Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 61. Memberontak.


__ADS_3

Steve masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki gontai, karena baru saja mengalami patah hati, akibat cinta maupun lamarannya di tolak oleh Evelyn.


Hal tersebut membuat nyonya pemilik rumah, yaitu ibu dari Steve mempertanyakan masalah kesedihan anaknya yang baru saja pulang dari makan malam.


"Ada apa sayang? Kenapa kau pulang dengan wajah lesu seperti ini?" tanya ibu Steve bernama nyonya Merry.


"Tidak ada Mom, aku hanya letih saja." Steve menyandarkan kepalanya diatas pangkuan sang ibu.


"Kau letih? Bukankah kau baru saja makan malam bersama dengan teman wanita mu? Apa yang terjadi?" tanya nyonya Merry.


"Mom, apa boleh kita pergi ke Indonesia dan tinggal saja disana?" tanya Steve mengalihkan pembicaraan, karena enggan mengingat rasa patah hati yang menerpanya belum lama tadi.


"Apa yang kau bicarakan sayang, kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya nyonya Merry bingung.


Steve bangun dan membenarkan posisi duduknya. "Mom, aku mencintai seorang wanita. Tapi dia akan pergi dan menetap di negara itu untuk waktu yang sangat lama dan mungkin bisa saja ia tidak akan kembali kesini lagi."


Nyonya Merry berusaha menelaah berkataan sang putranya terlebih dahulu. "Tunggu, tunggu dulu sayang. Maksudmu kau sedang menyukai seorang gadis? Sejak kapan? Kenapa Mommy tidak tahu tentang hal itu?"


"Mom, aku menyukainya sejak lama. Sejak kami duduk dibangku semester pertama dan aku memang belum mengenalkannya padamu. Karena aku belum mengutarakan perasaanku padanya," balas Steve.


"Kenapa kau tidak mengatakan langsung padanya sayang, kalau memang sudah menyukainya sejak lama?" tanya nyonya Merry.


"Soalnya aku terlalu takut dia akan memutuskan hubungan pertemananku selama ini Mom," balas Steve.


"Lalu, apa kau sudah mengutarakan perasaanmu sebelum ia pergi sayang?" tanya nyonya Merry.


"Sudah," jawab Steve lesu.


"Terus, apa jawabannya?" tanya nyonya Merry penasaran.


"Dia menolakku," balas Steve sedih.


Nyonya Steve menghembus nafasnya panjang, lalu mengusap punggung putranya agar tidak larut dalam kesedihan.


Entah wanita macam apa yang telah berani menolak cinta sang anak, hingga patah hati seperti ini. Terlebih Steve merupakan pria tampan yang tidak kekurangan apapun.


"Kau harus tabah Steve, masih banyak wanita diluaran sana yang mommy yakin mereka akan menerimamu," ucap nyonya Merry.


"Tapi aku hanya mencintainya, aku tidak ingin wanita lain. Jadi Mom, aku ingin mengejarnya dan memperjuangkan cintaku padanya," balas Steve teguh.


Nyonya Merry menghembus nafasnya lagi. "Negara itu cukup jauh sayang, biaya tiket kesana pasti sangat mahal. Kau kan tahu kita bukan keluarga dari kalangan atas," balasnya memberi pengertian.


"Mom, sebenarnya kau tidak ingin kesana karena biaya yang mahal atau memang kau tidak ingin bertemu dengan masa lalumu, yaitu Daddy dan juga kak Gisella?" cecar Steve.

__ADS_1


Nyonya Merry terkesiap. "Bukan seperti itu sayang, kita memang tidak punya biaya lebih untuk pergi kesana," balasnya cepat.


"Mom, kalau begitu mintalah pada kakek tua itu untuk membelikan kita sebuah tiket. Dia tinggal disana juga bukan," ucap Steve.


"Tidak sayang, mommy sudah berjanji padanya untuk tidak akan pulang kesana," balas nyonya Merry.


"Mom, bukankah pria tua itu telah berjanji akan menafkahi dirimu dan juga aku, untuk memenuhi semua kebutuhan kita? Dia orang kaya bukan, lalu kenapa kau tidak memanfaatkannya?" tanya Steve.


Nyonya Merry terdiam dan tidak setuju dengan permintaan Steve, karena statusnya dengan pria tua yang dimaksud oleh Steve selama ini adalah tidak sah.


"Aku hanya wanita simpanannya, jadi bagaimana mungkin aku bisa mengharapkan lebih darinya," batin nyonya Merry.


"Maaf Steve, kali ini Mommy tidak bisa mengabulkan permintaanmu!" jawab tegas nyonya Merry.


"Mom, tolonglah mengerti. Aku mencintai dia, dari sekian banyak wanita hanya dialah yang paling baik dan mengerti diriku. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan status ku sebagai anak haram!" ucap Steve mulai menyinggung masa lalu sang ibu.


"Apa kau tahu mom, aku selalu menerima cibiran dari orang-orang disekitar kalau aku adalah anak haram dari pria tua itu, dan hanya dialah yang tidak pernah mencibirku," lanjut Steve mengatakan alasannya demi disetujui.


Nyonya Merry terbelalak. "Kau bukan anak haram sayang, kau anak ku dengan Anderson. Masalah keluarga kita memang cukup rumit, tapi percayalah kau anak bukan anak haram dan kau bukan anak dari pria tua itu sayang!"


Steve mengepal erat kedua tangannya. "Jika aku anak sah mu dengan Daddy, lantas mengapa kalian berpisah? Apa karena pria tua itu?" tanyanya kesal.


"Kau masih belum dewasa Steve, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata. Karena kau pasti tidak akan mengerti," balas nyonya Merry tidak ingin menceritakan masa lalunya.


"Apa yang tidak aku mengerti mom? Kau datang ke negara ini karena desakan si pria tua itu, kau berpisah dengan daddy juga karena ulah si pria breng-sek itu!" geram Steve.


"Apa itu mom? Kau tidak pernah menceritakannya padaku, kau selalu saja bilang kalau aku pasti tidak akan mengerti masalah masa lalumu, karena aku masih belum cukup dewasa. Ingatlah mom, aku sudah besar dan aku sudah berusia 22 tahun!" Steve mendengus kesal, lalu pergi dari rumahnya untuk menyegarkan hati dan juga pikirannya yang kusut.


"Steve!" nyonya Merry memanggil putranya yang pergi dengan hati sedih.


"Maaf Steve, tapi mommy memang tidak ingin kau sampai mendengar ataupun mengetahuinya. Kalau mommy ini sebenarnya adalah seorang penjahat dan punya kesalahan pada keluarga pria tua itu," isak nyonya Merry.


...----------------...


Jakarta, Indonesia.


Pada lusa harinya, Evelin telah tiba di tanah kelahiran hanya seorang diri. Dan itu sudah pasti karena pemaksaan Louise yang tidak ingin Evelyn sampai meminta para ajudan maupun dayang-dayang untuk menemani dirinya pulang ke Indonesia.


"Pergilah seorang diri, aku tidak ingin melihat kau datang kesini dengan dikelilingi oleh para pengawal seperti putri raja!" titah Louise kala itu. Dan sebagai gantinya, Louise sendiri yang selalu menemani Evelyn di selama perjalanan pulang ke tanah air.


Walau itu juga masih dengan cara sembunyi-sembunyi, agar tidak ketahuan oleh ajudan keluarga Bernadi. Yang masih terlihat memantau perjalanan sang nona pewaris kekayaan juragan tambang batu berharga.


Alhasil Evelyn pun hanya bisa mengumpat kasar, sesekali menatap tajam Louise yang selalu menguntit dirinya dikejauhan. "Aku membencimu tuan paman!" umpatnya kesal disetiap langkah perjalanan.

__ADS_1


...***...


"Naiklah ke dalam mobilku," titah Louise menyerobot antrian taksi yang ingin ditumpangi oleh Evelyn.


"Tidak! Aku sudah memesan taksi bandara," tolak Evelyn dan hendak masuk ke dalam taksi.


Namun Louise segera mengambil tas yang dibawa oleh Evelyn dan melempar ke dalam bagasi mobil miliknya.


"Hei!" ucap Evelyn tak bisa berkata-kata lagi, karena saking kesalnya dengan Louise yang selalu mengaturnya agar tetap patuh.


"Arrgh! Kau menyebalkan sekali!" gerutu Evelyn sambil menendang ban belakang mobil Louise. Lalu terpaksa masuk ke dalam mobil tersebut dengan emosi yang meluap-luap.


Louise tersenyum menatap Evelyn yang tak sudi menatapnya. "Kenapa marah? Harusnya kau berterima kasih karena aku telah menemanimu pulang dan juga mau mengantarmu hingga ke rumah."


Evelyn hanya mengertakkan giginya dan tak mau membalas ucapan Louise, apalagi menatap wajah pria itu.


"Baiklah, karena kau diam saja. Maka ikutlah aku ke apartemen," ucap Louise.


Evelyn menoleh seketika. "Apa, apartement!" ucapnya terkejut.


"Iya, selama bekerja denganku. Kau akan tinggal di sana," balas Louise.


Evelyn menggeleng. "Tidak mau!" tolaknya tegas.


"Kenapa?" tanya Louise. "Aku bertanggung jawab atas dirimu selama berada disini dan sudah pasti aku juga harus menyediakan segala keperluan serta fasilitas yang kau butuhkan," sambungnya.


"Tidak, aku ingin tinggal di rumah opa Bernadi. Kalau aku tinggal di apartemenmu, bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya. Opa pasti tidak menyetujui kalau aku tinggal sendirian di luar tanpa pengawasan," sarkas Evelyn.


"Aku tidak peduli, kau carilah alasan sendiri," balas Louise cuek bebek.


Evelyn mengepal erat kedua tangannya, lalu meninju bahu Louise sekuat tenaga. "Kau orang menyebalkan! Aku telah banyak membuat alasan dan berbohong kepada semua orang, hanya demi pulang kesini dan menepati janjiku padamu. Aku juga sudah menuruti semua keinginan tidak masuk akalmu ini tuan, tapi kau masih saja egois!"


"Aku tidak ingin menurutimu lagi, jadi turunkan aku sekarang juga!" Evelyn membuka sabuk pengamannya, lalu menendang pintu mobil Louise dengan kasar. "Buka pintunya!"


Louise hanya menghembus nafasnya kasar, saat melihat tingkah liar Evelyn yang memberontak didalam mobilnya.


"Turunkan aku! Apa kau tidak punya telinga!" sentak Evelyn.


Louise mendesaah kesal, lalu memberhentikan mobilnya ditepi jalan dekat taman. Ia menatap tajam Evelyn yang masih mengamuk lalu menunggu hingga gadis itu tenang kembali.


"Mengamuk saja sesukan hatimu, karena apapun bentuk perlawananmu kepadaku. Aku tetap tidak akan mengubah keputusanku!" ucap Louise menegaskan.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2