Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 92. Perhatian Evelyn.


__ADS_3

Gisella memegangi jantungnya yang terus saja berdegub kencang, sekaligus menelan ludahnya susah payah setelah mendengar perbincangan mengharu biru di dalam apartemen dimana Louise dan Evelyn tengah berada saat ini.


Sungguh kenyataan yang baru ia ketahui selama ini, jika opa Bernadi ternyata bukanlah orang baik. Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah perlakukan Louise terhadap Evelyn, yang membuatnya iri saat itu juga.


"Aku belum pernah melihat Louise berlaku seperti itu terhadap seorang wanita, bahkan aku sendiri sebagai istrinya belum pernah mendapatkan perlakuan manis seperti yang dia lakukan kepada Evelyn," batin Gisella iri bercampur sedih dan merasa sakit hati saat melihatnya.


Sungguh ironi sekali, tapi mau bagaimana lagi Gisella pun memilih pergi karena merasa sadar diri. Sebab jika ia mendamprat kelakuan mereka berdua sekarang ini, maka dirinya sendirilah yang akan terkena akibatnya.


Sekelibat dalam benaknya, Gisella kembali berpikir tentang kasus lama Opa Bernadi, yang sudah pasti akan menyeret nama perusahaan PT Indo Berlian Perkasa.


"Aku harus beritahu mommy secepatnya," batin Gisella tidak ingin membuang-buang waktu.


Dan setibanya ia didalam mobil, Gisella segera menghubungi nyonya Merry dan memberitahu jika Evelyn ingin mengangkat kasus lama opa Bernadi.


"Mom, aku tidak mengerti kasus apa yang sedang mereka bicarakan itu. Tapi aku yakin, ini semua ada hubungannya dengan perusahaan mereka. Karena Louise sempat bilang jika Evelyn sampai mengangkat kasus lama opa-nya maka gadis itu akan kehilangan segalanya," ucap Gisella memberitahu.


Nyonya Merry mulai ketar ketir mendengarnya, dan berpikir apakah Louise diam-diam tahu tentang kejahatan Opa Bernadi juga. Akan tetapi bagaimana menantunya itu bisa tahu tentang semua kasus yang terjadi.


"Apa dia juga tahu kalau aku terlibat? Jika Louise tahu, aku bisa dalam masalah besar," batin Nyonya Merry was-was sekali.


"Gisella, apa Mommy bisa minta tolong padamu?" tanya Nyonya Merry.


"Apa itu Mom?" tanya Gisella.


"Halangi Louise membantu Evelyn melaporkan kasusnya itu, kalau perlu pakai alasan kehamilanmu," pinta Nyonya Merry.


Gisella mendesaah dibuatnya. "Mom, Louise tidak peduli padaku, walau aku ini sedang mengandung atau tidak. Dia hanya peduli pada wanita itu! Dan kalau aku sampai mencampuri urusannya kali ini, maka Louise tidak akan segan-segan memarahiku lagi Mom. Bahkan dia selalu saja mengancamku dengan kata-kata perceraian," balasnya mengadu.


Nyonya Merry berdecak kesal. "Kenapa kau takut sekali kepada suamimu itu, pokoknya halangi saja tujuannya membantu Evelyn. Lagipula apa hubungannya Louise dengan gadis itu sampai kau takut sekali memisahkan mereka berdua," decaknya.


"Aku juga tidak tahu Mom, mereka sudah seperti perangko saja. Padahal aku pernah bertanya pada Louise apa dia mencintai Evelyn sampai rela melakukan apapun demi wanita itu. Tapi Louise selalu saja menyangkalnya," balas Gisella malah curhat.


Nyonya Merry memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Ya sudah, setidaknya Mommy ucapkan terima kasih padamu karena telah memberitahu Mommy tentang semua ini," balasnya tidak ingin memperpanjang.


"Sama-sama, aku akan berusaha mengalangi Louise sebisaku," balas Gisella.


Nyonya Merry mematikan ponselnya, kemudian menghubungi beberapa orang terkait kasus lama opa Bernadi. Ia juga menelepon beberapa orang pengacara, sebagai persiapan untuk pertarungannya nanti dengan Evelyn saat berada di meja hijau.


...----------------...


Keesokan harinya.


Perusahaan Horisson Group.


Sementara itu, setelah rapat penting dengan kliennya usai, Louise segera menghubungi beberapa orang penting termasuk Ken didalamnya, untuk mengetahui tentang bagaimana perkembangannya dalam mencari bukti dan saksi.

__ADS_1


"Bagus Ken, kalau begitu kawal terus saksi kita dan pastikan mereka tiba di kota dengan aman dan selamat!" seru Louise.


"Sudah pasti Pak," sahut Ken semangat.


Lalu, setelah menghubungi Ken. Louise juga menghubungi beberapa ahli hukum, pengacara bahkan badan pertanahan daerah terkait yang akan membantunya dalam mempelajari lebih dalam kasus yang akan dihadapi oleh Evelyn nantinya.


Aktifitasnya yang padat, membuat Louise sampai lupa makan siang, bahkan tidak mendengar suara ketukan pintu yang sedari tadi bergema memenuhi ruangannya. Hingga pada akhirnya ia tersadar sendiri, saat Evelyn memanggil namanya dari balik pintu.


"Pak Louise!"


"Ya Evelyn, masuklah!" sahut Louise sambil membukakan pintu yang sebelumnya terkunci dengan segera.


"Ada apa datang kemari?" tanya Louise.


"Aku dengar dari OB kita kalau Bapak belum makan siang karena masih sibuk dengan pekerjaan, jadi aku datang kesini karena ingin membawakanmu makanan ini Pak," balas Evelyn menunjukkan apa yang sedang ia bawa ditangannya.


Louise menatap jam pada pergelangan tangannya. "Wah benar, pantas saja kepalaku terasa pusing. Ku kira karena terlalu banyak pekerjaan, ternyata belum makan siang," guraunya.


Evelyn tersenyum dan tertawa kecil. "Bagaimana kalau aku bantu memijat kepalamu Pak," ucapnya menawarkan diri.


Louise sudah pasti senang mendengarnya. "Benarkah? Ya sudah kalau begitu masuklah, kau bisa memijatku setelah makan siang," serunya.


"Baiklah," balas Evelyn.


Gadis itu dengan sigap menyiapkan piring saji serta alat makan lainnya, lalu menyajikan makan siang untuk Louise dan menatanya diatas meja tamu dalam ruangan itu juga.


"Pak Louise, semuanya sudah siap. Bapak bisa makan sekarang," ucap Evelyn ramah.


Louise mengangguk, dan menyambutnya dengan sukacita, seakan-akan dirinya sedang diurus dan diberi perhatian oleh istrinya sendiri.


Dan selama Louise menikmati makan siangnya itu, Evelyn membereskan meja kerja Louise dari sisa-sisa kertas yang menganggu.


Tak butuh waktu lama, Louise telah menghabiskan makan siangnya. Waktu yang cukup cepat sekali untuk seseorang dalam menghabiskan porsi makannya dengan jumlah yang besar.


"Cepat sekali," celetuk Evelyn.


"Kerja cepat, makan juga harus cepat." Louise membanggakan dirinya.


"Begitu ya, tapi lain kali makanlah perlahan dan nikmatilah makananmu Pak. Selain agar tidak tersedak saat mengunyah, makan dengan perlahan juga membuat perut anda tidak sakit nantinya," ceramah Evelyn.


Louise benar-benar tersanjung dibuatnya, karena bagaimana tidak. Ini kali pertamanya ada seorang gadis yang mau memperhatikan hal detail dan peduli mengenai kesehatannya.


"Baiklah, lain kali aku akan makan dengan perlahan dan menikmati makananku," ucap Louise tersenyum.


"Baguslah kalau begitu," balas Evelyn lalu membereskan bekas makan Louise dengan segera. "Setelah aku menaruh ini, bersandarlah sejenak disofa. Aku akan memijat kepalamu," ucapnya lagi.

__ADS_1


Louise mengangguk patuh dan bersandar pada kepala sofa, mencari posisi terenak untuk dipijat oleh Evelyn nanti.


Tak lama setelah itu, Evelyn pun datang kembali ke dalam ruangannya dengan membawakan sebotol minyak zaitun. Lalu duduk dibelakang Louise yang telah menengadahkan kepalanya keatas menatap langit-langit.


Dan tak butuh waktu lama Evelyn mulai memijat kepala Louise dengan tangan-tangan lentiknya.


Louise memejamkan kedua matanya sambil menikmati pijatan lembut yang sedang diberikan oleh Evelyn, sesekali tersenyum merasakan nikmatnya sentuhan seorang wanita.


Seketika pikirannya kembali tenang dan segala beban berat terasa ringan, louise juga merasa tubuhnya kembali segar.


...***...


Sepuluh menit pun telah berlalu dan Evelyn pun menyudahi pijatannya, karena sudah waktunya untuk kembali bekerja.


"Evelyn, kenapa kau melakukan ini? Maksudku, kenapa kau berubah perhatian kepadaku? Apa kau memang melakukan semua dengan hatimu sendiri atau kau sedang menginginkan sesuatu?" cecar Louise setelah selesai dipijat kepala dan juga bahunya.


Evelyn mengelap tangannya yang berminyak. "Aku ikhlas melakukannya, karena mungkin hanya inilah satu-satunya tanda terima kasih yang bisa kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu padaku," balasnya.


"Aku tidak butuh balasan darimu Evelyn, aku juga ikhlas membantumu. Aku hanya berharap kau bisa patuh padaku itu saja," balas Louise.


"Aku akan patuh padamu Pak, setelah kasus ini selesai dan berhasil. Maka kedepannya aku berjanji akan terus mengabdi kepadamu," balas Evelyn.


"Kenapa kau berkata demikian Evelyn?" tanya Louise.


"Karena dari awal aku memang anak pembantumu dan dimasa depan juga sepertinya akan tetap begitu. Aku hanya sedang membiasakan diri menjadi pembantumu lagi, berusaha melayanimu sebaik mungkin yang aku bisa. Karena aku sadar dalam waktu dekat lagi, aku akan kembali menjadi orang biasa," balas Evelyn dan keluar dari ruangan tersebut.


Louise termangu mendengarnya. "Kenapa dia punya pikiran seperti itu? Apa dia selamanya ingin menjadi seorang pembantu?" desahnyaa tidak mengerti.


.


.


Bersambung.


...----------------...


Next\=\=> bab selanjutnya Evelyn dan nyonya Merry akan bertemu diruang sidang.


Dan selama sidang itu berlangsung, Louise menemui kendala saat ingin menghadirkan saksi-saksinya. Dimana para saksi mereka dihadang oleh anak buah nyonya Merry.


Membuat Louise terjun ke lapangan untuk membebaskan Ken serta para saksinya yang sedang menemui kendala dan meninggalkan Evelyn sendiran didalam ruang sidang.


Akankah Evelyn berhasil memenangkan kasus tersebut dan menjatuhkan nyonya Merry serta mengembalikan hak-hak para pemilik tanah yang pernah dirugikan oleh Opa Bernadi.


Tunggu dibab selanjutnya.

__ADS_1


Mohon maaf jika telat mengupdate karena bocilku sedang kurang sehat. 🙏🙏🙏


__ADS_2