
Beberapa jam kemudian.
Evelyn meringkuk disudut ranjang dan menangis tersedu-sedu, sambil mencengkram erat bed cover yang menyelimuti tubuh polosnya. Ia tengah mengalami trauma setelah apa yang dilakukan oleh Louise padanya, sekaligus merasakan nyeri pada bagian intinya itu.
"Hiks, sakit sekali ..." rintih Evelyn menangis.
Melihat hal tersebut Louise menjadi tidak tega, ia menghela nafas berkali-kali, lalu mendekati Evelyn dan ingin memeluknya untuk menenangkan.
Namun Evelyn beringsut semakin kesudut. "Pergilah, jangan dekati aku ..." lirihnya membuang muka. Suaranya terdengar serak karena terlalu lama menangis dan berteriak hingga menjerit ketakutan.
Akan tetapi Louise tidak menyerah begitu saja, ia tetap memeluk Evelyn walau gadis itu menolak untuk didekati. "Maaf, jangan takut aku akan bertanggung jawab dan aku akan segera memajukan tanggal pernikahan kita," ucapnya menenangkan, sekaligus memper-erat pelukannya.
Evelyn semakin terisak, perlawanan berat sepanjang tadi membuatnya kehilangan seluruh tenaga, hingga tidak dapat berkata-kata lagi untuk memarahi pria yang telah merengkuh kenikmatan darinya.
Evelyn hanya bisa menggigit otot lengan Louise dengan kuat, untuk meluapkan semua rasa kekesalannya kepada pria itu, karena telah merenggut sesuatu yang paling berharga darinya secara paksa.
Louise meringis kesakitan, namun ia tetap berusaha menahan dan menerima semua kekesalan Evelyn, yang sedang gadis itu diluapkan kepadanya.
Karena ia sendiri menyadari kesalahannya, terlebih ketika melihat noda darah berceceran cukup banyak di atas sprei, membuat pria itu menyadari sesuatu.
Ia telah mengambil sesuatu yang paling berharga bagi seorang gadis, yaitu mahkota keperawanannya.
Louise tidak dapat memungkiri satu hal tersebut, karena tadinya ia hanya berniat menggertak Evelyn saja agar menurut padanya.
Namun siapa sangka, akhirnya malah kebablasan seperti ini. Karena dirinya tidak dapat menahan gelombang hasrat yang tiba-tiba bergejolak, saat melihat kemolekan dan mulusnya tubuh Evelyn. Serta suara lenguhan merdu, yang keluar saat daerah sensitif wanita itu tengah dimainkan olehnya.
Selain itu, Louise juga tidak dapat menyangkal satu hal penting lainnya. Dimana ia melakukan hal tersebut atas dasar cintanya yang besar kepada Evelyn. Sehingga saat melakukan penyatuan, Louise begitu sangat menikmati dan melakukannya dengan penuh penghayatan.
Sungguh suatu pengalaman berbeda juga untuk Louise sendiri, karena ini kali pertamanya ia merasa puas bermain dengan seorang wanita. Bahkan Louise sendiri mengakui, jika Evelyn-lah wanita yang paling nikmat dan luar biasa, diantara semua wanita yang pernah ia tiduri.
"Honey berhentilah menangis, aku berjanji tidak akan ada wanita lain selain dirimu disisiku maupun dihatiku. Karena aku selalu mencintaimu Evelyn," ucap Louise lalu mengecup dalam-dalam puncak kepala wanita itu.
Evelyn menggeleng, entah perkataan Louise itu penuh kebohongan atau kejujuran. Namun satu hal yang pasti, dia telah menjadi milik Louise seutuhnya. Dan berharap dirinya tidak ditinggalkan seperti wanita-wanitanya yang pernah ditiduri sewaktu lalu.
...***...
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Cukup lama sekali mereka bertahan pada posisi seperti itu, Louise mulai merasakan kalau Evelyn sudah semakin hilang kekuatan. Itu terasa dari gigitan gadis itu yang telah mengendur dan pada akhirnya menjatuhkan kepala pada dada berototnya.
Louise tersentak, lalu menunduk menatap wajah Evelyn yang telah tertidur pulas dalam dekapannya. Ia pun segera membaringkan tubuh lelah Evelyn diatas kasur dan menyelimutinya agar nyaman, lalu ia sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah itu Louise kembali ke pembaringan, sambil membawa wadah berisi air hangat dan juga handuk kecil, untuk membersihkan bagian tubuh Evelyn yang kotor akibat ulahnya, terutama pada bagian inti wanita itu.
Jika sebelumnya Louise selalu meninggalkan wanita tidurnya setelah bermain, dan hanya memberikan tips sejumlah uang cukup banyak sebelum pergi.
Lain halnya dengan Evelyn, dengan telaten Louise membersihkan daerah sensitif wanita itu, sebagai bentuk tanggung jawabnya tanpa rasa jijik sedikitpun. Sesekali berhenti sejenak, jika Evelyn merintih serta menggeliat kecil saat dibersihkan.
Tak butuh waktu lama, Louise telah selesai membersihkan tubuh Evelyn dan memakaikan pakaian baru pada tubuh Evelyn. Setelah sebelumnya ia merobek habis pakaian wanita itu hingga berserakan dilantai, akibat keganasannya saat ingin mengambil apa yang ia mau.
Lalu, Louise berbaring disamping Evelyn dan memutuskan untuk tidur bersama diatas satu ranjang yang sama. Tidak lupa memberi kecupan selamat malam dan memeluknya erat hingga pagi menjelang.
...***...
Keesokan harinya.
Dimana terdengar suara Evelyn menangis, serta memaki tuannya sepanjang malam. Mereka juga mendengar suara-suara aneh lainnya, yang membuat bulu kuduk siapapun seketika berdiri jika mendengarnya.
Jerit ranjang tidak terkendali, terutama suara berat Louise begitu kentara ditelinga mereka, walau hanya sayup-sayup saja, namun mampu memecah kesunyian malam.
"Ini sudah jam delapan pagi, tapi aku belum melihat tuan Louise maupun Evelyn keluar dari kamarnya," ucap Mika.
"Biarkan saja, mungkin mereka sedang lelah. Karena habis bertengkar," balas Selvi dengan kedua tangan sibuk membersihkan ruang tengah.
"Kak Selvi, apa kau mendengar apa yang ku dengar kemarin malam? Sudah begitu, aku tidak melihat tuan Louise keluar dari kamar Evelyn hingga pagi ini. Apa kau memikirkan apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Mika memastikan pikirannya sama.
"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak mendengar suara apapun. Kalau tuan Louise tidur bersama dengan Evelyn, apa salahnya. Toh mereka sebentar lagi akan menikah," balas Selvi tidak ingin berpikir lebih jauh.
"Benar, tapi apa tidak ada yang aneh. Maksudku, sepertinya tuan Louise telah memperkosa Evelyn?" bisik Mika penuh hati-hati.
Selvi melebarkan kelopak matanya dan menatap tajam Mika. "Hush! Hati-hati jika bicara, bagaimana jika tuduhanmu itu salah. Kau mau tuan Louise memecatmu?"
__ADS_1
Mika menggeleng dan menutup mulutnya. "Tidak mau," balasnya cepat.
"Kalau begitu berhentilah mencampuri urusan orang lain," ucap Selvi menasehati.
"Baik Kak," balas Mika lalu mereka melanjutkan pekerjaan rumah yang lain.
Sementara itu, Evelyn mulai mengerjap-ngerjapkan matanya dan teringat akan kelakuan Louise kepadanya kemarin malam.
Seketika ia menangis kembali, mengingat mahkotanya telah diambil secara paksa oleh Louise. Namun apalah daya, walau sekeras apapun ia menangis, mahkota berharga itu tidak akan pernah bisa ia ambil kembali.
Sekuat tenaga Evelyn bangun dari tempat tidurnya dan memandangi tubuhnya yang telah berbalut piyama baru. "Siapa yang memakaikanku baju ini?" batinnya.
Lalu belum sempat ia menurunkan kedua kaki, Evelyn kembali merasakan nyeri pada bagian intinya itu.
"Auw!" ringisnya kesakitan.
Rintihan Evelyn membuat Louise terbangun dari mimpi indahnya. "Honey, kau mau kemana?" tanyanya sambil menahan.
Evelyn menepis tangan Louise dari pinggangnya. "Bukan urusanmu, mulai sekarang menjauhlah dariku!" ucapnya ketus.
Louise mendesahh panjang, kemudian menggeser duduknya hingga ke tepi ranjang dan duduk disamping Evelyn. "Maaf, apa punyamu masih sakit?"
Evelyn kembali berderai air mata, karena ia merasakan sakit bukan pada bagian intinya saja. Melainkan sekujur tubuhnya terasa remuk, namun ada satu bagian lagi yang jauh lebih menyakitkan daripada semua rasa sakit dibagian fisiknya.
Yaitu bagian dalam hatinya.
Evelyn merasa sekarang ini ia hanyalah wanita tidak berharga, karena wanita tanpa mahkota apalah artinya. Walau ia tahu yang mengambilnya itu adalah calon suaminya sendiri.
"Aku seperti wanita rendahan saja," gumamnya menyalahkan diri sendiri.
"Apa yang kau katakan? Kau milikku yang berharga dan selamanya akan menjadi seperti itu," balas Louise menyakinkan. Ia terus memeluki Evelyn dan memintanya agar tidak bersedih lagi.
.
.
__ADS_1
Bersambung.