
Louise membuka kaca mata hitamnya dan berkata sekali lagi kepada Steve. "Lepaskan calon istriku dan berani sekali kau membuat kegaduhan di dalam perusahaanku ini!"
Steve berdecih. "Calon istrimu? Dia Eve-ku dan tidak ada yang boleh mengambilnya dariku termasuk dirimu kakak ipar!" protesnya tidak mau mengalah.
Nyonya Grace dibuat bingung dengan keadaan tersebut, entah bagaimana ketiganya bisa mengenal satu sama lain. Lalu meminta security perusahaan agar membawa pergi Steve dari perusahaannya agar tidak terjadi keributan.
Namun Steve enggan pergi tanpa membawa apa yang dia inginkan dan terus memegangi tangan Evelyn karena tidak ingin melepaskannya, walau penjaga keamanan yang memaksanya sekalipun.
"Aku tidak akan melepaskan Eve-ku!" teguh Steve menepis semua tangan security bahkan tidak segan-segan memukul agar tidak ada yang berani mendekat.
Louise mulai habis kesabaran dibuatnya, terlebih saat mendengar Evelyn meringis kesakitan sewaktu Steve menarik paksa. Tanpa bicara lagi Louise menghampiri Steve dan melayangkan satu bogeman keras, hingga pria muda itu refleks terhuyung.
Lalu secepat mungkin menarik tangan Evelyn agar masuk kembali ke dalam dekapannya, selagi Steve hilang keseimbangan dan mengendurkan cengkramannya pada Evelyn.
Semua orang pun berteriak histeris, ini kali pertamanya mereka melihat sang bos begitu marah.
"Keren sekali!" begitulah pandangan orang-orang itu ketika melihat Louise berani menghajar seseorang.
"Kembalikan Eve-ku!" pekik Steve dan ia harus rela diusir dari perusahaan karena telah berani membuat keributan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Louise seraya menatapi seluruh tubuh Evelyn takut ada yang terluka.
"Aku baik-baik saja Pak Louise." Evelyn menyembunyikan pergelangan tangannya yang memerah.
Louise kemudian menitahkan perintah kepada penjaga keamanan gedung, agar tidak mengijinkan Steve masuk kembali ke perusahaannya.
...***...
Nyonya Grace senantiasa memperhatikan tingkah laku putranya saat bersama dengan Evelyn, saat berada disatu ruangan bersama.
Begitu hangat dan juga perhatian, berbanding terbalik jika sedang bersama dengan Gisella, Louise sama sekali acuh terhadapnya.
Wanita paruh baya itu tidak menyangka, jika dugaannya beberapa tahun yang lalu akhirnya terjadi juga. Dimana Louise terpincut oleh pesona Evelyn dikala mantan anak pembantunya itu kini telah beranjak dewasa.
Namun setelah melihat Louise begitu perhatiaan pada Evelyn, begitu pula sebaliknya. Membuat Nyonya Grace tidak dapat berbuat banyak, selain membiarkan mereka berdua mengurus diri satu sama lain.
Seperti saat sekarang ini, Evelyn begitu telaten menyiapkan makan siang untuk mereka yang sempat tertunda. Hal penting yang tidak pernah diterima oleh Louise dari istrinya sendiri.
"Nyonya Besar, kenapa diam saja? Apa makananmu ada yang kurang, atau kau butuh sesuatu yang lain?" tegur Evelyn melihat Nyonya Grace seperti melamun.
"Tidak ada, ini sudah lebih dari cukup." Nyonya Grace sedikit terkejut saat menatap makan siangnya ternyata telah tersaji rapi juga diatas meja. "Kapan dia meletakkan makanan ini?" batinnya tidak menyadari.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," balas Evelyn kemudian mengurus Louise kembali. Dimana pria itu tiba-tiba berubah manja kepadanya.
"Louise, perusahaan kita punya cleaning servis dan orang yang mengurus makanan. Kenapa kau merepotkan Evelyn seperti itu," ucap Nyonya Grace tidak mengerti.
"Kenapa? Aku suka kalau dia sendiri yang mengurusku secara langsung," balas Louise tersenyum dan tanpa melepas tatapannya pada Evelyn. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
Nyonya Grace menghela nafas panjang, tidak dapat dipungkiri ia turut merasa senang jika Louise bahagia.
Tak berapa lama kemudian, Louise dan Nyonya Grace telah selesai menyantap makan siang mereka. Walau menu kali ini sederhana, namun cukup memuaskan untuk Nyonya Grace.
"Aku tidak menyangka bisa makan makanan sederhana seperti ini," tutur Nyonya Grace sambil mengusap bibirnya yang terkena bumbu rendang, masakan padang dengan sehelai tisue.
"Itulah, lain kali beli makanan pingir jalan seperti ini. Banyak sekali makanan enak diluaran sana yang tidak kalah enak dari masakan restoran mahal," ucap Louise.
"Tapi makanan seperti ini tidak sehat," balas Nyonya Grace.
"Tapi enak dan kenyang kan," serobot Louise.
Nyonya Grace hanya mendengus dan tidak dapat menyangkal pernyataan Louise jika makanan yang ia makan hari ini sangat enak. Bahkan suara sendawa terdengar setelah wanita itu menghabiskan air minumnya.
"Oops ..." ucapnya tersipu malu, karena tidak dapat menahan dan menyembunyikan rasa kenyangnya.
Evelyn terkekeh, ini kali pertamanya ia melihat Nyonya Grace makan banyak hingga bersendawa. Karena pengalaman hidup sewaktu tinggal di keluarga Horisson dulu, wanita glamor itu selalu berpegang teguh pada program diet ketatnya.
"Untuk apa meminta maaf, kau tidak salah. Tertawa itu wajar bukan?" bela Louise.
Nyonya Grace menekan amarahnya kali ini, karena tersadar jika Louise tengah membela apa yang selama ini ia jaga.
"Evelyn, duduklah!" titah Nyonya Grace dan Evelyn menurut.
Mereka duduk bersama, karena Nyonya Grace ingin merundingkan sesuatu kepada putranya.
"Louise, apa perkataanmu saat di loby tadi itu serius?" tanya Nyonya Grace menginterogasi.
"Aku serius Mom, aku ingin menikahi Evelyn. Tapi sayang, sampai saat ini dia masih belum memberikan jawabannya," balas Louise sambil menatap dan menggenggam tangan Evelyn yang duduk disebelahnya.
"Tapi tidak apa, karena aku telah memberikan waktu untuk dia berpikir hingga malam nanti," sambung Louise seraya mengedipkan salah satu mata genitnya kepada Evelyn.
Membuat gadis muda itu kembali salah tingkah. "Dia selalu saja genit," gerutu Evelyn dalam hati.
Nyonya Grace menghela nafasnya, dan hanya bisa menerima apapun keputusan mereka berdua.
__ADS_1
"Begitu, baiklah. Mulai sekarang Mommy tidak akan melarangmu atau ikut campur dalam memilih calon istri lagi. Mommy hanya berharap kamu bisa bahagia bersama dengan istri barumu," ucap Nyonya Grace tidak mau ambil pusing.
Karena yang terpenting baginya kali ini adalah ia ingin melihat Louise hidup bahagia bersama dengan cintanya.
Louise merasa senang setelah mendapat lampu hijau dari sang Mommy. "Terima kasih Mom."
"Sama-sama, oiya Mommy harus pulang sekarang. Kasian Daddy di rumah tidak ada yang menemani," ucap Nyonya Grace beranjak bangun dari tempat duduknya.
Lalu Louise pun memanggil Ken, untuk mengantar Nyonya Grace pulang ke rumahnya.
...***...
Setelah keadaan sepi, Louise kembali menatap Evelyn dan kali ini dia tidak akan membiarkan gadis cantik itu ke luar ruangannya dengan mudah, sebelum mendapatkan apa yang dia mau.
Dengan sigap Louise menghadang jalan Evelyn di depan pintu, lalu mengunci pintunya rapat-rapat agar Evelyn tidak bisa keluar.
"Loh Pak, kenapa pintunya dikunci?" tanya Evelyn panik sekali. Terlebih saat melihat wajah Louise seperti ingin menyergap mangsanya.
"Temani aku sebentar disini, pergi ke pengadilan setengah hari membuat aku jadi merindukanmu," gombal Louise sudah tidak malu-malu lagi.
"Tapi ini sudah waktunya aku bekerja," tolak Evelyn.
"Tidak apa-apa, anggap saja kau sedang bekerja menemani calon suamimu." Louise mendekatkan diri dan merangkul pinggang Evelyn.
"Tolonglah Pak jangan seperti ini, kau membuatku tidak nyaman," ucap Evelyn menggeliat, membuat Louise semakin gemas.
"Berikan aku jawabannya sekarang," ucap Louise meminta.
"Nanti malam, aku akan memberikan jawabanku!" tegas Evelyn.
"Tidak mau! Aku mau jawabanmu sekarang juga, atau kita tidak akan keluar dari sini sampai besok!" tegas Louise memaksa seperti biasanya.
Evelyn memutar bola matanya jengah. "Kenapa kau berubah jadi kekanak-kanakan seperti ini?"
Louise tersenyum miring. "Itu karena aku mencintaimu, terkadang cinta membuat kita berubah menjadi kekanak-kanakkan, terkadang juga membuat kita berubah gila," jawab pria itu mengungkapkan apa yang ia rasa saat ini.
Evelyn menghembus nafasnya kasar, lalu menatap Louise yang sedang menantikan jawaban darinya. "Baiklah, aku menerimamu."
Louise tersenyum sumringah dan begitu bahagia mendengarnya. "Bagus!" ucapnya. Lalu tanpa aba-aba lagi mendaratkan ciuman mesra untuk calon istrinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.