Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 34. Keberuntungan Gisella


__ADS_3

Keesokan paginya.


Selama perjalanan pergi ke sekolah, Evelyn tertidur pulas didalam mobil karena rasa kantuk yang menjalar pada kedua matanya, akibat tidak dapat tidur semalaman.


Hal tersebut disampaikan oleh pak Rahmat secara langsung kepada sang majikan, saat melakukan video call melalui ponsel genggamnya.


"Non Evelyn sedang tertidur tuan, apa perlu saya bangunkan?" tanya pak Rahmat menepikan sejenak kendaraannya.


"Tidak pak Rahmat, biarkan saja dia tertidur. Tidak perlu membangunkannya," balas Louise menatapi wajah kantuk Evelyn dari layar ponselnya.


"Baik tuan," patuh pak Rahmat sang supir pribadi, yang sebelumnya ditugaskan oleh Louise untuk mengantar jemput Evelyn ke sekolah.


Louise menghela nafasnya, kemudian mengakhiri panggilan video call tersebut. "Kata Selvi dia semalam tidur, tapi kenapa pagi ini dia terlihat seperti kurang tidur?" batinnya bertanya-tanya.


Pria tampan itu menyugar rambutnya, kemudian menatap jam yang melingkar dipergelangan tangan.


"Setengah 6 pagi?" gumam Louise. kemudian bangkit dari kursi taman dimana ia menghabiskan malam pertamanya seorang diri disana. "Semoga saja dia belum bangun," gumamnya lagi.


...***...


Pria itu bergegas masuk ke dalam kamar hotel, hanya untuk sekedar membersihkan diri dan juga berganti pakaian.


Ia melihat sekilas Gisella yang masih tertidur pulas diatas kasur, dengan ditemani sebuah bantal guling sebagai teman tidurnya.


Ada sedikit perasaan kasian kepada wanita itu, namun itu salahnya sendiri. Karena pernikahannya sempat dibatalkan, tapi ia malah bersikeras ingin tetap melanjutkannya.


Terlebih Gisella juga sudah mengetahui jika dirinya adalah seorang pemain wanita yang tidak pernah ingin serius dengan pasangannya, apalagi menjalani sebuah hubungan pernikahan. Jika bukan bodoh, lalu apa namanya?


Cinta?


Gisella memang sangat mencintai Louise, namun Louise yakin, yang dicintai oleh Gisella adalah tubuh sempurnanya itu dan bukanlah sebuah cinta yang tulus dari dalam lubuk hati.


Itu terlihat dari cara Gisella setiap kali memandang Louise, tatapan laparnya jika mereka sedang berduaan bersama dan itu diperhatikan oleh Louise selama 6 tahun belakangan ini.


Akan tetapi, Louise tak ingin ambil pusing dengan hubungan barunya dengan Gisella. Karena yang ada didalam pikirannya sekarang itu adalah, bagaimana cara menyembunyikan Evelyn rapat-rapat dari anak buah opa Bernadi suatu hari nanti, jika pria tua itu mulai mencurigai dirinya.


Louise memulai ritual mandi pagi, dengan membasahi seluruh kepalanya dibawah guyuran air shower. Rasa segar dari air yang mengalir ke sekujur tubuh, membuat pikiran dan raganya kembali bersih dan jernih.

__ADS_1


Hingga 10 menit pun akhirnya berlalu dan Louise telah keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk kecil yang melingkar erat mengelilingi pinggang, untuk menutupi area sensitif kejantanannya dan rambut yang terlihat masih basah sehabis keramas.


Sementara itu dibagian tubuh atasnya masih terpampang sangat jelas, hingga menampilkan seluruh otot-otot atletis sempurna nan menggiurkan sebagaimana pria dewasa menjaga tubuhnya kebanyakan.


Setelah itu Louise kembali menyambar ponselnya, menyempatkan diri membaca pesan masuk sebelum memakai pakaian.


...***...


Disisi lain Gisella mulai mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali, sesekali menguap karena rasa kantuk akibat begadang semalaman demi menunggu seseorang datang menghampirinya diatas kasur.


Namun hingga pagi menjelang tiba, ia masih belum juga melihat batang hidung Louise atau batang lain disampingnya.


"Dia benar-benar tidak masuk ke dalam kamar dan tidak sedikitpun menyentuhku!" dengus Gisella kesal. Sesekali memukul sisi kasur yang kosong disebelahnya.


Wanita itu pun mencebik, kemudian memilih melanjutkan kembali tidurnya. Namun saat ia berbalik badan, kedua matanya lantas terbuka penuh. Saat melihat punggung kekar seorang pria yang sudah tidak asing lagi baginya.


"L-louise ... D-dia datang," batin Gisella gugup sekali.


Gisella menutup mulutnya yang sempat ternganga, lalu segera memejamkan kedua mata kembali dan berpura-pura tidur saat Louise menoleh ke arahnya.


Wanita itu begitu berharap agar Louise datang menghampiri dirinya, menyentuh atau apalah itu terserah. Namun sayang beribu sayang, pria itu malah melengos melewati kasur begitu saja dan memilih menelepon seseorang di teras balkon kamar hotel.


"Siapa orang yang dia telepon sepagi ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Gisella kemudian beranjak dari tempat tidur dan merapatkan dirinya di pintu kaca yang sedikit bergeser, lalu memasang telinganya lebar-lebar untuk menguping pembicaraan tersebut.


Sedangkan Louise yang tidak tahu jika Gisella sedang menguping pun, tak menaruh curiga dengan kondisi sekitar.


"Selvi ... Jika ada yang kurir datang mengirim paket atas namaku, tolong di terima. Paket itu adalah ponsel untuk Evelyn, setelah dia pulang, berikan ponsel itu padanya," ucap Louise.


Mengingat kemarin Evelyn tersesat, karena tidak memiliki ponsel pintar ditangannya.


"Baik tuan," patuh Selvi seperti biasanya.


"Terima kasih, tolong jaga dia dengan baik. Jangan biarkan dia keluar rumah seperti kemarin lagi," titah Louise memperingati.


"B-baik tuan," balas Selvi sebelum panggilan itu dimatikan.

__ADS_1


Gisella yang kebetulan mendengar perbincangan itu menjadi kesal sekali, bahkan kain gordeng di dekatnya itu tidak luput dari cengkramannya.


"Evelyn lagi! Ternyata benar dugaanku, selama ini Louise telah menyembunyikannya disuatu tempat. Tidak ku sangka anak pembantu itu semakin lama semakin meresahkan saja, bahkan dia telah berani merebut perhatian suamiku!" umpat Gisella, sambil menghentak kasar kain hordeng, lalu pergi dari tempat tersebut sebelum Louise mendapati dirinya.


...***...


Setelah selesai menghubungi Selvi dan menitipkan pesan padanya, Louise kembali masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaiannya.


Pria itu melewati kasur sekali lagi, dimana Gisella masih melanjutkan drama putri tidurnya.


"Syukurlah dia belum bangun," gumam Louise kemudian mulai memakai pakaiannya.


Gisella tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan mengintip momen itu sambil menyipitkan kedua matanya.


Tiba-tiba jantungnya berdegub sangat kencang, sesekali menelan ludahnya susah payah. Dirinya termasuk beruntung, walau semalam tidak sempat melakukan hubungan bersama dengan suaminya.


Namun Gisella masih bisa melihat seluruh tubuh Louise dengan sangat jelas.


"I-itu," batinnya menjadi salah tingkah.


Ketika tanpa sengaja kedua netranya sekilas menangkap sesosok benda pusaka kebanggaan setiap wanita milik Louise, yang terlihat sangat besar nan panjang, walau masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Bergelantung manja dan diapit oleh dua lato-lato.


...----------------...


PT Indo Berlian Perkasa.


"Katakan Christ, informasi apa yang sudah kau dapatkan hari ini?" tanya Opa Bernadi.


"Tuan besar, sepertinya Louise masih menikmati masa pengantin barunya. Karena pagi ini dia belum terlihat keluar dari kamar hotel," balas pak Christian sang asisten kepercayaan Opa Bernadi.


"Pantau terus kemana pria itu pergi, aku ingin sekali mendapatkan informasi mengenai gadis yang kemarin bersamaku. Siapa saja orang-orang yang berada di dekat Louise, tolong sekalian kau pantau juga. Termasuk Horisson dan juga keluarganya!" titah tegas Opa Bernadi tidak mau tahu.


"Baik tuan besar," patuh pak Christian menjalankan perintah.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2