Anak Pembantu Milik Tuan Muda

Anak Pembantu Milik Tuan Muda
Bab 50. Wanita misterius.


__ADS_3

Malioboro.


Evelyn tidak henti-hentinya menarik senyum, sambil menatap takjub salah satu tempat wisata terkenal di kota itu. Ia juga menunjuk-nunjuk ke semua tempat yang belum pernah dia jumpai selama ini.


Seperti seorang anak kecil yang baru saja diajak jalan-jalan bersama ibunya.


Akan tetapi bagi semua orang yang sudah mengenal tingkah kekanak-kanakkan Evelyn pasti akan memaklumi hal tersebut, karena memang selama ini gadis itu belum pernah merasakan indahnya masa kecil.


"Bibi aku ingin naik delman," pinta Evelyn sambil menepuk-nepuk bagian bokongg kuda coklat disebelahnya.


"Ya, naiklah. Tidak ada yang melarang," ijin dari bibi Maureen dan mereka duduk bersama di dalam kendaraan tradisional bertenaga kuda tersebut.


Dan selama menikmati indahnya kota dengan berkeliling menggunakan delman. Evelyn tidak henti-hentinya menyengir seperti kuda, mengalahkan sang kuda sendiri yang sedang menarik penumpangnya.


Ada perasaan gugup, senang dan juga takut bercampur aduk menjadi satu di dalam diri Evelyn, saat pertama kali ia mencoba menaiki kereta kuda itu.


"Bibi, aku senang sekali! Ini tidak akan copot kan keretanya," seru Evelyn sambil berpegangan pada tiang didekatnya.


Bibi Maureen terkekeh. "Mana mungkin copot sayang, duduklah yang benar dan nikmati saja perjalannya."


Evelyn mengangguk, lalu membenarkan posisi duduknya dan mulai menikmati perjalanannya berkeliling kota. Sesekali bersenda gurau bersama bibi Maureen, jika melihat hal lucu atau menyenangkan disekeliling mereka.


...***...


Sementara itu, Louise tersenyum sambil mengedarkan pandangannya kesekeliling salah satu tempat wisata di kota tersebut dan mulai mengambil gambar yang berhasil menarik perhatiannya.



Dan hasil foto yang dia ambil, akan disimpan sebagai kenang-kenangan.


"Suasana malam hari memang berbeda sekali," gumamnya bermonolog.


Louise kemudian berjalan-jalan kembali, memandangi apa saja keindahan yang disuguhkan oleh tempat itu.


"Louise, kita dinner dulu ya." Gisella menarik tangan Louise agar berhenti disalah satu kedai makanan yang menjual gudeg.


Louise menyetujui keinginan Gisella kali ini, karena memang ia belum makan apapun setelah pulang kunjungan dari pabrik tadi.


"Baiklah," ucapnya dan Gisella begitu senang sekali mendengarnya.

__ADS_1


Mereka berdua pun masuk ke dalam kedai tersebut dan memesan beberapa makanan untuk disantap.


Sedangkan disisi lain, Evelyn bersama dengan bibi Maureen baru saja turun dari delman dengan perasaan bahagia karena telah puas berkeliling kota.


"Eve, kita sudah naik delman. Sekarang kau ingin apa lagi?" tanya bibi Maureen memastikan agar nona mudanya selalu puas.


Evelyn memutar otaknya sambil mengedarkan pandangannya kesekitar. "Bibi bagaimana kalau kita makan dulu," ucapnya memberi saran.


"Boleh juga, kebetulan bibi ingin sekali makan gudeg. Bibi dengar, gudeg ditempat ini sangat enak," balas bibi Maureen.


"Ya sudah, ayo kita cari gudegnya. Aku juga ingin mencoba makanan lain sampai puas sebelum kita pulang lagi ke Rusia," balas Evelyn tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menyantap makanan nusantara.


"Iya kau benar, selagi kita masih disini. Bibi juga ingin puas-puasin makan makanan enak disini," balas bibi Maureen tak kalah antusias.


Mereka berdua pun masuk kedalam kedai, dimana Louise dan Gisella telah masuk terlebih dahulu didalam sana.


...***...


Louise menyempatkan diri memotret beberapa makanan yang berada diatas mejanya sebelum disantap dan begitu pula dengan Gisella.


Jika Louise mengabadikan foto itu untuk koleksi pribadinya, lain halnya dengan Gisella, wanita itu memfoto makanan tersebut untuk kepentingan sosialitanya.


"Louise, kita foto bareng ya!" seru wanita itu mengarahkan fotonya bersama dengan Louise dan sialnya Louise tidak bisa menghindari wajah tampannya tertangkap kamera ponsel milik Gisella.


"Akh Louise, kita serasi sekali. Lihat lah ini, aku sangat cantik dan kau terlihat tampan!" seru Gisella sambil menunjukkan hasil fotonya kepada Louise.


Sedangkan Louise memutar bola matanya malas dan melihat sekilas foto dirinya berdua dengan Gisella walau terpaksa. Namun, tiba-tiba pria itu merampas ponsel Gisella dan menatapnya baik-baik.


"Ada apa Louise? Kenapa kau memandangi wajahku seperti itu? Apa kau baru tahu kalau istrimu ini cantik hah?" ucap Gisella percata diri.


Namun Louise tidak mengindahkan perkataan Gisella, karena ia sedang fokus kepada sesosok wanita bertopi sama persis, seperti yang ia lihat tadi pagi di bandara dan tadi siang di restoran.


Louise dengan cepat menoleh ke belakang tempat duduknya dan benar saja, ia melihat wanita bertopi itu sedang duduk dikejauhan, bersama dengan seorang wanita paruh baya, seperti sedang menunggu pesanan datang.


Louise penasaran sekali dan menunggu wanita itu sampai membuka masker dengan sabar, hanya demi menjawab rasa penasaran akan siapakah wanita tersebut sebenarnya.


Yang selalu saja muncul dan sukses menganggu pikirannya.


Namun rasa penasaran Louise tiba-tiba terkubur, saat melihat wanita itu beranjak pergi dari tempat duduknya, sebelum sempat membuka masker serta kacamata hitam dan melihat wajahnya.

__ADS_1


Ditambah Gisella yang selalu saja memanggil dan menguncang bahunya, membuat Louise jadi hilang kesempatan untuk menatap lebih lama.


"Louise!" panggil Gisella lalu menarik wajah Louise agar menatapnya. "Kau melihat apa sih?"


"Tidak ada, kau makanlah dulu. Aku ingin pergi ke toilet," ucap Louise. Lalu beranjak dari tempat duduknya, untuk mengikuti kemana langkah wanita itu pergi.


"Ya sudah cepatlah," balas Gisella tanpa curiga dan kembali menyantap makanannya hingga habis.


...***...


Louise mengikuti kemana langkah kaki wanita, yang sanggup membuatnya penasaran itu pergi. Dan entah mengapa ia merasa seperti pernah melihat, bahkan sangat mengenal dekat wanita yang sedang dia ikuti itu.


"Siapa dia? Apa aku pernah mengenalnya?" ucapnya tertarik, terlebih saat setelah melihat rambut indah wanita itu terurai bebas.


Jantung Louise tiba-tiba berdegub kencang, sumpah demi apapun ini kali pertamanya ia bertingkah konyol seperti ini, yaitu mengikuti seorang wanita hingga ke toilet.


Louise berpura-pura mencuci tangannya berkali-kali pada wastafel yang tersedia di depan pintu toilet, hanya karena ingin menunggu hingga wanita itu keluar dari toilet.


"Kenapa wanita itu lama sekali keluarnya, apa dia tidak tahu kalau telapak tanganku ini sudah keriput, hah!" ucapnya mengumpat kesal.


Hingga akhirnya wanita yang ditunggu-tunggu itu pun keluar dari dalam toilet dan entah mengapa Louise malah tersenyum.


"Benar-benar aneh, kenapa dia selalu memakai masker dan juga kacamata? Seperti wanita misterius saja," batin Louise dan itulah yang membuat dirinya penasaran hingga saat ini.


Sedangkan Evelyn yang sedari tadi diikuti oleh Louise, belum menyadari akan hal tersebut.


Dengan santainya gadis itu berjalan menuju meja makannya kembali dan duduk manis sambil mengusap kedua tangan, karena pesanannya telah tiba.


Tak ada bedanya dengan Evelyn, Louise pun kembali duduk. Dan kali ini dia duduk menghadap ke arah dimana wanita itu sedang makan, setelah sebelumnya duduk membelakangi si wanita bertopi.


"Ayo buka masker dan kacamatamu, aku ingin lihat siapa sebenarnya dirimu?" batin Louise sambil memperhatikan wanita yang selalu membuatnya penasaran dengan seksama.


Dan tidak lupa menyiapkan kamera untuk segera memfotonya.


.


Bersambung.


__ADS_1


Ayo neng, buru ni akang mau foto eneng. Buka napah itu masker sama kacamatanya.


__ADS_2