
Hari minggunya.
Hotel.
Satu persatu tamu undangan telah hadir dan mulai memenuhi seisi ruangan, dimana sebuah acara pertunangan akan segera dilangsungkan.
Sementara itu Louise ikut dalam rombongan keluarga Steve dipaling belakang, ia berdiri bersama dengan Gisella yang tersenyum gembira dan selalu saja menggandeng tangannya, tanpa mau melepaskan, hingga Louise dibuat tidak nyaman olehnya.
Dan setibanya di depan pintu ruangan, dimana ruangan tersebut merupakan tempat dilangsungkannya pertunangan Steve dan Evelyn. Louise menghela nafasnya panjang, sambil mengikuti langkah kaki para pembawa nampan seserahan didepannya, yang mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.
Jantungnya yang terus berdebar dan tiba-tiba hatinya dilanda kegelisahan, karena sebentar lagi Evelyn akan terikat oleh pria lain.
Dan sesampainya ia di dalam, kedua netranya mengunci pergerakan seorang gadis cantik tengah berdiri anggun, sambil menyapa keluarga Steve yang baru saja masuk ke dalam, dengan senyuman hangat.
Louise terpesona, kedua matanya terus saja melihat kearah Evelyn berada. Hingga tiba gilirannya berpapasan dengan Evelyn, ia pun tersenyum menanti giliran bersalaman.
Namun Gisella yang memperhatikan tingkah Louise, segera menarik tangan suaminya agar menjauh, sebelum berhasil menyapa Evelyn.
"Tidak perlu bersalaman, kita langsung duduk saja," ucapnya dengan tatapan sinis.
Evelyn memutar bola matanya malas. "Selamat datang Tuan Paman dan Nyonya Bibi, silahkan masuk dan duduklah dimeja yang telah disediakan," sapanya hormat.
"Terima kasih, adik ipar." Gisella menunjukkan senyum smirknya, sambil menatapi Evelyn dengan tatapan menyindir.
Karena telah berhasil menjauhkan sang suami dari wanita yang selalu saja membuat hidupnya tidak tenang. Lalu wanita itu berjalan lenggak lenggok menuju mejanya dan menunjukkan senyum terbaik kepada semua orang, sambil terus menggandeng tangan Louise.
...***...
Nyonya Merry memimpin acara tersebut dan secara langsung melamar Evelyn dihadapan semua orang, lalu meminta Steve untuk menyematkan cincin dijari manis Evelyn.
Begitupun sebaliknya, Evelyn menyematkan cincin dijari manis Steve dengan diiringi tepuk tangan sukacita dari semua orang yang menyaksikannya.
"Dengan ini, kalian berdua telah terikat oleh hubungan pertunangan. Dan Mommy harap kalian berdua saling menjaga perasaan satu sama lain dan tetap setia hingga pernikahan kalian tiba nanti," ucap Nyonya Merry kepada anak dan calon menantunya.
"Tentu Mom, aku akan selalu setia kepada Evelyn. Ya kan Eve," balas Steve kemudian menyenggol lengan Evelyn yang termenung.
__ADS_1
"Ya Steve," jawab Evelyn dengan senyuman tipis.
Steve menarik lembut kedua bahu Evelyn agar bisa berhadapan dengannya, lalu pria itu mendaratkan sebuah kecupan hangat dikening Eveltn tanpa ijin lagi.
Hingga Evelyn pun tersentak kaget karena aksi Steve dan refleks mendorong dada Steve agar menjauh darinya.
"Maaf Steve, aku ingin ke toilet sebentar." Evelyn memutar balik badannya dan pergi dari ruangan itu sejenak.
Steve tersenyum dan terkekeh kecil sambil menatap Evelyn yang berlari dikejauhan. "Apa dia malu," gumamnya sendiri. Lalu duduk bersama dengan keluarganya.
"Wah Steve, kau berani juga! Kalau aku jadi kau, aku akan mengecup bibirnya juga!" ucap Gisella setengah berteriak, sambil melirik Louise yang terlihat kesal. "Benarkan sayang," ucapnya pada Louise dengan mesra.
Louise hanya mendesaah kesal, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Entah mengapa melihat kejadian tersebut, membuat dirinya merasa cemburu.
"Kau ingin kemana sayang?" cegah Gisella.
"Aku harus menghubungi seseorang," jawabnya singkat. Lalu meninggalkan ruangan tersebut untuk mencari tempat sepi.
...***...
Disisi lain, jika semua orang sedang bersuka cita ditengah-tengah acara hingga riuh kemana-mana, kondisi berbeda justru dirasakan oleh Evelyn.
Pasalnya wanita itu merasa hampa, karena tidak ada sanak keluarga disisi, yang menemani serta membantunya mempersiapkan segala sesuatu. Termasuk sang kakek, yang tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali selama acara.
Ia merasa ada sesuatu yang aneh, karena selama acara pertunangannya berlangsung, ia merasa acara ini seperti telah dikuasai oleh keluarga Steve.
"Aku harus menghubungi Opa," ucapnya lalu melakukan panggilan Video dan tak butuh waktu lama panggilan itu pun terhubung.
"Opa, kenapa kau tidak hadir diacara pertunanganku ini?" tanyanya berusaha tegar.
"Maaf sayang, Opa hanya kurang sehat dan tidak sanggup berjalan jauh," balas Opa beralasan.
"Kau sakit? Kenapa tidak bilang padaku dan malah menyembunyikannya," balas Evelyn menangis sambil menatapi layar ponsel.
"Maaf, bukannya Opa tidak mau datang diacaramu sayang. Tapi memang Opa sedang berhalangan hadir. Kalau butuh sesuatu, bilang saja sama pak Christ dan bibi Maureen ya. Sebentar lagi mereka akan datang menemanimu. Oiya Eve, Opa hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu sayang," kecup sang Opa Bernadi dengan tatapan sedihnya.
__ADS_1
Evelyn tersenyum getir. "Iya Opa tidak apa-apa, aku tenang jika bibi Maureen dan paman Christ akan datang kesini. Opa istirahat saja, semoga cepat sembuh, aku mencintaimu."
"Opa juga mencintaimu," balas sang Opa dan panggilan itu dimatikan.
Evelyn meremas ponselnya dan menahan sesak didalam dadanya itu, sesekali menguatkan hati agar terus melanjutkan acara pertunangannya dengan Steve hingga selesai.
"Pikirkanlah Eve, Steve adalah pria baik. Kau harus yakin, kalau Steve akan selalu membahagiakanmu. Pikirkanlah ini juga, setidaknya dengan pertunangan ini kau bisa terbebas dari gosip yang beredar dan membuktikan kalo kau bukanlah simpanan pria beristri!" batinnya menguatkan.
Evelyn menghembus nafasnya berkali-kali, lalu keluar dari toilet untuk kembali ke dalam ruangan.
Namun baru saja dia keluar dari pintu toilet, tiba-tiba sebuah uluran tangan menariknya dan membawanya hingga ke tempat yang sepi.
"T-tuan, lepaskan tanganku!" hentak Evelyn, sesekali menoleh ke segala arah takut ada orang yang melihat mereka berdua.
"Mau apa kau membawaku kesini Tuan, bagaimana kalau ada orang yang mencari ku atau ada orang yang memergoki kita berdua disini!" bisik Evelyn dengan nada menekan.
Louise merapatkan tubuhnya dan menempelkan jari pada bibir Evelyn agar diam, sambil menatap wanita yang sudah bertunangan itu dengan tatapan tidak relanya.
"Apa kau habis menangis?" tanya Louise sambil mengusap air mata yang tertinggal di ujung ekor mata Evelyn menggunakan ibu jarinya.
"Jangan sentuh aku! Aku hanya kelilipan debu," balas Evelyn menepis kecurigaan Louise.
"Mana debunya?" Louise mendekatkan wajahnya, lalu meniupi satu persatu netra Evelyn dengan hembusan lembut.
Sedangkan Evelyn langsung membeku seketika, bahkan perlakuan Louise tidak bisa ia tolak begitu saja. Ia tergugu dan bingung harus berkata apa lagi agar Louise mengerti, bahwa perhatian terhadapnya itu adalah salah.
"Kau mungkin bisa membohongi semua orang, tapi kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu kau pasti sedang sedih hari ini, karena kau sendirian. Tidak ada keluarga yang menemanimu, atau acara pertunangan yang terjadi hari ini juga karena terketerpaksaanmu saja," ucap Louise.
Evelyn berlinang air mata, ucapan Louise membuat hati kecilnya merasa sedih. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya dan menunduk, menyembunyikan rasa sedihnya itu dihadapan orang lain.
.
.
Bersambung.
__ADS_1