Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 115. Hari pernikahan.


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Keadaan Evelyn mulai berangsur membaik, setelah sebelumnya wanita itu tidak ingin keluar dari kamarnya karena malu menghadapi tatapan semua maid, yang telah mengetahui kebenaran jika dirinya telah ditiduri oleh sang majikan.


Namun masa-masa sulit tersebut akhirnya berakhir, karena Louise selalu menepis semua tatapan buruk terhadapnya. Dengan cara mendampingi Evelyn kemanapun ia pergi dan menunjukkan bukti-bukti cinta kepadanya dihadapan semua orang.


Seperti saat sekarang ini, Louise tengah menggandeng lengan Evelyn dan mengajaknya untuk berkeliling taman. Lalu berhenti disebuah air mancur dan memeluk Evelyn dari belakang.


"Apa perasaan hatimu telah membaik?" tanya lembut Louise. Sambil menyingkap rambut panjang Evelyn, lalu menyandarkan kepala diatas bahunya, sesekali mengecup dan menghirup dalam-dalam leher jenjang wanita itu.


Evelyn mengangguk pelan. "Sudah lebih baik," jawabnya.


Louise tersenyum senang. "Syukurlah, maaf karena aku telah membuatmu trauma hingga sakit berhari-hari dan kau juga sampai tidak mau menatap dunia luar. Kau pasti merasa hancur saat itu, tapi percayalah aku akan selalu ada bersamamu."


Evelyn tersenyum. "Tidak apa, aku mengerti. Asalkan kau selalu menepati janjimu, aku tidak akan pernah mempermasalahkannya."


Louise tersenyum lembut sambil memutar tubuh Evelyn agar berhadapan dengannya, lalu menangkup kedua sisi wajah mungil Evelyn dan menatapnya dengan serius.


"Aku mencintaimu Evelyn dan sampai kapanpun aku akan selalu bersamamu, lagipula aku tidak pernah berpikir untuk pergi meninggalkanmu sayang. Kau wanita cantik milikku satu-satunya dan aku sangat menyayangimu, " ucap Louise sambil menggodanya dengan genit.


Evelyn tersipu malu mendengarnya, wajahnya pun sampai memerah saat Louise masih sempat-sempatnya menggoda didepan banyak orang.


"Awas saja kalau kau berani mengingkari janjimu itu, maka seumur hidup aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu," ancam Evelyn melayangkan cubitan kecil nan mematikan di perut Louise.


"Aw sakit! Tidak akan honey," balas Louise mengaduh sambil mengusap-usap perutnya.


"Baguslah kalau begitu, aku senang dan tenang mendengarnya," ucap Evelyn bernafas lega.


"Lusa adalah hari pernikahan kita dan kau akan resmi menjadi istriku. Aku berjanji akan selalu setia padamu sayang dan berusaha membahagiakanmu setiap hari," ucap Louise. Lalu melabuhkan sebuah ciuman lembut dibibir Evelyn.


Awalnya wanita itu menolak, karena selalu teringat akan perlakuan agresif Louise terhadapnya sebulan yang lalu. Namun lambat laun Evelyn harus menepis semua keraguannya itu dan mulai belajar menerima Louise sebagai pendamping hidupnya kelak.


Beberapa menit berlalu, Louise akhirnya melepaskan pagutannya, kemudian berganti memeluk erat Evelyn dengan raut wajah bahagia.


Sedangkan Evelyn mengangkat kedua tangannya perlahan, lalu membalas pelukan itu dengan mata terpejam sesekali menghirup aroma tubuh Louise yang dapat mententramkan hatinya.


Sungguh tidak disangka, ia merasa beruntung sekali, karena sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang istri dari pria yang mirip dengan pangeran dalam cerita dongeng favoritnya sewaktu kecil.


...----------------...


Lusa harinya.


Hari bahagia bagi Louise akhirnya tiba juga, pria itu tersenyum lebar menyapa semua tamu dan juga orang-orang yang memberikan selamat untuknya.


"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Tuan Horisson menepuk pundak putranya setelah pesta pernikahan megah itu berada di puncak acara.


"Terima kasih Daddy," balas Louise.


"Daddy senang kau bahagia seperti ini, semoga pernikahanmu selalu awet dan kalian segera diberikan momongan," ucap Tuan Horisson mengungkapkan keinginannya yang masih belum terwujud.


Sontak saja wajah Louise dan Evelyn bersemu merah mendengarnya, mereka saling bersitatap satu sama lagi dan tersenyum malu-malu.


"Itu sudah pasti Daddy, semoga Tuhan cepat memberikan kami keturunan," harap Louise.

__ADS_1


Seketika ia teringat akan pertempurannya sebulan yang lalu, entah itu membuahkan hasil atau tidak. Namun Louise berharap ada keajaiban didalam sana. "Semoga saja," batinnya menatap perut rata Evelyn.


Sedangkan Evelyn berubah gelisah, keganasan Louise sebulan lalu masih terekam jelas dalam ingatannya. Bahkan intinya masih saja terasa ngilu, jika mengingat pusaka Louise yang begitu besar nan panjang melesak masuk dan menghujam intinya bertubi-tubi kala itu.


"Aku tidak mau melakukan itu lagi, aku takut sekali." batin Evelyn sambil mengepal erat tangannya yang gemetaran.


Louise menggenggam tangan Evelyn, kemudian mendekatkan wajahnya. "Tenang saja, kali ini tidak akan sakit. Aku akan melakukannya dengan lembut," bisiknya tersenyum menggoda.


Evelyn melebarkan kelopak matanya dan menatap Louise yang sama menatapnya juga. "A-apa tidak bisa ditunda dulu, paling tidak sampai aku menghilangkan rasa takutku ini?"


Louise menggeleng. "Tidak bisa, kau telah sah menjadi milikku. Lagipula kau tidak dengar apa permintaan Daddy tadi hem? Dia ingin kita segera punya anak," ucapnya senang sekali menggoda.


Evelyn menggeleng. "Tidak mau, rasanya sakit sekali. Punyamu begitu besar dan panjang, bahkan aku mendengar suara robekan kecil saat kau memasukannya," celetuk Evelyn.


Louise tergelak mendengarnya, begitu bangga dengan punyanya yang bisa membuat wanita manapun menjerit.


"Kau terlalu berlebihan honey, tapi tenang saja kali ini kau tidak akan merasakan sakit lagi." Louise mendekati telinga Evelyn." Tapi nikmat," bisiknya membuat wanita itu merinding geli.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi, disini banyak orang. Apa kau tidak malu kalau perbincangan mesum mu itu terdengar sampai ke telinga orang lain hah?" balas Evelyn menatap kesekeliling.


Louise menggeleng. "Aku tidak malu, kau milikku. Aku senang sekali sampai tidak bisa menggendalikan diriku ini," ucapnya lalu memeluki dan menciumi Evelyn padahal para tamu masih belum bubar.


Dan aksi cabull Louise kepada istrinya diatas pelaminan, tentu saja membuat semua tamu yang melihatnya terbelalak dan tersedak ludahnya bersamaan.


"Dasar bos gendeng! Tidak tahu malu, kaya tidak bisa menunggu nanti malam saja," gerutu Ken.


Selvi memukul lengan Ken. "Bagaimana pun juga dia adalah bos mu, seharusnya kau bahagia melihat mereka bisa bersatu seperti itu."


"Iya, tapi harusnya kita duluan kan yang menikah. Tapi kenapa dia yang kebelet kawin," cebik Ken merasa tersaingi oleh Louise.


"Sudahlah jangan iri seperti itu, pernikahan kita juga sebentar lagi dan sebelum aku menikah, aku harus selalu setia kepada keluarga tuan Louise disisa masa bekerjaku," ucap Selvi.


Ken menarik pinggang Selvi dan memujinya. "Kau yang terbaik untukku," ucapnya tersenyum.


Sedangkan Mika merasa cemburu melihat Selvi telah menemukan pasangan hidup, lalu bagaimana dengannya? Dengan langkah terburu-buru ia pergi meninggalkan pasangan yang terkena bucin itu.


Dan tak sengaja menabrak seorang pria tinggi yang sedang fokus melihat mempelai wanita dengan tatapan sendu.


"Maaf," ucap Mika menunduk berkali-kali.


"Tidak apa," balas Steve lalu pergi menghampiri Evelyn untuk memberi selamat.


Setibanya diatas pelaminan Steve bukan mengulurkan tangannya lagi, melainkan memeluk Evelyn dihadapan suaminya itu. Hingga Louise dibuat geram olehnya.


Namun mendengar suara tangisan Steve, membuat Evelyn merasa iba. Ia mencegah Louise agar tidak berlaku kasar kepada Steve.


"Selamat atas pernikahanmu, ku doakan kau selalu bahagia. Kau sahabatku yang terbaik dan selamanya aku akan selalu mencintaimu," bisik Steve lalu menarik dirinya.


"Terima kasih Steve, kau juga sahabat terbaikku."


Steve tersenyum getir dan tidak lupa menyalami sang mantan kakak iparnya terdahulu. "Selamat untukmu, jangan sia-siakan Evelyn seperti kau menyia-nyiakan semua wanitamu terdahulu," sindirnya.


Louise berdecih, lalu menarik pinggang ramping Evelyn agar mendekat dan membalas sindirian Steve. "Terima kasih, sudah pasti aku tidak akan menyia-nyiakannya." lalu memberikan kecupan dibibir Evelyn tepat didepan Steve.

__ADS_1


Steve memalingkan wajahnya dan segera pergi dari pelaminan dengan hati yang memanas, entah mengapa sekuat apapun dia melawan Louise dan nyatanya ia selalu saja kalah.


Evelyn menghela nafas panjang dan berharap agar Steve mampu keluar dari rasa sedihnya, paling tidak segera menemukan pasangan hidup, agar pria itu tidak bersedih sampai berlarut-larut.


Sementara itu Gisella dan Marco turut hadir diacara pernikahan tersebut, mewakili tuan Anderson yang sedang mengalami sakit.


Ia menatap sinis Evelyn. "Selamat untukmu karena telah menang mengambil Louise dariku!" ucapnya memberi selamat.


"Terima kasih," balas Evelyn. Ia menggenggam erat tangan Louise dan menatap tidak kalah tajamnya dari Gisella.


Sedangkan Louise tengah meladeni ucapan selamat dari Marco, tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Evelyn.


"Terima kasih karena sudah datang dan memberi kami selamat, sekarang Evelyn adalah istriku. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakiti dirinya!" ancam Louise menatap tajam Marco maupun Gisella.


Gisella mendengus kesal dan turun dari pelaminan dengan wajah gusar. Terlebih saat Louise selalu saja menunjukkan sikap kemesraan akut dihadapannya.


"Mereka menyebalkan sekali!" Geram Gisella, dia begitu kesal dan cemburu ketika melihat Louise begitu menyayangi Evelyn. Hal yang tidak pernah ia dapatkan sewaktu menikah dulu.


"Sudahlah, jangan marah-marah terus. Tidak baik untuk bayi kita," ucap Marco menenangkan.


"Aku kesal sekali, kenapa Louise tidak pernah bersikap seperti itu padaku. Dia selalu membenciku setiap hari, dia bahkan tidak memberikan hak istimewaku sebagai seorang istri sewaktu kami menikah dulu. Tidak seperti Evelyn, gadis muda polos itu begitu beruntung mendapat Louise yang perkasa," keluh Gisella.


Ia masih mengingat terakhir kali permainan Louise yang luar biasa saat menjebaknya dulu dan tidak sanggup membayangkan malam pertama mantan suaminya itu dengan istri barunya yang begitu pria itu dicintai.


Marco mendesaah panjang, sehebat apa sebenarnya Louise sampai Gisella tergila-gila dengannya. "Yang penting kan punya itu dan aku juga punya. Bagaimana kalau aku memuaskanmu malam ini," ucapnya menawarkan diri.


Gisella terdiam, walau Marco tidak sehebat Louise. Setidaknya pria itu mampu memenuhi hasratnya. "Ya sudah, tunjukkan kehebatanmu. Karena kalau aku sampai tidak puas, kau tidak boleh pulang ke rumah!"


"Baiklah ratuku, aku akan berusaha keras malam ini dan meminum ramuan khusus agar kuat menghadapimu saat bertempur diatas ranjang nanti," balas Marco mengecup punggung tangan Gisella.


"Bagus!" ucapnya. Lalu pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu pun pergi dari acara pernikahan Louise.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Hai Readers setia, untuk bab selanjutnya akan ada adegan panas sepanas kompor yang sedang meledug.


Jadi diharapkan untuk yang belum cukup usia, agar meng-skip saja bab berikutnya nanti ya.


Louise : gk panas koq, cuma membara saja.


Othor : sarua bang.


Louise : tolong direkam ya adegan itu buat kenang-kenangan.


Othor : jangan bang, nanti saya yang kepanasan.


Louise : tenang kamar gue ada Ac 1 PK. Kalau mau ikut juga boleh.

__ADS_1


Othor : jangan bang saya masih polos.


Evelyn : Gk laki, gk othor sama-sama somplak!


__ADS_2