Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 68. Ingin bercerai


__ADS_3

Evelyn terbelalak ketika melihat Louise sudah berdiri didepan pintu dan yang membuat gadis itu semakin panik adalah sang tuan paman melangkahkan kakinya masuk kedalam tanpa ijin lagi, dengan tatapan kesal tertuju kepadanya.


"T-tuan, k-kau benar-benar kesini," ucap Evelyn terbata.


Louise menaruh beberapa berkas ke atas meja yang berada di dalam ruangan itu dengan kasar dan menatap tajam Evelyn. "Kerjakan semua laporan ini sekarang juga!" titahnya tidak mau tahu.


"T-tapi ---"


"Tidak ada kata tapi tapi lagi, cepat bantu aku mengerjakan semua ini. Dan besok, ku ijinkan kau libur bekerja selama satu hari untuk beristirahat!" pungkas Louise cepat dan menolak bantahan apapun.


Evelyn menghela nafas pasrah, mau menolak juga tidak mungkin. Mengingat Louise kini telah duduk disampingnya setelah membawa beberapa peralatan kantor yang dibutuhkan.


Hingga pada akhirnya mereka berdua pun bergadang semalaman, hanya karena mengerjakan laporan untuk meeting penting dengan klien besok.


...***...


Beberapa jam kemudian.


"Evelyn, jika sudah selesai biarkan aku yang mencetak semua laporan ini. Terima kasih karena telah membantuku," ucap Louise berterima kasih.


Namun Evelyn tidak menjawab, sebab ia sendiri telah tertidur, akibat tidak sanggup lagi menahan rasa kantuk yang menerpa dirinya. Dan itu bukanlah tanpa alasan, karena mereka bergadang hingga jam tiga pagi.


"Eve," panggil Louise sekali lagi dan ia menoleh.


Louise terdiam menatapi Evelyn yang telah tertidur pulas, dengan posisi kepala bersandar pada kedua tangannya yang berlipat diatas meja.


Sekali lagi Evelyn berhasil membuat Louise terpana dan itu terlihat dari senyum lembut yang terpancar dari wajah tampannya.


Louise pun bangun, lalu mengangkat raga Evelyn dan menggotongnya ala bride style, bermaksud untuk merebahkannya diatas pembaringan agar tidur lebih nyaman.


Dan selama menggotong Evelyn menuju kamar, Louise tidak henti-hentinya menatap wajah cantik Evelyn yang sedang tertidur.


Seketika terlintas dalam pikirannya tentang khayalan kemarin malam, dimana ia juga tengah menggotong Evelyn seperti ini dan merebahkannya diatas ranjang dengan perlahan, lalu menggaulinya hingga pagi.


Secepat mungkin Louise membuyarkan bayang-bayang bercintanya dengan Evelyn, yang selalu saja menempel dan tersimpan didalam memori kepalanya.


Akan tetapi, naluri kedewasaannya tetap saja tidak dapat dibohongi dan terus saja menuntun dirinya agar lebih mendekat pada Evelyn, serta menghasut harus menyentuhnya barang sesaat.


Louise menghembus nafasnya panjang dan menyempatkan diri untuk duduk ditepi ranjang sebelum pergi dari kamar tersebut. Lalu mendekatkan wajahnya dan menatap lekat wajah Evelyn dari atas, yang kini telah sejajar dengan wajahnya.


Sesekali menyingkap anak rambut pengganggu yang menutupi paras cantik wanita itu dan entah mengapa dirinya begitu betah berlama-lama menatap Evelyn yang sedang tertidur.


Hingga pria itu pun hanyut dalam lamunannya sendiri dan berandai-andai jika Evelynlah yang menjadi istrinya. "Cih! Apa yang sedang aku lamunkan?" elak Louise menyingkirkan lamunan itu lagi dengan cepat.

__ADS_1


Lalu bergegas menarik wajahnya, namun daya magnet yang terlalu kuat membuat Louise kembali mendekat, karena tidak kuasa untuk tidak mengecup bibir ranum Evelyn.


"Sedikit saja," batin Louise seperti tersihir. Lalu mengecupnya lembut, dengan jantung yang terus berdebar tidak karuan.


Louise tidak mengerti dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini, padahal ini bukanlah kali pertamanya ia mencium seorang wanita.


Namun debaran menggila pada dirinya itu selalu saja muncul jika sedang berdekatan dengan Evelyn seorang, terlebih saat berciuman dan berdekatan seperti ini. Layaknya candu yang memabukkan, Louise pun mulai tenggelam dan semakin memperdalam ciumannya.


Menghabiskan waktu berduaan yang hanya tinggal beberapa jam lagi menuju pukul 7 pagi, sebelum akhirnya ia pergi dari sana untuk bekerja.


...***...


Siang harinya.


Akibat begadang semalaman demi mengerjakan tugas dadakan dari Louise, Evelyn pun bangun kesiangan. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya berkali-kali, sesekali menggeliat sambil menguap karena masih merasakan kantuk pada kedua matanya.


Hingga pada akhirnya Evelyn mulai tersadar penuh dan tatapannya langsung tertuju pada sebuah meja yang telah tersusun rapi kembali. Sambil mengusap-usap kepalanya dan sedikit bingung dengan keadaannya yang sekarang, karena telah berbaring diatas kasur.


Seketika ia teringat sang tuan paman. "Oh tidak!" pekiknya panik dan segera melihat pakaiannya yang masih terpasang utuh dibadan.


Evelyn menghela nafas lega, namun tidak merasa lega sepenuhnya. Karena kegelisahaan masih melanda gadis itu, terlebih seorang pria bisa saja melakukan apapun terhadap wanita jika dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Semoga saja dia tidak melakukan apapun padaku dan menyentuh bagian-bagian pribadi tubuhku ini!" ucap Evelyn penuh harap.


...----------------...


Perusahaan Horison Group.


Gisella mengunjungi perusahaan, setelah tahu Louise tidak pulang ke rumah kemarin. Wanita itu begitu kesal, karena Louise tidak ingin bertemu dengannya walau hanya sesaat.


"Maaf Nyonya anda dilarang masuk ke dalam," cegah sang karyawati menghadang Gisella didepan pintu masuk ruangan Louise.


"Kurang ajar sekali kau mencegahku masuk ke dalam ruangan suamiku sendiri. Aku ini istrinya dan aku berhak masuk untuk bertemu dengan suamiku!" sentak Gisella tidak suka.


"Maaf Nyonya Gisella, Pak Louise sedang ada meeting penting dengan klien. Jadi beliau meminta saya agar tidak memperbolehkan siapapun yang tidak berkepentingan untuk masuk kedalam," balas karyawati itu.


"Aku tidak percaya dengan apa yang kau katakan, jadi sekaranh minggirlah!" sentak Gisella lagi dan menerobos masuk.


"Tidak Nyonya, tolong mengertilah. Pak Louise memang sedang ada meeting penting," balas si karyawati.


Namun Gisella tidak peduli larangan tersebut, karena rasa penasarannya kali ini jauh lebih penting ketimbang acara meeting perusahaan suaminya.


Hingga wanita itu pun nekad menerobos masuk, dan sudah tentu dirinya langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang berada di dalam ruangan.

__ADS_1


"Gisella," ucap Louise melebarkan kelopak matanya.


"Louise," sapa Gisella dan menghampiri.


"Mau apa kau kesini, apa kedua mata dan telingamu ini tidak berfungsi, sampai harus mengabaikan larangan para karyawanku!" ucap Louise penuh penekanan.


"Aku tidak peduli dengan semua itu sayang, aku hanya ingin tahu. Kemarin kau pergi kemana? Kenapa tidak pulang ke rumah?" cecar Gisella.


Louise menghembus nafasnya kasar, kemudian menarik tangan Gisella agar keluar dari ruangan tersebut dan tidak lupa meminta Ken untuk menggantikan dirinya sejenak memimpin rapat penting.


"Louise! Jawab pertanyaanku," tuntut Gisella.


"Aku sudah muak denganmu Gisella dan aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, mulai sekarang jalanilah hidupmu sendiri dan jangan temui aku lagi atau mencampuri urusanku. Jadi biasakanlah hidup tanpaku, karena aku sedang mengurus proses perceraian kita!" balas Louise.


Bak tersambar petir disiang bolong, Gisella terduduk lemas. "Tidak boleh! Kau tidak boleh menceraikan aku Louise. Apa salahku sampai kau tega ingin berpisah dariku?"


Louise berdecih. "Kesalahanmu adalah kau terlalu sering ikut campur masalahku dan juga tingkah menyebalkan serta kurang ajarmu padaku!" balasnya tegas.


"Tapi Louise, aku istrimu dan aku berhak atas dirimu. Tapi kenapa kau mempermasalahkan hal yang memang sudah menjadi hakku Louise," balas Gisella tidak terima.


"Terserah apa katamu, aku tidak peduli. Sekarang pergilah dari sini dan jangan pernah tunjukkan lagi wajah menyebalkanmu itu padaku. Selamat tinggal, sampai bertemu lagi di pengadilan," ucap Louise beranjak pergi.


Gisella buru-buru mencegah Louise yang ingin meninggalkannya dan terus memohon. "Maafkan aku Louise, aku akui aku salah padamu kemarin. Tapi tolong jangan bercerai dariku, apa yang harus ku katakan pada Daddy kalau ia sampai tahu masalah ini," ucapnya terisak dan terus membujuk.


Louise melepaskan tangan Gisella dari pergelangan tangannya. "Aku tidak peduli, karena dari awal sebelum kita menikah. Aku pernah katakan padamu, kalau aku tidak mencintaimu. Kaulah yang memaksaku untuk menikahimu dan aku menyetujuinya hanya karena rasa kasihanku padamu, atas aksi nekad bunuh dirimu waktu itu."


"Tapi sekarang tidak lagi, aku sudah tidak tahan lagi dengan hubungan pernikahan kita yang tanpa arti ini," ucap Louise dan melengos pergi.


"Tunggu Louise, apa kau yakin ingin berpisah denganku hanya karena alasan itu. Atau kau memang memiliki alasan lainnya lagi, seperti sedang dekat wanita lain?" tanya Gisella mulai mengungkapkan kecurigaannya.


"Apa maksudmu?" tanya balik Louise.


"Jangan berpura-pura lagi Louise, aku tahu kalau kau memesan tiket untuk pulang pergi ke Rusia beberapa kali dan beralasan sedang mengurus pekerjaan disana. Tapi yang sebenarnya adalah, kau sedang mengincar salah satu wanita disana. Dan siapa lagi kalau bukan anak pembantu yang lama telah pergi darimu itu," tutur Gisella menjelaskan.


Louise membuka penuh kedua matanya dan menatap tajam Gisella yang sama menatap tajam dirinya.


"Kalau semua itu benar, memangnya kenapa?" balas Louise dingin dan membuat Gisella terasa sesak saat itu juga.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2