Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 24. Guru Les


__ADS_3

Mansion Anderson.


Sementara itu ditempat yang berbeda, Gisella tengah berdebat dengan sang ayah, saat mengetahui pernikahannya dengan Louise tiba-tiba dibatalkan begitu saja tanpa persetujuan darinya.


Gadis itu tidak menerima keputusan tersebut, walau sang ayah terus menjelaskan kepadanya jika hal itu dilakukan demi kebaikkan Gisella sendiri.


"Aku mencintai Louise Daddy, aku hanya ingin menikah dengan dia seorang," ucap Gisella tak mau mendengarkan.


"Berhentilah mencintai pria itu Gisell! Louise adalah pria kotor, dia seorang pemain wanita. Dan sampai kapanpun pria seperti itu tidak akan pernah berubah, selain tidak serius kepada dirimu nanti, pria seperti Louise tidak akan bisa menghargai apa yang disebut dengan sebuah ikatan pernikahan!" tegas tuan Anderson berusaha menjelaskan.


Gisella menggeleng cepat, air matanya terus saja mengalir. "Tidak Daddy, aku yakin Louise bukanlah pria seperti itu. Aku mencintainya dan aku percaya dia akan serius denganku setelah menikah nanti!" bantahnya.


Tuan Anderson menghembus nafasnya kasar. "Daddy tidak ingin mendengar apapun pembelaanmu terhadap pria badjingan itu, karena walau bagaimanapun kerasnya kamu membela dia, Daddy tetap tidak akan melanjutkan hubungan ini. Titik!" bentaknya tidak mau tahu.


Gisella menangis sejadi-jadinya, kemudian mengurung dirinya didalam kamar dan melakukan aksi mogok makan serta tidak ingin bertemu dengan siapapun sampai keinginannya itu dipenuhi.


Tuan Anderson mengumpat kasar. "Dasar anak keras kepala, Daddy melakukan semua ini karena demi kebaikkan dan juga kebahagiaanmu!" ucapnya.


"Kebahagiaanku adalah jika aku bisa menikah dan hidup bersama dengan Louise!" sahut Gisella dari dalam.


Tuan Anderson menghela nafas sekali lagi, sambil menatapi pintu kamar putrinya yang telah tertutup dan terkunci rapat dari dalam.


"Baik! Kau telah berani melawan Daddy mu ini hanya karena pria bedjat seperti Louise itu, ingatlah ini Gisell, sekeras apapun dirimu membelanya, Daddy tetap tidak akan mengijinkanmu bertemu lagi dengannya!" ucap tuan Anderson penuh penekanan.


Lalu pria paruh baya setengah botak itu pergi dari kamar Gisella dan memilih pergi ke perusahaan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Sedangkan Gisella tengah memikirkan cara untuk bertemu dengan Louise dan meminta penjelasan darinya. Lalu ia pun bersiap-siap untuk pergi ke Mansion tuan Horisson demi bertemu dengan pria pujaan hatinya itu.


...----------------...


Perusahaan Horisson.


Sementara itu Louise memandangi tempat barunya, sebuah tempat kecil dengan banyak orang didalamnya. Dan semenjak kasusnya itu telah diketahui oleh semua orang, nampaknya Louise tidak ragu-ragu lagi menunjukkan sifat aslinya.


Seperti saat sekarang ini, dimana ia telah bergabung ke dalam team administrasi perusahaan sebagai anggota baru. Pria itu malah menebar pesona ketampanannya dihadapan gadis-gadis maupun para wanita pekerja lainnya di dalam kantor.


Dan hal tersebut membuat para karyawati yang bekerja disana pun menjadi salah tingkah, karena mendapat tatapan mempesona dari sesosok pria tampan dan kaya di perusahaan tersebut.

__ADS_1


Tuan Horisson mendesaah kesal sambil memijat kedua pelipisnya yang berdenyut, ketika pak Bayu mengantarkan pesan mengenai tingkah menyebalkan Louise kepada dirinya.


"Kenapa anakku bisa jadi pria penggoda seperti itu," gemasnya.


Tuan Horisson lantas bergerak cepat, dengan memisahkan Louise dari para karyawan wanitanya. Berharap agar Louise bisa membuang kebiasaan buruknya dan selain itu tuan Horisson juga ingin Louise bisa fokus dalam bekerja.


"Pak Bayu, mulai sekarang awasi gerak-gerik Louise selama ia bekerja di perusahaan ini. Jangan biarkan pria itu bekerja dalam satu ruangan bersama karyawan wanita dan satu lagi berikan dia seorang asisten pria tulen," titah Tuan Horisson.


"Baik pak!" patuh pak Bayu, lalu menjalankan perintah sang atasan.


...----------------...


Kawasan puncak.


Sementara itu, Evelyn sudah mulai bersekolah di sekolah umum atas perintah dari tuan Horisson beberapa hari yang lalu. Namun karena banyaknya pelajaran yang tertinggal, membuat dirinya harus mengikuti les ekstra agar bisa mengejar semua ketinggalannya itu.


Hal tersebut lantas Selvi sampaikan kepada tuan besar Horisson, agar mencarikan guru les pribadi untuk Evelyn. Mengingat sebentar lagi gadis itu akan menghadapi ujian kenaikan kelas.


Tuan Horisson pun mengerti, lalu menunjuk salah satu guru les terbaik yang dia kenal untuk mengajari Evelyn beberapa mata pelajaran sekolah.


Dia adalah Kendrik, seorang pemuda berusia 28 tahun, yang ditugaskan oleh tuan Horisson untuk mengajari Evelyn dan bertanggung jawab atas pendidikan Evelyn hingga gadis itu berhasil lulus sekolah.


"Evelyn, mana PR fisika mu?" tanya Ken, ketika memulai bimbingannya.


"Ini Kak, aku pusing sekali jika melihat angka-angka aneh ini," ucap Evelyn memangku wajahnya diatas meja, sesekali menunjukkan raut wajah tidak menyenangkan.


Ken tersenyum. "Muridku tidak boleh lembek seperti ini, kau harus punya semangat. Jangan anggap angka-angka aneh ini adalah musuhmu, tapi anggaplah ini seperti sebuah permainan angka," balasnya menyemangati.


Evelyn mengangkat wajahnya. "Permainan angka? Aku tidak tahu itu, bagaimana caranya?" tanya gadis itu berpikir.


"Benar, maka dari itu aku akan mengajarimu!" ucap Ken percaya diri.


Evelyn mengamati setiap wejangan yang diajarkan oleh guru pembimbingnya itu, dari pola belajar Ken yang cukup menyenangkan, membuat gadis itu sedikit demi sedikit mulai memahami pelajaran sulit tersebut.


"Apa seperti ini?" tanya Evelyn yakin dengan hasil jawabannya.


Ken mengulas senyum. "Benar, tapi masih ada yang salah sedikit," jawabnya. Kemudian memberikan penjelasan pada lembar soal tersebut.

__ADS_1


Lalu, disaat Ken tengah asyik mengajari Evelyn. Selvi tiba-tiba datang menghampiri mereka sambil membawa nampan berisi beberapa cemilan ringan dan juga minuman dingin.


Evelyn pun terlihat senang, kebetulan sekali ia memang ingin menyantap cemilan. "Terima kasih kak Selvi, kakak tahu saja kalau aku sedang ingin makan cemilan!" serunya.


Wanita dewasa berparas ayu nan manis itu tersenyum. "Ya tahu dong, ini sudah hampir sore dan kalian belum makan apa-apa dari tadi. Jadi kakak bawakan cemilan saja," balasnya.


"Terima kasih," balas Evelyn, lalu menyambar cemilan tersebut.


"Sama-sama," balas Selvi.


"Kakak, maaf kalau akhir-akhir ini aku tidak membantumu melakukan tugas rumah. Tapi setelah mengerjakan PR ini, aku akan segera beberes!" ucap Evelyn merasa tidak enak hati.


"Tidak apa, kakak mengerti. Kau fokus saja belajar dan sekolah, pekerjaan rumah biar kak Selvi dan kak Mika saja yang mengerjakan," balas Selvi.


Evelyn mencebik. "Bagaimana bisa begitu, aku tidak mau disangka makan gaji buta oleh tuan besar," ucapnya.


"Baiklah, terserah kau saja," ucap Selvi mengalah. Kemudian menatap Ken yang masih terlihat sungkan. "Tidak apa, ambil saja. Cemilan ini memang untuk kalian berdua," ucapnya menawari.


Ken menarik senyum. "Terima kasih," jawabnya.


"Sama-sama," balas Selvi kemudian kembali ke dapur.


Evelyn tersenyum, ketika mendapati Ken tengah menatapi Selvi dengan begitu lekatnya. "Ehem!" ucapnya berdehem.


Ken segera mengalihkan pandangannya. "Mana lagi PR mu yang sulit?" tanyanya berkilah.


Evelyn terkekeh. "Kak Ken, wajahmu memerah dan itu lucu sekali. Bukanlah PR ku ini sudah selesai," ucapnya meledek.


Ken memegangi wajahnya dan menatap Evelyn. "Oh sudah selesai?" tanyanya kikuk.


Evelyn mengangguk. "Sudah!" jawabnya.


Ken menghela nafasnya panjang, kemudian merapihkan peralatan belajarnya. Lalu pria itu berpamitan dengan semua orang dan akan kembali lagi besok untuk memberi pelajaran ekstra kepada anak lesnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2