selama ini. "Jadi selama ini aku menolak putraku sendiri," batinnya menyesali kembali.


Selain itu ia juga baru mengetahui jika alasan istrinya pergi darinya adalah karena kasus mafia tanah dan juga kecelakaan Anthoni yang melibatkan mantan istrinya itu.


"Tidak ku sangka kau begitu jahat Merry, sudah ku bilang dari awal padamu jangan bekerja pada tuan besar! Kau jadi ikutan tamak seperti dia," gumam Tuan Anderson terbawa emosi.


Pria paruh baya itu memijat pelipisnya yang berdenyut dan mencoba mengistirahatkan kepalanya dari banyaknya beban pikiran.


Terlebih setelah mendengar keluh kesah Gisella dan Steve sore tadi. Dia tidak menyangka jika di usianya yang sudah lebih dari setengah abad itu, ternyata dirinya masih saja direpotkan dengan urusan kedua anaknya yang sudah besar.


"Daddy, Louise telah mengusirku dan akan menceraikanku dalam waktu dekat, karena tidak percaya pada anak yang sedang aku kandung ini. Dia bahkan membawa wanita lain masuk ke dalam rumahnya," isak Gisella menceritakan masalah rumah tangganya.


"Daddy, mommy masuk penjara itu semua karena ulah kakak ipar. Dia juga mendekati calon tunanganku, hingga kami tidak bisa bersama lagi," keluh Steve mengadu.


Tuan Anderson menghela nafas panjang. "Sepertinya aku harus mengurus mereka satu persatu mulai dari awal lagi," gumamnya berusaha memejamkan kedua mata untuk tidur.


Karena pria paruh baya itu sudah berjanji kepada Gisella, akan menemui Louise untuk berbincang dengannya esok hari, mengenai masalah yang terjadi antara putrinya dengan Louise.


...----------------...


Keesokan harinya.


Sesuai janji, Tuan Anderson mengunjungi perusahaan Horisson untuk bicara empat mata dengan sang menantu.


Segera Louise menyambut hangat ayah mertuanya itu, saat mengetahui kedatangannya yang hanya seorang diri. Dan melupakan sejenak kekesalannya kepada Gisella, mengingat tuan Anderson adalah orang tua, yang tidak tahu menahu dengan tingkah putrinya selama tinggal bersama.


"Duduklah Daddy," balas Louise masih menyebut Daddy pada Tuan Anderson.


"Terima kasih," balas Tuan Anderson. Lalu mereka duduk bersama.


"Daddy tidak ingin berbasa basi denganmu Louise, kali ini kenapa kau ingin menceraikan Gisella?" cecar Tuan Anderson. Rasanya lelah sekali mengurusi rumah tangga anaknya.


Louise menyerahkan salinan asli hasil pemeriksaan DNA pada Tuan Anderson untuk dibaca dan Tuan Anderson terlihat kesal setelah membacanya.


"Apa semua ini benar? Apa benar anak yang dikandung Gisella bukan anakmu?" tanya Tuan Anderson memastikan.


Louise mengangguk. "Benar Daddy, begitulah hasilnya. Bahkan aku tidak menyangka jika ayah dari anak itu adalah temannya sendiri," balas Louise setelah menyelidiki.


Tuan Anderson merebahkan tubuhnya yang terasa lemas, sambil meremas dadanya. Seakan baru saja tertumbuk balok kayu, begitu sakit dan sesak sekali.


"Aku tidak menyangka jika Gisella nekad melakukan hal itu, tapi apa alasannya? Kalian sudah lama menikah, tapi Gisella malah punya anak dari pria lain," ucap Tuan Anderson tidak habis pikir.


Louise tidak dapat menjelaskan alasan kenapa Gisella belum memiliki anak darinya, karena vasektomi yang pernah ia lakukan.


"Daddy, maafkan aku. Mungkin Gisella ingin sekali memiliki anak dariku, tapi aku belum bisa memberikannya kepada Gisella. Karena aku sendiri tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, mungkin karena Tuhan belum memberi kesempatan padaku untuk memiliki seorang anak," balas Louise sebisanya.

__ADS_1


"Tidak apa, Daddy mengerti. Memang kali ini Gisella lah yang salah, Daddy juga tidak bisa melarangmu untuk menceraikannya. Karena Daddy tahu sendiri bagaimana rasanya dikhianati," balas Tuan Anderson sambil teringat pengkhianatan yang pernah dilakukan oleh sang mantan istri.


Lalu Tuan Anderson pulang kembali ke rumahnya, untuk berbicara kepada Gisella. Dan sudah pasti akan memarahi putrinya itu, terkait anak yang sedang dikandungnya saat ini.


...***...


Setelah Tuan Anderson pergi meninggalkan ruangannya, Louise kembali memanggil Evelyn.


"Ya Pak, ada perlu apa memanggilku?" tanya Evelyn sambil menyembulkan kepalanya masuk didepan pintu ruangan Louise.


"Masuklah," titah Louise sambil mengulas senyum terbaiknya. Entah sebab apa, tapi saty hal yang pasti, Louise menyukai Evelyn jika berada disisinya.


"Ya," patuh Evelyn dan masuk.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Louise.


"Sedikit lagi," balas Evelyn.


"Begitu, bagaimana kalau kita makan siang diluar bersama?" ajak Louise tersenyum.


Evelyn tersedak nafasnya sendiri, begitu pula dengan Ken dan karyawan lain yang kebetulan mendengarnya.


Sejak kapan pria itu mau mengajak karyawannya untuk makan siang bersama, apalagi hanya berduaan saja.


"B-baiklah," balas Evelyn menerima.


Louise menarik senyumnya lebih lebar lagi, lalu berjalan mendekat dan segera menarik pergelangan tangan Evelyn untuk jalan bersama.


"Sungguh aneh," gumam yang lain berbisik dan mengaitkan semua itu dengan rumor yang sedang beredar saat ini. Dimana salah satu penyebab runtuhnya rumah tangga sang bos adalah karena Evelyn.


Ken segera menepis dugaan-dugaan negatif para sesama pekerja kantor tersebut, dan menjelaskan jika Evelyn tidak ada hubungannya dengan perceraian sang atasan.


"Jangan menyebar gosip yang tidak-tidak, kalau masih betah bekerja disini!" tegurnya.


Semua pekerja langsung membungkam mulut mereka, karena sangat takut dengan gertakan Ken, sebab pria berotak cerdas itu nyatanya lebih menakutkan daripada Louise jika sedang marah.


Karena hanya dengan sekali ketikan pada laptop, maka seluruh pekerjaan mereka yang telah dikerjakan dengan susah payah, akan musnah oleh Ken si ahli teknologi.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next\=\=> Gisella akan mendatangi Louise dan memarahinya habis-habisan. Setelah tuan Anderson angkat tangan tidak ingin lagi membantu kesalahannya itu.


"Selama perceraian belum terjadi, aku berhak memutuskan sesuatu. Jika aku tidak boleh tinggal bersamamu, maka Evelyn juga tidak berhak tinggal di rumahmu!" sentaknya tidak terima.


Apa yang akan dilakukan Louise saat Gisella bersikukuh ingin tinggal bersama dengannya? Apa ucapan tegas Louise sampai semua orang terkejut mendengarnya?

__ADS_1


Nantikan semua itu dibab selanjutnya.


__ADS_2