
Beberapa bulan kemudian.
Saint Petersburg, Rusia.
Hari kelulusan telah tiba dan acara penting tersebut tengah digelar didalam sebuah kampus, tempat dimana Evelyn menimba ilmu.
Seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang merayakan kelulusan mereka pun, terlihat begitu antusias dan juga riang gembira. Tapi tidak berlaku bagi Evelyn, gadis itu nampak murung memikirkan nasibnya setelah lulus kuliah.
"Hai Eve kenapa murung saja, ku dengar kau akan kembali ke Indonesia. Apa itu benar?" tanya Steve, teman satu kuliah Evelyn.
Evelyn mengangguk lemah. "Iya, kau tahu kan opa ku sudah berusia lanjut. Aku ingin selalu berada disampingnya setiap hari," balasnya mencari alasan.
"Kau benar Eve, tapi bagaimana dengan S2 mu? Bukankah kau ingin melanjutkan studimu hingga S2?" tanya Steve, lalu duduk disebelah Evelyn untuk berbincang sejenak.
"Entahlah, mungkin aku akan melanjutkannya di Indonesia atau menunda beberapa tahun lagi," jawab Evelyn lesu.
"Hei Eve, jangan lesu seperti ini. Tersenyumlah dan mana tingkah lincahmu itu. Aku melihatmu akhir-akhir ini seperti orang lain saja dan bukan Evelyn biasa yang ku kenal selama ini," selidik Steve sambil merangkul bahu Evelyn dan sedikit mengguncangnya.
"Steve, berhentilah menggodaku seperti itu. Aku sedang tidak ingin bercanda," balas Evelyn malas dan menyingkirkan lengan Steve dari bahunya.
Steve menatap Evelyn yang hanya menunduk saja. "Ada apa, kau sedang memikirkan apa Eve? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya menyelidik.
Evelyn menghela nafas panjang dan beranjak dari tempat duduknya. "Tidak ada," balasnya lalu pergi.
Steve tidak berhenti menatapi punggung Evelyn yang sedang pergi menjauh, gadis yang ia sukai sejak menduduki bangku kuliah semester satu.
Akan tetapi Steve tidak berani mengungkapkan perasaan cintanya itu, mengingat banyaknya pria yang sudah di tolak oleh Evelyn, hingga berakhir tidak bisa mendekati atau menjadi temannya lagi.
Dan pada akhirnya Steve mengurungkan niat, memilih memendam perasaannya selama ini daripada harus putus hubungan pertemanan dengan Evelyn.
"Dia kenapa?" batin Steve cemas.
...***...
Sesi pemberian tanda kelulusan telah usai, kini para wisudawan dan juga wisudawati tengah mengadakan acara foto bersama teman sekampus, maupun foto solo bersama dengan keluarga.
Banyak dari mereka perpenampilan luar biasa tampan dan juga cantik, namun tiada yang dapat menandingi kecantikan dari cucu perempuan opa Bernadi yaitu Evelyn.
Gadis itu nampak berbeda dari teman sebayanya, ia mengenakan kebaya modern brukat berwarna rose gold lengan panjang, yang membentuk body sempurnanya.
Dipadukan dengan setelan rok mermaid panjang yang menjuntai hingga menyentuh lantai, serta terdapat belahan selutut yang menambah kesan sekssi namun tetap terlihat sopan.
Penampilan Evelyn mengundang banyak perhatian terutama perhatiaan kaum adam. Selain itu, pujian juga mengalir deras untuknya. Yang sukses memberikan penampilan sederhana, namun modis dan memukau.
"Kau cantik sekali Eve," puji Steve menghampiri dan terpana melihat kecantikan Evelyn.
"Terima kasih," balas Evelyn dengan senyum yang dapat membuat hati pria manapun meleleh.
Steve mengulurkan lengannya, lalu meraih tangan kanan Evelyn dan menggenggam erat, sesekali mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
"Setelah acara ini selesai, maukah kau makan malam bersamaku? Aku ingin sekali melakukan perpisahan kepada sahabat dekatku ini sebelum ia pergi," ucapnya lalu mencium punggung tangan Evelyn.
Evelyn tersenyum lembut. "Baiklah, jam 7 malam di restoran dekat kampus. Jangan sampai terlambat," balasnya menentukan. Kemudian berpisah dengan Steve, untuk menghampiri bibi Maureen yang baru saja datang ke kampus.
Steve tersenyum lebar. "Tentu, aku tidak akan telat Eve!" sahutnya semangat seraya melambaikan tangan kearah Evelyn pergi.
__ADS_1
...***...
Evelyn memeluk bibi Maureen yang baru saja datang dengan membawa beberapa buket bunga untuk Evelyn.
"Selamat atas kelulusanmu sayang, maaf Bibi datang terlambat," ucap Bibi Maureen mengucapkan selamat.
"Terima kasih Bibi, terima kasih juga karena kau telah datang ke acara wisudaku." Evelyn mengurai pelukannya.
"Sama-sama, ini untukmu." Bibi Maureen menyerahkan tiga buket bunga kepada Evelyn.
"Tiga buket? Dari siapa saja?" tanya Evelyn sambil menerima buket bunga tersebut.
"Ini bunga dari Bibi, ini dari Opamu dan yang satu lagi Bibi tidak tahu. Tidak ada nama pengirimnya," balas Bibi Maureen apa adanya.
Evelyn terdiam menatapi buket bunga tanpa nama pengirim tersebut dan memutar otaknya. "Siapa yang mengirimiku bunga cantik seperti ini?" batinnya bertanya-tanya.
Tak mau ambil pusing, gadis itu memilih mengambilnya saja dan beranggapan buket bunga tersebut, bisa saja dari teman atau kerabat yang memang tidak ingin diketahui namanya.
"Bibi, ayo kita masuk ke dalam. Sebentar lagi acara foto bersama," ucap Evelyn menggandeng Bibi Maureen.
"Ya ayo, kau cantik sekali sayang." Bibi Maureen menyempatkan diri memuji Evelyn.
"Bibi juga cantik," puji Evelyn tak mau kalah. Mereka berdua pun masuk ke dalam kampus, sesekali bersenda gurau bersama.
...***...
Malam harinya.
Steve telah siap dengan posisinya, pria itu memesan meja untuk orang spesial malam ini dan ia begitu senang, saat seorang wanita cantik yang sudah ditunggu-tunggu olehnya, akhirnya datang jua.
Evelyn tersenyum dan menghampiri Steve dengan langkah anggun. "Steve maaf aku terlambat," balasnya menyengir.
Steve menarik kursi untuk Evelyn duduk. "Tidak apa aku juga baru sampai, sekarang duduklah."
"Terima kasih, syukurlah kalau aku tidak membuatmu menunggu terlalu lama." Evelyn pun duduk.
"Tidak Eve, jangan merasa sungkan padaku. Akulah yang harusnya merasa bersyukur karena kau telah sudi memenuhi undanganku," balas Steve.
"Undangan dari sahabat terbaikku, mana mungkin aku melewatkannya." balas Evelyn.
Steve tersenyum simpul, mendengar wanita yang dicintainya itu hanya mengganggapnya sebagai sahabat baik dan bohong saja jika hati kecilnya tidak merasa kecewa.
"Kau ingin makan apa?" tanya Steve menunjukkan perhatiannya.
"Hmm .. Apa saja Steve," balas Evelyn terserah.
"Baiklah," balas Steve, kemudian memanggil pelayan untuk memesan menu.
Steve memesan menu masakan Eropa, namun ada satu menu yang membuat mereka berdua kebingungan saat menatapnya tersaji juga diatas meja.
"Maaf, aku tidak memesan menu ini." Steve menunjuk salah satu menu makanan Asia itu kepada si pelayan yang mengantar makanan disana.
"Oh, menu ini telah dipesan oleh seseorang untuk Nona cantik yang duduk disebelah anda Tuan," balas sang pelayan dengan ramah.
"Untukku? Dari seseorang, siapa dia?" tanya Evelyn bingung dan menatap Steve yang sama menatapnya.
__ADS_1
"Seorang pria berwajah tampan dan bertubuh tegap. Tapi maaf, saya tidak tahu namanya Nona," balas sang pelayan.
"Ya sudah tidak apa," balas Steve tak mau mempermasalahkan.
"Baiklah kalau begitu, selamat menikmati," ucap si pelayan undur diri.
Evelyn menatap kesekitar ruangan restoran dimana ia sedang duduk sekarang ini, dengan hati yang dilanda kegelisahan.
"Bunga tanpa nama pengirim dan juga menu kesukaanku dari pria tidak diketahui, siapa dia? Apa jangan-jangan," batin Evelyn menduga.
"Eve, makanlah." Steve menunggu Evelyn menyantap makanannya.
"Oh maaf Steve, selamat makan." Evelyn menyantap menu tersebut, sesekali mengamati orang-orang disekitar.
...***...
Beberapa saat kemudian.
"Steve, terima kasih atas makan malamnya. Aku menyukainya," balas Evelyn setelah mereka selesai menikmati makan malam dan sedang menunggu makanan penutup.
"Sama-sama Eve," balas Steve senang.
Pria itu berdebar tidak karuan saat menatap Evelyn yang sedang memainkan ponsel, karena selain mengundang makan malam, dirinya bermaksud untuk mengutarakan perasaan cintanya kepada Evelyn sebelum terlambat.
"Ayo Steve, utarakan saja perasaanmu padanya! Besok dia akan pergi dan ini kesempatanmu sekali dalam seumur hidup!" batin Steve menyemangati.
"Eve," panggil Steve lembut.
"Iya Steve ada apa?" tanya Evelyn dan Steve kembali panas dingin.
Pria itu meraih tangan Evelyn. "Eve, besok kau akan pulang ke negaramu dan aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi. Ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu sebelum pergi dan aku tidak ingin sampai menyesal karena melewatkan kesempatan ini."
"Ya Steve katakan saja," balas Evelyn.
Steve menghembus nafasnya panjang dan mengumpulkan semua keberaniannya, lalu menatap serius Evelyn.
"Eve, aku mencintaimu. Sudah lama aku menyukaimu dan aku berharap kau mau menerima lamaranku ini," ucap Steve. Kemudian mengambil sebuah kotak berisi cincin dan menunjukkannya kepada Evelyn.
Evelyn tercengang dibuatnya, ia tidak menyangka jika sahabat terbaiknya itu ternyata menyimpan perasaan juga terhadapnya. Tapi apa yang harus ia katakan, karena selama ini dirinya sama sekali tidak menyimpan perasaan apapun terhadap Steve.
"Eve," ucap Steve menunggu jawaban.
"Steve ma---" tiba-tiba ponsel Evelyn berdering. Membuat suasana tegang diantara mereka seketika runtuh.
"Steve, bolehkah aku menerima panggilan ini?" tanya Evelyn.
Steve mengangguk. "Tentu saja," balasnya lesu.
"Terima kasih," ucap Evelyn lalu beranjak dari kursinya dan pergi ke suatu tempat untuk mengangkat panggilan dari nomor pengguna tidak dikenali.
.
.
Bersambung.
__ADS_1