
Mansion Opa Bernadi.
Mobil yang dibawa oleh Louise telah terparkir dihalaman mansion Opa Bernadi, dan Evelyn segera keluar dari mobil itu untuk menemui sang kakek.
Setibanya di kamar sang Opa, Evelyn menangis tersedu-sedu, karena bagaimana tidak. Kakek kandungnya itu sedang ditangani oleh beberapa dokter ahli akibat mengalami pecah pembuluh darah dan juga pendarahan pada otak.
Sehingga mengakibatkan opa Bernadi tidak sadarkan diri atau bisa dibilang juga opa Bernadi saat ini sedang mengalami koma.
"Kita harus segera membawa beliau ke rumah sakit dan segera melakukan operasi!" begitulah perkataan salah satu dokter ahli saraf di kamar itu.
"Apa yang terjadi pada Opa, Bibi?" tanya Evelyn. Dia menghampiri Bibi Maureen yang menangis dan terlihat cemas.
"Eve, kau datang. Opa mu memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, lalu dia mengeluh sakit kepala dan jatuh begitu saja. Dokter bilang, tuan besar mengalami pendarahan otak, karena pembuluh darah di dalam otaknya ada yang pecah," jawab Bibi Maureen.
Evelyn mendadak lemas saat itu juga dan memandangi sang kakek yang masih tidak sadarkan diri. "Opa ..." lirihnya tidak sanggup.
Terlebih saat para tenaga medis berusaha memberikan pertolongan pertama dan mulai memasangkan alat bantu ditubuh Opa Bernadi, selama menunggu ambulan datang.
Lalu, tak butuh waktu lama. Ambulan pun datang, dan Opa Bernadi segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
"Tuan, aku ingin kesana!" pinta Evelyn ingin menemani sang kakek yang sedang berjuang sendirian.
Louise mengangguk dan segera mengambil mobil untuk mengantar Evelyn menuju rumah sakit. Sementara Bibi Maureen menjaga rumah dan menunggu pak Santos pulang terlebih dahulu, barulah ia menyusul ke rumah sakit.
...----------------...
Rumah sakit.
Evelyn masih setia menunggu di depan ruang operasi sambil terus berdoa untuk kesembuhan sang kakek, sesekali menangis terisak.
Hal tersebut membuat Louise tidak tega melihatnya dan lengan kekar pria itu refleks merangkul Evelyn, lalu menyandarkan kepalanya dibahu untuk dijadikan tempat bersandar.
"Tuan, apa opa akan sembuh?" lirih Evelyn.
Louise menghembus nafasnya perlahan dan berusaha menenangkan Evelyn yang terus saja menangis dan berucap pesimis.
"Sudah pasti sembuh, kau harus terus percaya. Opa mu tidak akan pergi meninggalkanmu," balas Louise. Sambil mengusap kepala Evelyn dan membelai lembut rambutnya.
Evelyn mengangguk-angguk sambil menyeka air mata yang terus saja jatuh berguguran, sesekali menengok pintu ruang operasi dan berharap sang dokter memberikan kabar baik.
Dan tak berselang lama kemudian, pintu ruang operasi itu terbuka dan sebuah ranjang pasien didorong keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Opa," ucap Evelyn segera menghampiri dan mengikuti kemana langkah para perawat membawa kakeknya itu.
Sedangkan Louise bertanya kepada dokter yang bertugas menangani opa Bernadi, untuk menanyakan kondisi kesehatannya.
"Operasi tuan Bernadi berjalan dengan lancar, akan tetapi beliau saat ini masih dalam kondisi koma. Kita hanya dapat berharap agar tuan Bernadi bisa segera sadar," balas Dokter Gunawan.
"Begitu, ya sudah terima kasih Dokter." Louise meninggalkan Dokter Gunawan setelah mendapatkan penjelasan darinya, lalu menyusul kemana Evelyn pergi.
...***...
Beberapa jam kemudian.
Sementara itu Steve menghubungi Evelyn berkali-kali, namun panggilannya tidak kunjung diangkat.
Hal itu membuat Steve bertanya-tanya, tentang kondisi Evelyn saat ini. Mengingat terakhir kali mereka berbicara, Evelyn terlihat sangat kesal kepadanya.
Steve mencoba menuju kamar Evelyn dan mengetuknya hingga cukup lama, namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam.
"Kemana dia? Apa sudah tidur?" gumamnya dalam hati.
Steve mencoba menghubungi sekali lagi dan tak lama setelah ia berusaha. Akhirnya Evelyn menjawab pangilannya itu.
"Hallo Eve, kau sedang apa dan dimana? Kenapa tidak mengangkat pangilanku atau membalas pesanku Eve?" cecar Steve.
Steve menghela nafas lega. "Syukurlah kalau begitu, apa aku boleh masuk ke dalam?" ucapnya bertanya.
"Maaf Steve, aku ingin melanjutkan tidurku. Apa kau tidak keberatan?" balas Evelyn.
"Eve, apa kau masih marah padaku karena tidak menuruti keingananmu menjemput opa mu itu?" Oke aku minta maaf Eve," ucap Steve.
"Tidak apa Steve, aku mengerti. Aku lelah hari ini dan besok sudah mulai kembali bekerja, jadi maaf Steve, aku ingin tidur." Balas Evelyn dan mematikan ponselnya.
Lalu wanita itu pun kembali menghampiri ruangan dimana opanya sedang menjalani masa perawatan intensif, sesekali berderai air mata karena tidak tahan melihat kondisi kakeknya itu.
Sedangkan Louise juga sedang menerima panggilan dari Gisella, yang menanyakan mengenai keberadaan dirinya saat ini.
"Aku ada pekerjaan mendadak dan tidak akan pulang sampai besok malam," balas Louise.
Lalu mematikan ponselnya dan tidak memperdulikan amarah Gisella yang sedang meletup-letup diujung panggilannya itu.
Louise segera menghampiri Evelyn, sambil menjinjing sekantung plastik berisi beberapa makanan ringan dan juga air mineral. Ia duduk dan memperhatikan Evelyn yang masih setia berdiri, menatap Opa Bernadi melalui jendela kaca tebal dihadapannya itu.
__ADS_1
"Evelyn, duduklah." Pinta Louise.
Namun Evelyn menggeleng. "Tidak tuan, aku ingin lihat opaku sebentar lagi."
Louise menghela nafasnya panjang. "Kau berdiri disana juga percuma, lebih baik istirahatkan dirimu dan makananlah sesuatu. Aku tidak ingin kau ikutan sakit. Karena kalau kau sakit, siapa yang akan repot mengurusmu?" ucapnya.
Evelyn terdiam cukup lama dan menoleh kebelakang dimana Louise tengah duduk saat ini. Sesekali menelan ludahnya susah payah, karena tergiur dengan makanan yang dibawa oleh Louise.
"Hm, burger ini enak sekali. Apalagi kentang gorengnya dan lihat ini, aku juga membeli minuman hangat dan beberapa minuman kaleng dingin untuk kita berdua," ucap Louise membujuk.
"Kesinilah, tenang saja aku tidak akan meminta bayaran padamu," bujuknya kembali.
Evelyn perlahan duduk disamping Louise dan mengambil burger yang ditawarkan sebelumnya, sambil menatap sang tuan paman yang makan begitu lahapnya.
"Makanlah, tidak usah malu-malu," ucap Louise merasa diperhatikan.
"Terima kasih tuan," balas Evelyn merasa tersentuh. Karena dalam kondisi seperti ini, ternyata hanya Louise yang mengerti dirinya dan mau menemaninya disaat sulit.
"Tidak perlu berterima kasih, ini hanya sepotong burger dan jangan makan sambil menangis seperti itu. Aku merasa seperti memberi makan orang kelaparan saja," ejek Louise.
Evelyn terisak lagi, nyatanya gurauan Louise tidak dapat merubah suasana hatinya. Karena yang ada didalam pikiran dan hatinya sekarang ini adalah, memikirkan kembali tentang keputusannya itu.
Ia benar-benar takut dengan keputusannya sendiri, dan apakah Steve memang benar-benar pria yang tepat untuknya dimasa depan atau tidak.
"Jangan terlalu banyak dipikirkan, apa yang terjadi saat ini kau harus tetap terus berjuang. Apa yang telah terjadi, jadikanlah pelajaran," nasehat Louise.
Evelyn menoleh dan menatap Louise. "Terima kasih atas nasehatmu Tuan," balasnya.
Louise tersenyum. "Apa kau masih ingat perkataanku egoisku dulu padamu, sewaktu kau masih menjadi anak pembantuku, hem."
"Apa itu?" tanya Evelyn.
"Aku adalah satu-satunya keluarga dan orang yang peduli padamu," balas Louise.
Evelyn melebarkan kelopak matanya dan menatap Louise dengan linangan air mata. Seketika ia menyadari, bagaimana bisa dia melupakan semua kenangan itu, dimana Louise selalu saja ada untuknya.
Menemaninya sewaktu masih kecil, membelanya dari amukan nyonya Grace, menemaninya saat kehilangan sang ibu angkat serta amanatnya waktu itu.
Dan sekarang, dimana ia sedang sendiri sekarang ini, tidak dapat dipungkiri lagi-lagi Louise lah yang ada untuk dirinya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.